
Waktu itu masih pukul setengah enam pagi. Dengan langkah cepat Farhan kembali masuk ke dalam kamarnya. Membuka lemari pakaian dan memungut apa saja yang ia lihat pertama kali.
Setelah selesai berpakaian Farhan kembali keluar kamar. Menyambar jaket yang teronggok di bahu sofa dan juga kunci motornya yang tergantung di kapstok dekat meja makan.
"Kau mau kemana, Han? Pagi-pagi begini," tanya Bu Sinta, heran. Tak biasanya putranya itu pergi pagi-pagi buta. Apalagi hari ini ia libur kerja. Biasanya kalau tidak bekerja anak itu bangun siang.
"Aku ada urusan sebentar, Bu," sahut Farhan sambil berlalu. Laki-laki itu mengeluarkan motornya dengan terburu-buru.
"Sarapan dulu sebelum pergi, Han. Ibu sudah buatkan nasi goreng sayur kesukaanmu," perintah Bu Sinta. Wanita paruh baya itu semakin bingung karena Farhan tampak begitu terburu-buru. Memangnya mau kemana sih anak itu, pikirnya, penasaran.
"Nanti saja, Bu. Setelah aku kembali baru akan memakannya. Sekarang Farhan pergi dulu," ucapnya sambil menancap gas. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang belum terlalu padat.
Sementara itu di kediaman keluarga Ara. Sama seperti Farhan, pagi itu Ara tampak terburu-buru. Tak seperti biasanya yang tak begitu memperdulikan penampilan. Kali ini gadis itu berdandan lebih lama. Rambut panjangnya yang biasa tergerai begitu saja, kali ini ia mengikatnya. Kemudian menggulungnya ke atas. Membuat leher putihnya lebih terekspos. Ia juga memulas bibirnya dengan liptint berwarna merah muda. Tidak begitu mencolok. Namun efek glossinya membuat bibir gadis itu terlihat lebih segar dan mampu menggoda siapa saja yang melihatnya.
Ting! Drrt
Ara menoleh, menatap ponselnya yang bedenting dan juga bergetar. Ia yang sedang duduk di depan cermin pun lekas bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menghampiri tempat tidur. Meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
Gadis itu tersenyum saat membuka pesan yang baru saja masuk.
[Kau dimana? Aku sudah di depan minimarket x] isi pesan yang di kirim oleh Farhan.
Jemari Ara mulai menari-nari di layar ponsel tersebut. Mengetik balasan untuk Farhan, laki-laki yang tengah menunggunya.
[Tunggu sebentar, Aku akan segera ke sana] tulis gadis itu. Setelah mengirim pesan tersebut ia lekas menyambar tas sekolahnya. Kemudian bergegas keluar kamar. Gadis itu menuruni anak tangga dengan setengah berlari.
Haris yang sedang berada di ruang keluarga tampak menoleh. Setelah mendengar debum langkah kaki yang berasal dari tangga. "Jangan lari, nanti jatuh," ucapnya saat melihat Ara turun. Namun, seperti biasa gadis keras kepala itu tak menggubris ucapannya.
"Abang tenang saja, aku tidak akan jatuh," sahut Ara ketika sudah di ujung anak tangga paling bawah.
"Ara berangkat dulu ya, Bang," ucap Ara sambil berjalan menghampiri kakaknya.
Haris menatap jam dinding yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Saat itu baru menunjukan pukul enan lewat sepuluh menit. "Kenapa buru-buru sekali. Sarapan dulu sebelum pergi. Abang juga belum memanaskan mobil," titah Haris.
"Hari ini abang tidak perlu mengantar dan juga menjemput ku ke sekolah," sahut Ara. Gadis itu ikut duduk di sofa, bersebelahan dengan kakaknya.
"Kenapa?" tanya Haris. Wajah laki-laki berubah serius. Tingkat kewaspadaannya meningkat. Haris dan samsul hampir sama. Keduanya sama-sama protektif terhadap adiknya. Namun, kalau Haris ada masih ada sedikit kelonggaran. Haris juga tak semenakutkan Samsul. Kakak kedua Ara itu terbilang cukup ramah. Meskipun sedang marah, wajahnya masih bisa tersenyum.
Berbeda dengan Samsul. Laki-laki berwajah garang itu irit senyum. Apalagi tertawa mungkin setahun hanya dua kali. Samsul memang tak pernah marah ataupun mengamuk di hadapan Ara. Namun diamnya laki-laki itu saja mampu membuat nyalinya menciut. Tatapannya juga sangat tajam seperti pisau belati. Tak heran Ara begitu patuh padanya.
"Abang nggak lupa 'kan sama kesepakan kita beberapa waktu lalu?" ucap Ara mengingatkan. "Hari ini aku mau ambil hari bebasku. Jadi Abang tidak perlu mengantar dan menjemputku pulang sekolah nanti," imbuhnya, menjelaskan
__ADS_1
"Oh itu," sahut Haris. Ekspresi laki-laki itu kembali santai. "Kau mau kemana?" tanyanya kemudian.
"Ke sekolah dong. Memangnya Abang nggak liat aku sudah pakai seragam?" sahut Ara. Menunjukan seragam sekolah yang ia kenakan dengan sorot matanya.
"Maksud Abang--setelah pulang sekolah nanti Ara mau kemana? kenapa tidak mau di jemput?"
Ara mendekatkan wajahnya pada Haris. Kemudian meletakan telapak tangannya di telinga kanan kakaknya itu. "Rahasia," bisiknya sambil terkikik.
"Oh sekarang sudah mulai berani main rahasia-rahasiaan dengan Abang, ya? Kemari kau." Haris menarik tubuh Ara. Kemudian menggelitiki pinggang adiknya itu.
