
Ara masih bungkam. Sama seperti Farhan, ia pun tak ingin berpisah dengan laki-laki itu. Jika bisa ia ingin selalu bersama Farhan setiap saat. Ia merasa bahagia dan nyaman bila bersamanya. Akan tetapi untuk menikah ia belum yakin. Ia masih terlalu muda dan juga kedua kakaknya bahkan belum menikah.
"Kenapa diam?" tanya Farhan. Membuyarkan lamunan Ara.
"Apa Ara tidak mau menjadi istri Mas Han?"
Ara tersenyum. "Apa Mas Han lupa kalau aku masih seorang pelajar?"
"Kalau begitu setelah lulus bagaimana? Apa kita bisa menikah?" tanya Farhan, lagi.
"Kenapa Mas Han ingin menikah denganku?" tanya Ara, penasaran. Mereka belum lama kenal tapi Farhan sudah mengajaknya menikah. Bukankah itu terlalu cepat?
"Bukankah Ara sudah tahu jawabannya? Mengapa masih bertanya?"
Ara mengernyitkan dahi. "Apa?"
Farhan bangun dan duduk tegak di samping Ara. Satu tangannya menyusup ke belakang punggung Ara. Kemudian bertengger di pinggul gadis itu. "Aku menyukaimu dan tak ingin berpisah denganmu. Satu-satunya cara agar kita bisa bersama adalah dengan menjadikanmu sebagai istriku." Farhan mengulurkan tangannya, mendorong kepala Ara agar bersandar di dadanya.
Ara tak menolak. Ia terlihat nyaman berada dalam pelukan Farhan. "Mengapa Mas Han menyukaiku?" tanyanya dengan suara lembut. Ia memainkan jemarinya di dada Farhan.
Sementara tangan kiri Farhan tampak mengusap-usap pinggang Ara, naik turun. Farhan tampak berpikir sejenak. Sejujurnya ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu menyukai Ara. Ia bahkan sempat tergelak sendirian di dalam kamarnya saat menyadari dirinya jatuh cinta pada gadis kecil yang seumuran dengan adiknya itu. Awalnya ia tak percaya dan terus mengelak. Berharap ia keliru mengenai perasaannya. Namun, semakin lama perasaan itu semakin jelas. Ia seolah tak bisa hidup tanpa Ara. Wajahnya yang ayu serta aroma tubuh Ara yang memabukkan selalu terbayang dalam ingatannya. Ia bahkan merasa akan mati karena terlalu merindukannya.
Ara mendongak, menatap wajah Farhan. "Kenapa Mas Han bengong?" tanyanya saat Farhan hanya diam, tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Karena kau cantik." Akhirnya Farhan kembali bersuara.
Ara tampak tidak puas dengan jawaban Farhan. Gadis itu kembali menunduk, menatap telunjuknya yang menusuk-nusuk dada Farhan. "Berarti kalau aku tidak cantik, Mas Han tidak akan menyukaiku?" tanyanya dengan wajah cemberut. Belum sempat Farhan menjawab ia kembali bicara. "Suatu saat nanti aku akan tua, keriput dan jelek. Apa saat itu Mas Han akan mencampakkan aku?"
__ADS_1
Farhan tersenyum melihat tingkah Ara yang menurutnya menggemaskan. Ia menghentikan tangan Ara yang terus menusuk-nusuk dadanya. Menggenggam telapak tangannya yang kecil itu dan meletakkan di atas pahanya. "Aku baru tahu calon istriku ternyata banyak bicara," ucapnya seraya mengusap-usap punggung telapak tangan Ara dengan ibu jarinya.
"Karena aku banyak bicara apa sekarang Mas Han tidak menyukaiku?" tanyanya. Ia mendongakkan kepala untuk menatap wajah Farhan.
Farhan juga menatap wajah Ara. Keduanya saling beradu pandang. "Apa aku berkata seperti itu?" Ara menggeleng pelan.
"Jadi kenapa kau menyimpulkannya seperti itu?" tanyanya.
