Gadis Kecilku

Gadis Kecilku
Episode 19


__ADS_3

Layaknya seorang remaja yang baru jatuh cinta. Begitu menggebu dan juga di hantui rasa penasaran. Seperti itulah yang kini di rasakan oleh Farhan.


Sesuai janjinya pagi tadi. Laki-laki itu kini sudah berada di depan SMA N 19. Tempat dimana pujaan hatinya menuntut ilmu. Ia duduk di motornya yang di parkirkan di bawah pohon mangga, seberang jalan.


Dua puluh menit telah berlalu. Namun gadis yang ia tunggu belum muncul juga. Ia mengetuk-ngetukkan buku jarinya, tak sabar. Ia menoleh ke kiri, memperhatikan gerbang sekolah yang bercat hijau itu. Beberapa siswa tampak keluar dari sana. Semakin lama jumlahnya semakin banyak. Farhan menajamkan penglihatannya, mencari sesosok wajah yang sudah ia rindukan.


Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas kala sudah berhasil menemukan gadis kecil itu. Ia turun dari motornya dan memberikan lambaian tangan pada gadis yang sedang menatapnya dari seberang jalan.


"Sudah lama menunggu?" tanya Ara ketika sudah berada di sisi Farhan.


"Tidak. Mas baru saja sampai," sahut Farhan, berbohong.


Setelah memakai pelindung kepala, keduanya naik ke motor dan berlalu pergi, meninggalkan sekolah itu.


Ara terlihat mengeratkan pelukannya saat Farhan menambah kecepatan kendaraannya. "Jangan ngebut, Mas Han," pintanya.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Farhan sambil menoleh ke belakang sebentar, melihat gadis yang diboncengnya.


Ara membalasnya dengan anggukan kepala.


"Jangan khawatir, kita tidak akan jatuh. Mas ahli kalau soal mengemudi," ucap Farhan meyakinkan. Ia melepas tangan kirinya dari setang motor. Kemudian meraih telapak tangan Ara yang melingkar di perutnya. Menggenggam serta memberikan sentuhan lembut pada telapak tangan gadis itu yang ukurannya lebih kecil dari telapak tangannya. Jika di sandingkan mungkin besarnya tak lebih dari tiga perempat tangan Farhan.


Awalnya Farhan melakukan itu dengan maksud ingin memberikan ketenangan pada Ara yang tadi agak ketakutan karna ia ngebut. Namun kelembutan kulit Ara justru membuatnya tak ingin berhenti mengelusnya. Ia bermain-main di sana selama beberapa saat. Sebelum akhirnya kembali fokus mengemudi.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Ara di tengah perjalanan. Gadis itu tampak menyandarkan kepala di bahu Farhan.


"Kau akan tahu ketika kita sampai," sahut Farhan.


"Apa masih jauh?" tanya Ara, lagi.


"Tidak. Sebentar lagi kita sampai," sahut Farhan. "Kau lelah?" tanyanya, kemudian.


Ara menggeleng pelan. "Bagaimana mungkin aku lelah, sedangkan aku tak melakukan apapun. Sejak tadi aku cuma duduk dan memandangi jalanan," tuturnya.


"Hanya jalanan? Tidak memandangi Mas?" goda Farhan.


Ara tersipu malu. "Sebenarnya aku menatap Mas Han beberapa kali," sahut Ara, mengakui.


"Kenapa cuma beberapa kali? Tak bisakah terus memandangiku setiap saat?"

__ADS_1


"Mas Han akan bosan kalau terus kupandangi setiap saat," sahut Ara.


"Aku tidak akan bosan kalau yang memandangku itu kau, Ara."


"Benarkah?"


Farhan mengangguk. "Mulai sekarang dan seterusnya pandangi aku saja, jangan lihat yang lain," ucapnya, memerintah.


"Kalau begitu nanti aku bisa-bisa nabrak," sahut Ara dengan tawa kecil.


"Mas Han akan menuntunmu, jadi tidak akan nabrak."


"Baiklah. Aku percaya," ucap Ara, tersenyum.


Tak lama kemudian Farhan menghentikan motornya. Kini mereka sudah sampai tujuan. Namanya bukit cinta, wisata kekinian di pinggir danau dengan pemandangan perbukitan dan juga gunung yang begitu memanjakan mata. Selain pemandangannya yang indah, udara di tempat tersebut sangat sejuk dan juga masih asri. Sehingga membuat siapa saja yang berada di situ betah dan ingin berlama-lama di tempat tersebut.


