Gadis Kuil

Gadis Kuil
Prolog


__ADS_3

Apa yang akan menjadi milikmu,


selamanya akan tetap kembali pada hidupmu.


Baik itu kehidupan,


untaian takdir,


serta darah yang mengalir dalam tubuhmu.


Malam saat itu begitu kejam, dinginnya angin bercampur salju seputih tulang mampu membekukan siapapun yang tengah berani melewatinya. Badai seolah enggan mengalah memperburuk suasana, sehingga semua orang akan memilih untuk merapatkan selimut, menyalakan perapian dengan api yang hangat, serta larut dalam tidurnya. Hanya saja itu tidak berlaku didalam kediaman Wei, teriakan kerap terdengar ketika keluarga terhormat itu sedang bertengkar.


Sang wanita yang sepertinya Nyonya rumah itu menangis dengan menutupi seluruh wajahnya, "aku sudah tidak kuat!" teriaknya parau, wajahnya keruh tampak berantakan tak lagi mempedulikan tampilan.

__ADS_1


Dan pertengkaran mereka mampu terdengar jelas oleh gadis kecil dibalik sekat pintu tipis itu, ia berdiri dengan wajah pucat dan sekujur tubuh menggigil. Namun ia tidak berniat untuk menghangatkan tubuhnya sama sekali, hatinya mati rasa pun dengan tubuhnya. Kedua bola mata berwarna kayu eboni itu kini tampak kehilangan sinarnya, berhenti berharap pada dunia.


Dan kelanjutan kisah ini dapat gadis itu tebak ketika pertengkaran mereka mencapai kesepakatan, dan pintu kayu berkualitas tinggi itu terbuka lebar menampilkan tiga sosok orang dewasa yang entah mengapa rasanya begitu jauh dan asing. Mereka adalah kedua orangtuanya, dengan satu pelayan pria.


Tidak sulit ketika mengangkat  tubuh gadis kecil pesakitan yang hampir menjemput ajal, ia dipakaikan pakaian hangat mewah dengan bulu-bulu lembut untuk menahan hawa dingin. Meski rasa-rasanya tidak terlalu berguna karena tubuhnya sudah tak bisa ia rasakan, kemudian tubuhnya terasa melayang memasuki kereta kuda sederhana milik keluarga Wei.


Cukup lama rasanya berada didalam kereta kuda, gadis kecil itu pun sudah enggan mengingat arah kemana ia pergi. Dalam malam penuh badai ini, ia hanya terdiam merasa hampa dengan tubuh dan batin mati rasa. Salju yang semakin mengamuk diluar kereta pun tak terlalu gadis itu hiraukan, Ayah dan Ibunya bahkan tidak ingin melihat saat terakhirnya.


Hingga perjuangannya berhasil, ia menaiki beberapa anak tangga dan melihat bangunan tua terlihat seperti telah ditinggalkan bertahun-tahun lamanya. Menggeser pintu itu dengan sebelah tangan, lalu ruangan gelap dan dingin itu adalah latar pertama kali terlihat oleh kedua mata pelayan itu. Tertegun beberapa saat ketika merasakan didalam ruangan itu tidak terlalu berbeda jauh dengan keganasan salju diluar.


Batukan keras dari sesosok yang tengah dibopongnya membuat pelayan itu tersadar, ia meletakkan gadis kecil itu dilantai sedingin es diluaran sana. Dan gadis dengan batukan kering itu memuntahkan beberapa darah segar, penyakitnya dimulai sejak ia berumur dua tahun.


Pada siang hari yang panas tubuhnya terasa lemas dan tak bisa digerakkan, gadis itu pun kerap beberapa kali memuntahkan darah seperti ini. Entah sudah berapa banyak tabib dan obat yang dikonsumsi dengan hasil nihil, gadis itu tidak membaik dan semakin hari ia semakin lemah sampai tidak bisa menggerakan kakinya.

__ADS_1


Gadis itu terlihat begitu menyedihkan, bahkan disaat kematian terakhirnya kedua bola mata itu tetap terbuka. Ditemani kesepian, dan melihat kehampaan. Ia pun rasa-rasanya sudah melupakan kedinginannya, berbaring lemah meringkuk diatas lantai yang dingin.


Hingga gadis itu pada akhirnya tersenyum kecil ketika pemandangan gelap mulai menyentuh dan menghampirinya, kesadarannya perlahan-lahan mulai terenggut dan kesakitan mulai pergi dari dirinya. Pada malam yang dingin, gadis kecil dengan jiwa yang lemah disana menghilang secara perlahan.


 


 


 


To Be Continued...


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2