
Hari ini Farhan tidak pergi bekerja. Laki-laki itu tampak duduk santai di teras rumahnya. Menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya serta beberapa potong kue bolu untuk mengganjal perut di pagi hari. Mulutnya tampak mengeluarkan asap setelah menghisap sebatang rokok yang terselip di sela jemarinya.
"Han ...," panggil Bu Sinta dari dalam rumah. Wanita paruh baya itu berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain, mencari keberadaan putranya.
"Han ... Han ...," panggilnya lagi. Kali ini dengan suara lebih keras.
"Hm," sahut Farhan.
"Kau dimana?" tanya Bu Sinta saat hanya mendengar suara Farhan, tapi tak melihat wujud putranya itu.
"Di depan," jawab Farhan.
Bu Sinta yang saat itu sedang di ruang tamu pun bergegas keluar. "Rupanya kau di sini," gumamnya begitu melihat Farhan. Beliau berjalan menghampiri anaknya itu dan menjatuhkan bokongnya di kursi kosong yang ada di sebelah Farhan. "Han, nanti antarkan ibu ke rumah teman ibu, ya?"
"Teman ibu yang mana?" tanya Farhan. Ibunya itu memiliki banyak sekali teman, jadi ia harus memastikannya lebih dulu. Jika rumah temannya itu jauh sekali maka ia berniat langsung menolaknya.
"Itu, mamanya Fira," jelas Bu Sinta.
"Oh," sahut Farhan mengerti. Farhan mengetukkan rokoknya ke asbak, membuang abunya. Setelah itu menghisap rokoknya lagi dan mengeluarkan asapnya.
"Mau ke sana jam berapa? Tanyanya kemudian.
"Sebentar lagi, sekitar jam sepuluh."
"Oke," sahut Farhan setuju. Rumah orang tua Fira memang tak terlalu jauh. Hanya beberapa kilometer saja. Di tempuh dengan sepeda motor juga mungkin hanya perlu waktu setengah jam saja. Jadi Farhan langsung menyetujui permintaan ibunya itu.
"Kalau begitu ibu siap-siap dulu." Bu Sinta bangkit dari duduknya. Kemudian melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam.
"Kau juga harus segera bersiap, Han," perintah Bu Sinta.
__ADS_1
"Baru juga jam sembilan, buru-buru amat," gumam Farhan, Santai.
Satu jam kemudian, Bu Sinta tampak sudah rapi. "Han ... Sudah jam sepuluh, ayo berangkat sekarang," ajaknya begitu keluar dari kamar.
Farhan yang saat itu masih di teras lekas bangun dan masuk ke dalam.
"Kau masih belum siap juga, Han?" tanya Bu Sinta saat melihat Farhan masih mengenakan kaos oblong serta celana kolor, seperti sebelumnya. "Ibu kan sudah menyuruhmu bersiap dari tadi, kenapa belum bersiap juga?" imbuh Bu Sinta, mengomel.
Farhan menghentikan langkah begitu berpapasan dengan sang ibu. "Ibu mau kondangan?" tanyanya.
"Kondangan kepalamu, kan ibu sudah bilang mau ke rumah teman ibu."
Kedua alis Farhan terangkat ke atas, heran. Ia menatap ibunya dari atas kepala hingga ke ujung kaki dengan dahi berkerut. Hanya main ke rumah teman, kenapa serapi ini? Mana pakai acara dandan segala lagi. Udah kaya anak muda aja, gumam Farhan dalam hati.
"Kok, malah bengong? Cepat siap-siap sana!" seru Bu Sinta seraya mendorong tubuh Farhan agar berjalan lebih cepat.
Di dalam kamar Farhan tampak mengganti kolornya dengan celana panjang. Sementara kaosnya sama sekali tak di ganti. Hanya menambahkan jaket jeans serta memakai topi. Ia kembali keluar kamar setelah sebelumnya menyambar dompet dan juga kunci motornya.
"Ayo, Bu," ucapnya saat melintas di ruang tamu.
Bu Sinta sedikit terkejut karena putranya itu cepat sekali. "Kau tidak mandi dulu?" tanyanya sambil mengekor di belakang Farhan.