Seketika tubuh Ara meliuk-liuk ke kanan dan kiri di atas sofa. Keduanya sama-sama terkekeh. Meskipun usia keduanya terpaut lumayan jauh tapi kedekatan kakak beradik itu sangat erat. Mereka sering kali bercanda seperti sekarang ini.
"Ampun, Bang," ucap Ara, menyerah. Ia kembali duduk dengan benar setelah Haris mengakhiri gelitikannya.
"Siang nanti aku dan temanku mau jalan-jalan, " ucap Ara mengakui.
"Kemana?" tanya Haris.
Ara mengedikkan bahu. "Entahlah, kami belum memutuskan," sahutnya.
"Ya sudah. Yang penting pulangnya jangan terlalu sore. Sebelum maghrib harus sudah sampai rumah," ucap Haris mengingatkan.
"Siap, Bos," ucap Ara seraya meletakan telapak tangannya di pelipis, seperti sedang hormat.
Ara segera menyambarnya. "Oke. Terima kasih abangku yang tampan," ucapnya. Ia memeluk dan mendaratkan kecupan di pipi kakaknya itu.
"Sama-sama, Sayang," sahut Haris, tersenyum. Ia membelai kepala adiknya dengan lembut.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, Bang." Ara meraih tangan Haris dan mencium punggung telapak tangan kakaknya itu.
"Baiklah, hati-hati di jalan," pesan Haris.
Ara mengangguk. Kemudian berlalu pergi. Ia berjalan dengan cepat menuju minimarket x yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Berjarak kurang lebih seratus meter. Matanya tampak berbinar ketika menemukan sesosok laki-laki yang sedang duduk di motornya. Ia lekas menghampiri laki-laki itu dengan riang.
"Mas Farhan," ucap Ara begitu sampai di sisinya.
Farhan mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Seketika kedua sudut bibirnya terangkat ke atas begitu melihat sesosok gadis yang kerap membuat jantungnya berdebar tak menentu.
"Maaf, sudah membuat Mas Han menunggu," kata Ara.
"Tidak apa-apa, Mas juga baru sampai." Untuk pertama kalinya laki-laki itu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Mas. Biasanya ia menyebut aku. "Berangkat sekarang?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Ara menganggukkan kepala sebagai jawaban. Farhan memutar tubuhnya, meraih helm yang ia sangkutkan di spion. Kemudian memakaikannya pada gadis di hadapannya.
"Terima kasih," ucap Ara dengan senyum manisnya.
Setelah memakai pelindung kepala, Farhan lekas naik ke motornya. Diikuti oleh Ara yang membonceng di belakangnya. Seperti biasa, sebelum melajukan kendaraannya Farhan selalu menarik kedua tangan Ara dan melingkarkan di tubuhnya. "Pegangan yang erat," ucap Farhan.
Kali ini Ara sama sekali tak terlihat canggung. Gadis itu bahkan memeluk Farhan dengan erat. Hubungan keduanya memang semakin dekat semenjak pertemuan mereka di lapangan futsal. Meski jarang bersama tapi mereka tetap berhubungan secara intens melalui telepon. Bahkan hampir setiap malam, sebelum tidur keduanya mengobrol terlebih dulu.
Farhan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan keduanya asik mengobrol hingga tanpa sadar tahu-tahu sudah sampai tujuan. Farhan menepikan kendaraannya dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Keduanya lekas turun dan berdiri berhadapan.
Farhan membantu melepas helm yang di kenakan Ara dan juga membantu merapikan rambut gadis itu. Ia menyelipkan beberapa helai rambut Ara kebelakang telinga. "Sudah sampai," ucapnya.
Ara tersenyum. Jantungnya berdebar tak karuan. Melihat wajah Farhan saja sudah membuatnya begitu bahagia. Apalagi ketika mendapatkan perhatian dari lelaki tampan itu. Sungguh membuat hatinya meleyot.
"Kalau begitu aku masuk dulu," ucapnya. Ara mengulurkan tangannya ke depan.
Farhan mengerutkan dahi. Tampak bingung dengan maksud Ara. Eh, apa ini? Mengapa Ara mengulurkan tangan padaku, apa dia ingin berjabat tangan denganku?
Karena tak kunjung mendapat respon. Ara pun berinisiatif untuk meraih telapak tangan Farhan dan mengecup punggung telapak tangan laki-laki itu.
Farhan tertegun selama beberapa detik. Ia menatap lekat wajah Ara. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan seperti itu oleh seorang wanita selain adiknya. Hal itu membuat hatinya tersentuh. Ia merasa begitu di hargai dan di hormati hingga membuat hatinya bergetar hebat. Seluruh jiwanya seakan luruh di hadapan gadis itu.
"Mas Farhan," ucap Ara ketika Farhan bengong.
"Ya," sahut Farhan begitu tersadar.
"Aku masuk sekarang," ucap Ara, lagi.
Farhan tersenyum. "Iya, masuklah," perintahnya. "Siang nanti aku akan menjemputmu," imbuhnya.
Ara menganggukkan kepala. "Kalau begitu, sampai nanti, Mas Han," ucapnya sebelum pergi. Gadis itu melambaikan tangan seraya melangkah masuk ke dalam area sekolahnya.
Farhan tampak membalas lambaian tangan Ara. Ia tak berhenti memandangi gadis itu. Hingga akhirnya gadis itu menghilang dari jangkauan matanya. Ia lekas berbalik, menghadap motornya. Ia memegangi dadanya, merasakan jantungnya yang masih berdebar kuat.
Ada apa denganku hari ini? Mengapa perasaanku seperti ini? Mungkinkah aku menyukainya? Tapi dia masih anak-anak, mana mungkin aku menyukai gadis yang seumuran dengan adikku.
.
.
.
__ADS_1
.