Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 41


__ADS_3

Belum reda kemarahan Samsul dengan urusan kantor. Saat pulang ke rumah ia justru di suguhkan dengan pemandangan yang membuat matanya memanas. Di depan matanya ia melihat sang adik tengah memeluk seorang pria yang entah siapa dan dari mana asal usulnya.


Dadanya kembali terasa bergemuruh. Bagaimana bisa ia kecolongan seperti ini. Dengan tatapan berapi-api Samsul bergegas keluar dari mobil dan membanting pintu itu dengan keras.


"Inara!" teriaknya, marah.


Sontak Farhan dan Ara tersentak kaget. Keduanya menoleh ke arah Samsul, bersamaan. Seketika kedua mata Ara membulat sempurna sangking terkejutnya. "A--Abang ..." ucapnya gelagapan.


"Apa yang kau lakukan? sampai kapan kau akan terus memeluknya seperti itu, Hah!" Samsul tampak geram melihat Ara yang terus memeluk Farhan dengan sangat erat. Sampai tubuh keduanya menyatu, tak ada celah sedikit pun. Sebagai lelaki ia tahu betul apa yang akan terjadi jika tubuh pria dan wanita menempel begitu dekat seperti itu. Terlebih bagian depan pria sangat sensitif. Mengingat hal itu Samsul semakin geram. Ia merasa tak terima gadis kecilnya di perlakukan tak senonoh seperti itu.


Ara mengikuti arah pandangan Samsul yang tak bersahabat itu. Gadis itu kembali terkejut. Baru sadar kalau ia masih berpelukan dengan Farhan. Dengan cepat Ara menarik tangannya yang masih melingkar di pinggang Farhan dan bergegas menjauh dari lelaki itu. Wajahnya berubah pucat karena ketakutan.


"Masuk ke dalam sekarang," perintah Samsul.


"Tapi Bang. Aku--"


"Masuk!" bentak Samsul.


Ara tak berani membantah. Dengan wajah lesu gadis itu mulai melangkah pergi. Namun Farhan menahannya dengan menarik tangan gadis itu.


Ara kembali menoleh ke belakang, menatap Farhan sambil menggelengkan kepala. Mengisyaratkan pada Farhan agar segera melepaskan tangannya.

__ADS_1


Semakin keras Ara berusaha melepas tangannya maka semakin erat Farhan menggenggamnya.


"Lepaskan aku, Mas," pinta Ara, lirih. Farhan tak peduli, lelaki itu sama sekali tak berniat melepasnya.


Samsul tak tinggal diam. Ia melangkah ke depan, menghampiri Farhan dan Ara. Kemudian melepaskan tangan keduanya dengan kasar. "Siapa yang mengizinkanmu memegang tangan adikku?" ucapnya seraya menatap garang ke arah Farhan.


Farhan tak mengatakan apapun. Lelaki itu menatap Samsul sebentar. Namun tak lama kemudian ia menundukkan wajahnya. Bukan karena takut, tapi karena ia menghormati Samsul yang notabene kakak Ara. Tidak mungkin melawan abang iparnya sendiri, pikirnya.


Samsul menatapnya, galak. "Aku tidak tahu kau siapa dan apa hubunganmu dengan adikku. Tapi kuperingatkan kau, jauhi adikku. Jangan pernah menemuinya lagi," ujar Samsul, menambahkan.


"Abang!" bentak Ara, marah.


Samsul mendelik, menatap adiknya yang baru saja berteriak padanya. "Kau berani membentak Abang sekarang? Apa dia yang mengajarimu bersikap kurang ajar seperti ini?" sahut Samsul, geram. Ia menuding Farhan dengan sorot matanya. Dadanya terlihat naik turun, menahan amarah.


Yang terakhir dan yang paling penting, dia selalu membuatku bahagia. Ara


"Kau tidak mengerti. Apa yang terlihat baik belum tentu baik," sahut Samsul. Ingatannya kembali menerawang jauh pada kejadian tiga belas tahun silam. Peristiwa pilu yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Ya, semenjak kejadian itu Samsul, Haris dan juga kedua orang tuanya saat masih hidup bersikap lebih protektif terhadap Ara. Mereka juga tak mengijinkan sembarang orang masuk ke dalam rumahnya. Membatasi pergaulan dan juga menjaga ketat gadis yang kini menjadi anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya itu.


"Kalau begitu jelaskan padaku, agar aku mengerti," tuntut Ara. Gadis itu kembali menitikkan air mata.


Sebenarnya Samsul merasa tak tega. Tapi jika ia terus bersikap lembut maka adiknya itu tak akan takut padanya lagi dan akan semakin berani membantah perintahnya.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Yang pasti apa yang Abang lakukan dan katakan padamu adalah yang terbaik. Sekarang masuklah ke dalam, kita bicarakan lagi nanti."


"Dan kau--" Samsul beralih menatap Farhan yang sejak hanya bisa diam sambil terus memperhatikan kakak beradik yang sedang bertengkar itu.


"Menyingkirlah dari pandanganku sekarang juga. Aku tak ingin melihat wajahmu di sekitaran rumahku lagi," imbuh Samsul.


"Cukup, Abang!" bentak Ara, lagi. Gadis itu semakin marah, melihat kakaknya mengatakan hal yang menurutnya sangat kasar dan tak berperasaan. Terlebih itu di tujukan pada Farhan, orang yang sangat ia cintai, orang yang ia harapkan dan impikan menjadi suaminya kelak.


Ara kembali menghampiri Farhan. Sedikit mendongak untuk melihat wajah lelaki di hadapannya itu dengan penuh cinta. "Aku masuk dulu. Mas Han hati-hati di jalan," ucapnya dengan nada sangat lembut.


"Hm. Masuk dan beristirahatlah. Satu lagi, patuh lah pada Abangmu, jangan membantah, " pesan Farhan.


Ara menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia meraih tangan kanan Farhan lalu mengecup punggung telapak tangannya. Setelah itu berlalu pergi. Melewati Samsul yang melongo melihat adiknya mencium tangan Farhan.


Sudah sampai sejauh mana hubungan mereka? mengapa Ara memperlakukannya seperti itu? Apa saja yang sudah dilakukan lelaki itu? Mengapa adikku begitu patuh padanya?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2