Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 20


__ADS_3

Farhan tersenyum, menatap kepergian Ara yang berlari menghampiri taman bunga. Apa dia sesuka itu dengan bunga? gumamnya dalam hati. Ia berjalan menyusul gadis itu.


"Mau foto dengan bunga itu?" tanya Farhan ketika sudah berada di sisi Ara. Gadis itu sedang membungkuk, memperhatikan bunga-bunga itu lebih dekat.


"Bolehkah?" tanya Ara seraya kembali menegakkan tubuhnya.


"Tentu saja," jawab Farhan. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Kemudian membuka aplikasi kamera dan bersiap memfoto.


"Sudah siap?" tanya Farhan.


"Ya," sahut Ara malu-malu.


Farhan tersenyum memandangi layar di ponselnya yang menampilkan Ara dengan pemandangan bunga di sekelilingnya. Ia mulai memotret gadis itu.


Dia cantik sekali.


Farhan kembali memotret Ara beberapa kali dengan pose yang berbeda.


"Apa hasilnya bagus?" tanya Ara ketika selesai.


Farhan mengangguk. "Sangat cantik," ucapnya.


"Bunga-bunga ini memang cantik," gumam Ara. Ia berjalan mendekati Farhan dan berhenti tepat di sisi pria itu.


"Bukan bunganya, tapi kau yang cantik, Ara," sahut Farhan.


"Hei ... Berhentilah menggombal, Mas Han," ucap Ara dengan tawa kecil.


"Aku serius," sahut Farhan. "Coba kau lihat sendiri." Farhan menyodorkan ponselnya. Memperlihatkan foto yang telah ia ambil.


Ara meraih ponsel itu. Menggeser layarnya untuk melihat fotonya di slide berikutnya. Ia tersenyum, tampak puas dengan hasil dari jepretan Farhan.


"Apa menurut Mas Han aku cantik?" tanya Ara. Ia menoleh, menatap Farhan yang berdiri di sebelahnya.


Farhan menatap lekat wajah itu. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh wajah gadis itu dan membelai pipinya. "Bukan hanya cantik, Ara. Tapi sangat cantik," puji Farhan.


Keduanya saling beradu pandang selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Ara mengakhiri adegan saling tatap itu dengan memalingkan wajahnya dan menatap sembarang Arah. Farhan kembali menjatuhkan tangannya.


"Sekarang giliran Mas Farhan," ucap Ara. Ia menarik lengan Farhan dan menyuruh pria itu berdiri di depan hamparan bunga itu.


"Tidak perlu, Ara. Aku tidak suka foto," tolak Farhan. Memalukan sekali laki-laki foto dengan latar belakang bunga, pikirnya.


"Tidak bisa. Mas Farhan harus foto juga, buat kenang-kenangan," ucap Ara, memaksa.


Mau tak mau Farhan pun menurut. Laki-laki itu berpose dengan mengangkat jempolnya.


Entah sihir apa yang di gunakan Ara. Hingga berhasil membuat Farhan begitu patuh. Ketika Ara memerintah mengganti pose, Farhan segera melakukannya, meskipun terlihat kaku. Ketika gadis itu menyuruhnya tersenyum Farhan pun langsung mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas.


"Selesai," ucap Ara setelah mengambil beberapa foto.


"Apa hasilnya bagus?" tanya Farhan. Ia berjalan menghampiri Ara dan berdiri di sebelahnya.


"Tentu saja. Mas Han tampan sekali di sini," ucap Ara. Ia menunduk menatap foto-foto Farhan yang baru saja ia ambil.

__ADS_1


"Jadi maksudmu aku tampan saat di foto saja? Aslinya tidak?" tanya Farhan.


Ara mengangkat wajahnya. Kemudian menggeleng cepat. "Tidak. Bukan seperti itu maksudku," ucapnya.


"Kalau begitu, apa itu berarti kau mengakui kalau aku tampan?" tanya Farhan. Wajahnya tampak berseri.


"Ayo kita foto bersama, Mas Han," ucap Ara. Mengabaikan pertanyaan Farhan. Ia memutar tubuhnya, membelakangi Farhan.


Farhan mendaratkan telapak tangannya di pinggang Ara. Kemudian bergerak ke depan dan berhenti di perut gadis itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di sana, memeluknya. "Apa pose seperti ini bagus?" tanyanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Hingga membuat pipi mereka saling bersentuhan. Pandangannya lurus ke depan, menatap layar ponsel yang memantulkan wajahnya dan juga Ara.


"Ayo, cepat ambil fotonya," ucap Farhan, memerintah.


"Eh, iya," sahut Ara setelah sadar dari keterkejutannya. Gadis itu lekas mengetuk layar ponsel itu untuk mengambil foto mereka berdua, beberapa kali.


Farhan mengernyitkan hidung saat angin berhembus ke arahnya.


Aroma apa ini, baunya enak sekali. Tapi aku yakin ini bukan bau bunga.


Farhan tertegun saat menyadari dari mana bau itu berasal. Mungkinkah ini bau tubuh Ara, pikirnya. Farhan kembali mengendus, memastikannya. Ternyata benar, ini memang berasal dari tubuhnya. Kenapa wanginya enak sekali, membuatku ketagihan.


Farhan mengangkat kepalanya. Kemudian menoleh untuk menatap wajah Ara. Ia begitu terlena karena aroma tubuh Ara hingga tanpa sadar mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan kilat di pipi kiri gadis itu.


