
"Kapan kau akan pulang?" tanya Haris. Ia memperhatikan Dion yang tengah mengangkat dumbbell seberat dua kilogram.
"Apa kau mengusirku?" sahut Dion, bertanya balik. Ia mengatakannya tanpa menatap Haris. Laki-laki itu masih fokus berolah raga. Melatih otot lengan dan juga bahunya.
"Ya," sahut Haris singkat. Ia mengatakannya tanpa ragu.
"Apa alasannya? Kenapa tiba-tiba mengusirku?" Dion menoleh ke arah Haris sebentar. Setelah itu kembali berpaling. "Bukankah waktu itu kau bilang aku boleh tinggal di sini selama yang ku mau?" imbuhnya. Mengingat perkataan Haris minggu lalu saat ia baru datang ke rumah temannya itu.
Haris memalingkan wajah dan menatap dinding kaca yang mengarah ke taman belakang rumahnya. "Itu benar," sahut Haris, mengakui. Waktu itu ia memang mengatakan pada Dion kalau temannya itu bisa tinggal di rumahnya selama yang diinginkan. Namun saat itu ia tak menyangka kalau Dion akan menyukai adiknya. Haris tak masalah jika Dion dan adiknya itu menjalin hubungan. Dion laki-laki yang baik. Asal usulnya pun sudah jelas. Akan tetapi Haris masih tak rela melepas adik tersayangnya itu. Terlebih Ara masih sekolah, ia masih belum bisa mengizinkan adiknya itu pacaran. Apalagi jika pacaran dengan Dion yang notabene ia tahu kalau temannya itu memiliki nafsu tinggi. Itulah alasan kenapa Haris ingin Dion segera meninggalkan kediamannya.
Haris kembali menoleh, menatap Dion. "Sekarang aku berubah pikiran. Kalau bisa secepatnya enyahlah dari rumahku," imbuhnya dengan wajah datar.
Dion meletakan dumbbelnya di lantai. Kemudian mengubah posisi duduknya menghadap ke Haris. Ia memandang laki-laki di depannya dengan tatapan protes. "Kau benar-benar mengusirku?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya.
Haris menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tidakkah kau merasa terlalu kejam padaku?" tanya Dion. Masih tak percaya dirinya benar-benar di usir oleh teman yang sudah seperti saudaranya sendiri. Padahal saat ia datang Haris lah yang memaksanya agar tinggal lebih lama dan menyuruhnya menganggap seperti rumah sendiri. Ia boleh datang dan pergi sesuka hati, kapanpun itu. Tapi sekarang Haris justru mengusirnya hanya karena ia menyukai adiknya.
"Aku memberimu tempat tinggal dan juga makanan gratis. Apa menurutmu aku ini kejam?"
__ADS_1
Dion terdiam. Memandang lantai marmer yang memantulkan bayangan tubuhnya. Laki-laki itu bergelut dengan pikirannya sendiri. Aku harus tetap di sini. Tapi bagaimana caranya? Sejak Haris tau aku menyukai adiknya ia berulang kali menyuruhku hengkang dari rumah ini. Sial! Kalau tau begini aku tidak akan mengatakannya. Ah, aku punya ide.
Dion tersenyum menyeringai. Ia kembali menatap Haris sedang minum.
"Berapa tagihannya?" tanyanya.
"Tagihan apa?" tanya Haris. Laki-laki itu terlihat mengernyitkan dahi.
"Biaya menginap dan juga makan di rumah ini? aku akan membayarnya, jadi tak perlu pergi," ucap Dion.
"Hei, kau pikir ini hotel?" sahut Haris. Ia tampak tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan temannya. Ia juga heran mengapa sulit sekali mengusir anak itu.
Dion mengangguk."Hm, meskipun pelayanan di rumah ini tak sebagus hotel tapi aku cukup puas," ucapnya.
"Benar," sahut Dion. "Bukankah seharusnya kau mengucapkan terima kasih padaku? aku baru saja memujimu. Jarang-jarang aku memuji orang lain. Kau salah satu orang yang beruntung," imbuhnya, percaya diri.
Haris terbahak. Tawa yang dibuat-buat. Ia memalingkan wajah dan mulai mengumpat Dion dengan suara kecil. "Dasar introvert gila! Kenapa aku bisa memiliki teman sepertinya," gumamnya.
"Kenapa tertawa? Apa kau begitu senang mendapatkan pujian dariku?" tanya Dion.
__ADS_1
Haris kembali menatap Dion. "Benar aku sangat senang sampai ingin menangis," ucapnya dengan senyum palsu.
Dion tersenyum lebar. Ia percaya begitu saja dengan kebohongan yang baru saja di katakan Haris. "Kalau begitu aku akan sering-sering memujimu," ucapnya.
Haris bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan keluar dari ruangan olahraga itu. Ia tampak menyerah karena lagi-lagi tak berhasil membujuk temannya itu agar pergi.
Setelah kepergian Haris. Dion melanjutkan kesibukannya. Ia kembali meraih dumbbelnya yang tergeletak di lantai, lalu mulai menggerakkan tangannya lagi. Mengangkat dumbbel itu naik turun.
"Selamat pagi, Kak Dion," sapa Ara saat masuk ke dalam ruang olahraga itu.
"Pagi, Ara," sahut Dion, tersenyum. "Mau olahraga?" tanyanya, kemudian.
"Iya," sahut Ara sambil berjalan melewati Dion. Ia menghampiri beberapa alat olahraga yang ada di sana. Ara naik ke atas treadmill. Tangannya tampak menekan tombol yang ada di alat olahraga tersebut untuk mengatur kecepatannya. Ia mulai berjalan pelan mengikuti kecepatan alat tersebut. Semakin lama gadis itu berjalan semakin cepat, mengikuti tempo yang juga dinaikan. Nafas yang tadinya teratur mulai memburu.
Dion kembali meletakan dumbbelnya. Kemudian meraih botol air mineral yang ada disisi kanannya. Saat minum ia menatap Ara yang masih berlari. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas saat memperhatikan rambut gadis itu bergerak ke kiri dan kanan bergantian. Wajah Ara mulai di penuhi keringat yang kemudian mengucur ke pelipis dan juga lehernya. Dion tampak menelan salivanya. Tubuh Ara yang hanya di balut celana pendek serta tanktop membuatnya tergoda. Dion menatapnya tanpa berkedip.
Di saat bersamaan Haris kembali masuk. Ia penasaran mengapa Dion tersenyum seorang diri. Beberapa kali temannya itu menggigit bibir bawahnya. Seolah sedang membayangkan sesuatu yang menggairahkan. Haris mengikuti arah pandangan Dion. Matanya seketika membelalak saat tahu yang sedang diperhatikan oleh Dion adalah adiknya sendiri.
"Inara!" teriaknya dengan suara lantang.
__ADS_1
Ara yang saat itu sedang fokus berolah raga tersentak kaget. Begitu juga dengan Dion. Botol air mineral yang sedang ia pegang sampai jatuh dan airnya berceceran di lantai.
Bersambung...