
Farhan dan Ara tak berpacaran. Tapi hubungan keduanya bak sepasang kekasih. Setiap hari berbagi kabar. Bahkan keduanya setiap malam selalu mengobrol lewat telepon hingga salah satu di antaranya tertidur lebih dulu. Lebih tepatnya Ara yang tidur lebih dulu. Kalau Farhan tentu saja jarang tidur cepat. Kadang saat tengah malam pun laki-laki itu masih keluyuran dengan teman-temannya.
Hampir setiap hari mereka berdua bertemu. Entah sekedar mengantar atau menjemput Ara pulang sekolah. Jika ada kesempatan mereka juga jalan berdua. Menonton film atau mengunjungi tempat wisata.
Rencananya hari ini Farhan ingin mengajak Ara menonton pertandingan sepak bola. Bukan di stadion. Melainkan di lapangan kecil di pinggir jalan. Dan Farhan sendiri ikut main dalam pertandingan tersebut.
Siang itu Farhan dan teman-temannya berkumpul di lapangan bulu tangkis dekat rumahnya. Sebelum bertanding biasanya mereka memang berkumpul dulu untuk membahas strategi, persiapan dan mengatur posisi pemain.
"Bim, kau atur saja semuanya, aku pergi dulu," ucap Farhan. Meraih jaket yang teronggok di tumpukan jersey, lalu memakainya.
"Kau mau kemana, Han? Sebentar lagi kita tanding," ujar Bimo mengingatkan.
"Tenang saja, aku tidak akan lama. Kita bertemu di lapangan," ucap Farhan sambil berlalu. Ia menghampiri motornya. Memasukan kunci dan menyalakan kuda besinya itu. Detik berikutnya ia sudah melaju, meninggalkan teman-temannya.
"Si Farhan mau kemana, Bim?" tanya Agung, salah satu pemain yang bergabung di tim Farhan dan kawan-kawan.
Bimo mengedikkan bahu. "Enggak tahu," ucapnya.
"Memangnya dia nggak jadi ikut main?"
"Ikut," jawab Bimo. Ia meletakan semua perlengkapan yang di butuhkan ke dalam kardus.
"Terus kenapa pergi?"
"Cuma bentaran doang katanya. Ayo kita jalan," ajak Bimo. Ia membawa kardus tersebut dan meletakan di motornya.
"Nggak nungguin Farhan dulu?" tanya Agung. Farhan merupakan kapten tim. Dialah yang biasa mengatur semuanya. Namun, karena ada urusan yang entah apa tanggung jawab itu di serahkan pada Bimo.
"Nggak perlu. Nanti ketemu di lapangan," sahut Bimo.
Bimo bertepuk tangan, mencuri perhatian teman-temannya yang lain. "Ayo kita ke lapangan sekarang," ajaknya dengan suara lantang.
Sekumpulan pria di sekelilingnya yang sedang duduk lekas bangkit berdiri. Ada yang langsung menuju motornya ada juga yang masih sibuk memungut barang-barang pribadinya dan memasukannya ke dalam tas.
"Her, kau bawa ini," titah Bimo. Menunjuk kardus berisi Air mineral. PpSeorang remaja yang bernama Heru itu pun lekas mengangkat kardus tersebut dan membawanya. Kemudian ia berjalan menghampiri temannya yang lain dan naik ke motor temannya itu.
"Bim, kau lihat sarung tanganku tidak?" tanya Sandi. Sejak tadi pria kurus itu masih mondar mencari keberadaan barang yang wajib di kenakan oleh penjaga gawang itu.
"Ada di kardus," sahut Bimo. Melirik kardus yang ada di motornya. "Nanti saja ambilnya pas di lapangan," imbuhnya, memerintah.
"Baiklah," sahut Sandi.
Kedua pria itu lantas menghampiri motor masing-masing. Satu persatu sekumpulan pria bermotor itu meninggalkan lapangan bulu tangkis dan bergerak menuju lapangan sepak bola yang sudah di tentukan.
Suasana di lapangan saat itu cukup ramai. Kerumunan penonton tampak mengelilingi lapangan. Meskipun hanya turnamen kecil tapi sepertinya para warga sekitar begitu antusias menyambutnya. Dan para penonton itu dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Beberapa pedagang kecil seperti penjual es, cilok, gorengan dan lain-lain juga ikut meramaikan suasana kala itu. Seperti kata pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain menghasilkan rupiah mereka juga mendapat hiburan.
