
Hujan kembali turun saat Farhan dan Ara menempuh perjalanan pulang usai menonton sepak bola. Mereka terpaksa berhenti dan berteduh di depan sebuah rumah yang tak berpenghuni. Dedaunan dan juga debu berserakan di teras bangunan lawas itu.
Dua sejoli itu berdiri di sana, menunggu hujan berhenti. Derasnya hujan disertai angin kencang membuat air menyiprat ke arahnya. Farhan berjalan ke samping, memeriksa sebuah gang di samping rumah itu. "Ara," panggilnya.
Ara yang saat itu sedang memandang hujan itu menoleh, menatap Farhan yang berdiri beberapa langkah darinya.
"Kemari," ucap Farhan seraya melambaikan tangan. Menyuruh gadis itu mendekat.
Ara tersenyum. Kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Farhan.
"Di sini lebih aman," ucap Farhan. Kini air hujan tak menyiprat ke arahnya lagi.
Sambil menunggu hujan reda. Keduanya tampak bercengkrama. Membahas banyak hal. Beberapa kali keduanya tertawa bersama. Farhan juga menyanyikan sebuah lagu. Ara bertepuk tangan ketika Farhan selesai bernyanyi. "Suara Mas Han bagus sekali," ucapnya, memuji.
"Benarkah?" tanya Farhan.
Ara mengangguk, mengiyakan. "Aku bahkan ingin mendengarnya setiap hari," ucapnya.
"Kalau begitu jadilah istriku. Setiap hari akan kunyanyikan sebuah lagu untukmu," ucap Farhan, nyengir. Ara tampak terkekeh.
"Apa rumah ini tak berpenghuni?" tanya Ara. Mengganti topik pembicaraan.
"Sepertinya iya," sahut Farhan.
Keduanya berdiri beriringan. Farhan menyilangkan tangan di dada, menghangatkan tubuhnya. Matanya kini beralih memandang tubuh Ara. Gadis di depannya itu mengusap-usap kedua lengannya. Sesekali tubuhnya terlihat menggigil. "Kau kedinginan?" tanya Farhan.
"Sedikit," sahut Ara. Menatap Farhan sebentar. Setelah itu kembali menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Farhan menggeser tubuhnya ke samping dan berdiri di belakang Ara. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di perut Ara. Memeluk tubuh gadis itu. "Biarkan aku menghangatkanmu," ucapnya.
Tubuh Ara sempat menegang, kaget. Namun perlahan kembali rileks. Tubuhnya yang semula kedinginan mulai menghangat. Dekapan Farhan membuatnya terasa nyaman. Dengan malu-malu ia meletakan kedua tangannya di atas tangan Farhan yang berada di perutnya.
Farhan tersenyum. Ia kembali mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Seketika aroma tubuh Ara menguar, menusuk hidungnya. Farhan tertegun selama beberapa detik saat matanya menatap leher putih Ara. Ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di sana.
Ara menggeliat geli. Namun tak menolak perlakuan tersebut. Ia memejamkan mata saat Farhan kembali menciumi lehernya. Ia justru terlihat menikmati sentuhan yang di berikan Farhan.
Farhan memutar tubuh Ara tanpa melepas pelukannya. Sehingga kini keduanya berdiri saling berhadapan. Mereka beradu pandang selama beberapa saat tanpa bersuara. Farhan mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Ara.
Lagi-lagi Ara sama sekali tak menolak. Gadis itu justru kembali memejamkan matanya. Farhan semakin berani. Satu tangannya naik ke atas. Meraih tengkuk gadis di hadapannya itu. Kemudian kembali mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Kecupan demi kecupan terus ia lancarkan di bibir tipis itu.
Tanpa sadar Ara membuka mulutnya. Farhan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia mengeksplor setiap sudut bibirnya. Nafasnya yang segar serta kelembutan bibirnya membuat Farhan semakin tak terkendali. Ia menyesapnya beberapa kali. Ciumannya yang semula lembut berubah semakin liar.
Jantungnya berdetak tak karuan. Seiring dengan nafasnya yang kian memburu.
Ara yang menyadarinya lekas menghentikan tangan Farhan yang hendak menyentuh bagian sensitifnya. Gadis itu membuka mata dan mendorong Farhan agar menjauh.
Farhan kembali tersadar. Seketika ia langsung menyesali perbuatannya. Ia memaki dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol nafsunya. Ia menatap Ara yang berdiri memunggunginya. Kini ia bahkan bingung harus mengatakan apa pada gadis itu. Ia takut gadis itu marah padanya. Ingin minta maaf tapi tak berani mengatakannya.
Keduanya terdiam selama beberapa menit. Nafasnya yang sempat memburu, perlahan mulai teratur kembali. Entah berapa lama mereka berciuman hingga tanpa sadar tahu-tahu hujan telah berhenti.
Ara kembali membalikan badan, menghadap Farhan. "Sebaiknya kita pulang sekarang," ucapnya.
"Ya. Ayo pulang," sahut Farhan.
Farhan mengelap motornya yang basah menggunakan kanebo yang ia simpan di jok. Setelah selesai keduanya naik dan kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.
__ADS_1
Selama perjalanan keduanya sama-sama membisu. Farhan menepikan motornya dan berhenti di depan minimarket x. Tempat dimana ia menjemput Ara sebelumnya.
"Terima kasih, Mas Han," ucap Ara usai turun dari motor.
"Sama-sama," sahut Farhan.
"Kalau begitu aku pergi sekarang," pamit Ara. Gadis itu pun berlalu pergi.
Farhan memperhatikan kepergiannya hingga ia tak lagi terlihat oleh jangkauan matanya. Setelah itu kembali menaiki motornya dan berlalu pergi.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk menempuh perjalanan menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Pikirannya kembali menerawang saat kejadian satu jam yang lalu saat bersama Ara. Itu bukan pertama kalinya ia mencium seorang wanita. Namun untuk pertama kalinya ia tak bisa mengendalikan diri. Setiap kali mencium aroma tubuhnya langsung bereaksi. Dorongan untuk menciumnya sangat kuat dan ketika sudah menciumnya ia tak bisa berhenti.
Masih terekam dengan jelas ingatan saat ia mencium gadis itu. Rasa bibirnya yang manis, nafasnya yang segar serta aroma tubuhnya yang memabukkan. Laki-laki itu mengusap wajahnya.
Sial! Mengingatnya saja membuatku kembali terangsang.
Farhan bangkit berdiri. Menyambar handuknya yang tergantung di belakang pintu. Kemudian berjalan keluar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Usai mandi Ara terlihat duduk di depan meja rias yang ada di dalam kamarnya. Memandangi pantulan wajahnya di cermin. Jemarinya terulur, menyentuh bibirnya yang sedikit bengkak. Ia memejamkan mata. Meski beberapa jam telah berlalu tapi ingatan ketika ia berciuman dengan Farhan masih sangat terasa. Bibir Farhan agak kering tapi tetap terasa lembut. Bagi Ara ini merupakan ciuman pertamanya sekaligus pengalaman pertama ia berhubungan dengan seorang laki-laki. Dan ia merasa sangat bahagia.
.
.
.
__ADS_1
.