"Kelamaan kalau mandi dulu, nanti keburu ibu ngomel lagi," sahut Farhan tanpa menatap sang ibu. Ia terus berjalan ke depan, menghampiri motornya yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Kan ibu sudah menyuruhmu siap-siap dari tadi, tapi kau tak mau dengar," ucap Bu Sinta, kesal.
"Lihat, apa yang kau pakai sekarang. Kenapa pakai baju seperti itu," protes Bu Sinta.
Farhan berhenti melangkah. Kemudian berbalik badan, menghadap ibunya. "Memangnya ada apa dengan bajuku? Apa ada yang salah?" tanya Farhan, bingung. Menurutnya apa yang ia pakai tidak ada masalah.
__ADS_1
"Mau berkunjung ke rumah orang, seharusnya kau pakai baju yang rapi."
"Yang mau bertamu kan ibu, Farhan cuma mengantarkan saja. Lagipula berkunjung ke rumah orang dengan pakaian seperti ini juga tidak masalah, masih sopan. Kecuali kalau cuma pakai kolor dan singlet, itu baru kurang ajar," jelas Farhan.
"Ya sudahlah, ayo cepat pergi," sahut Bu Sinta, menyerah. Jika terus berdebat dengan putranya itu sampai magrib pun belum tentu selesai, pikirnya.
Setelah memakai pelindung kepala, keduanya lantas naik ke motor. Farhan mulai menyalakan mesin. Setelah itu menjalankannya dengan kecepatan sedang, menuju ke rumah orang tua Safira yang merupakan teman ibunya. Di tengah perjalanan Farhan tampak terkekeh setelah berhasil mengerjai ibunya dengan menambah laju kendaraannya, ngebut. Sementara Bu Sinta terlihat mengomel dan juga memukul bahu Farhan dengan tas yang ia bawa.
Tak berselang lama, motor yang di kendarai Farhan kembali melambat. Bu Sinta terlihat menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Akhirnya jantungnya kembali berdetak dengan normal setelah Farhan berhenti ngebut. "Dasar anak kurang ajar, kalau ibu jantungan bagaimana? Kau mau ibu mati?" ucap Bu Sinta, kesal.
Farhan masih tertawa. Namun tak seheboh sebelumnya yang membuat bahunya berguncang. Kali ini hanya tawa kecil di bibirnya. "Ibu ini ada-ada saja. Mana ada seorang anak yang ingin ibunya mati. Apalagi aku, takkan ku biarkan ibuku tercinta ini meninggalkan dunia sebelum anak-anakku lahir," ucap Farhan. Tawanya sudah berhenti.
"Huh, bagaimana bisa ibu melihat cucu-cucu ibu, sedangkan kau saja tak kunjung menikah. Ibu juga semakin tua." Bu Sinta tampak sedih memikirkan hal itu.
"Tenang saja, Bu. Tidak lama lagi ibu akan punya menantu."
"Benarkah? Kau sedang tidak bercanda 'kan, Han?" tanya Bu Sinta masih tak percaya.
"Hm, sama sekali tidak bercanda, Farhan serius."
Seketika mata Bu Sinta berbinar. Selain itu ia tampak begitu sumringah. "Jika benar begitu, lalu kapan kau akan mengenalkannya pada ibu, Han?"
"Suatu saat Farhan pasti akan mengenalkannya pada ibu. Tapi untuk saat ini Farhan masih belum bisa mempertemukannya dengan ibu. Ada beberapa hal yang harus di urus calon istriku itu. Kami juga masih saling mendalami karakter masing-masing, karena belum lama kenal juga. Tapi Farhan sudah yakin dengannya dan ingin segera meminangnya."
Kira-kira siapa ya calon menantu yang di maksud Farhan? Mungkinkah itu Fira? Mereka berdua kan juga belum lama kenal? Akan baik sekali jika itu memang benar Safira.
"Tidak apa-apa, tidak perlu terburu-buru juga. Ibu akan menunggu dengan sabar. Sampai kau dan calon menantuku itu siap," ucap Bu Sinta, tersenyum.
beraambung...
__ADS_1