Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 29


__ADS_3

"Inara!" Suara Haris menggema di ruangan itu. Pria itu berjalan cepat menghampiri adiknya yang tersentak kaget.


"Ada apa, Bang? Kenapa berteriak seperti itu," tanya Ara.


"Sayang, mengapa kau berpakaian seperti itu?" Haris melingkarkan handuk kecil di bahu adiknya itu.


Ara tampak mengerutkan dahi, bingung. "Memangnya ada apa dengan bajuku?" tanyanya. Ia menunduk, memperhatikan pakaiannya yang sedang ia kenakan.


Perasaan bajuku baik-baik saja, tidak ada yang sobek.


"Apa Ara tak punya baju lain? Kenapa baju bayi masih di pakai?" ucap Haris.


Ara melongo. Setan apa yang merasuki bang Haris, akhir-akhir ini tingkahnya aneh sekali, pikirnya.


Haris menanggalkan kaosnya. Ara tampak kagum melihat tubuh kakaknya yang atletis. Bahu lebar, pinggang ramping serta perutnya yang sixpack.


"Pakai ini," ucap Haris seraya menyerahkan kaosnya pada Ara.


"Tidak mau," tolak Ara.


Haris mendelik. "Kau masih mau pakai baju bayi itu?" ucapnya.


"Ini bukan baju bayi, Abang," sahut Ara. Mana mungkin baju bayi masih muat di tubuhku.


"Baju sekecil ini--memegang tanktop Ara--dan juga celana sependek ini--menunjuk celana yang di pakai Ara--bukankah yang kau pakai sekarang baju bayi?" ucap Haris.


"Lihat, perut dan pahamu kemana-mana, apa kau tidak malu?" imbuhnya.


"Ada apa dengan Abang?" tanya Ara dengan suara mendayu. "Bukankah dari dulu aku sudah biasa pakai baju seperti ini? Dulu Bang Haris tidak pernah protes. Lagi pula ini di dalam rumah, orang lain tidak lihat," imbuhnya.


"Lalu apa kau pikir dia patung?" ucap Haris. Ia menoleh ke belakang dan menunjuk Dion yang masih duduk di tempat.


"Kak Dion kan teman Abang, bukan orang lain," sahut Ara.


"Meskipun Dion teman Abang tapi dia laki-laki Ara."

__ADS_1


"Kalau laki-laki memangnya kenapa? Abang juga laki-laki."


Haris mengacak rambutnya, frustasi. Ia tidak mungkin menjelaskan secara detail akar masalahnya mengapa adiknya itu tak boleh pakai pakaian yang terbuka terutama saat di depan Dion.


"Pokoknya mulai sekarang jangan pakai baju seperti ini," ucap Haris, memerintah.


"Tapi Bang...."


Haris meletakan telunjuknya di bibir Ara. Seketika gadis itu pun berhenti bicara. "Sst, tidak ada kata tapi," ucap Haris, tegas.


"Cepat ganti bajumu," perintahnya kemudian.


"Iya, nanti," sahut Ara.


"Sekarang!"


"Ara belum selesai, Bang. Sebentar lagi, ya?" tawar Ara. Gadis itu kembali naik ke treadmill dan bersiap melanjutkan olahraganya. Namun di hentikan oleh Haris.


"Apa perlu Abang menyeretmu?" ancam Haris. Kali ini wajahnya terlihat sangat serius.


"Jangan terlalu keras padanya," ujar Dion saat Haris berada di sebelahnya. "Ingat, adikmu itu wanita. Jika kau terus membentak dan memaksanya seperti tadi hatinya akan terluka," imbuhnya.


"Di banding dirimu aku lebih tau tentang adikku, Dion. Kau tak perlu repot-repot menasehatiku."


Dion menundukkan kepalanya, menatap kedua lututnya. "Benarkah?" ucapnya dengan senyum mengejek. Setelah itu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Haris. "Mengapa aku merasa kau sama sekali tidak mengerti tentang adikmu," imbuhnya.


