
Siang itu jam pelajaran telah usai. Seluruh siswa tampak berkemas dan bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan Ara, gadis itu terlihat sedang memasukan bukunya ke dalam tas.
"Ara, cepat katakan padaku, siapa yang menciummu?" tanya Dinda dengan suara berbisik. Sejak pagi tadi Dinda begitu penasaran dan tak sabar ingin tahu pria mana yang sudah mencium Ara hingga membuat bibirnya bengkak. Sepertinya laki-laki sangat ganas, pikir Dinda.
Ara memalingkan wajah, menghindari Dinda yang terus menatapnya. "Apa yang kau bicarakan, tidak ada yang menciumku," sahut Ara, mengelak.
"Hei ... Kau pikir aku bisa di bohongi olehmu?" Dinda sama sekali tak percaya. "Meskipun kau mengatakan tidak tapi aku memiliki bukti kuat," imbuhnya.
Ara kembali menoleh, menatap Dinda. "Apa?" tanyanya, mengerutkan dahi.
"Ini ...." Dinda menuding bibir Ara dengan telunjuknya. "Bibirmu bengkak sekali kau pasti telah berciuman 'kan?"
Ara mengulum bibirnya. Apa benar-benar terlihat jelas?
"Lihat ... Kau mengulum bibirmu. Sudah ketahuan, tidak perlu di sembunyikan, Ara."
"Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku merasa bibirku kering jadi membasahinya sedikit," elaknya, lagi.
Dinda mengangguk-anggukan kepala, pura-pura percaya. Tapi gadis itu belum menyerah. "Lalu bagaimana dengan bengkaknya? Jangan bilang kau sedang sariawan," ucapnya.
"Itu ... itu tak sengaja tergigit saat aku makan," sahut Ara sedikit tergagap. Tentu saja ia berbohong. Tidak mungkin mengakui kalau bengkaknya akibat berciuman dengan Farhan.
Dinda tersenyum, jahil. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekat. "Apa kau pikir aku akan percaya?" bisiknya di telinga Ara.
"Sudahlah tidak perlu mengelak lagi di depanku, Ara. Dalam segala hal aku memang kalah darimu, tapi tidak soal asmara, aku lebih unggul darimu. Aku lebih berpengalaman karena pernah berkencan dengan beberapa pria. Aku tahu persis bibirmu bengkak karna di cium seseorang," ucap Dinda menyombongkan diri. "Jadi, jujur saja dan katakan padaku pria beruntung mana yang mendapatkan bibir perawanmu? Apa aku mengenalnya?" tanyanya kemudian
"Tidak, kau mengenalnya," sahut Ara, bohong. Ia memalingkan wajah agar tak ketahuan.
Dinda tersenyum penuh kemenangan. Ah, akhirnya Ara mengaku juga. Tapi sepertinya ia masih berbohong padaku. "Benarkah?" tanyanya, tak percaya.
Ara mengangguk. "Hm, kau sama sekali tak mengenalnya," ucapnya seraya bangkit dari duduknya. "Kau tidak mau pulang?" tanyanya sambil memakai ransel.
Dinda ikut berdiri. "Tentu saja mau," ucapnya.
Keduanya berjalan beriringan keluar kelas.
__ADS_1
"Ara ...," panggil Dinda saat mereka berdua menyusuri koridor sekolah.
"Ya," sahut Ara sambil menoleh.
"Apa kau tahu kalau kau pembohong yang buruk?"
Ara terkekeh. "Hei ... Apa maksudmu? aku bukan pembohong yang buruk, tapi aku memang tidak pernah berbohong," ucapnya, bangga.
Dinda memandang lurus ke depan, menatap siswa-siswi lain yang lalu lalang di depannya. Ia tertawa kecil. "Jika orang lain mungkin akan percaya dengan kata-katamu. Tapi tidak denganku," ucapnya. Ia kembali menatap Ara. "Kau tahu ... Aku--menunjuk diri sendiri-- Dinda kirana, sahabatmu ini tak mudah di tipu," imbuhnya percaya diri.
"Jadi, kau tak percaya padaku?" tanya Ara.
Dinda mengangguk. "Ya. Barusan kau berbohong padaku," tuduhnya.
"Tentang apa?" Ara pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja tentang pria yang berciuman denganmu. Sepertinya aku tahu pria itu siapa," ucap Dinda. Ia terlihat begitu yakin.
"Siapa coba?" tantang Ara.
"Laki-laki yang mana?" sahut Ara sambil tertawa.
"Mas Farhan, itu pasti dia 'kan?" tebak Dinda.
Ara berhenti melangkah, kaget. Wajahnya seketika memerah karena malu. Bagaimana Dinda tahu kalau Mas Farhan yang menciumku?
Dinda tersenyum senang karena tebakannya benar. "Dilihat dari ekspresimu sepertinya aku tidak salah," gumamnya.
Ara meraih lengan Dinda. Gadis itu pun berhenti melangkah. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya
"Sangat mudah menebaknya, Ara. Sudah ku katakan kau itu pembohong yang buruk," sahutnya.
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya. "Jadi ... sejak kapan kau pacaran dengannya?" tanya Dinda. Menatap Ara yang berjalan di sisinya.
Ara tersenyum malu. "Aku sendiri tidak tahu kapan tepatnya," sahutnya, ragu.
__ADS_1
Dinda mengangkat alis, heran. "Mengapa tidak tahu? Memangnya kau tidak ingat kapan dia menembakmu?"
"Kalau itu aku ingat," sahut Ara.
"Kalau ingat kenapa kau masih bingung?" ucap Dinda. "Saat dia menyatakan cinta padamu itu berarti awal kalian berpacaran, Ara," imbuhnya menjelaskan.
"Tapi saat itu aku menolaknya."
Dinda sampai melongo karena terkejut. "Hah, kau sudah menolaknya tapi sekarang kalian berpacaran?" tanyanya, heran.
"Sejujurnya bisa di bilang kami tidak pacaran juga. Dia tak pernah menyebutku pacarnya," ucap Ara.
Lagi-lagi Dinda di buat terkejut oleh pengakuan Ara. "Jadi hubungan kalian itu apa? Tidak pacaran tapi berciuman. Jangan bilang kau dengannya Itu cuma TTM."
Ara mengerutkan dahi. "Apa itu TTM?" tanyanya. Gadis itu sama sekali tidak tahu singkatan tersebut. Ia bahkan baru pertama kali mendengarnya.
Dinda menghela nafas. "Apa sih yang kau tahu Ara," keluhnya. "TTM itu teman tapi mesra," jelasnya kemudian.
"Oh," sahut Ara singkat.
"Dinda aku duluan ya, abangku sudah datang," ucap Ara ketika melihat mobil Haris terparkir di seberang jalan.
"Oh iya, sampai bertemu lagi, Ara. Ingat, kau masih berhutang penjelasan padaku," ucap Dinda.
Ara hanya tertawa. "Dah, Dinda," ucapnya seraya melambaikan tangan. Setelah itu berlalu pergi. Ara mengetuk kaca mobil Haris begitu sampai di sana. Ara tampak kaget saat jendela itu di turunkan. Bukan Haris atau pun Samsul yang ada di dalam mobil itu, melainkan laki-lain.
"Masuklah, Ara," perintah laki-laki tampan itu.
.
.
.
.
__ADS_1