Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 36


__ADS_3

Kedatangan Bu Sinta dan Farhan di sambut hangat oleh kedua orang tua Safira. Sepasang suami istri itu bahkan sudah berada di teras sebelum tamunya itu sampai. Farhan mengulurkan tangan, menyalami keduanya bergantian.


Kedua orang tua Safira tampak sumringah. Keduanya menatap kagum pada lelaki yang di gadang-gadang akan menjadi calon suami putri semata wayangnya itu.


Aku memang tidak salah pilih. Selain tampan, sepertinya kepribadiannya juga baik dan sangat sopan, Fira pasti akan bahagia jika menikah dengannya, batin Risma.


"Ayo masuk, Sinta ... Nak Farhan," ajak Bu Risma, mempersilahkan.


"Farhan menunggu di sini saja, Tante," tolak Farhan, halus.


Bu Sinta menatap garang ke arah Farhan. Yang di tatap bukannya takut malah tampak cuek. "Harap maklum ya, Risma. Anakku itu memang selalu begitu. Selalu menolak masuk ke dalam jika di ajak bertamu. Entah menurun dari siapa sikap tidak sopannya itu," ucapnya seraya menatap teman masa kecilnya itu.


"Tidak apa-apa, Sinta. Namanya juga anak laki-laki dan masih muda. Mana mau mereka mendengarkan obrolan kita para orang tua. Fira juga seperti itu," sahut Bu Risma.


"Di luar panas lho, Nak Farhan," ucap pak Yono, menimpali.


"Tidak apa-apa, Om. Hanya panas sedikit, bagi Farhan yang sudah biasa panas-panasan ini bukan apa-apa. Lagipula anginnya sepoi-sepoi di sini, sejuk."


Pak Yono hanya tertawa mendengar penjelasannya. Benar-benar cocok kalau jadi mantuku. Selain sopan, sepertinya juga bisa di andalkan, tidak manja.


"Ya sudah, kalau begitu Om tinggal ke dalam dulu, ya."


"Iya, Om. Silahkan," sahut Farhan.


Ketiga orang tua itu pun masuk ke dalam, meninggalkan Farhan yang kini duduk di teras. Mereka beralih ke ruang tamu dan mulai mengobrol tentang banyak hal. Sebagian besar membahas tentang masa kecil mereka, Sementara sisanya membicarakan tentang anak masing-masing.


"Ngomong-ngomong, kasihan Farhan sendirian di luar, kenapa kau tidak panggil Fira turun dan menyuruhnya menemaninya saja, Bu," ujar Pak Yono pada istrinya. "Sesama anak muda biasanya obrolannya nyambung," imbuhnya.


"Iya juga ya, Pak. Kenapa ibu tidak kepikiran ke sana. Kalau begitu ibu panggil anak itu sekarang," ucapnya seraya bangkit dari duduknya.


"Tunggu sebentar ya, Sin. Mau panggil anakku sebentar," ucapnya sebelum pergi.


"Oh iya, silahkan," sahut Bu Sinta.


Bu Risma pun berlalu pergi. Menaiki anak tangga, menuju lantai atas dimana putrinya berada.

__ADS_1


"Fir ... Fira...," panggil Bu Risma seraya mengetuk pintu kamar putrinya itu


"Ya, tunggu sebentar," sahut Fira dari dalam kamarnya. Wanita itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. "Ada apa, Bu?" tanyanya begitu pintu terbuka.


"Ada teman ibu di bawah, pergilah menyapanya sebentar."


"Siapa?" tanya Fira. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya ia tampak malas.


"Calon mertuamu, ibunya Farhan," jelas Bu Risma.


Huh, hanya ibunya yang datang, apa bagusnya. Tapi kalau tidak menemuinya, bisa-bisa nanti tidak dapat restu. Lebih baik aku temui saja deh.


"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."


"Jangan lama-lama, Farhan juga ada di bawah. Temani dia mengobrol," ucap Bu Risma sambil berlalu pergi.


