Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
bertemu calon mertua


__ADS_3

Eza sudah memantapkan niatnya untuk meminang Fina begitupun Fina yang sudah memberikan jawaban iya kepada Eza, Johan selaku paman dari Fina dan sahabat baik Eza sangat setuju dengan hubungan mereka.


Johan yakin, Fina dapat bahagia bersama dengan Eza. Karena Johan tahu bagaimana sifat dan karakter Eza yang sangat baik dan penuh perhatian serta penyayang.


Saat ini mereka bertiga sedang makan malam di restaurant, sambil menunggu kedatangan orangtua Fina. Mendengar anaknya sudah memiliki tambatan hati, kedua orang tua Fina langsung melakukan penerbangan dari Inggris ke Indonesia.


Selama di Indonesia, Fina memang tinggal bersama dengan Johan sang paman. Karena kedua orangtuanya sibuk mengurusi bisnis dan perusahaan mereka yang berada di Inggris.


Eza pun sudah mengetahui tentang kedua orang Fina, dari Johan. Eza sama sekali tidak minder ataupun rendah diri, meski dia hanya seorang dokter Eza yakin dan percaya mampu membahagiakan Fina baik lahir maupun batin.


"Gugup Za?" tanya Johan sambil menyenggol bahu Eza yang terlihat sedikit gusar.


Eza menatap Johan. "Sedikit." jawabnya.


Fina yang mendengar bahwa calon suaminya sedang gugup pun memberikan semangat untuk Eza. "Kakak tenang saja, papa sama mama aku baik kok. Iyakan uncle?"


Jo hanya mengangguk, memang baik tapi kalau Fina kenapa-kenapa Johan tentu sudah tahu bagaimana kemarahan kakak iparnya itu.


"Sambil nunggu mama sama papa datang, bagaimana kalau kita pesan makan dan minum nya?"


"Oke setuju, perut uncle juga sudah sangat lapar."


Fina pun memanggil pelayan dan memesan beberapa minuman serta makanan untuk mereka.


"Za, kakak lo udah tau hubungan lo sama Fina?" tanya Johan memastikan bahwa Eza serius.


Eza mengangguk. "Sudah, semuanya juga sudah tahu. Kalau papa sama mama nya Fina mengizinkannya untuk menikah, kami secepatnya akan menemui keluarga Fina untuk lamaran." tutur Eza memberitahu.


Memang Eza sengaja untuk bertemu sendiri lebih dulu kepada kedua orangtuanya Fina, jika orangtua nya mengizinkan tentu Eza akan mengabari keluarganya untuk mempersiapkan lamaran.


"Bagus kalau gitu, tapi inget. Jangan sesekali nyakitin Fina, tau sendiri konsekuensinya kan?"


"Uncle apaan sih, jangan gitu dong. Nanti kak Reza tidak jadi menikahi ku."


Eza hanya terkekeh pelan. "Jo kamu tenang saja, aku akan berusaha untuk menjaga dan membahagiakan Fina." tuturnya meyakinkan.


"Oh jadi kamu yang ingin menikahi anak gadis saya?" tutur seorang pria yang berada di belakang Eza.


Eza dan Johan langsung menoleh ke arah belakang, sedangkan Fina menghampiri mereka dan memeluknya erat.


"Papa mama!!"


"Fina, mama sama papa kangen bangat sama kamu nak." tutur Jihan, selaku ibu dari Fina.

__ADS_1


"Aku juga kangen kalian."


"Hei, gadis kecil papa sudah besar ternyata. Bahkan sudah ingin menikah hem?"


Fina melepaskan pelukannya, dia sedikit malu dengan tingkah lakunya barusan. Sedangkan Eza tersenyum bahagia melihat sang pujaan hatinya bersikap seperti tadi.


Apa aku benar om tua yang menyukai anak gadis? batin Eza.


"Kakak kalian apa kabar?" tanya Johan mencium tangan kakak dan Kaka iparnya.


"Kami baik, terimakasih Jo sudah merawat Fina." ucap Jihan kepada sang adik.


"Hallo om tante." ujar Eza ikut bersalaman dengan mereka.


Saat Eza hendak bersalaman dengan papanya Fina, tangannya digenggam dengan sangat erat.


"Papa jangan seperti itu." ujar Fina yang melihat papanya sedikit menakut-nakuti calon suaminya.


"Wahh tidak ku sangka, kau berhasil membuat putri ku berkata demikian." ujar Fandy, ayah dari Fina.


"Sudah ayo sebaiknya kita duduk dulu."


