Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
tragedi di malam pertunangan


__ADS_3

Roni membawa istri beserta anaknya menuju hotel tempat pertunangan Eza dan Fina di gelar, sepanjang perjalanan Eliana hanya terdiam dan menatap ke luar jendela.


Roni yang tidak biasa dengan sikap pendiam anaknya itu lantas bertanya kepada Endah sang istri, mengapa putrinya itu hanya terdiam saja?


"Eliana kenapa? tumben dia diam?"


Endah menatap ke arah belakang sekilas, lalu tersenyum kepada suaminya. "Mungkin pusing dengan tugas-tugasnya, inikan mendekati kelulusan nya." ujar Endah.


Roni hanya mengangguk mengerti.


Mereka bertiga akhirnya sampai di tempat pertunangannya, Roni membukakan pintu mobil untuk istrinya. Sedangkan Eliana turun sendiri dan menatap hotel ini dengan senyum getir di bibirnya.


Apa aku benar-benar harus mengikhlaskan om Za? batin Eliana.


"El, ayo nak kita masuk." ajak Endah.


Eliana mengangguk, mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke dalam hotel yang tentunya sudah di dekorasi dengan sangat indah.


Eliana sejujurnya sebal dengan ayahnya, karena acara pertunangan ini akan di gelar tepat pukul sembilan malam. Lantas mengapa ayahnya datang dua jam lebih awal.


Melihat kedatangan keluarga sahabatnya, Airen pun menghampiri dan menyapa Endah. "Ndahh, aku kangen bangat sama kamu." ucap Airen memeluk erat Endah.


Endah pun membalas pelukan Airen. "Iya Ren, aku juga kangen. Amira Amara dan Rey bagaimana kabarnya?" ucapnya menanyakan kabar anak-anak Airen.


"Alhamdulillah mereka baik, oiya Eliana mana?"


"Aku di sini tante." ujar Eliana menampakkan dirinya yang ketutupan oleh ayahnya.


"Wahh, kamu cantik bangat." puji Airen kepada anak sahabatnya itu.


"Terimakasih, tante jauh lebih cantik. Oiya, kak Ara dan kak Gebi dimana?" tanya Eliana, karena dia ingin mencari teman untuk berbicara.


Airen tersenyum. "Mereka ada di ruangan sana, semua anak-anak muda pada ngumpul di sana."


"Mah pah, aku ke sana ya. Dahh." Eliana langsung berlari pelan menuju ruangan yang tadi ditunjukkan oleh Airen.


Sesampainya di ruangan sana, Eliana cukup terkejut karena banyak sekali orang yang berada di sini. Pasti teman-temannya Kak Amira, kak Amara, dan kak Gebila turut di undangan.


"Eliana!!" panggil Gebila dengan suara kencang sambil melambaikan tangannya.


Eliana berjalan pelan menuju tempat Gebila berada, dia tersenyum senang akhirnya mendapatkan teman untuk berbicara.


"Wahh kamu cantik bangat, mau nyaingin calonnya om Za ya?"


"Ngga lah, lagi juga mama aku yang pilihan gaun ini."


"Iya deh, oiya sini minum. Nih jus tenang kok aman, disini tidak ada minuman terlarang."


Eliana mengangguk, dia tahu karena mami Hellena pasti melarang minuman semacam itu berada di acara yang sakral.


Mereka asyik berbincang sekedar membahas om Za dan juga Fina, Eliana tentu tidak suka dengan topik pembicaraan ini dia pun mengalihkannya dengan bertanya kepada Amira.


"Oiya, kak Mira sekarang pasti sibuk bangat ya? soalnya kan udah sah jadi Presdir."

__ADS_1


Amira tersenyum. "Ngga kok, kan ada papa kamu yang selalu bantuin kaka." ucapnya.


Eliana hanya mengangguk saja, dia tidak mengerti harus bertanya apa lagi soal perusahaan. Sejujurnya dulu om Hans selaku ayah dari 2A selalu menawari kepada Eliana untuk menjadi asisten pribadi anaknya kelak, bahkan di iming-imingi dengan gaji yang besar.