Kedua mata Ara membulat sempurna. Sangat terkejut dengan kecupan Farhan yang tiba-tiba dan ia memotret adegan itu.


Begitu pula dengan Farhan. Laki-laki itu juga terlihat kaget. Ia melepas pelukannya dengan cepat. Ara membalikan badan, memunggungi Farhan yang masih tertegun.


Dasar bodoh! Mengapa aku menciumnya. Batin Farhan memaki diri sendiri. Ia menunduk menatap bagian tubuh bawahnya yang menegang. Ini lagi, bisa-bisanya kau terbangun padahal aku hanya memeluknya.


Keduanya berlari menuju gazebo sambil bergandengan tangan.


Farhan lekas melepas gandengan tangannya begitu sampai di sana. Nafas keduanya sama-sama memburu setelah berlari kurang lebih lima puluh meter. Farhan mengusap rambutnya yang basah terkena tetesan air hujan. Ia menatap Ara yang berdiri di sebelahnya. Seragamnya terlihat menerawang karena basah. Farhan menanggalkan jaketnya. "Pakai ini," ucapnya seraya menyodorkan jaket itu pada Ara.


"Terima kasih," ucap Ara saat menerima jaket jeans milik Farhan yang berwarna krem itu. Ia lekas memakainya.


"Itu terlihat cocok saat kau kenakan," ucap Farhan.


"Iya kah? Tapi ini kebesaran, tanganku sampai tak terlihat," ucap Ara. Menjulurkan kedua tangannya untuk memperlihatkan lengan jaket Farhan yang kelewat panjang.


Farhan terkekeh. Ia memegang tangan Ara dan menarik lengan jaket itu ke atas. "Nah, sekarang sudah kelihatan lagi," ucapnya.


Ara tersenyum. Ia memutar tubuhnya, menghadap ke depan. Menatap hujan yang semakin deras. "Sayang sekali, tiba-tiba hujan. Padahal kita baru sampai dan belum sempat berkeliling," ucapnya, kecewa.


Farhan mengangguk setuju. "Tadinya aku ingin mengajakmu naik perahu dan mengelilingi danau. Tapi kita malah terjebak hujan di sini," ucapnya.


Ia menoleh, menatap Ara. "Kita bahkan belum sempat makan siang. Maaf, membuatmu kelaparan, Ara. Seharusnya Mas tadi mengajakmu makan dulu," ucap Farhan, merasa bersalah.


Ara ikut menoleh. Seulas senyum mengembang di bibirnya. "Tidak apa-apa, Mas. Tadi pas jam istirahat sekolah aku makan bakso," ucapnya.


Farhan terdiam. Memandangi wajah Ara tanpa berkedip.


"Ada apa, Mas Han? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Ara.


Farhan tersenyum. Kemudian menggelengkan kepala. "Tidak. Tidak ada yang salah dengan wajahmu," sahutnya.

__ADS_1


"Lalu mengapa Mas Han memandangku seperti itu?'


"Kenapa? Apa aku tak boleh memandangi wajahmu?" ucap Farhan bertanya balik.


"Bukan begitu ... " Ara lekas berpaling, malu.


Farhan memutar tubuhnya, menghadap ke Ara. Kemudian membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Lantas bagaimana?" bisiknya.


Ara mengubah posisinya, menyamping. Sehingga kini keduanya berdiri saling berhadapan "Menjauh lah, kita terlalu dekat," ucap Ara seraya mendorong pelan dada Farhan agar menjauh. Namun laki-laki itu tak bergeser sedikit pun dari posisinya.


"Aku suka kalau kita sedekat ini," ucapnya dengan senyum lebar. Membuat lesung pipi dan juga deretan giginya terlihat.


Ara di buat terpesona olehnya. Ia lekas memalingkan wajah karena tak sanggup bila terus menatap wajah tampan itu.


"Apa kau tahu ... kau sangat cantik, Ara," puji Farhan.


Ara terkekeh. Ia kembali menatap Farhan.


Farhan mengernyitkan dahi, bingung. "Kenapa tertawa?" tanyanya.


"Ini ketiga kalinya Mas Han mengatakan itu dalam satu hari," ucap Ara.


"Apa iya?" ucap Farhan tak percaya.


Ara menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Kalau begitu aku akan mengatakannya dua kali lagi agar sempurna. Seperti slogan makanan, empat sehat lima sempurna," ucap Farhan, tersenyum.


"Jangan. Aku tak mau mendengarnya lagi, itu menggelikan," tutur Ara, keberatan.


"Lalu apa yang ingin kau dengar?" tanya Farhan.


"Mas Han bisa nyanyi?"


"Tentu saja. Itu hal mudah, Ara. Semua orang bisa melakukannya," sahut Farhan.


"Kalau begitu coba nyanyikan satu lagu untukku," pinta Ara.


"Tidak bisa," tolak Farhan.


"Kenapa? Bukankah tadi Mas Farhan bilang bisa nyanyi."


"Itu benar. Aku bisa nyanyi tapi suaraku tidak merdu," ucap Farhan, merendah.


"Aku tidak akan tertawa," ucap Ara, tak menyerah.


"Kau mau kunyanyikan lagu apa?" tanya Farhan.


"Apa saja, terserah Mas Han."


"Baiklah, dengarkan baik-baik." Farhan berdehem sebentar, melonggarkan tenggorokannya.


Ara tercengang begitu Farhan mengeluarkan suaranya. Sangat lembut dan juga merdu. Ia menatapnya penuh kagum. Gadis itu bahkan tak henti-hentinya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2