Mereka pun duduk di tempat masing-masing, pesanan yang tadi di pesan Fina pun datang. Eza masih merasa sangat gugup, bisa-bisa nanti malam dia demam.


Ehem.


Uhukk..


"Papa!!" Fina sedikit kesal dengan papa-nya yang berkata seperti itu.


"Kenapa? memangnya papa salah bicara? jelas-jelas calon suami mu itu sahabat dari uncle mu, usianya juga sepantaran dengan uncle mu kan? sudah kepala tiga? benar begitu?"


"Mah!!" aduk Fina kepada sang ibu.


"Pah sudahlah jangan seperti itu." ujar Jihan memperingati suaminya.


"Hahaha iya baiklah, Maaf Reza saya tidak bermaksud seperti itu."


"Ngga apa-apa om, memang kenyataannya seperti itu." ujar Eza tanpa sakit hati sedikit pun. Toh memang benar, bahwa dia sudah kepala tiga.


"Fahreza Sanjaya, seorang dokter ahli bedah. Saya sudah menerima informasi tentang kamu, jadi sedikit tahu tentang kamu dan Johan juga sudah menceritakan tentang kamu. Sebagai papa dari Fina, saya tidak akan mempersulit niat baik kamu kalau memang kalian berdua sama-sama cinta dan serius membina rumah tangga."


Eza dapat bernafas lega, dia bersyukur karena papanya Fina tidak mempersulitnya. Begitupun dengan Fina yang sangat bahagia dengan keputusan papanya.

__ADS_1


"Perlu kamu ketahui, Fina adalah anak tunggal kami. Dia adalah anak kesayangan kami, lima tahun menantinya adalah perjuangan yang luar biasa. Kata pertama yang bisa ia ucapkan adalah papa, saya yang pertama kali menitahnya sat ia mulai belajar berjalan, orang yang paling sigap agar dia tidak terjatuh. Saya tidak ingin dia terluka, karena luka yang dia rasakan adalah sayatan yang luar biasa bagi kami selaku orang tuanya."


Fina berkaca-kaca mendengar penuturan ayahnya, begitupun dengan ibunya yang berkaca-kaca. Johan merasakan sesak di dadanya, karena secara tidak langsung dia bisa merasakan bagaimana posisi seorang pria yang sedang melamar putri kesayangan ayahnya.


Eza hanya diam, dia bisa merasakan betapa cintanya seorang ayah pada anaknya begitu dalam.


"Sudahlah, saya hanya ingin mengatakan itu. Tidak usah terlalu tegang, saya percaya kamu. Dan tolong jaga kepercayaan saya dengan baik, saya merestui kalian."


"Papa hikss.." Fina berhambur memeluk papanya dengan erat, dan menumpahkan kebahagiaannya.


"Terimakasih banyak pah." tuturnya.


"Sama-sama sayang."


"T--terimakasih banyak om, Tante." ujar Eza.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Fandy.


"T--terimakasih karena telah merestui kami."


"Saya memang sudah merestui, tapi bagaimana dengan orang yang sudah melahirkan Fina?"


Eza langsung melirik ke arah ibu nya Fina, Jihan yang ditatap Eza hanya tersenyum dan mengangguk iya. "Saya juga merestui kamu dan anak saya, tolong jaga Fina dengan baik kedepannya."


"Terimakasih banyak Tante, om." tak bisa dipungkiri Eza sangat bahagia, amat sangat bahagia.


"Mah gimana sih, seharusnya mama ngga semudah itu dong." tutur Fandy.


"Sudahlah pah, kata papa niat baik itu harus dipermudah."


"Yasudah, kapan kamu membawa keluarga mu untuk melamar anak saya?"


"Besok om." ujar Eza bersemangat.


Apa? Jihan, Fandy, Fina dan Johan berteriak tak percaya.


Anak ini benar-benar serius ingin mempersunting anak ku. batin Fandy.


"Jangan besok, bagaimana seminggu lagi? saya baru saja datang dan ingin menikmati kebersamaan dengan anak saya sebelum dia menjadi istri orang."


"Baiklah, kalau seperti itu. Seminggu lagi saya akan membawa keluarga saya untuk melamar Fina."


Fandy mengangguk. "Yasudah, sekarang kita makan dulu. Nanti kita lanjut berbicaranya."

__ADS_1


Fina melirik Eza, mereka berdua beradu pandang dan tersenyum senang. Johan hanya dapat berdehem melihat tingkah sahabat dan keponakannya yang lancang bermesraan meski hanya bertatapan. Sungguh dia iri, dan ingin mencari seorang istri.


Bersambung...


__ADS_2