"Bukankah pria tidak menyukai wanita yang banyak bicara?" tebak Ara.
"Kata siapa?" Farhan mencubit dagu Ara dengan gemas. "Aku tidak seperti itu," bantahnya.
"Jadi Mas Han suka wanita yang cerewet?"
"Tidak juga."
Jemari Farhan menyentuh bibir tipis Ara. Mengusapnya ke kiri dan ke kanan "Apa itu penting? Banyak atau sedikit bicara itu bukan poin penting bagi pria. Terutama aku. Meskipun kau banyak bicara atupun sedikit bicara aku tetap menyukaimu, Ara."
Bibir Ara merekah saat gadis itu tersenyum. Membuat Farhan tergoda. Pria itu tampak menelan salivanya.
Keduanya bersitatap dalam diam. Farhan mendekatkan wajahnya. Sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain. Ara memejamkan mata saat bibir mereka bertemu. Gadis itu tak pandai berciuman. Maklum saja ia belum pernah berpacaran sebelumnya. Farhan lah laki-laki pertama yang merasakan bibirnya.
Sebaliknya, sebagai laki-laki dewasa yang memiliki beberapa mantan kekasih, Farhan sangat berpengalaman dan tampak begitu mahir soal beradu bibir. Atas dan bawah, ia mengulum bibir Ara bergantian dan berulang-ulang. Ke kanan dan ke kiri, ia tak melewatkannya sedikitpun. Setiap sudutnya ia jamah dengan lembut. Menyesap dan menggigit kecil bibir gadis itu. Nafas keduanya saling memburu seiring cumbuan mereka yang kian dalam.
Farhan meraih tengkuk Ara, menopangnya agar gadis itu tak terjengkang ke belakang akibat dorongannya. Sementara satu tangannya yang lain mendekap erat tubuh gadis itu.
Farhan melepas pagutannya. Memberikan jeda untuk Ara mengatur nafas. Gadis itu tampak terengah-engah. Namun tidak lama kemudian Farhan kembali ******* bibir gadis itu. Cukup lama bibir keduanya saling beradu. Sebelum akhirnya dering ponsel mengagetkan keduanya dan mengakhiri ciuman panas mereka.
__ADS_1
Farhan kembali mengatur posisi duduknya. Ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Ara. Kemudian duduk dengan tegak.
Sementara Ara tampak memeriksa ponselnya. Panggilan tak terjawab dari Haris. "Aku harus pulang," ucapnya.
Farhan kembali memeluk Ara. "Kita baru bertemu, tapi harus berpisah lagi," keluhnya.
Ara membalas pelukannya. Ia melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Farhan dan membenamkan wajahnya di dada pria itu. "Nanti 'kan ketemu lagi," ucapnya.
"Kapan itu?" tanya Farhan. "Kau sangat sulit di temui," imbuhnya.
Ara terdiam. Ia juga tidak tahu kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi. Akhir-akhir ini kakaknya semakin protektif. Kemana pun ia pergi selalu di buntuti. Jika saja sekolah mengizinkan orang tak berkepentingan masuk. Mungkin abangnya itu juga ikut masuk ke kelas. Kalau di pikir-pikir ia sudah seperti buronan yang di curigai dan selalu di awasi gerak geriknya.
"Aku masih merindukanmu, Sayang," ucap Farhan.
Ara tersenyum. Sayang, panggilan itu tidak asing di telinganya. Ia sudah berulang kali mendengarnya. Namun saat Farhan yang mengucapkannya terasa berbeda. Membuat hatinya terasa berbunga.
"Aku juga masih ingin bersama Mas Han, tapi aku harus pulang sekarang. Sebelum kedua kakakku menyadari kalau aku tidak ada di rumah."
Meskipun enggan berpisah, pada akhirnya mereka tetap berpisah. Farhan mengantar Ara kembali ke rumahnya. Setelah itu barulah pulang ke rumahnya sendiri. Meskipun hanya berjumpa sebentar tapi itu cukup untuk melepas kerinduan keduanya.
.
.
.
.
__ADS_1