
Dengan langkah santai Samsul menuruni anak tangga dan bergegas menuju meja makan. Satu tangannya terulur, menarik salah satu kursi yang ada di sana.
"Dimana Ara? Apa anak itu sudah makan?" Tanyanya seraya menjatuhkan bokong di kursi tersebut.
Marni yang saat itu sedang menata makanan di meja tampak celingak-celinguk. Tak ada siapapun selain dirinya dan Samsul. Ia lantas memandang majikannya itu. "Tuan bertanya pada saya?" ucapnya seraya menuding dirinya sendiri.
"Memangnya ada orang lain di sini?" ucap Samsul tanpa memandang asisten rumah tangganya itu.
Wanita berusia empat puluh tahun itu mengangguk mengerti. "Setahu saya nona Ara masih di kamarnya dan belum makan, Tuan."
"Panggil anak itu, suruh dia turun untuk makan," titah Samsul.
"Baik, Tuan." Tanpa banyak bicara lagi, Marni bergegas melaksanakan perintah Samsul. Pinggulnya yang besar tampak bergoyang ke kanan dan kiri saat kaki pendeknya menaiki anak tangga. Ia berhenti sebentar saat sudah berada di anak tangga paling atas. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah. Setelah itu kembali melangkah menghampiri kamar Ara yang berada di sebelah kanan, tak jauh dari tangga.
Tok Tok Tok
Dengan buku jarinya Marni mengetuk daun pintu yang terbuat dari kayu jati itu.
Saat itu Ara sedang tengkurap di tempat tidur. Menenggelamkan wajahnya di bantal. Ujung matanya tampak basah karena menangis. Ia menoleh ke belakang, menatap pintu kamarnya yang di ketuk.
"Siapa?" tanyanya dengan suara serak.
"Ini Bi Marni, Non."
"Ada apa, Bi?" tanya Ara. Gadis itu tak beranjak dari kasur. Ia tetap dalam posisi sebelumnya. Hanya mengangkat kepalanya sedikit.
"Itu Non, sudah waktunya makan malam," sahut Marni.
"Malam ini aku tidak ingin makan, Bi."
"Tapi Tuan Samsul sudah menunggu di bawah Non, Tuan juga yang menyuruh Bibi memanggil Non Ara."
"Bilang saja sama Bang Samsul kalau aku tidak lapar."
"Tapi Non--"
"Bibi bisa pergi sekarang, aku tidak ingin di ganggu!" sela Ara.
Marni terdiam sejenak. Baru kali nyonya kecilnya berbicara dengan nada ketus. Biasanya Ara selalu berkata dengan lemah lembut. Jika ada sesuatu yang tidak di sukai sekalipun gadis itu akan menolak atau memberitahu dengan santun. Perubahan itu membuatnya sedikit terkejut.
__ADS_1
Marni membalikan badan dan mulai melangkah menuruni anak tangga. Ia kembali menghampiri Samsul yang saat itu sedang menikmati makanannya.
"Katanya Non Ara tidak lapar, Tuan, jadi akan melewatkan makan malam."
Samsul terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya dan tak mengatakan apapun. Ia meletakan sendok dan garpunya dengan kasar. Menimbulkan suara berdenting yang lumayan keras saat kedua benda itu menabrak piring yang terbuat dari keramik. Marni tersentak kaget karenanya.
Tangan Samsul terulur ke depan, meraih gelas berisi air putih lalu menenggak isinya hingga tandas.
Makanan di piringnya belum habis. Namun, lelaki itu sudah berdiri dan meninggalkan meja makan. Ia berjalan menaiki anak tangga. Ekspresinya tampak tak bersahabat. Langkahnya terhenti ketika berada di depan kamar Ara. Tangannya kembali terulur, meraih gagang pintu dan memutarnya ke kanan.
"Siapa?" tanya Ara begitu menyadari seseorang berusaha membuka pintu kamarnya.
"Kau tidak makan?" Samsul bertanya balik.
Dari suaranya saja Ara sudah tahu siapa yang datang. Gadis itu segera menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya. "Aku tidak lapar!" jawabnya.
"Buka pintu," titah Samsul. Beberapa detik telah berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Hanya ada keheningan di dalam kamar itu.
