
Farhan kembali menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Dahinya tampak mengernyit saat memandangi layar ponselnya yang redup.
Ada apa dengan Ara, mengapa tiba-tiba mematikan telepon? Aku bahkan belum mendengar suaranya.
Sandi yang saat itu duduk bersebelahan dengan Farhan terbatuk. "Cie ... Udah mulai Sayang-sayangan aja 'nih," godanya seraya menyenggol bahu Farhan.
Farhan meliriknya. "Kenapa? Kau pasti iri 'kan? Makanya cari pacar sana, biar nggak jadi jones abadi," ledeknya, tertawa.
"Sialan kau, Han!" Sandi bangkit berdiri dan melangkah pergi.
Sementara Farhan masih diam di tempat. Ia mengeluarkan sebatang rokok. Meraih korek untuk menyalakannya. Setelah itu menghisap sekali dan mengeluarkan asapnya melalui mulut. Ia mendongak saat sebuah tangan menepuk bahunya.
"Eh, Bim," sapanya begitu melihat wajah temannya itu. Bimo menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Duduk bersebelahan dengan Farhan.
"Dari mana saja? Kenapa baru datang?" tanyanya.
"Habis nganterin ibu kondangan."
"Kenyang dong?" ucap Farhan dengan senyum tipis.
"Kenyanglah, sampai-sampai nggak kuat lari lagi," sahut Bimo, terkekeh. "Denger-denger sebentar lagi kau akan menikah, kapan itu Han?"
Farhan mengetuk rokok yang terselip di sela jemarinya. Gumpalan abu di ujung rokok itu berguguran ke lantai. Setelah itu ia menghisapnya sekali lagi. "Dengar dari mana? Siapa yang bilang?" tanyanya kemudian.
"Ibumu."
"Apa saja yang di katakan ibuku?" tanya Farhan penasaran.
"Katanya tak lama lagi beliau juga akan menggelar acara pernikahan dan meminta semua orang agar datang saat itu tiba." Bimo mengingat kembali momen saat ia dan ibunya menghadiri acara pernikahan satu jam yang lalu. Di sana ia bertemu dengan Bu Sinta, ibu dari Farhan. Saat itu beliau memberitahukan pada teman-teman dan tetangganya kalau putranya akan segera menikah. Wajahnya tampak berseri saat mengatakannya. Terlihat sangat bahagia.
Deretan gigi putihnya terlihat saat Farhan berdecih. "Ibuku selalu tak sabaran," gumamnya dengan tawa kecil.
"Kau tidak membantah. Jadi itu benar, Han?" Bimo masih tak percaya kalau temannya itu benar-benar akan segera melepas lajang.
Farhan menoleh ke kiri, menatap sahabatnya itu. "Bukankah pada waktunya semua orang akan menikah? Aku, kau dan yang lainnya juga." Setelah mengatakan itu Farhan kembali memalingkan wajah, menatap sembarang arah.
"Seriuslah sedikit, Han, aku sangat penasaran."
"Sejak kapan kau berubah jadi orang yang suka ingin tahu urusan orang lain?" Farhan menatap Bimo saat mengatakannya.
"Kau temanku, bukan orang lain," sahut Bimo mengingatkan. Ia mengulurkan tangan, merangkul temannya itu. "Sekarang katakan padaku, kapan kau akan menikah dan siapa calonnya?" imbuhnya.
Farhan menepis tangan Bimo yang melingkar di bahunya. "Gerah," ucapnya.
"Jangan-jangan calon istrimu itu yang kau bonceng tempo hari. Anak dari teman ibumu itu ya, Han?" tebak Bimo.
Farhan kembali berdecih. "Omong kosong apa yang kau katakan. Aku tak memiliki hubungan apapun dengan Fira."
__ADS_1
Bimo mengangguk-anggukan kepala, mengerti. "Oh, jadi wanita itu namanya Fira."
Kalau bukan Fira, lalu siapa sebenarnya yang akan dinikahi Farhan?
Bimo tampak berpikir keras, mengingat kembali siapa saja wanita yang sedang dekat dengan Farhan. Matanya membulat sempurna kala mengingat seseorang. Mulutnya melongo karena terkejut. Jangan bilang kalau Farhan ingin menikahi gadis kecil itu.
Dahi Farhan mengernyit saat melihat Bimo bengong. "Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa kau melihat hantu?" tanyanya.
Bimo menoleh, kembali menatap Farhan.
"Han ...," panggil Bimo .
Farhan melirik tangan Bimo yang yang mencengkram lengannya, sebentar. Setelah itu kembali menatap wajahnya. "Apa?
"Gadis itu ... Kau akan menikahi gadis itu, Han?"
"Gadis itu? Siapa gadis itu? Gadis mana yang kau maksud?" sahut Farhan pura-pura tidak tahu. Ia tersenyum saat mengatakannya.
"Ayolah, Han. Jangan pura-pura tidak tahu." Bimo mengguncang tubuh Farhan, memaksanya agar segera mengaku.
