Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 38


__ADS_3

Farhan kembali mengeluarkan ponselnya saat mendengar notifikasi pesan masuk. Ia lekas membuka dan membacanya. Pesan itu di kirim oleh Bimo yang mengajaknya nongkrong malam nanti. Usai mengirim balasan Farhan iseng mengecek status WhatsApp yang ada dalam kontaknya.


Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, tampak senang saat melihat status yang di bagikan Ara.


"Ternyata sedang jalan-jalan" gumamnya saat melihat beberapa foto Ara yang berlatar belakang pepohonan. Matanya terbelalak saat melihat slide terakhir. Dimana dalam foto tersebut Ara duduk bersandar di dada Dion.


Farhan terbakar cemburu. Dadanya terasa bergemuruh, kesal sekali. Dengan kasar ia mulai mengetikan sesuatu di layar ponselnya itu.


[Apa dadanya terasa nyaman?] komentarnya di status terakhir Ara. Farhan tak berpaling dari layar ponselnya itu. Ia erus memandangi benda pipih itu hingga beberapa menit hingga centang dua yang berwarna hitam itu menjadi biru.


Farhan mendesah, merasa kesal karena Ara tak membalas pesannya, hanya membacanya saja. Ia kembali menelfon gadis kecilnya itu. Namun, lagi-lagi panggilannya di tolak.


[Masih tidak mau angkat telpon? Kalau begitu sampai bertemu di depan rumahmu]


Farhan menyeringai usai mengirim pesan berisi ancaman itu. Ia yakin dengan begitu Ara pasti menyerah.


Benar saja, tak lama kemudian Ara yang berinisiatif menelponnya terlebih dulu. Farhan tersenyum penuh kemenangan. Ia lekas menggeser ikon gagang telepon itu ke kanan, mengangkatnya.


"Halo, Sayang," ucapnya seraya menempelkan benda pipih itu di telinga.


"Apa Mas Han gila?" sahut Ara di seberang sana. Suara terdengar setengah berbisik.


"Hm, aku memang gila," sahut Farhan, mengakui. "Kau tahu kenapa?" tanyanya kemudian.


"Kenapa?"


"Aku sangat merindukanmu sampai rasanya ingin mati, tapi apa yang kau lakukan sekarang. Kau pergi dengan laki-laki lain dan terus mengabaikanku. Apa kau berniat membunuh calon suamimu, Inara!" teriak Farhan.


Seorang pria yang duduk di sebelahnya tersentak kaget. Pria itu memandang Farhan dengan dahi berkerut. Dasar pria aneh, mengapa tiba-tiba berteriak? *Bikin kaget saja! Untung aku sehat walafiat. Coba kalau punya riwayat sakit jantung, bisa langsung is dea*d.


"Bagaimana dengan Mas Han? Apa begitu menyenangkan pergi bersama wanita lain? Bagaimana rasanya? Apa dadanya yang seperti balon itu terasa nyaman di punggungmu?" Teriak Ara tak mau kalah.


Farhan tampak menjauhkan hpnya sebentar saat Ara berteriak tadi. Dahinya tampak mengernyit, bingung.


"Apa maksudmu?" tanyanya, tak mengerti.


Ara tertawa sinis. "Berhentilah pura-pura bodoh, Mas. Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri."


"Apa yang kau lihat? Katakan dengan jelas," tuntut Farhan.

__ADS_1


"Celana panjang dan kaos hitam, di padukan dengan jaket jeans warna krem. Kau berboncengan dengan teman wanitamu yang pernah kulihat sebelumnya saat di Mall. Wanita itu memakai blouse merah yang kekurangan bahan. Huh, teman macam apa yang memeluk teman lelakinya dengan begitu mesra," sindir Ara.


Farhan tampak tercengang. Ia memandang baju dan celana yang sedang di pakai. Hah, bagaimana dia bisa tahu? Semua yang ia katakan benar.


"Kenapa Mas Han diam? bukankah yang ku katakan benar?"


"Kau melihatku dimana?" tanya Farhan. Ia celingak-celinguk, memperhatikan sekitar. Barangkali saat ini Ara ada di sekitarnya.


"Apa sekarang Mas Han mengakuinya?" tanya Ara. Mengabaikan pertanyaan Farhan. Suaranya terdengar sangat kesal. "Kenapa Mas Han repot-repot mau menungguku lulus sekolah? Kenapa tidak menikahi temanmu yang itu saja. Sepertinya wanita itu sudah sangat siap jadi istrimu," imbuhnya.


Farhan menghela nafas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia tahu kini Ara sedang merajuk. Untuk meluluhkannya ia membutuhkan ketenangan dan juga kesabaran.


"Sayang--"


"Sayang apa? Aku bukan Sayangmu! yang harusnya di panggil Sayang itu teman yang kau bonceng itu," sela Ara, ketus.