"Abang bilang buka pintunya, apa kau tidak dengar, Inara!" ucap Samsul dengan suara meninggi. Tentu saja, jika sudah memanggil nama adiknya dengan sebutan Inara maka sudah di pastikan kalau ia sedang marah.
Biasanya Ara sangat penurut. Ia akan melakukan apapun yang di perintahkan sang kakak. Terlebih ketika kakaknya itu sedang marah. Namun, pemandangan kali ini justru terlihat berbeda. Gadis itu sama sekali tak beranjak dari tempat tidur. Ia justru menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah sedang bersembunyi. Ia terus mengabaikan perkataan Samsul yang kini diikuti dengan gedoran di pintu kamarnya.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Samsul kembali dengan membawa beberapa kunci cadangan di tangannya dan segera membuka pintu.
Mata Ara terbelalak saat menyadari sang Kakak berhasil masuk ke dalam kamarnya. Tentu saja ia sangat ketakutan. Terlebih saat melihat wajah Samsul yang tak bersahabat. Gadis itu buru-buru memalingkan muka begitu bersitatap dengan kakaknya.
Samsul duduk di tepi ranjang. Matanya terus mengamati sang adik yang ada di tempat tidur. "Bangun," perintahnya.
Ara tak bergerak. Gadis itu tetap meringkuk sambil terus menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Abang bilang bangun! Apa kau tuli?" ucap Samsul tak sabar. Ia menarik selimut dengan kasar.
Ara pun lekas bangun dan terduduk. Wajahnya tertunduk, menatap kedua tangannya yang saling bertaut.
"Berhenti berhubungan dengan laki-laki itu." ucap Samsul tanpa basa-basi.
"Apa kau dengar?" tanya Samsul saat Ara hanya diam.
Ara masih tak menjawab. Di saat bersamaan ponselnya berdering. Samsul dan Ara sama-sama menoleh, menatap ponsel yang ada di atas nakas. 'Mas Farhan' dua kata itu muncul di layar menunjukan identitas si penelepon.
__ADS_1
Ara hendak meraih ponsel itu, akan tetapi gerakannya kalah cepat dari Samsul.
Ia terdiam saat menyaksikan jemari Samsul
menggeser ikon gagang telepon yang terus bergoyang, mengangkat panggilan tersebut. Jantungnya berdegup kencang karena takut.
Samsul meletakan benda pipih itu di telinganya. Bersiap mendengarkan apapun yang akan di katakan oleh Farhan.
"Maaf, Ara, tadi Mas Han sedang main bola jadi tidak tahu kalau Ara menelpon," ucap Farhan di seberang sana.
Samsul tak mengatakan apapun, hanya terus mendengarkan.
"Ara sedang apa? Apa sudah makan?" tanya Farhan.
"Sayang ... apa kau dengar suaraku?" tanya Farhan setelah beberapa detik berlalu dan tak kunjung mendengar suara kekasihnya.
"Sayang ... Halo--"
Detik berikutnya tak terdengar apapun lagi. Samsul memutus sambungan telepon tersebut. Dadanya naik turun seiring dengan amarahnya yang kian membumbung. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal. Ia meremas ponsel yang ada di genggamannya. Jika saja yang ada di genggamannya itu sebuah kerupuk, mungkin saat ini kerupuk tersebut sudah menjadi serbuk.
Ara tidak tahu apa yang di ucapkan Farhan. Namun melihat ekspresi Samsul yang mengerikan, ia yakin itu sesuatu yang tidak ingin di dengar oleh kakaknya.
"Segera putus dengannya dan jangan pernah menghubunginya lagi," titah Samsul, serius.
"Aku menyukainya." Setelah sekian lama akhirnya gadis itu kembali membuka mulutnya.
Samsul terkesiap dengan pengakuan Ara.
"Aku tidak akan putus dengannya. Kami saling mencintai dan dia akan menikahiku setelah aku lulus."
Belum selesai keterkejutannya dengan ucapan Ara sebelumnya. Kalimat terakhir itu kembali menghantam Samsul. Ia tidak menyangka hubungan antara keduanya sudah sampai sejauh itu.
'Dia akan menikahiku setelah aku lulus' Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, berputar-putar hingga membuatnya linglung.
.
.
.
__ADS_1
.