Namun Eliana tak tertarik, cita-citanya hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. Sejujurnya Eliana tidak ingin bekerja, dia hanya ingin menghabiskan uang suaminya kelak.


"Roby gimana kak? pasti masih suka ngedeketin Kaka ya?"


Amira terkekeh, memang benar laki-laki yang sepantaran dengan Eliana itu terus saja mendekatinya. Sejujurnya Amira hanya menganggap Roby sebagai adiknya, karena kebetulan ayahnya Roby memang sahabat baik papanya. siapa lagi kalau bukan Om Barra?


"Dari pada bahas si Roby dan kak Mira, lebih baik bahas kamu dan om Eza saja. Perasaan kamu gimana nih El? Bukannya kamu orang yang selalu mengatakan cinta kepada om Za." celetuk Gebila, karena sejujurnya dia penasaran dengan perasaan yang sebenarnya Eliana miliki untuk Om nya.


Eliana hanya terdiam tak berniat untuk menjawabnya.


🍁🍁🍁


Pukul sembilan malam.


Semua orang sudah berkumpul di halaman utama, untuk menyaksikan Eza mengaitkan cincin di jari manis Fina sebagai lambang pertunangan mereka.


Kedua keluarga besar mereka turut hadir meramaikan acara yang besar ini, Airen menatap adiknya penuh bangga. Akhirnya setelah tiga puluh dua tahun, Eza mendapatkan seseorang yang dicintainya.


Hans merangkul pinggang istrinya, mengusap air mata Airen dengan lembut. Dia tahu istrinya pasti sedang terharu menatap adiknya yang sekarang telah menemukan tambatan hatinya.


Airen menyadarkan kepalanya di dada Hans, sungguh dia merasa terharu melihat Eza bertunangan. Apalagi jika Eza menikah nanti?


"Baiklah semuanya, sekarang kita ke acara inti. Reza silahkan pasangkan cincin itu ke jari manis Fina pasangan mu." ucap mc tersebut.


Om Za, jika memang om bukan jodoh aku. Aku ngga apa-apa, aku akan berusaha ikhlas dan selalu mendoakan yang terbaik untuk om dan kak Fina. tapi jika om jodoh aku, aku minta pada Tuhan agar kita segera di satukan. batin Eliana.


Endah menggenggam erat tangan Eliana, tanpa melihat anaknya. Dia tahu Eliana pasti sedang bersedih, melihat seseorang yang dicintainya bertunangan dengan orang lain.


Semuanya bertepuk tangan dengan riuh, setelah Eza berhasil memasangkan cincin pertunanganya di jari manis kekasihnya. sahabat-sahabat Eza terlihat mereka yang paling rusuh, bersorak dan bertepuk tangan.


Mami Hellena pun menitikan air matanya, melihat Eza sekarang sudah bertunangan. Dia hanya berdoa, semoga Tuhan lebih memperpanjang umurnya sampai dapat melihat Eza menikah.


"Hikss.." Airen menangis pilu di dalam dekapan suaminya.


"Mas, aku bahagia. Sangat bahagia, karena sekarang Eza sudah memiliki pasangan hidupnya."


"Masih belum sayang, mereka baru bertunangan belum ijab qobul. Kita tidak pernah tahu bagaimana akhirnya bukan? maka dari itu mari kita doakan yang terbaik untuk Eza, agar semuanya baik-baik saja hingga hari pernikahan mereka." ucap Hans sambil menepuk-nepuk bahu Airen.


Ntah mengapa perasaan Hans sedikit tidak enak, karena dulu dirinya pernah bertunangan tapi nyatanya mempelai wanitanya justru pergi meninggalkan dirinya.


Semuanya bisa terjadi atas kehendak Tuhan.


"Wihh Za, selamat ya. Ngga nyangka gue ternyata lo bisa dapat daun muda, udah gitu keponakannya si Jo lagi." tutur Adit sahabat baik Eza semasa SMA.


