
Anak dan ibu itu masih berdebat. Tak ada yang mau mengalah. Bu risma terus memaksa putrinya itu agar pergi berbelanja, membeli bahan makanan dan juga keperluan rumah tangga. Sementara anaknya enggan pergi.
" Harus banget sekarang?" tanya Fira dengan wajah cemberut.
Huh, kenapa sih ibu menyuruhku belanja bulanan segala, merepotkan sekali. Andai saja tidak ada Farhan, aku pasti langsung menolaknya mentah-mentah.
"Ya sekarang dong, masa tahun depan," sahut Bu Risma sedikit bercanda. "Nak Farhan," panggilnya kemudian.
Farhan menoleh begitu namanya di sebut. "Ya, Tante," sahutnya.
"Bisa minta tolong antarkan Fira ke supermarket tidak?" tanya Bu Risma.
Eh, kenapa menyuruhku juga, batin Farhan.
"Mau ya, Nak Farhan," ucap Bu Risma, memohon.
Dengan terpaksa Farhan pun mengiyakan permintaan teman ibunya itu. Karena ia merasa tak enak jika menolak.
Fira yang tadinya cemberut kini justru tampak kegirangan karenanya. Ia kembali sumringah saat tahu kalau akan di antar Farhan. Tahu begitu tadi aku langsung mengiyakan saja, tak perlu membuat banyak alasan, pikirnya.
Farhan dan Fira pun pergi. Menuju supermarket terdekat untuk membeli semua barang yang sudah di catat oleh Bu Risma dalam secarik kertas.
Selama perjalanan Farhan terlihat lebih kalem. Laki-laki itu hanya menjawab saat di tanya, selebihnya hanya diam tanpa benar-benar mendengarkan Fira yang terus mengoceh. Berbeda sekali jika ia bersama Ara. Saat bersama gadis itu Farhan tampak bahagia. Keduanya saling bergurau dan tertawa lepas.
Farhan terpaksa menghentikan laju kendaraannya saat berada di lampu merah. Disaat bersamaan mobil yang di tumpangi Ara dan Dion ikut berhenti tepat di sebelahnya. Keduanya begitu dekat, bahkan sangat dekat hingga bisa saling menyentuh. Ara bisa melihat Farhan dengan jelas meskipun terhalang oleh kaca. Namun, Farhan justru sama sekali tak menyadarinya. Saat itu ia sedang fokus menatap lurus ke depan. Menunggu lampu rambu lalu lintas itu berganti hijau.
Farhan menoleh ke belakang saat Fira melingkarkan kedua tangan di perutnya. Di saat bersamaan lampu berubah hijau. Ia pun kembali menancap gas, melanjutkan perjalanan. Begitu pula mobil yang di tumpangi Ara dan Dion. Keduanya berjalan beriringan selama beberapa saat. Hingga akhirnya berpisah saat di pertigaan. Ara belok ke kiri, sementara Farhan belok ke kanan.
"Bisakah kau lepaskan tanganmu dari tubuhku? Kita bukan suami istri, aku merasa tidak nyaman," ucap Farhan.
Heh, aku baru tahu dia ternyata laki-laki yang sok suci. Meskipun begitu aku tidak akan melepasnya.
"Mas Farhan bilang apa? Maaf, aku tidak dengar," sahut Fira berpura-pura. Dengan sengaja ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Sehingga dadanya menempel di punggung Farhan.
"Kubilang singkirkan tanganmu," ucap Farhan setengah berteriak.
__ADS_1
Fira melongokan kepalanya di bahu Farhan, mendekatkan telinganya. "Apa? Masih tidak dengar, bisakah mengatakannya lebih keras lagi?"
Padahal aku sudah berteriak tapi tetap tidak dengar. Apa dia tuli?
Dengan tak sabar Farhan melepaskan tangan Fira yang melingkar di perutnya tanpa mengatakan apapun lagi. Fira tampak cemberut karenanya.
Lima belas menit kemudian Farhan kembali menghentikan motornya saat sudah sampai di supermarket. Usai memarkirkan motornya, keduanya pun melenggang masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
"Fira aku tunggu di sini, ya," ucap Farhan seraya berhenti melangkah.
"Kenapa tidak ikut masuk ke dalam, Mas?" tanya Fira, ikut berhenti. Ia menatap Farhan yang sudah terduduk di kursi tunggu yang ada di depan supermarket itu, dekat pintu masuk.
"Aku ingin merokok," sahut Farhan, berbohong. Padahal sebenarnya karena ia malas menemani Fira berbelanja.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku tinggal ke dalam sebentar, ya?"
