Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 46


__ADS_3

"Sayang, Apa yang terjadi?" tanya Farhan. Memegang pundak Ara dengan posisi berlutut di hadapan gadis itu. Wajahnya di penuhi rasa cemas.


"Aku tidak tahu, seseorang tiba-tiba menabrakku dari belakang. Aku kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh," jawab Ara. Matanya tampak berkaca-kaca. Menahan panas sekaligus perih di punggungnya.


"Maaf, aku tidak sengaja. Apa kau baik-baik saja?" ucap si penabrak yang merupakan petugas katering.


Wajah Farhan tampak memerah. Ekspresi cemasnya lenyap seketika. Di gantikan oleh amarah. "Kau masih bertanya apa dia baik-baik saja?" tanya Farhan dengan senyum sinis. Ia menoleh ke kiri. Menatap pria yang memakai kemeja batik itu. Tatapannya sangat tajam. Seperti seekor elang yang sedang mengincar mangsanya dan siap menerkam. "Apa kau buta! apa kedua matamu itu hanya pajangan!" Nada suara Farhan mulai meninggi. "Kau menabraknya, lalu menuangkan air panas ke punggungnya. Kau masih berpikir dia baik-baik saja, Hah!" teriak Farhan, marah.


"Sayang, cukup. Jangan memarahinya lagi, dia juga tidak sengaja," ucap Ara seraya menarik-narik lengan Farhan.


Farhan memutar kepala. Kembali menatap Ara. "Kau terluka karenanya, aku tidak bisa diam saja," ucapnya dengan nada lebih lembut.


"Ada apa ini?" ucap Namira sambil terus melangkah, menerobos kerumunan. "Farhan ... Inara ...." Namira terkejut melihat keduanya terduduk di lantai. Terlebih saat melihat punggung Ara yang memerah serta ceceran air di lantai. Ia langsung tahu kalau gadis itu tersiram air panas. "Apa yang kau lakukan, Han? Cepat bawa Ara ke kamar dan lakukan pertolongan pertama. Kulitnya akan melepuh jika tidak di tangani dengan segera," titah Namira. Ia menyerahkan sebuah kunci pada keponakannya itu. "Kamarnya di lantai ini juga, nomor 309," imbuhnya.


Farhan tak mengatakan apapun. Ia langsung mengangkat tubuh Ara dan membawanya keluar dari ballroom. Menuju kamar hotel dengan nomor 309 itu.


"Aku bisa melakukannya sendiri," Ucap Ara seraya menghentikan tangan Farhan yang berusaha membuka gaunnya.


"Perlu dua puluh menit untuk membasuh lukanya dengan air dingin. Kau mungkin akan kedinginan jika terus di bawah air selama itu. Mas Han bisa menghangatkanmu jika tetap di sini." Farhan memeluk tubuh Ara dengan posisi saling berhadapan. "Tidak perlu melepas pakaian, buka sedikit saja, seperti ini." Farhan menurunkan restsleting gaun Ara yang kebetulan posisinya di bagian belakang, persis di punggungnya. Lalu menyibak kedua sisinya sedikit. Farhan menelan ludah, melihat betapa mulusnya punggung gadis itu. Bagian tengah dan bawahnya tampak merah akibat tersiram air panas tadi. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu. Tanpa sadar tangannya terulur, mengelusnya. Halus sekali ... seperti sutra, benak Farhan.


Ara terkesiap. Reflek ia mendorong Farhan dengan kuat, hingga membuat lelaki itu terpental ke belakang.


"Ugh," pekik Farhan saat punggungnya membentur dinding. Ia meringis kesakitan.


Ara terkejut lagi. Ia maju selangkah, menghampiri Farhan dan membantu kekasihnya itu berdiri. "Mas Han tidak apa-apa?" tanyanya, panik.


"Aku baik-baik saja," sahut Farhan, berbohong. Sebenarnya ia masih merasakan nyeri di pinggangnya akibat berbenturan dengan keran.


"Maaf, aku tidak bermaksud mencelakai Mas Han," ucap Ara, merasa bersalah.

__ADS_1


Farhan mengulurkan tangan ke atas, mengusap kepala Ara. "Aku tahu," sahutnya, tersenyum.