Lima belas menit sebelum pertandingan, kedua tim tampak sudah bersiap. Tim masing-masing bergerombol di pinggir lapangan. Beberapa pemain terlihat sedang melakukan pemanasan dengan berlari-lari kecil ataupun melompat-lompat.
Saat itu Bimo sedang memakai kaos kaki. Sementara yang lainnya ada yang sedang memakai kaos, ada juga yang masih merokok dengan santainya.
Di belakang Bimo ada Sandi yang sedang melakukan peregangan. Matanya menyapu deretan penonton yang ada di pinggir jalan. Bibirnya merekah ketika mendapati beberapa penonton wanita yang menurutnya cantik.
__ADS_1
"Selain untuk berolah raga, datang kesini juga bisa sekalian cek kesehatan mata ya, Ndra," ucapnya. "Lihat gadis-gadis di sana, mereka tersenyum padaku," imbuhnya. Menunjuk penonton wanita dengan sorot matanya.
Hendra mengikuti arah pandangan temannya itu. "Kau geer sekali, San. Mereka bukan menatapmu, tapi menatapku," sahutnya.
"Jelas-jelas mereka menatapku, bukan menatapmu. Mereka bahkan tersenyum padaku, sebelum kau datang."
"O," pekik Hendra, terkejut. Mendapati Farhan yang baru saja tiba. Bukan kedatangan Farhan yang membuatnya terkejut tapi karena ada seorang gadis disisinya. "Bukankah itu Farhan?" tanyanya, ingin memastikan.
Sandi mengikuti arah pandangan Hendra. Laki-laki itu tersenyum, melihat Farhan berjalan menuju kemari. "Wah ... ternyata Farhan datang bawa kejutan," ucapnya.
Ya, usai memarkir sepeda motornya. Farhan dan Ara berjalan menuju lapangan. Farhan menggandeng tangan Ara saat menerobos kerumunan penonton di pinggir lapangan itu. Kedatangan mereka berdua cukup mengundang perhatian banyak orang. Tampan dan juga cantik, benak beberapa orang yang melihat keduanya.
Penampilan Ara saat itu cukup mencolok jika di bandingkan dengan penonton wanita yang lain. Saat itu Ara mengenakan cocktail dress berwarna hitam dengan lengan transparan berbahan tule. Rambutnya panjangnya yang di curly, menambah kesan elegan gadis cantik itu. Di pundaknya tergantung sling bag kecil dengan logo huruf H berwarna senada. Meskipun tas itu berukuran kecil, tapi harganya bisa untuk membeli satu unit motor.
"Baru datang, Han," sapa seorang pria di antara penonton itu. Pria berambut cepak itu merupakan teman Farhan saat sekolah dasar.
"Oh Ferdi," ucap Farhan sedikit terkejut. Ia menghentikan langkah untuk membalas sapaannya dan melepas gandengan tangan Ara untuk menjabat kawan lamanya itu. "Kapan balik? Kudengar kau bekerja di luar negeri," imbuhnya, bertanya.
"Minggu lalu, Han," sahut Ferdi. "Siapa ini? Adikmu?" tanyanya. Menunjuk Ara dengan sorot matanya.
"Aku baru tahu kau punya adik secantik ini, Han," imbuhnya.
Farhan menanggapinya dengan senyuman. Bukan hanya Ferdi yang mengatakan demikian. Sebelumnya beberapa orang lainnya juga mengira mereka berdua kakak beradik.
Ferdi mengulurkan tangannya pada Ara. "Siapa na ...."
"Maaf, aku permisi dulu, Fer. Teman-temanku sudah menunggu," sela Farhan. Ia kembali meraih tangan Ara, menggandengnya.
"Mari, Mas," ucap Ara saat melewati Ferdi.
Ferdi memandangi punggung Ara yang bergerak menjauh. Adik Farhan cantik sekali, gumamnya dalam hati.
Sambil menggandeng tangan Ara, Farhan menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu. Begitu sampai ia di sambut dengan deheman dari Sandi dan juga Hendra.