"Apa maksudmu?" tanya Haris. Dahinya tampak berkerut.


"Pernahkah kau berpikir tentang perasaannya? Atau pernahkah kau bertanya apa yang ia inginkan?" tanya Dion, serius.


"Bukankah kau sudah lihat sendiri bagaimana aku dan kakakku memperlakukannya?" "Kami berdua selalu mengabulkan apapun keinginannya dan memberikan yang terbaik untuknya," jelas Haris.


Lagi-lagi Dion tertawa kecil. Tawa yang mengejek. "Keinginan seperti apa yang kau kabulkan? Seperti membeli baju, boneka, tas dan lain sebagainya?" tanyanya. Laki-laki itu menatap tajam Haris.


"Jika itu yang kau maksud berarti kau sama sekali tak mengerti adikmu," imbuh Dion. Wajahnya tampak marah.

__ADS_1


Haris semakin bingung di buatnya. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Aku tidak mengerti maksudmu," tanya Haris. Ia bingung mengapa temannya berkata demikian. Jelas-jelas yang paling mengerti Ara sudah pasti dirinya dan juga Samsul. Dua orang yang sudah bersama Ara sejak anak itu bayi hingga sebesar sekarang.


"Kebebasan, sudahkah kalian memberikan hak itu?" tanya Dion.


Haris terdiam sejenak. Wajahnya tertunduk. "Untuk yang itu kami belum bisa memberikannya," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Dion. "Tidakkah kau lihat wajah adikmu?" tanyanya lagi.


"Kadang kala dia terlihat begitu tertekan dan juga ketakutan dengan aturan konyol yang kau buat dengan kakakmu itu," ucap Dion marah.


Haris masih terdiam. Laki-laki itu bahkan tak berani mengangkat wajahnya.


"Ris ...," panggil Dion. Ia menatap wajah Haris yang masih tertunduk.


"Aku memang bukan laki-laki bersih, kau mungkin sudah tau seperti apa diriku. Tapi kali aku berjanji padamu, aku akan menjaganya. Aku tidak akan menyakiti adikmu apalagi sampai merusaknya. Jadi aku mohon padamu, berikan aku kesempatan, Ris. Izinkan aku membahagiakan Ara," ucap Dion sungguh-sungguh.


"Kau serius?" tanya Haris.


Dion menganggukkan kepalanya. "Sangat serius," sahutnya, mantap.


"Kalau begitu aku akan memberikan kau kesempatan. Tapi kau harus menepati janjimu. Ingat aku akan selalu mengawasimu. Jika kau berani menyakitinya maka aku tidak akan segan membalasmu dengan lebih kejam," ancam Haris.


"Kau tenang saja, Ris. Aku tidak akan melakukan kesalahan. Kau pun tahu aku bukan tipe orang yang suka melanggar janji," ucap Dion, meyakinkan.


"Jangan banyak bicara, tepati saja janjimu," ujar Haris.


"Baiklah. Kau lihat saja kedepannya. Tak lama lagi kau akan dengar aku memanggilmu Abang," ucap Dion sambil tertawa. "Haruskah aku mulai berlatih?"


"Abang Haris, bolehkah aku pinjam mobilmu?" ucap Dion.


Haris tampak terkekeh dengan tingkah temannya itu. "Apa kau begitu yakin kalau adikku mau denganmu?" tanya Haris.


"Tentu saja. Aku tampan, kaya dan juga romantis. Tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku," ucap Dion menyombongkan diri.


"Kau tidak tahu adikku, dia itu spesial. Kau mungkin harus berjuang keras untuk meluluhkan hatinya."

__ADS_1


Tentu saja aku tau, Ris. Gadis kecilmu itu memang spesial. Itu sebabnya kenapa aku begitu menginginkannya. Dan aku tidak akan menyerah. Meskipun dia memilih laki-laki lain, aku akan tetap menunggunya sampai ia putus dengan kekasihnya. Jika dia menikah dengan laki-laki lain maka aku akan menunggu jandanya.


__ADS_2