"Cepat, basuh punggungmu," lanjut Farhan seraya menghidupkan shower.


Sejuk dan nyaman. Itulah yang di rasakan Ara ketika buliran air itu meluncur ke punggungnya.


"Mas Han pergi saja," perintah Ara.


Farhan menggeleng. "Mas Han mau menemani Ara di sini."


Keduanya tetap berada di dalam kamar mandi. Menunggu sambil terus mengobrol.


Lima belas menit telah berlalu. Sebagian tubuh Ara sudah basah kuyup. Gadis itu melipat tangan di dada, menghangatkan tubuhnya yang mulai terasa dingin. Bahunya sudah beberapa kali bergidik, menggigil.


"Kau kedinginan?" tanya Farhan. Ia maju dua langkah, mendekati gadis itu.


"Tidak apa-apa, tinggal ganti baju," sahut Farhan. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ara. Memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.


Air dari shower terus menetes. Lengan dan bahu Farhan tampak ikut basah terkena cipratannya.


"Apa terasa hangat?" tanya Farhan.


"Hm," gumam Ara. Gadis itu mendongak, menatap Farhan. "Hangat sekali," imbuhnya dengan senyum tipis.


Farhan terdiam. Sorot matanya tertuju pada bibir tipis Ara yang merekah saat gadis itu tersenyum. Darah dalam tubuhnya mengalir deras dan berpusat ke bibirnya. Perlahan lelaki itu membungkuk. Mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan mendaratkan ciuman di bibir tipisnya.


Gadis itu terpejam. Seolah menikmati setiap cumbuan Farhan. Tubuhnya meliuk-liuk setiap kali tangan Farhan menjelajah lekuk tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa bergetar dan kakinya mulai terasa lemas.


Farhan menangkapnya sebelum gadis itu merosot kebawah. Laki-laki itu mengangkat tubuh mungilnya setinggi pinggang, lalu menggendongnya keluar.

__ADS_1


Farhan mendudukkan gadis itu di tepi ranjang. Melepas kemejanya dengan tergesa-gesa lalu melemparnya ke sembarang arah. Ara memalingkan wajah. Merasa malu dengan apa yang di lihatnya.


Farhan meraih wajahnya, memaksa gadis itu agar kembali menatapnya. "Jangan malu, kelak kau akan melihatnya setiap hari," ucapnya seraya menjatuhkan tubuhnya di sisi gadis itu.


Dengan malu-malu Ara kembali menatapnya. Memandang keindahan bentuk tubuh Farhan yang sempurna.


Farhan tersenyum. "Kau boleh menyentuhnya kalau mau," ucap Farhan seraya menuntun tangan gadis itu ke dada bidangnya.


Tangan ramping Ara mulai bergerak. Meraba dada dan perut Farhan yang rata dan menggoda. "Apa sakit?" tanyanya saat telunjuknya menekan perut Farhan yang menonjol dan keras itu.


Tatapan Farhan mulai menggelap. Ia merasakan darahnya mengalir deras menuju ke antara pahanya. "Tidak. Akan terasa enak jika kau menyentuhnya ke bawah lagi." Suaranya terdengar berat dan dalam.


Ara mengangkat wajahnya. Kembali menatap kekasihnya itu. Keduanya saling beradu pandang dalam diam.


Farhan membungkuk, mendekatkan wajahnya pada gadis itu lagi. Bibir dan tangannya mulai beraksi. Mengecup dan membelai bagian sensitif gadis itu.


Ara masih terlalu muda. Ia belum bisa mengontrol dirinya sendiri dalam situasi seperti sekarang. Gadis itu terlena. Tak peduli benar atau salah ia hanya mengikuti nalurinya yang menginginkan hal itu.


Begitu pula dengan Farhan. Untuk pertama kalinya lelaki itu kalah melawan nafsunya sendiri. Baginya aroma tubuh Ara bagaikan heroin yang terus membuatnya kecanduan. Ia tak bisa berhenti mengendus dan mengecupnya sekujur tubuhnya yang indah dan tanpa cela. Farhan bergerak semakin liar. Lelaki itu bahkan meninggalkan tanda kepemilikan di leher dan dada gadis itu.


Ara mulai meracau tak jelas membuat Farhan semakin bergairah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2