Eza tersenyum. "Thanks dit, semoga lo sama Jo cepet nyusul ya."


"Wahh mulai berani nih anak, ngga gue restuin baru tau rasa lo." tutur Johan sambil memukul pelan lengan Eza.


"Bisalah kita ngobrol-ngobrol dulu, sebelum nanti susah buat ngajak lo nongkrong pas punya istri." ujar Bagas

__ADS_1


Ke tiga sahabat Eza lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Bagas, mereka berlima pun melimpir ke ruangan khusus untuk para cowok setelah Eza setuju.


"Om mau kemana?" tanya Amara yang melihat Eza dibawa oleh teman-temannya.


"Party gadis manis, mau ikut kah?"


"Gas jangan kurang ngajar ya, itu keponakan gue."


"Hehe oke-oke maaf."


"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul." tutur Eza kepada teman-temannya, mereka pun berjalan lebih dulu.


Eza menatap keponakannya. "Ara, om mau ngobrol sama teman-teman om. Kalau nanti mama kamu nyariin bilang seperti itu."


Amara menatap penuh selidik. "Oke, tapi om ngga boleh minum yang memabukan. Nanti Oma dan mama marah."


"Kamu tenang saja, om ngga akan ikut mereka buat mabuk."


Amara mengangguk dan pergi, setelah itu Eza pun menyusul teman-temannya. Sedangkan kedua keluarga mereka sedang asyik mengobrol bersama di meja makan.


Eza masuk ke dalam ruangan yang ternyata di sana teman-temannya sudah memulai pestanya. Kalau kata Bagas sih pesta bujang.


"Za ngga minum?" tanya Adit.


Eza menggelengkan kepalanya. "Ngga, kalian saja."


"Yah ngga seru dong, masa pemain utamanya ngga ikut minum? Inikan pesta Lo Za." ujar Bagas yang sudah terpengaruh minuman beralkohol.


"ngga usah didengerin si Bagas, lo ngga perlu ikutin apa kata dia Za." tutur Fikri memperingati Eza agar tidak terpengaruh ucapan Bagas.


Eza mengangguk, lantas dia hanya duduk sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Bagas memiliki rencana untuk memasukkan obat perangs@ng ke dalam Jus milik Johan. Agar sahabatnya itu segera menikah juga.


"Za, laper nih gue. Ambilin makanan ge." tutur Adit yang merasa lapar.


Eza mengangguk, dia pun keluar dari ruangan tersebut untuk mengambil makanan. Selagi Eza sedang mengambil makanan, yang lainnya hanya main ponsel dan sesekali Adit maupun Fikri ikut meneguk minuman itu.


Bagas melancarkan aksinya menuangkan obat prngsng ke dalam jus jeruk milik Johan, dan hal itu sama sekali tidak di ketahui oleh mereka.


Johan mengambil gelasnya, saat dia hendak meminumnya Eza datang dengan makanan di tangannya dan langsung meletakkan nampan itu di atas meja.


Johan merasa tiba-tiba kebelet buang air besar, dia pun menyerahkan jus jeruk itu kepada Eza. "Gue ga nahan nih, pen pup dulu." ujar Johan berlari mencari kamar mandi.


Adit dan yang lainnya hanya menggeleng, berbeda dengan Bagas yang sudah tak sadarkan diri karena mabuk berat.


"Nih anak kerjaannya nyusahin ya." celetuk Fikri yang melihat Bagas tak sadarkan diri.


"Cek Fik, siapa tahu kelewat sampe alam sebelah." ujar Adit bercanda, namun dianggap serius oleh Fikri.


Fikri pun mengecek detak jantung Bagas, dan dia langsung bersyukur karena masih terdengar. "Alhamdulillah, aman euy." ucapnya.


Eza menggelengkan kepalanya, dia jadi merasa haus karena melihat tingkah laku teman-temannya. Eza pun meminum habis jus jeruk milik Johan, karena hanya Eza dan Johan yang tidak ikut minum minuman beralkohol.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2