
Apa di luar hujan?
Ada apa dengannya? Mengapa dia basah kuyup?
Begitulah yang ada di benak setiap orang ketika mereka berpapasan dengan Farhan. Lelaki itu sedang berdiri di depan pintu salah satu kamar hotel dengan ponsel menempel di telinganya. Wajah tampannya cukup menarik perhatian beberapa wanita yang lewat, yang memandangnya dengan tatapan heran. Meski begitu Farhan tampak tak peduli.
Ia terus mengobrol dengan seseorang yang ada di seberang telepon.
"Apa saja terserah, yang penting layak di pakai," ucapnya pada Bimo. Setelah itu terdiam, fokus mendengarkan.
"Ya, jangan lama-lama, aku hampir mati kedinginan," kata Farhan lagi. Laki-laki itu tampak tak sabar. Disaat bersamaan pintu kamar di belakangnya berderit. Ia lekas mematikan sambungan teleponnya dan berbalik.
Sesosok wanita paruh baya keluar dari sana. "Ara sedang ganti baju," ucap Namira seraya menutup pintu.
Farhan tak mengatakan apapun. Ia hanya mengangguk mengerti, lalu memalingkan wajah. Menghindari kontak mata dengan tantenya itu.
"Ada yang ingin tante bicarakan denganmu, Han."
Mau tak mau Farhan kembali menoleh dan membalas tatapan tantenya itu. Jantungnya berdegup kencang karena gugup. "Ada apa, Tante?"
__ADS_1
Namira melipat kedua tangannya di dada. Sorot matanya sangat tajam seolah ingin menerkam keponakannya itu. "Tante tahu kau sudah besar, sudah dewasa. Tak seharusnya tante ikut campur dengan urusanmu. Akan tetapi sebagai orang yang lebih tua dan juga bagian dari keluargamu, tante perlu memberikan nasihat dan juga menegurmu jika kau melakukan kesalahan."
Farhan mendengarkan dengan kepala tertunduk. Sorot matanya jatuh ke bawah, memandangi kedua jemarinya yang saling bertaut. Ia benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang di hukum. Hanya saja postur tubuhnya terlalu tinggi untuk di katakan sebagai bocah.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Namira bertanya lagi. Matanya memancarkan kekecewaan. "Tante menyuruhmu membawa gadis itu ke kamar untuk melakukan pertolongan pertama, tapi kau malah menggunakannya untuk malam pertama juga."
Mendengar hal itu Farhan lantas mengangkat wajah dan menatap Namira dengan tajam. Kentara sekali kalau pria itu tidak senang dengan tuduhan tersebut. Seolah ia pria brengsek yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Meski begitu ia tetap berkata dengan tenang. "Apa maksud, Tante?"
"Berhenti bepura-pura seolah-olah kau tidak tahu, Han. Tante yakin kau sudah paham apa yang sedang Tante bicarakan," celetuk Namira.
Ya, sebenarnya Farhan memang sudah tau kemana arah pembicaraan tantenya, jadi ia tak mengatakan apapun dan hanya mendengarkan. "Tante mengerti, gadis muda seperti Ara memang sangat menggoda dan karena itu kau tak bisa menahannya. Tapi, sebelum kau melakukannya, tidakkah kau memikirkan dampaknya terlebih dulu?
"Gadis itu masih sangat muda, masa depannya masih panjang tapi semua itu kini sudah rusak karena ulahmu." Namira tampak berapi-api. Nafasnya memburu karena kesal.
Namira berbalik. Menghela nafas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan, menekan emosinya. Setelah tenang ia kembali menatap keponakannya itu.
"Bagaimana kalau gadis itu hamil? Apa yang akan kau katakan pada ibumu dan juga orang tuanya?" Kali ini Namira mengatakannya dengan suara lebih rendah yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.
Kedua sudut mulut Farhan melengkung ke atas, membentuk senyuman. Bahunya sedikit berguncang saat ia mulai tertawa.
__ADS_1
Apa anak ini gila? Namira menatap Farhan dengan wajah bingung.
"Tante ... Sepertinya ada kesalahpahaman di sini," ucap Farhan setelah tawanya berhenti. "Itu tidak seperti yang tante pikirkan, kami tidak sampai sejauh itu," lanjutnya dengan serius.
Namun Namira tak bisa percaya begitu saja. Terlebih ia sudah melihat sendiri tanda merah di sekitar leher, dada dan juga punggung gadis itu. Selain itu ranjangnya juga basah dan penampilan kedua anak muda itu terlihat berantakan. Itu menguatkan dugaannya kalau keponakannya itu baru saja menggagahi gadis kecil itu. "Kau pikir tante ini anak kecil yang bisa kau bodohi?" Namira memandangnya tak percaya. "Tante sudah menikah selama bertahun-tahun dan paham betul apa yang telah terjadi jika seseorang memiliki tanda merah di beberapa bagian tubuhnya. Sekarang apa yang akan kau katakan? Apa kau ingin beralasan kalau itu karena gigitan serangga, hah?" Namira mengatakannya dengan mata melotot.
"Kalau yang itu memang aku yang melakukannya." Farhan tak menyangkalnya meskipun itu sedikit memalukan. Tiba-tiba adegan beberapa menit yang lalu kembali melintas di benaknya. Awalnya Farhan hanya ingin berciuman dengan gadis itu. Karena bibir tipisnya terlihat sangat menggoda. Akan tetapi setiap kali ia mendekat, aroma tubuhnya selalu menguar ke permukaan, menyerang inderanya. Farhan sendiri tidak bisa mendeskripsikan seperti apa tepatnya aroma tubuh Ara. Itu agak manis, seperti bau susu atau permen. Selain itu ada sedikit bau apel, tapi tidak sekuat dua aroma sebelumnya.
Aromanya tubuhnya itu cukup memabukkan, sehingga tanpa sadar Farhan terus mengendusnya. Selain itu kulitnya juga sangat halus, seperti beludru. Siapapun pasti suka mengelus kulit selembut itu. Di tambah lagi ******* yang lolos dari mulut kecilnya. Itu membuat hasratnya semakin melonjak. Darahnya mengalir deras menuju ke satu titik di antara pahanya yang terus berkedut.
Jika benda itu punya tangan atau kaki mungkin langsung melompat keluar dari sarangnya saat itu juga. Setelah itu bergerak dengan cepat menembus ke kehangatan yang ada di bawahnya.
Beruntung saat itu tantenya datang tepat waktu. Jika tidak pasti lelaki itu sudah merenggut keperawanannya.
Pukulan di pundaknya membuyarkan lamunan Farhan. Tentu saja itu di layangkan oleh Namira yang semakin kesal karena keponakannya itu tersenyum seorang diri dengan tatapan kosong. "Apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Apa kau memikirkan hal-hal kotor dengan gadis itu lagi? Dasar bajingan!"
Farhan : ... Apa tantenya itu bisa membaca pikiran orang?
Farhan melindungi pundaknya dengan kedua tangan. Ia sama sekali tak menghindar meskipun Namira terus memukulinya dengan tas. Beruntung tak lama kemudian Sandi datang. Otomatis Namira menghentikan pukulannya. Untuk pertama kalinya Farhan merasa begitu bahagia temannya itu datang. Ia sampai ingin menangis karena terharu.
__ADS_1
"Tante ...." Sapa Sandi dengan ramah. Setelah itu menatap Farhan sambil mengangkat salah satu alisnya, seolah berkata, "Ada apa?"
bersambung...