Farhan tak menggubris kedua teman yang menggodanya itu. Ia melewatinya begitu saja dan memilih mencarikan tempat untuk Ara.
"Apa duduk di rumput tidak apa-apa? Di sini tidak ada kursi," tanya Farhan.
"Tentu saja, Mas Han. Aku bisa duduk dimana pun," sahut Ara, tersenyum.
"Kalau begitu di sini tidak apa-apa?" tanya Farhan. Menunjuk rumput yang ia pijak dengan sorot mata.
Ara menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tunggu sebentar--Mas Han carikan alas dulu." Farhan melepas tangan Ara. Kemudian berjalan lima langkah menghampiri teman-temannya.
"Kau langsung main 'kan, Han?" tanya Bimo saat Farhan berada di sisinya.
"Iya," sahut Farhan. Ia melepas celana panjang dan jaketnya. Kemudian meletakkannya di atas tumpukan baju teman-temannya yang lain. Setelah itu memembungkukkan badan, mengeluarkan kantong kresek berisi obat-obatan serta beberapa deker dari dalam kardus. Ia meletakan kresek tersebut di atas rumput. Ia mengubek-ubek kardus satunya lagi yang berisi sepatu kracak.
"Kau lihat sepatuku tidak, Bim?" tanya Farhan saat tak menemukan sepatu milikknya.
__ADS_1
Bimo mengedarkan pandangan. Ia sempat lihat tapi lupa dimana. "Coba kau cek di kardus yang itu, Han," sahut Bimo seraya menunjuk kardus satunya lagi.
Farhan kembali melangkah, menghampiri kardus yang di tunjuk Bimo dan membukanya. Ternyata memang ada di sana. Ia lekas mengambilnya dan kembali berjalan menghampiri Ara sambil menenteng satu kardus kosong.
"Pakai ini untuk alas," ucap Farhan. Memberikan kardus itu pada Ara.
"Terima kasih," sahut Ara saat menerima kardus itu. Ia membuka kardus itu dan membuatnya lebih lebar. Sehingga bisa diduduki dua orang. Ia menjatuhkannya ke tanah. Kemudian menjatuhkan pinggulnya di atas kardus itu.
Farhan ikut duduk di sebelahnya. Melepas sandal dan mulai memakai kaos kaki dan sepatunya.
"Kapan pertandingannya di mulai, Mas?" tanya Ara.
"Sebentar lagi," sahut Farhan. "Ara tidak apa-apa 'kan Mas tinggal main bola?" tanyanya.
"Ya nggak apa-apa dong, Mas. Kan Mas Han juga main bolanya masih di sini."
"Sebenarnya Mas tidak tega membiarkanmu duduk sendiri di sini."
"Mas Han tenang saja. Lagipula secara teknis aku tidak sendiri. Di samping dan belakangku banyak orang," ucap Ara.
"Tapi kau tak mengenal mereka, begitu pula sebaliknya. Kau pasti kesepian karna tak ada teman mengobrol saat pertandingan mulai nanti," ucap Farhan.
"Tidak apa-apa. Aku juga berniat tak mau ngobrol saat pertandingan mulai. Aku akan fokus menonton," kata Ara. "Aku akan mengawasi Mas Han," imbuhnya. Memandang Farhan dengan senyum tipis.
Farhan ikut tersenyum. Ia membelai kepala Ara dengan lembut. "Kalau begitu, sepertinya Mas harus berjuang lebih keras agar tak mengecewakan Ara," ucapnya.
"Tentu saja. Kalau bisa ciptakan gol untukku," pinta Ara.
"Sebenarnya dibanding membobol gawang lawan, Mas lebih ingin membuat gol di gawang Ara," goda Farhan dengan senyum menyeringai.
Ara mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"
Sudah kuduga, gadis ini masih polos.
"Tidak ada, cuma bercanda," sahut Farhan.
Wasit meniup peluitnya. Memerintahkan para pemain dari kedua tim untuk berkumpul karena sebentar lagi pertandingan segera di mulai.
"Mas harus kumpul sekarang," ucap Farhan.
"Pergilah," ucap Ara, memerintah.
Farhan tersenyum. "Tunggu di sini," ucapnya. Ia kembali mengusap kepala Ara sebentar. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke tengah lapangan bersama teman-temannya.
.
.
.
.
__ADS_1