Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 47


__ADS_3

Tok tok tok


"Han ... Han ...."


Seketika kedua mata Farhan dan juga Ara terbuka lebar. Dengan panik Farhan melompat dari tempat tidur. Menyambar kemejanya yang teronggok di lantai dan memakainya dengan tergesa-gesa.


"Kau sedang apa, Han? Kenapa lama sekali," kata Namira begitu keponakannya membuka pintu. Wanita itu melenggang masuk sambil menenteng paper bag di tangan kanannya.


"Dimana Ara?" tanyanya lagi tanpa memandang keponakannya itu.


Farhan mengekor di belakang Namira dengan gelisah. "Masih di kamar mandi."


"Sudah selama ini dia masih di kamar mandi?" tanya Namira seraya berbalik. Ia menatap Farhan dengan dahi mengernyit.


"Apa yang terjadi? Kenapa bajumu basah?" lanjut Namira.


Di saat mendebarkan itu, pintu kamar mandi terbuka. Ara keluar dari sana mengenakan kimono. Gadis itu melirik Farhan sebentar sebelum akhirnya menyapa Namira dengan sopan. "Tante ...," ucapnya.


Namira terkejut sekali lagi ketika mendapati tanda merah di leher gadis itu.


Ampuni aku, Tuhan. Sungguh, aku menyuruh mereka berdua ke kamar hanya untuk melakukan pertolongan pertama pada gadis itu. Sama sekali tak menyangka kalau mereka berdua justru menggunakannya untuk melakukan malam pertama juga.


"Maafkan Tante, ya, Ara." Ada penyesalan dalam suara Namira.

__ADS_1


Ara mengernyitkan dahi, bingung. "Mengapa minta maaf, Tante tidak bersalah," sahut Ara.


Namira maju selangkah. Lalu melebarkan tangan dan mendekap gadis kecil itu. Tangannya terulur, membelai kepala Ara dengan lembut. "Pokoknya Tante minta maaf atas segala yang terjadi pada Ara hari ini," ucapnya, lirih.


"Bagaimana dengan punggung Ara, apa lukanya serius?" tanyanya setelah melepas pelukan. Lalu menggandeng tangan gadis itu dan membawanya ke tempat tidur.


Saat duduk Namira merasakan ranjangnya basah. Itu memperkuat dugaannya kalau keponakannya itu telah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap gadis kecil itu.


Wanita itu melirik ke arah Farhan sekali lagi. Ada kekecewaan dalam tatapannya. Namun, saat itu Farhan tak melihatnya. Laki-laki itu sedang menunduk, memandangi jemarinya yang saling bertaut.


Ara menggeleng. "Tidak terlalu kok, Tante. Sekarang juga sudah tidak perih lagi," sahut Ara seraya menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Syukurlah," sahut Namira. "Oh iya, Tante bawakan ini ...." Namira mengeluarkan salep luka bakar dan juga gaun baru dari paper bag yang ia bawa.


"Apa yang Ara katakan, sama sekali tidak merepotkan, kok," ucap Namira dengan senyum tipis. "Sini, Tante bantu oleskan obatnya."


"Tidak usah, Tante. Ara bisa melakukannya sendiri," tolak Ara dengan sopan.


"Bagaimana caranya? Ara bahkan tidak bisa melihat dimana lukanya kan?" Tanya Namira.


Gadis itu mengangguk. Sejujurnya ia memang tak bisa melakukannya sendiri. Akan tetapi gadis itu merasa malu jika memperlihatkan punggungnya pada orang lain.


"Nah kan, sini biar Tante bantu."

__ADS_1


Pada akhirnya Ara pun menyerah. Dengan malu-malu gadis itu mengarahkan punggungnya ke Namira.


"Buka saja kimononya, kalau begini Tante tidak bisa menjangkau bagian bawahnya," ucap Namira.


Ara melirik Farhan yang saat itu duduk di sofa. "Mas Han ...."


Ketika namanya di panggil Farhan segera menoleh dan menatap kekasihnya itu. "Ya, Sayang."


"Bisakah Mas Han keluar sebentar?"


"Tentu." Farhan bangun dari duduknya. Berjalan mendekati Ara dan mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala gadis itu. "Panggil Mas Han kalau sudah selesai," ucapnya sebelum pergi.


Ara membeku di tempat. Syok dengan perlakuan Farhan barusan. Kedua pipinya tampak merona karena malu.


Tak jauh berbeda dengan Ara, Namira juga tampak tercengang. Salep dalam genggamannya sampai terlepas dan jatuh ke lantai.


Apa dia benar-benar keponakanku? Sejak kapan ia bisa bersikap manis seperti itu.


Ya, sebagai tantenya, Namira tentu sangat tahu seperti apa sifat dan perilaku Farhan. Keponakannya itu bukanlah tipe orang yang suka memamerkan kemesraan di depan orang lain. Selain itu dulu keponakannya itu langsung menyebut nama saat memanggil kekasihnya.


Tapi apa yang terjadi dengan lelaki itu sekarang? Farhan bukan hanya memanggil Ara dengan sebutan Sayang, dia bahkan berani mencium gadis itu di depan mata Namira. Benar-benar berbeda dengan sikapnya yang dulu.


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2