
Eza berjalan di lorong rumah sakit dengan santai, sesekali tersenyum ke arah para pasien yang terlihat sedang keluar untuk menghirup udara segar.
Namun tiba-tiba ada anak kecil yang menabrak tubuhnya-- tidak, lebih tepatnya kakinya. Karena anak kecil berumur lima tahun itu hanya menubruk bagian kakinya saja, dan justru malah anak itu yang jatuh tersungkur ke lantai.
"Hei nak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Eza, sambil menolong anak itu untuk bangun.
Anak kecil itu menggeleng pelan. "Kaki aku sakit dokter." lirihnya.
Eza menatap ke arah kaki anak kecil tersebut, ternyata lututnya sedikit lecet mungkin karena tadi tersungkur ke lantai. Eza membawa anak itu untuk duduk di kursi yang tak jauh dari mereka.
"Sini biar dokter obatin ya." tutur Eza lembut, dia mengeluarkan plester luka dari saku jasnya, kemudian memakaikan plaster tersebut di lutut anak itu.
"Makasih dokter, ternyata ngga sakit ya." ujarnya menatap takjub ke arah lututnya.
Eza sedikit terkekeh pelan, memang ada banyak anak yang sulit ditangani saat mereka sedang melakukan pengobatan.
"Kamu kenapa lari-lari disini?"
"Takut." jawabnya sambil memeluk Eza.
Dari kejauhan ada seorang dokter muda yang nampak berlari dengan tergesa-gesa, Eza kembali menatap anak kecil yang saat ini sedang memeluknya. Bisa Eza pastikan, bahwa dokter itu sedang mencari anak ini.
"Dokter!" panggil Eza.
"Dokter kenapa dipanggil Kaka cantik itu."
Dokter wanita yang tadi berlarian pun menghampiri Eza, pandangannya langsung menatap kepada pasiennya yang kabur.
"Astaga, kamu disini rupanya." ucapnya dengan nafas yang memburu.
"Ngga mau, aku ngga mau disuntik Kaka cantik." ujarnya memeluk erat Eza.
Dokter wanita itu pun berjongkok, menyetarakan dengan pasien kecilnya. Dia tersenyum lembut ke arah anak kecil itu. "Kaka ngga nyuntik kamu, tadi itu cuma melakukan pemeriksaan saja." tuturnya lembut.
"Bohong, tadi ada jarum suntik kok."
Dokter wanita itu nampak menghembuskan nafasnya pelan, dan tak lama terkekeh. "Memang benar ada jarum suntik, tapi bukan untuk kamu."
Eza hanya mengamati interaksi tersebut tanpa mau menyela ataupun ikut berbicara sebelum dibutuhkan.
"Ayo kita kembali ke ruang pemeriksaan ya? Ibu mu menunggu di sana, pasti dia sedih kalau melihat kamu tidak mau diperiksa." tuturnya lembut.
Anak kecil itu menatap penuh keraguan, namun akhirnya dia mau ikut dengan dokter wanita itu setelah Eza pun membujuknya.
"Tapi kaki aku sakit, gendong ya Kaka cantik."
Dokter wanita itu menatap ke arah kaki anak kecil tersebut, Eza langsung menjelaskan kepada dokter wanita itu bahwa tadi anak kecil itu tak sengaja menabraknya dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Kalau begitu saya ucapkan terimakasih banyak ya dok." ujarnya.
Eza mengangguk. "Dokter ini dokter anak ya?"
Dia pun mengangguk. "Sebenarnya tidak hanya khusus anak saja, hanya saja saya lebih suka bekerja dekat dengan anak-anak. Meskipun sedikit merepotkan."
__ADS_1
Eza mengangguk mengerti. "Sudah lama bekerja disini?"
Dokter wanita itu pun mengangguk kembali. "Lumayan, kalau dihitung dari saya menjadi co-***."
Eza mengangguk mengerti, dokter ini mungkin memang sangat ahli dan berbakat sehingga diusianya yang terbilang masih muda sudah menjadi seorang dokter. Bisa Eza lihat, bahwa dia sepantaran dengan keponakannya yaitu Amira dan Amara.
"Kalau dilihat-lihat dokter juga baru disini ya? karena sepertinya saya baru melihat dokter."
Eza mengangguk. "Iya dokter benar, bahkan belum genap seminggu saya disini."
"Yasudah kalau seperti itu semoga dokter betah ya, kalau gitu saya harus membawa anak ini untuk pemeriksaan lebih lanjut. selain itu takut ibunya mencari-cari. Sekali lagi terimakasih banyak dokter--?"
"Fahreza."
Dokter wanita itu tersenyum manis. "Baiklah saya akan memanggil dokter Reza saja, kalau gitu saya duluan dok." setelah mengatakan itu, dia pun berjalan pergi namun Eza lebih dulu menahannya.
"Tunggu, tidak adil kalau saya tidak diberitahu."
Dokter wanita itu nampak tersenyum. "Fina, nama saya Fina. Kalau gitu saya duluan dok."
Setelah mengatakan itu, Dokter Fina melangkah pergi membawa anak kecil digendongnya. Eza hanya mengulas senyumannya tipis.
Mungkin aku bisa untuk memulai pendekatan dengan wanita, dari pada harus dicarikan apalagi ditempel terus oleh Eliana. batinnya.