Hah, ternyata Farhan juga datang, kenapa ibu baru bilang. Tahu gitu aku turun dari tadi.


Seketika Fira menjadi lebih bersemangat. Setengah berlari ia menghampiri lemari pakaian. Memilih salah satu dari tumpukan baju itu. Blouse dengan belahan dada rendah dan juga ketat sengaja ia pilih dengan maksud menarik perhatian lelaki tampan incarannya itu. Usai mengenakan pakaian seksinya itu, Fira bergegas turun ke bawah dan menyapa ibu Farhan.


"Baik, Fira. Bagaimana denganmu?" sahut Bu Sinta berbasa-basi.


"Seperti yang Tante lihat, aku sangat sehat," sahutnya, tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Dilihat-lihat semakin besar Fira makin cantik saja," puji Bu Sinta.


Fira tampak tersipu. "Tante bisa saja," sahutnya malu-malu.


"Oh ya, Mas Farhan mana?" tanya Fira. Wanita itu celingak-celinguk mencari keberadaan lelaki tampan itu.


"Ehem! Baru datang yang di cari langsung Farhan. Apa putri Ayah tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya sedikit? Kelihatan sekali sudah tak sabar ingin menemuinya," goda Pak Yono.


"Apaan 'sih Ayah. Fira cuma mau menemaninya saja agar Mas Farhan tidak bosan," elak Fira.


Ketiga orang tua yang ada di situ tampak tersenyum dan pura-pura percaya dengan ucapan Fira.

__ADS_1


"Iya deh, Ayah percaya," sahut Pak Yono, berbohong.


"Ya sudah cepat temui Farhan sana, dia ada di teras," imbuh pak Yono.


"Baiklah, aku ke sana sekarang," ucapnya seraya bangkit berdiri.


"Fira permisi dulu, Tante," pamitnya pada Bu Sinta.


"Silahkan, Nak Fira," sahut Bu Sinta.


Fira melangkahkan kakinya keluar rumah, menemui Farhan yang katanya ada di teras.


"Mas Farhan," sapanya dengan senyum manis. Matanya tampak berbinar.


Farhan yang saat itu sedang duduk sambil menyeruput kopi, seketika menoleh. Matanya sempat terbelalak saat melihat belahan dada Fira yang menonjol. Wow, lumayan besar, batin Farhan. Sebagai pria normal tentu saja penampilan Fira saat itu cukup menggoda. Namun lelaki itu tak berlama-lama memandangnya. Tak lama kemudian ia berpaling dan beralih memandang ke arah lain. "Hai Safira," sahutnya seraya meletakan gelas kopinya di atas meja.


Fira menghampiri Farhan dan ikut duduk di sampingnya. "Sedang apa di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam," ucapnya.


"Di dalam tidak bisa merokok," sahut Farhan beralasan.


"Oh, Kukira karena tak ingin mendengar obrolan orang tua yang membosankan."


"Itu juga," sahut Farhan, jujur.


Farhan dan Fira lanjut mengobrol dengan akrab. Layaknya seorang teman yang sudah lama kenal. Keduanya sama-sama menoleh saat Bu Risma datang.


"Fira ... Bisa minta tolong gantikan ibu belanja bulanan tidak? Stok di rumah hampir habis dan ibu tidak sempat belanja karena ada tamu."


"Memangnya tidak bisa nanti saja, Bu?" tanya Fira. Tak bisa di tutupi, ekspresinya terlihat enggan pergi.


"Sudah tidak ada bahan makanan untuk makan malam nanti," ujar Bu Risma.


"Kalau begitu malam nanti tidak usah masak, beli jadi saja," ucap Fira menyarankan.


Farhan memalingkan wajah. Diam-diam laki-laki itu tersenyum sinis. Wanita pembangkang! Kalau memang tidak mau ya tolak saja, tidak usah banyak alasan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2