Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 34


__ADS_3

Meski tak memiliki perasaan apapun pada Dion, namun tetap saja jika di tatap sedekat itu membuat Ara tersipu malu. Seperti biasa pipinya tampak merona.


"Apa 'sih kak Dion ini," ucapnya dengan senyum malu. Tangannya mendorong dada Dion agar menjauh. Kemudian berlalu pergi. Dion mengikuti di belakangnya. Laki-laki itu tampak terkekeh melihat tingkah Ara.


Setelah selesai memilih pakaian Ara lekas menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


"Ara ganti baju saja, biar Kak Dion yang menyelesaikan pembayaran," ucap Dion menyarankan.


"Biar lebih cepat," imbuhnya.


"Oh, oke," sahut Ara, setuju. Gadis itu mengambil paper bag berisi pakaian yang baru saja ia beli kemudian berlalu pergi ke ruang pas yang ada di outlet tersebut.


"Saya mau yang itu," ucap Dion pada pelayan toko. Ia menunjuk sebuah hoodie yang di pajang di patung.


"Ukurannya apa Mas?" tanya pelayan toko itu.


"L," sahut Dion. "Sama satu lagi, kira-kira yang muat untuk gadis yang bersamaku tadi," imbuhnya, kemudian.


"Baik, tunggu sebentar," ucap pelayan toko itu. Wanita itu pun bergegas mengambil pesanan pelanggannya.

__ADS_1


Dion tak mengatakan apapun. Ia menunggu di depan kasir dengan tenang.


"Adiknya cantik ya, Mas," ucap petugas kasir berbasa-basi.


Dion menoleh, menatap wanita di hadapannya yang juga menatapnya dengan senyum semanis mungkin. "Dia bukan adikku," sahutnya, dingin. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Berbeda sekali saat sedang bersama Ara.


"Oh, kupikir itu adiknya, Mas," ucap petugas kasir yang bernama Lusi itu. Wanita Itu masih saja tersenyum manis. Mencoba menarik perhatian Dion. Padahal yang di tatap justru cuek, tak peduli padanya.


"Dia bukan adikku, tapi calon istriku," jelas Dion.


Kasir itu melongo, mendengar penuturan Dion barusan. Jleb. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya. Hah, gadis itu masih sekolah saja sudah punya calon suami. Sedangkan aku yang sudah seperempat abad ini pacar saja tidak punya. Benar-benar jones, jomblo ngenes.


"Apa masih ada yang lain?" kali ini Lusi yang bertanya. Sepertinya wanita itu sudah menyerah. Tak ingin menggoda pelanggan tampannya itu dengan senyum yang di buat-buat seperti sebelumnya.


"Tidak ada, itu saja," sahut Dion dengan wajah datar.


"Baik. Totalnya jadi Dua puluh delapan juta tiga ratus ribu rupiah," ucap kasir itu.


Dion merogoh saku celananya. Mengambil dompet dan mengeluarkan black card dari dalam sana. Lalu menyerahkannya pada kasir itu tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Kasir itu melaksanakan tugasnya dengan cekatan. Setelah transaksi selesai ia menyerahkan kembali kartu hitam beserta struk belanja pada pemiliknya. "Terima kasih sudah berbelanja di toko kami," ucapnya ramah.


Dion tak mengatakan apapun. Ia menerima kartunya dan memasukan kembali ke tempat semula. Setelah itu berlalu pergi setelah menyambar paper bag berisi hoodie yang telah ia beli. Ia berjalan menuju kamar pas di mana Ara mengganti baju. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya gadis itu pun keluar dengan penampilan yang berbeda. Kini tak lagi memakai seragam sekolah. Melainkan memakai celana jeans biru langit yang di padukan dengan kaos polos berwarna putih. Meski yang di pakai sangat sederhana tapi sama sekali tak mengurangi kecantikannya.


"Eh, Kak Dion kenapa di sini? Apa sudah lama menunggu?" tanya Ara. Ia sedikit kaget karena saat membuka pintu Dion sudah ada di depannya.


"Tidak, Kak Dion juga baru kesini." "Kalau Ara sudah selesai, ayo kita pergi sekarang," ajak Dion.


"Ayo," sahut Ara, setuju. Keduanya keluar dari toko itu bersamaan dan kembali ke parkiran. Setelah itu bergegas menuju ke tempat wisata yang mereka sepakati sebelumnya. Mobil yang mereka sempat berhenti saat terjebak lampu merah, jalanan juga sedikit macet. Dion tampak mengetuk-ngetuk jemarinya di stir, tak sabar. Sementara Ara terlihat santai. Ia duduk dengan tenang sambil memandang ke luar jendela. Tanpa sengaja matanya menangkap seseorang yang tak asing. Ia tersenyum senang karna bisa melihat Farhan tak jauh darinya. Seperti biasa, di lihat dari sisi manapun wajah Farhan tetap terlihat tampan. Ara menurunkan kaca mobil dan bersiap menyapanya. Namun ia urungkan saat menyadari ada seorang wanita yang berada di belakang Farhan.


Senyum Ara seketika lenyap. Digantikan dengan wajah cemberutnya. Terlebih saat melihat wanita yang di bonceng Farhan itu melingkarkan kedua tangannya di perut pujaan hatinya itu. Darahnya seolah mendidih, kesal luar biasa.


Wanita itu lagi, siapa 'sih dia sebenarnya, batin Ara, kesal.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2