Setelah memarkirkan motornya. Farhan dan Ara berjalan menyusuri jembatan kayu yang mengitari danau itu.


"Menurutmu tempat ini bagaimana? Bagus tidak?" tanya Farhan. Memandangi Ara yang berjalan disisinya.


"Mengapa masih bertanya? Tentu saja ini sangat bagus," sahut Ara tanpa mengalihkan pandangan. Matanya masih sibuk melihat ke sekeliling.


"Suka sekali," sahut Ara, tersenyum. Kali ini ia mengucapkannya sambil menatap Farhan.


Farhan ikut tersenyum. Merasa senang karena Ara menyukai tempat yang ia tunjukan.


Saat berjalan beberapa kali tangan mereka bergesekan. Ara menoleh saat jemari Farhan menyentuh telapak tangannya. Gadis itu tidak merespon tapi juga tak menolak. Farhan pun mulai memberanikan diri. Ia meraih telapak tangan Ara dan menggenggamnya erat. Kedua pipi Ara tampak merona saat jemari mereka saling bertaut. Ia memalingkan wajahnya karena malu. Sementara Farhan tampak sumringah melihat gadis itu tersipu. Kini keduanya melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan.


Ara menghentikan langkah saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. "Coba lihat itu, Mas," ucap Ara seraya menunjuk taman bunga dengan satu tangannya yang bebas. "Ayo kita ke sana," ajaknya, kemudian.


Farhan pun menuruti permintaan gadis itu.


Mereka berdua memutar arah untuk menghampiri taman bunga yang berwarna-warni itu. Ara tampak sangat antusias. Ia melepas gandengan tangan Farhan. Kemudian berlari untuk menyentuh bunga-bunga itu. Wajahnya tampak sangat senang.


"Mau ambil foto?" tanya Farhan begitu sampai di sisi Ara.


"Em, bolehkah?" ucap Ara ragu.


"Tentu saja. Tunggu sebentar." Farhan merogoh saku celananya. Kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Setelah itu ia memotret Ara beberapa kali dengan berbagai pose.

__ADS_1


"Sudah cukup? atau masih mau foto lagi?" tanya Farhan.


"Cukup. Sekarang giliran Mas Farhan. Sini biar aku yang memotret," ucap Ara seraya merebut ponsel di tangan Farhan.


"Ah, itu tidak perlu. Aku tidak suka di foto," tolak Farhan.


"Tidak bisa. Mas Han harus foto juga. Buat kenang-kenangan," ucap Ara, memaksa.


Mau tak mau Farhan pun menuruti permintaan gadis itu. Ia tampak berpose dengan gaya yang kaku.


"Selesai," ucap Ara setelah mengambil gambarnya beberapa kali.


"Sekarang ayo kita ambil foto bersama." Ara menggunakan kamera depan untuk mengambil foto selfie mereka berdua.


"Mas Han, sini," ucap Ara meminta Farhan untuk mendekat.


Farhan maju dua langkah dan berdiri tepat di belakang Ara. Setelah saling berdekatan Ara pun segera mengambil gambar mereka berdua.


"Jangan lupa senyum, Mas Han," pinta Ara setelah dua kali memotret.


Farhan tampak mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. Memperlihatkan lesung pipi dan juga deretan giginya yang putih.


"Nah, seperti itu, bagus sekali." Ara kembali mengambil foto mereka berdua.


Gadis itu membeku saat Farhan melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Tak hanya itu laki-laki itu juga mendekatkan wajahnya pada Ara. Hingga pipi mereka saling bersentuhan. Seketika pipinya kembali merona. Jantungnya pun berdetak tak karuan. Seolah ingin melompat keluar.


"Apa pose seperti ini bagus?" tanya Farhan. "Ayo cepat ambil foto seperti ini," titahnya setelah melihat Ara hanya diam.


Ara tersenyum. "Eh, iya," ucapnya ketika kembali tersadar dari keterkejutannya. Ia kembali mengambil foto dengan pose sedekat itu beberapa kali. Dan yang terakhir ia memotret foto mereka berdua dengan pose Farhan yang sedang mengecup pipinya.


Ara tampak sangat terkejut hingga membuat kedua bola matanya membulat sempurna. Seperti ingin keluar dari rongganya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2