Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 33


__ADS_3

"Kak Dion," ucap Ara terkejut. Ya, kali ini yang menjemputnya adalah Dion.


"Bang Haris kemana? Kok Kak Dion yang menjemputku," tanyanya seraya masuk ke dalam mobil.


"Haris ada urusan jadi tidak bisa datang," sahut Dion.


Ara mengangguk mengerti. "Ow," ucapnya seraya mengenakan sabuk pengaman.


Dion mulai menyalakan mesin kemudian bergerak maju, membelah jalanan yang tak begitu padat.


"Maaf ya, Kak Dion jadi merepotkan," ucap Ara tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Ara. Kak Dion sama sekali tak merasa di repotkan, kok," bantahnya sambil menoleh sebentar. Setelah itu kembali menatap lurus ke depan. Ia mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Hari ini Ara mau jalan-jalan tidak?" tanyanya kemudian.


Ara menoleh, menatap Dion yang sedang fokus mengemudi. Matanya tampak berbinar. "Jalan-jalan kemana?" tanyanya antusias.


"Terserah Ara. Ara penginnya pergi kemana?" Dion bertanya balik.


Ara tampak berpikir sejenak. Memilah kemana ia ingin pergi. "Bagaiman kalau ke hutan?" ucapnya kemudian.


"Hutan?" Dion terlihat mengerutkan dahi. Bukankah tempat itu terlalu bahaya dan menakutkan bagi wanita? mengapa Ara ingin pergi ke sana? Apa yang ingin dia lihat? Batin Dion bertanya-tanya.


"Maksudku ke tempat wisata yang seperti hutan itu loh, Kak," jelas Ara saat melihat kebingungan di wajah Dion. "Kalau tidak salah namanya hutan mangrove," imbuhnya.


"Oh itu," sahut Dion ketika sudah mengerti. "Ya sudah, kalau begitu kita ke sana sekarang."

__ADS_1


"Tapi tunggu dulu, Kak. Aku belum izin sama Bang Haris kalau mau pergi jalan-jalan," ucap Ara. Wajahnya berubah lesu. Ia belum tahu apakah akan di bolehkan atau tidak.


Dion menyadari perubahan ekspresi Ara. Ia mengulurkan tangan kirinya, mengusap-usap kepala gadis itu. "Kau tenang saja, Kak Dion sudah meminta izin pada Haris dan Bang Samsul untuk membawamu jalan-jalan dan keduanya memperbolehkan," ucapnya, tersenyum.


"Benarkah?" tanya Ara tak percaya. Wajahnya kembali ceria.


Dion mengangguk. "Tanyakan saja pada Haris kalau masih tak percaya," ucapnya, meyakinkan.


Ara tersenyum, senang. "Kalau begitu ayo kita pergi," ucapnya, bersemangat.


"Baiklah, ayo kita pergi," ucap Dion tak kalah semangat. Ia merasa bahagia melihat pujaan hatinya tersenyum senang. Selain itu ia juga senang akhirnya mendapat kesempatan berduaan dengan Ara. Tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk merebut hati gadis kecil itu.


"Kak Dion bisakah kita pulang dulu sebentar?"


"Ada apa? Apa kau ingin mengambil sesuatu dulu?"


Ara mengangguk. "Hm, aku ingin ganti baju. Tidak mungkin 'kan jalan ke sana memakai seragam sekolah," ucapnya dengan wajah cemberut.


"Ini bukan masalah cantik atau tidaknya, Kak Dion," ucap Ara dengan suara manja.


"Lalu kenapa?"


"Ini ... sedikit tidak nyaman. Aku takut pakaianku ini menarik perhatian pengunjung di sana." Ya, siapa yang jalan-jalan memakai seragam sekolah? Jika ia melakukannya sudah pasti orang-orang akan memperhatikannya.


"Kalau begitu kita mampir ke mall terdekat saja, ya. Kalau pulang ke rumah harus putar balik lagi dan itu akan lebih memakan banyak waktu," ujar Dion menyarankan.


"Oke," sahut Ara, setuju.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dion menepikan mobilnya, memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang ia jumpai. Setelah memarkirkan mobilnya di lantai basemen. Dion dan Ara bergegas naik ke atas menggunakan lift. Kemudian keluar saat sudah berada di lantai dua. Keduanya berjalan beriringan menuju outlet yang menjual pakaian. Ara sama sekali tak merasa risih saat Dion merangkul pinggangnya. Ia sudah menganggap laki-laki itu seperti kakaknya sendiri.


Berbeda dengan Dion. Laki-laki itu sengaja melakukannya karena ia ingin berdekatan dengan Ara. Ia menyukai gadis itu sebagai wanita bukan seorang adik.


Keduanya masuk ke sebuah toko baju yang khusus menjual pakaian branded.


Dion tampak setia menemani Ara yang sedang memilih pakaian. Sudah seperti lem, ia selalu menempel pada gadis itu. Kemanapun Ara bergerak maka Dion pun ikut bergerak.


"Menurut Kak Dion aku lebih cocok pakai yang mana?" tanya Ara saat ia kebingungan memilih warna. "Yang ini--mengangkat baju yang ada di tangan kananya--atau yang ini--mengangkat baju yang di tangan satunya lagi," imbuhnya, meminta pendapat.


"Dua-duanya cocok," sahut Dion. "Apapun yang kau pakai pasti cocok di tubuhmu. Tak perduli itu karung goni atau serbet sekalipun, pasti akan terlihat bagus jika di pakai olehmu," tambahnya. Begitu lah sikap Dion ketika ia sudah jatuh cinta. Laki-laki itu tak peduli lagi soal penampilan wanitanya, mau pakai apapun di matanya pasti akan terlihat bagus. Apalagi jika wanitanya tak memakai sehelai benang pun ia akan lebih menyukainya.


"Apa sih, Kak Dion," ucap Ara dengan tawa kecil. Kedua pipinya tampak merona karena malu.


"Kenapa tertawa?" tanya Dion dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Karena gombalan Kak Dion lucu."


Senyum di wajah Dion seketika lenyap. Wajahnya berubah serius. "Siapa yang menggombal? Aku sedang tidak menggombal," bantahnya. Ia membungkukkan badannya sedikit dan mencondongkan tubuhnya ke Ara. Matanya menatap lekat wajah gadis yang ada di hadapannya itu. "Apapun yang kau kenakan, kau terlihat cantik, Ara. Aku menyukainya." Dion membelai lembut wajah gadis itu.


Dahi Ara tampak berkerut. Gadis itu merasa bingung dengan sikap Dion saat ini. Perlakuannya kali ini sangat berbeda dengan biasanya. Terutama tatapan matanya. Seolah ingin memangsanya.


Ada apa dengan Kak Dion? Mengapa menatapku seperti itu?


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2