
Tak peduli lagi dengan peraturan sang kakak yang melarangnya keluar saat malam hari, malam itu Ara diam-diam menyelinap pergi. Menemui Farhan yang sudah menunggunya di tempat biasa.
Berbeda dengan kesehariannya yang biasa tampil sederhana dan tanpa riasan, kali ini gadis itu sedikit berdandan. Bukan tanpa alasan. Kepergiannya bersama Farhan kali ini untuk memenuhi undangan pernikahan adik sepupu dari kekasihnya itu.
Gadis itu merasa perlu mengubah sedikit penampilannya agar terlihat pantas saat mendampingi Farhan dan tak mempermalukan kekasihnya itu.
Pada dasarnya gadis itu memang sudah cantik sejak lahir. Bahkan saat ia tak mengenakan riasan apapun. Apalagi saat ia menambahkan sedikit riasan tipis seperti sekarang. Itu membuatnya terlihat lebih cantik lagi. Bak bidadari yang baru turun dari kayangan. Farhan sampai tak berkedip saat melihatnya.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Ara saat Farhan terus menatapnya.
Farhan menggeleng cepat. "Tidak," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah gadis yang kini berdiri berhadapan dengannya itu.
Ara mengerutkan kening. "Lalu, kenapa Mas Han menatapku seperti itu?"
"Karena Ara sangat cantik," puji Farhan.
Gadis itu tersipu. Kedua pipinya tampak merona. "Mas Han bisa saja," ucapnya malu-malu.
"Berangkat sekarang?" ajak Farhan.
Gadis itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Motor yang di tumpangi kedua sejoli itu pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Bergegas menuju ke hotel cantika. Tempat dimana resepsi itu di selenggarakan.
Setelah menghabiskan setengah jam berkendara dan kurang lebih lima menit berjalan kaki dari parkiran menuju lobby hotel serta dua menit berada di dalam lift, akhirnya mereka tiba juga di tempat acara.
Keduanya melenggang bersamaan, memasuki ballroom itu sambil bergandengan tangan.
Kedatangan mereka cukup mengundang perhatian para tamu undangan lain. Beberapa kaum hawa tampak saling berbisik, memuja ketampanan Farhan.
Tak bisa di pungkiri, pesona pria berusia dua puluh delapan tahun itu memang begitu memikat. Alis tegas, hidung mancung bak perosotan, serta kulit seputih salju itu seolah bersinar di bawah sorotan lampu. Selain itu tinggi badannya juga di atas rata-rata sehingga ia terlihat lebih mencolok. Yang terakhir dan yang membuat para wanita klepek-klepek adalah bentuk tubuhnya yang atletis.
Meski lelaki itu mengenakan kemeja panjang, tapi masih terlihat dengan jelas bentuk pinggangnya yang ramping, dadanya yang bidang serta lengannya yang berotot. Mungkin perutnya juga kotak-kotak.
Farhan benar-benar terlihat sempurna. Tak heran, siapa saja yang melihatnya pasti tertarik padanya. Baik itu orang dewasa maupun anak kecil sekalipun. Apalagi para remaja wanita. Menurut mereka tampang Farhan tak kalah dengan oppa-oppa korea.
Tak hanya Farhan, penampilan Ara tak kalah menarik perhatian. Midi dress berwarna hitam yang di kenakan gadis itu melekat sempurna di tubuh rampingnya. Kerahnya berbentuk sweetheart, memperlihatkan punggung dan tulang selangkanya yang indah.
Rambutnya di gulung ke atas, membuat leher jenjangnya yang putih nan mulus bak porselen itu terekspos. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati melingkar di sana.
Para lelaki yang melihatnya tampak tak ingin berpaling. Bahkan sampai ada yang terus menatapnya sambil menelan ludah. Farhan yang saat itu melihatnya langsung melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu dan membawanya lebih dekat dengannya. Seolah menegaskan bahwa gadis itu miliknya.
Bersama para pengunjung lain yang baru datang, Farhan dan Ara berbaris di bawah panggung. Menunggu giliran untuk untuk memberikan ucapan selamat pada sang pengantin. Hingga gilirannya tiba keduanya kembali melangkah bersama. Menyalami kedua orang tua dari mempelai wanita terlebih dulu. Setelah itu bergeser ke kanan menuju kedua mempelai.
__ADS_1
"Selamat Brother," ucap Farhan pada mempelai pria. Keduanya saling berjabat tangan dan memberikan pelukan kilat.
"Terima kasih, Han," sahut sang pengantin pria yang bernama Imam. "Calon sudah ada, kapan nyusul nih?" imbuhnya sembari melirik Ara sebentar.
"Doakan saja," sahut Farhan.
"Baiklah, kutunggu undanganmu secepatnya," ucap Imam, lagi. Farhan menanggapinya dengan senyum tipis.
Setelah menyalami kedua mempelai. Farhan kembali bergeser menuju kedua orang tua mempelai pria yang merupakan paman dan bibinya alias adik dari sang ibu. Ara mengekor di belakangnya.
Baik Farhan maupun Ara, keduanya memiliki attitude yang sangat bagus. Sopan, rendah hati dan juga ramah.
"Farhan, apa kabar, Nak?" ucap Namira ibu dari imam. Keduanya saling berjabat tangan.