Apa ini? Eza lagi lagi mengingat si gadis kecil nan cerewet itu. Eza terkekeh dibuatnya, dia pun melanjutkan kembali langkahnya menuju ruang kerjanya.
🍁🍁🍁
"Dokter?" sapa keduanya saat saling bersitatap.
keduanya saling terkekeh pelan. "Mau pulang dok?" tanya Eza.
Fina mengangguk. "Bawa kendaraan?" tanya Eza.
Fina menggeleng pelan. "Tidak dok, saya sedang menunggu jemputan."
Eza mengangguk, kemudian menatap ke arah langit. Sepertinya mendung, dan akan turun hujan. Eza ingin menawarkan tumpangan, hanya saja tidak enak karena mereka juga baru kenal. Takutnya dokter Fina berpikir negatif dengannya.
"Sepertinya akan turun hujan." gumam Eza, yang masih bisa didengar oleh Fina.
Duh, uncle Jo lama sekali. batin Fina.
"Apa jemputan dokter masih lama? Kalau keburu hujan sebaiknya dokter biar saya yang antarkan pulang."
Fina menatap Eza, dokter yang gagah dan tampan menurutnya. Karena mungkin usianya juga sudah sangat matang, membuat setiap wanita ingin memilikinya.
Fina menatap lurus ke depan, saat melihat mobil yang ia kenal dengan segera ia pun mengatakan kepada Eza. "Tidak usah Dok, itu jemputannya sudah ada." tunjuk Fina ke arah mobil yang baru datang.
Eza mengikut gerak tangan Fina, sepertinya dia mengenali mobil tersebut. Tidak asing bagi Eza dengan mobil itu, karena tidak banyak yang memiliki mobil mewah seperti itu.
Saat seseorang keluar dari mobil, Eza terkejut dibuatnya. Sungguh sangat tidak ia sangka, melihat siapa yang turun dari mobil itu.
"Johan."
__ADS_1
"Eza?"
Fina melirik ke arah paman dan dokter Reza, apa ini? Mungkinkah pamannya kenal dengan dokter Reza? Jika Dokter Reza teman pamannya, mengapa Fina tak pernah tau?
"Lo ngapain disini?" tanya Eza.
Johan justru berbalik tanya. "Lah Lo ngapain deket-deket keponakan gue?"
What? Eza menatap ke arah Fina, lalu bergantian ke arah Johan. "Jadi, kalian--?"
"Dokter Reza kenal dengan uncle Jo?"
Tunggu-tunggu, Eza sedikit syok dengan kejadian ini. Jadi dokter yang tadi dia ajak berbincang ini adalah keponakan sahabatnya? Yang berarti orang yang akan dikenalkan oleh Johan kepadanya.
"Dia ini sahabat uncle, Fin. Kebetulan Uncle juga mau ngenalin kamu ke dia. Syukurlah kalau ternyata kalian berdua sudah kenal, berarti tak perlu dikenalkan kembali. Tinggal pendekatannya saja Za." celetuk Johan.
Eza menatap tajam ke arah Johan, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu. Sungguh memalukan bagi Eza.
Saat mereka bertiga saling berbincang, suara teriakan seorang gadis kecil sangat menggelegar ditelinga. "Om Zaaaa!!" teriak gadis kecil yang turun dari taksi.
Astaga Eliana. batin Eza tak enak.
Eliana berlari dan langsung memeluk lengan Eza seperti biasanya, Johan menatap lekat gadis kecil yang sedang memeluk lengan sahabatnya.
"Dia Amira atau Amara?" tanya Johan.
Eza menggeleng. "Bukan keduanya, dia Eliana." jawab Eza.
Johan sedikit terkejut. "Astaga Eliana? Balita yang waktu itu selalu menempel dengan mu?" tanya Johan antuasias.
Eza hanya mengangguk pelan. "Tak ku sangka sampai detik ini dia masih menempel dengan mu." ujar Johan.
"Om, mereka siapa?" tanya Eliana tanpa melepaskan pelukannya.
Eza pun memperkenalkan mereka kepada Eliana, pun sebaliknya. Wajar, jika Eliana lupa dengan Johan karena waktu itu dia masih berumur dua tahun.
"Ini Johan, sahabat om. dan ini dokter Fina, rekan kerja om."
Ihh dokter muda ini kok cantik bangat, ngga bisa dibiarin. batin Eliana.
"Yasudah, ayo om kita pulang. Mau turun hujan nih." Eliana langsung menarik jauh Eza dari mereka, hal itu membuat Eza sedikit merasa bersalah dengan Johan maupun Fina. Karena tak berpamitan dengan benar dan baik.
Sesampainya di dalam mobil, Eza nampak kesal dengan Eliana makanya dia hanya diam tak bersuara. "Om kok diam saja, marah ya?"
Terdengar helaan nafas pelan yang keluar dari mulut Eza. "Lain kali jangan seperti itu Ana, tidak sopan."
"Maaf om." lirih Eliana menunduk.
Eza menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, hanya saja jangan diulangi ya? Yasudah, om akan antar kamu pulang ke rumah mu." tuturnya sambil mengusap lembut kepala Eliana.
Eliana yang hendak bersedih pun tidak jadi, karena usapan lembut dari sang pujaan hatinya.
Bersambung...
__ADS_1