
Entah sudah yang ke berapa kali Ara melanggar peraturan yang di buat kedua kakaknya. Semenjak berhubungan dengan Farhan, gadis itu kerap berbohong dan diam-diam menyelinap keluar. Tak peduli siang ataupun malam, jika ada kesempatan ia selalu menggunakannya untuk bertemu pujaan hatinya.
Seperti yang terjadi hari ini. Tak ada siapapun di rumah, kecuali para asisten rumah tangganya. Sementara kedua kakaknya sedang pergi entah kemana. Di waktu senggang itu ia mengundang Farhan untuk datang ke rumahnya. Kebetulan saat itu Farhan sedang libur dari pekerjaannya.
"Sayang, aku ada di depan gerbang," ucap Farhan melalui sambungan telepon. Saat itu ia masih berada di atas motornya yang di parkir di depan gerbang.
"Loh, kok di situ? Langsung masuk saja, Mas," perintah Ara. Gadis itu bergegas turun untuk menemui kekasihnya itu.
"Apa calon istriku tidak ingin menyambut kedatanganku?" Ucap Farhan beralasan. Sebenarnya ia tidak langsung masuk karena di cegat oleh petugas keamanan yang di pekerjakan oleh Samsul. Ya, rumah Ara memang di jaga cukup ketat. Tak sembarangan orang bisa masuk begitu saja tanpa seizin dari pemilik rumah. Dalam hal ini yang paling berkuasa di rumah tersebut adalah Samsul dan Haris. Sementara Ara hanyalah bos kecil di sana. Jadi, tak begitu berpengaruh meskipun Farhan sudah mengatakan bahwa yang mengundangnya adalah Ara. Petugas keamanan itu tetap tak mengizinkannya masuk.
"Memangnya Mas Han itu raja? kenapa harus di sambut segala," sahut Ara dengan tawa. Meski gadis itu protes tapi ia tetap melakukannya. Dengan langkah cepat ia menyusuri halaman rumahnya yang luas, menuju gerbang.
"Apa kau lupa kalau seorang suami itu bagaikan raja?"
Ara kembali terkekeh. "Suami siapa? Mas Han bukan suamiku."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi cari wanita lain saja yang mau menjadi istriku," ancam Farhan.
"Jangan. Aku bercanda," ucap Ara, buru-buru.
Farhan tersenyum senang. Padahal ia hanya bercanda, tapi sepertinya Ara menganggap serius. Farhan lekas mematikan sambungan telepon dan memasukan ponselnya ke dalam saku. Ketika melihat Ara keluar gerbang.
"Mas Han," sapa Ara dengan senyum tipis. Ia menghampiri Farhan dan langsung memeluk lelakinya itu tanpa rasa canggung sedikit pun.
__ADS_1
Farhan ikut tersenyum. Tangannya terulur ke atas, mengelus rambut gadis itu.
"Ayo masuk," ajak Ara seraya melepas pelukannya. Ia berjalan terlebih dulu untuk membukakan gerbang. Namun di halangi oleh petugas keamanan.
"Maaf, Nona. Orang asing itu tidak bisa masuk," ucap security yang bernama Hasan itu. Pria berperawakan tinggi dan kekar itu menghalangi tangan Ara yang hendak membuka gerbang.
"Apaan sih, Pak. Dia bukan orang asing, aku mengenalnya." Ara mendorong Hasan yang menghalangi jalannya. Namun tenaganya terlalu lemah seimbang dengan tubuhnya yang kecil. Dibandingkan dengan Hasan yang berperawakan tinggi dan kekar tenaga Ara sama sekali tak berarti apa-apa. Tubuh lelaki berusia empat puluh tahun itu hanya bergoyang sedikit. Tapi sama sekali tak bergeser sedikit pun.
"Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan tugas," ucap Hasan. Ya, apa yang dilakukan Hasan memang bukan kehendaknya. Ia hanya menjalankan kewajibannya sesuai dengan apa yang di perintahkan bosnya, yaitu Samsul.
"Minggir!" ucap Ara dengan tatapan geram. Hasan bergeming. Tetap berdiri tegap dan terus menghalangi Ara. Sama sekali tak mengindahkan perkataan bos kecilnya itu.
"Aku menyuruhmu minggir! Apa Pak Hasan tidak dengar!" Mata Ara sampai memerah karena menahan amarah.
Begitu namanya di sebut, Ara langsung menoleh dan berlari ke arahnya. Lalu menghambur, memeluk lelakinya. Farhan menatapnya dengan cemas.
"Ada apa?" tanya Farhan. Kedua tangannya bertengger di pinggang Ara, membalas pelukannya.
"Dia melarangku membukakan pagar untukmu," sahut Ara seraya menuding Hasan dengan telunjuknya.
Farhan memutar kepalanya. Beralih menatap seseorang yang di tunjuk kekasihnya itu. Kedua lelaki itu saling berpandangan dengan tatapan garang selama beberapa saat. Hingga akhirnya Farhan mengakhiri adegan saling tatap itu dengan mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Ara.
Kedua tangan Farhan terulur ke atas, meraih wajah Ara dan membelai pipinya dengan lembut. "Jika memang tak boleh masuk, maka tidak usah masuk," ucapnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
Ara mendongakkan kepala untuk melihat wajah Farhan yang lebih tinggi darinya. "Mas Han lihat kan, keluargaku dan dia sangat jahat, mereka bahkan tak mengizinkanmu masuk," rengeknya.
"Ssst." Farhan meletakkan telunjuknya di bibir Ara. "Apa yang kau katakan. Tidak ada yang jahat, Sayang. Terlebih keluargamu, mereka pasti sangat sayang padamu," imbuhnya.
"Sayang apanya? mereka selalu mengurungku di dalam rumah, melarangku berbuat ini dan itu. Seperti itukah kasih sayang yang mereka maksud?" ucap Ara dengan mata berkaca-kaca.
Farhan terdiam, tak berani mengatakan apapun. Hanya bisa mendekapnya dengan erat. Mencoba memberikan kekuatan untuknya.
Entah mengapa hatiku terasa teriris melihatnya yang seperti ini. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran keluarganya? mengapa mereka memperlakukannya seperti ini? Apa mereka juga tak melihat betapa tertekannya Ara selama ini?
"Aku tidak menginginkan kasih sayang yang seperti itu, Mas. Aku ingin bebas, aku tidak ingin terus menerus di kurung seperti seorang tahanan!" ucap Ara sambil berlinang air mata. Setelah sekian lama terpendam akhirnya uneg-uneg itu keluar juga.
"Bersabarlah, Sayang," ucap Farhan, lirih. Ia menepuk-nepuk punggung Ara dengan pelan, menenangkannya. "Suatu saat nanti. Jika waktunya sudah tepat, mereka pasti akan membebaskanmu," lanjut Farhan.
"Kapan itu, Mas?" tanya Ara dengan suara sangat kecil.
"Sebentar lagi, tidak akan lama," sahut Farhan, yakin.
Aku berjanji padamu, Ara. Setelah kau lulus, aku akan segera meminangmu. Dengan begitu aku bisa melepaskanmu dari belenggu itu.
"Inara!" teriak seseorang yang membuat Farhan dan Ara terlonjak kaget.
bersambung...
__ADS_1