"Baik Tante," sahut Farhan seraya mengecup punggung telapak tangan wanita paruh baya itu.
"Sama siapa ke sini?" tanya Namira.
Farhan menggelengkan kepalanya ke kiri. Menunjuk wanita cantik di sebelahnya
Namira sedikit terkejut saat melihat Ara. Pasalnya gadis itu tampak masih sangat muda.
"Siapa ini Han? Pacarmu?" tanya Namira tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Ara. Farhan menjawab dengan anggukan kepala.
"Halo Tante ...," sapa Ara dengan wajah tersenyum. Sama seperti Farhan, gadis itu mengecup punggung telapak tangan Namira saat mereka berjabat tangan.
"Terima kasih, Tante," sahut Ara, malu-malu.
"Siapa namamu, Sayang?" tanya Namira. Mengelus pipi Ara yang sehalus beludru. Mulus tanpa cela.
"Namaku Inara, Tante," sahut Ara. "Biasa di panggil Ara," pungkasnya.
"Inara?" ucap Namira. Ara mengangguk, mengiyakan.
"Nama yang cantik seperti orangnya," puji Namira lagi.
Ara tampak tersipu. "Tante bisa saja," ucapnya.
"Terima kasih sudah datang, Sayang. Jangan malu-malu, nikmati pestanya ya," ujar Namira.
Ara menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Setelah selesai berbasa-basi dengan paman dan bibinya, Farhan kembali menggandeng tangan Ara. Keduanya turun dari panggung dan membaur dengan tamu undangan lain. Farhan tampak mengobrol sejenak, saat beberapa orang menyapanya. Sementara Ara hanya menjadi pendengar saat kekasihnya itu sedang mengobrol. Sesekali berjabat tangan dengan orang yang menyapa Farhan atau melayangkan senyum sambil sedikit mengangguk pada mereka.
__ADS_1
Keduanya berbaris lagi, mengantri makanan. Ara menoleh ke belakang, sedikit mendongak untuk melihat wajah lelakinya. "Mas Han cari tempat duduk saja, biar Ara yang ambil makanannya," saran gadis itu.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Farhan. Pria itu terlihat tak tega meninggalkan wanitanya mengantri makanan seorang diri.
"Hm, tidak masalah," jawab Ara.
"Baiklah, Mas Han tunggu di sana, ya." Farhan menunjuk meja kosong di sudut ruangan.
Ara menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Oh ya, Mas Han mau apa? Nasi atau bakso? Ada sate juga?" ucap Ara sebelum Farhan pergi.
"Apa saja, terserah Ara. Mas Han akan makan apapun yang di bawakan olehmu." Ya, soal makanan lelaki itu memang bukan tipe pemilih. Ia akan makan apa saja yang ada. Kecuali beberapa jenis sayuran yang tak di sukainya. Seperti pare dan terong. Untuk makanan kesukaannya ia paling suka daging-dagingan. Sate kambing dan steak adalah favoritnya. Hanya saja harga daging panggang itu lumayan mahal jadi ia tidak sering-sering memakan makanan khas barat itu.
Keduanya pun berpisah sementara. Ara masih mengantri makanan. Sementara Farhan melangkahkan kakinya ke tempat yang ia tunjukan sebelumnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Menoleh saat sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Sendirian?" tanya Farhan pada Bimo. Ya, yang barusan menepuk pundaknya adalah teman dekatnya itu.
Bimo menggelengkan kepala. "Bareng Sandi sama Hendra," ucapnya seraya menjatuhkan bokong di kursi kosong, bersebelahan dengan Farhan.
"Dimana mereka?" tanya Farhan saat tak melihat kedua temannya yang lain.
"Tadi mereka di belakangku," ucap Bimo sembari celingak-celinguk, mencari keberadaan Sandi dan juga Hendra.
"Ah, itu mereka," imbuhnya setelah melihat kedua temannya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hai Han," sapa Sandi. Farhan membalasnya dengan anggukan kepala.
"Kau ke sini sendiri, Han?" tanya Hendra. Laki-laki menarik kursi dan menjatuhkan pinggulnya di kursi kosong yang di apit Sandi dan Bimo.
"Apa kau bodoh?" celetuk Sandi. "Tentu saja dia kemari dengan pacarnya," lanjutnya.
"Aku tidak melihat gadis itu, jadi bagaimana bisa tahu kalau dia datang dengan pacarnya," ujar Hendra.
"Benar. Aku juga belum melihatnya. Dimana dia Han? Kau pergi bersamanya kan?" timpal Bimo.
"Itu dia," sahut Farhan sembari menunjuk Ara dengan gerakan dagunya.
Bimo, Hendra dan Sandi menoleh ke belakang bersamaan, mengikuti arah pandangan Farhan. Ketiganya melongo melihat penampilan Ara yang begitu memukau dan terlihat berbeda dari biasanya.
Gadis itu tampak lebih cantik. Gaun dengan kerah rendah yang di pakai gadis itu membuatnya terlihat seksi.
Sandi dan Hendra terus menatapnya tanpa berkedip. Bahkan Sandi tampak menelan ludah. Beruntung Farhan tidak melihatnya.
__ADS_1
"Berhenti menatapnya! Dia wanitaku," ucap Farhan, memperingatkan.
Bersambung ....