Entah sudah ke berapa kalinya kedua sudut bibir Farhan melengkung ke atas. Ya, lelaki itu selalu tersenyum. Membuatnya terlihat semakin tampan dan mempesona. "Kau benar. Itu dia. Namanya Ara," sahut Farhan, mengakui. Saat mengatakannya ia sambil membayangkan wajah cantik kekasihnya yang memiliki tubuh mungil itu. Ah, aku sudah merindukannya sekarang, padahal beberapa jam lalu kami baru saja bertemu.
Bimo tampak syok setelah mendengar pengakuan Farhan. Ia masih tak percaya kalau temannya itu benar-benar akan menikahi gadis kecil itu. Seorang gadis yang seumuran dengan adik mereka. Seorang gadis yang menurut Farhan masih anak-anak.
"Kau serius, Han?" tanya Bimo sekali lagi, untuk memastikan.
Melihat ekspresi Farhan dan juga jawabannya, kali ini Bimo percaya sepenuhnya. Ia tahu Farhan serius dengan ucapannya barusan. Melihatnya bahagia, Bimo pun ikut merasa bahagia.
"Bukankah katamu gadis itu masih anak-anak?" ucap Bimo dengan senyum mengejek.
"Kurasa gadis kecilku itu sudah cukup kuat untuk melahirkan anak-anakku" sahut Farhan dengan senyum lebar. Matanya tampak berbinar saat mengatakannya.
"Selamat, Han. Aku ikut senang mendengarnya. Akhirnya, setelah sekian lama berkelana, kau menemukan tambatan hati juga."
"Kami belum menikah, kenapa kau sudah memberiku ucapan selamat?"
"Agar kau selalu mengingatnya. Akulah orang pertama yang mengucapkan selamat padamu."
"Yang ku butuhkan uang, bukan ucapan selamat," ujar Farhan dengan tawa kecil.
Bimo ikut tertawa. "Kalau itu aku juga butuh, jadi tak bisa memberikannya padamu."
"Apa yang lucu? Kenapa kalian berdua tertawa?" tanya Sandi. Pria bertubuh kutilang itu kembali dengan membawa sekantong minuman di tangan kananya. Ia meletakan kresek tersebut di lantai. Bimo dan Farhan saling berebut mengambil minuman itu.
Sandi geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua temannya itu. "Apa kalian anak kecil?" ucapnya dengan suara lantang.
Baik Farhan maupun Bimo, keduanya tak ada yang menggubris ucapan Sandi. Mereka hanya melirik sebentar, setelah itu kembali menatap botol minuman di tangannya masing-masing.
__ADS_1
Sandi berdecak kesal. "Kalian berdua memang benar-benar sialan!" gumamnya.
"Kau terlihat semakin tua saat marah," ledek Farhan setelah menenggak minumannya.
"Biarkan saja, aku bangga dengan wajah tuaku ini," sahut Sandi. Ia tampak semakin kesal.
"San ...," panggil Bimo.
"Apa? Kau ingin mengejekku juga?" sahut Sandi, galak.
"Tidak. Aku tidak akan melakukannya."
"Lalu kenapa memanggilku?" tanya Sandi.
"Ada yang ingin kuberitahukan padamu, kemarilah." Bimo melambaikan tangan, meminta temannya itu mendekat.
Sandi pun beringsut mendekati Bimo. "Apa itu?" ucapnya ketika sudah berada di sisinya.
"Sebentar lagi kita akan melihat live streaming malam pertama Farhan," bisik Bimo di telinga Sandi.
Kedua mata Sandi terangkat ke atas. Ia menjauhkan telinganya dan menatap wajah Bimo dengan senyum mengembang. "Benarkah? Kau tidak bercanda?" tanyanya, masih tak percaya.
Bimo mengangguk. "Aku serius."
Sandi beralih menatap Farhan. "Apa itu benar, Han?" tanyanya, ingin memastikan.
"Mengapa kau bertanya padaku? Aku bahkan tak tahu apa yang sedang kalian bicarakan," sahut Farhan, bingung.
"Sudah kukatakan aku serius, kenapa kau masih meragukanku? Aku sudah memastikannya dan itu benar," timpal Bimo.
Sandi tersenyum senang. "Bagus kalau begitu."
Sandi kembali menatap Farhan. "Ingat, saat itu tiba kau harus menepati janjimu, Han."
Farhan mengerutkan dahi. "Janji apa? apa aku pernah menjanjikan sesuatu padamu?" tanya Farhan dengan dahi berkerut.
"Aku tidak akan mengingatkanmu sekarang, kau akan tahu saat aku menagihnya nanti," sahut Sandi dengan senyum menyeringai.
Farhan mengabaikan ucapan Sandi, tak ingin ambil pusing. Mereka kembali melanjutkan obrolannya seperti biasa.
.
.
.
.
__ADS_1
.