Farhan mengelus dada. Sabar.


"Halo," ucap Ara ketika Farhan tak menyahut. Gadis melihat layar ponselnya. "Masih terhubung, tapi kenapa tidak ada suaranya? Apa ponselku rusak?" gumamnya seraya menggoyang-goyangkan benda pipih di tangannya itu. "Sepertinya baik-baik saja," tambahnya kemudian. Farhan yang sejak tadi hanya mendengarkan tampak terkikik tanpa suara. Menurutnya Ara yang bergumam seorang diri sangat menggemaskan. Seperti anak kecil.


"Halo ... Mas Han," panggil Ara. Ia mengatakannya dengan setengah berteriak.


"Dengar suaraku tidak?" tanya Ara dengan suara lebih lembut. Bahkan terdengar manja di telinga Farhan. "Dengar, Sayang," sahut Farhan, tersenyum. Ia sangat menyukai suara Ara yang lembut dan mendayu-dayu itu.


"Kalau dengar kenapa diam saja?"


"Apa marahnya sudah selesai?" tanya Farhan dengan suara yang tak kalah lembut.


"Dengar, apa yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan. Kau salah paham denganku."


Ara tak menjawab. Ia hanya diam sambil terus mendengarkan. Tadinya ia memang kesal. Tapi setelah mengeluarkan seluruh uneg-unegnya, amarahnya itu perlahan sirna begitu saja. Terlebih saat mendengar suara Farhan barusan yang begitu lembut. Hatinya kembali luluh.


"Kau mendengarku?" tanya Farhan saat Ara tak merespon ucapannya.


"Ya," sahut Ara singkat.


"Jika itu memang salah paham, bukankah seharusnya Mas Han memberiku penjelasan? Kenapa Mas Han pergi bersamanya dan kemana kalian pergi? Kenapa Mas Han diam saja ketika wanita itu memelukmu? Sepertinya Mas Han justru menikmatinya di peluk wanita itu," tanya Ara dengan tak sabar. Ia memberondong Farhan dengan tiga pertanyaan sekaligus.


Farhan terkekeh mendengar kalimat terakhir Ara. Hanya di peluk dari belakang, apanya yang dinikmati, yang ada merasa risih.

__ADS_1


"Wanita itu anak dari teman ibuku, dan ibunya itu menyuruhku mengantarnya belanja ke supermarket. Aku tak merasakan apapun saat orang lain membonceng di belakangku. Tapi jika orang itu dirimu aku sangat menikmatinya," jelas Farhan dengan nada menggoda di akhir kalimat.


Ara sengaja berdehem untuk mengontrol dirinya yang tersipu malu. "Kenapa Mas Han tidak menolak saja, aku tidak suka Mas Han berboncengan dengan wanita lain."


Farhan tersenyum. "Apa istriku cemburu?" godanya.


"Siapa bilang? Aku sama sekali tidak cemburu," bantah Ara tak setuju.


Farhan kembali terkekeh. Ia sangat tahu kalau Ara sedang berbohong tapi pura-pura percaya saja. "Baiklah, kau tidak cemburu," sahut Farhan dengan tawa kecil.


"Sekarang giliranmu. Jelaskan padaku apa hubunganmu dengan pria yang berfoto denganmu itu? Mengapa kalian sangat mesra? Kau selingkuh dengannya?" tanya Farhan dengan nada yang berubah galak.


Ara tertawa. "Apa Mas Han bodoh? Mana ada orang selingkuh terang-terangan. Jika aku selingkuh dengannya, aku tak akan membagikan dan memperlihatkannya padamu. Cukup di simpan rapat kalau kami sedang berdua."


"Kau benar juga," ucap Farhan, setuju. "Jadi, sebenarnya dia itu siapa? Kalian memakai baju yang sama, seperti sepasang kekasih," imbuhnya, tak suka.


"Bukankah Mas Han sudah mengenalnya? Kak Dion teman Bang Haris, abang keduaku."


"Oh iya, Mas Han juga pernah main Futsal dengannya," ucap Ara mengingatkan.


"Kalau begitu jauhi dia," ucap Farhan, memerintah.


"Kenapa? Kak Dion sangat baik, kenapa aku harus menjauhinya?" tanya Ara, keberatan.


"Karena dia laki-laki, Sayang."


"Memangnya kenapa kalau laki-laki? Kedua kakakku juga laki-laki, Mas Han juga. Kalian semua sama saja. Kenapa semua orang menyuruhku menjauhi laki-laki? Jika memang begitu seharusnya aku menjauhi semuanya dan aku akan tinggal sendirian," ucap Ara. Gadis itu tampak kebingungan.


Farhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis ini bodoh atau terlalu lugu, sih? Mengapa ia tidak tahu apa yang kami maksud. Masa iya aku harus menjelaskan secara detail dan mengakui kalau aku cemburu? Itu memalukan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2