"Hm," sahut Farhan seraya menganggukkan kepala.
Usai Fira pergi, Farhan mengeluarkan ponselnya. Mengetikan beberapa kata dan mengirimkannya pada Ara.
[Sudah pulang?] tulisnya. Ia memandangi layar ponselnya itu, menunggu balasan.
Farhan menekan ikon gagang telepon, menghubungi Ara. Dahinya berkerut, saat panggilan telepon itu di tolak.
"Tumben sekali," gumam Farhan. Ia kembali menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan kembali mengirim pesan whatsapp pada Ara.
[Sedang sibuk?] tanyanya dalam pesan singkat itu.
[Tidak] balas Ara, detik berikutnya.
Farhan kembali menelpon Ara. Namun, lagi-lagi panggilannya itu di tolak. Farhan mulai bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan gadis kecilnya itu. Tak biasanya ia menolak panggilan teleponnya.
[Sedang apa? Mengapa tidak angkat telepon?]
[Malas bicara]
__ADS_1
Farhan semakin di buat kebingungan dengan tingkah Ara. Selain tak mau mengangkat telepon, ia juga membalas pesannya dengan sangat singkat. Farhan menyerah, ia mengakhiri percakapan tersebut tanpa mengirim balasan lagi. Ia keluar dari aplikasi whatsapp, menekan tombol power untuk mematikan layarnya. Kemudian memasukan ponselnya kembali ke dalam saku. Setelah itu mengambil sebatang rokok, menyulutnya dengan korek dan mulai menghisapnya. Ia menikmati rokoknya itu sambil duduk bersandar. Memandang sembarang arah, menatap apa saja yang berada di sekitarnya. Seperti lalu lalang orang yang lewat, maupun beberapa toko di sekelilingnya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Ara tampak cemberut. Gadis itu mulai kesal karena setelah menunggu beberapa menit Farhan tak membalas pesannya lagi dan malah offline.
Pasti sekarang Mas Han sedang sibuk dengan wanita itu?
Dengan kesal ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Setelah itu memandang lurus ke depan, menatap pepohonan yang rimbun. Kedua kakinya yang menggantung di kursi tampak mengayun ke depan dan belakang, bergantian. Tak lama kemudian Dion kembali dengan sekantong kresek besar berisi camilan yang ada di tangannya.
Mata Ara tampak berbinar saat melihat snack kesukaannya itu. "Semuanya untukku?" tanyanya begitu menerima pemberian Dion itu.
"Hm," sahut Dion. "Apa masih kurang? Kalau Ara ingin sesuatu yang lain katakan saja, Kak Dion akan carikan untukmu," ucapnya, tersenyum.
"Tidak ada Kak, ini saja sudah cukup."
"Kalau begitu habiskan, ya," ucap Dion seraya mengusap kepala Ara dengan lembut.
"Bagaimana mungkin, ini terlalu banyak," ucap Ara keberatan.
Dion tertawa kecil. "Tidak harus menghabiskannya saat ini juga. Kau bisa menyimpan sisanya dan kembali memakannya saat di rumah nanti," jelasnya.
"Baiklah," sahut Ara, setuju. Ia mulai membuka kantong kresek tersebut. Memilah mana yang akan ia makan terlebih dulu. Pilihan pertama jatuh pada es cream yang mungkin akan segera mencair. Ia membuka bungkusnya dan mulai menjilatinya.
Dion tertawa kecil saat melihat Ara menggoyangkan kepala dan juga tubuhnya ke kanan dan kiri saat es cream itu masuk ke dalam mulutnya, seperti anak kecil.
Usai menikmati makanan ringan, Ara dan Dion kembali berjalan-jalan, menikmati keindahan hutan mangrove itu. Keduanya mengambil gambar dengan ponsel masing-masing, mengabadikan momen kebersamaan itu.
Setelah mendapat beberapa foto Ara tampak mengeceknya satu persatu. Senyum puas terkembang di bibir gadis itu.
Memangnya mas Han saja yang bisa berduaan dengan orang lain. Lihat, aku juga bisa melakukannya. Kak Dion, maaf aku sedikit memanfaatkanmu.
Ara sengaja mengunggah beberapa foto tersebut di status WhatsApp. Sebuah foto mesra dirinya yang tengah di rangkul oleh Dion. Dalam foto itu Ara juga terlihat sedikit menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Dalam foto itu keduanya tampak tersenyum bahagia.
.
.
__ADS_1
.
.