
Jika memulai sesuatu kau merasa ragu,
Majulah satu langkah,
Dan kau akan menemukanku yang mendukungmu,
Wahai luapan amarah.
Lalu pada keesokan pagi yang terasa begitu canggung karena peristiwa semalam, Fu dan Su dengan berat melepas Chiharu untuk pergi menjalankan tugasnya yang dahulu ditinggalkan oleh Tuan Qi.
"Pergila ke desa terdekat nona, berkati desa yang ada disana. Lalu kembalilah, lakukan hal itu selama nona belum bisa menggunakan energi spritual untuk terbang." nasehat Fu ketika memberikan bekal pada Chiharu.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum dengan antusias, meski sudah sangat lama tidak berada disana. Chiharu masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana ia dan Tuan Qi pergi menyusuri desa-desa terdekat ataupun kota yang ditempuh sekitar lima.
Chiharu mulai berjalan menyusuri hutan dimusim panas, pohon-pohon yang menjulang tinggi menutupi tubuhnya dari panas matahari yang terik. Menikmati matahari pagi yang masih terasa hangat, bebungaan nampak bermekaran dengan semangat menyambut langkah-langkah gadis remaja itu. Terkadang tersangkut beberapa ranting pohon tak membuat Chiharu terganggu, sejujurnya ia sangat menikmati waktu-waktu seperti ini.
Sekitar empat puluh menit Chiharu berjalan, ia terkejut ketika pemukiman sudah terlihat diujung mata memandang. Sudah lima tahun berlalu, namun masih tetap mengejutkan Chiharu ketika desa kecil dan penduduk yang tengah berkegiatan terlihat disana. Ia kembali melanjutkan perjalanannya, merapihkan pakaiannya dan mulai memasuki desa.
Orang-orang tampak melihatnya dengan tatapan bermacam-macam, dihiraukan tatapan itu Chiharu terus berjalan hingga ia sampai pada rumah yang paling bagus disana. Diketuknya beberapa kali pintu itu, hingga seorang pria dengan janggut lebat keluar dari balik pintu itu. Tubuhnya yang tambun dan pendek bahkan lebih rendah dari tubuh remaja Chiharu, gadis itu membuka topi jeraminya.
Tersenyum lembut ketika bertatapan langsung dengan pria tambun dihadapannya, "Apa anda kepala desa disini?" tanya Chiharu dengan sopan.
Pria itu sedikit terpana akan kecantikan Chiharu yang terasa langka dan belum pernah ia lihat, sedetik ia terkejut dan sedetik lagi ia tersenyum lebar. "Benar, benar. Aku kepala desa disini, apa yang bisa aku bantu untuk nona cantik ini?" kata-katanya mengandung unsur persuasif yang menganggu, namun Chiharu mencoba melewatkannya.
"Aku seorang gadis kuil, aku diberikan perintah oleh guruku untuk memberkati tempat ini. Tentu jika anda tidak keberatan." tanpa mengurangi kesopanannya, Chiharu membungkuk untuk menghormati kepala desa disana.
Pria itu tersenyum semakin lebar, dengan cepat dan tanpa pertanyaan ia mengiyakan keinginan Chiharu. Lalu gadis itu memulai pemberkatannya, ia menyentuh bibit-bibit padi disana. Menyalurkan energi spritualnya agar kelak bibit itu dapat tumbuh subur dengan hasil panen yang melimpah. Menyentuh tanah desa itu agar dapat menyuburkan tanaman disana, dan menyentuh sumber air untuk menyegarkan ekosistem sungai yang mengalir.
__ADS_1
Tanpa Chiharu sadari bahwa memberi pemberkatan seperti yang diajarkan Fu dan Su memakan waktu yang cukup lama, hingga matahari sudah mulai kekuningan Chiharu baru menyelesaikan pekerjaanya. Ketika Chiharu hendak pamit untuk pulang ke kuil, pria tambun itu mengatakan bahwa malam hari sangatlah berbahaya untuk seorang gadis.
Dengan sedikit terpaksa akhirnya Chiharu menginap disana, ditempat kepala desa yang mewah dengan makanan penuh dan terasa berlebihan. Padahal hidup didesa ini belum terlalu makmur. Batin Chiharu kesal, dengan berat hati ia menyuap makanan mewah itu. Dan makin kesal karena rasanya yang enak.
***
Malam semakin larut ketika Chiharu tak dapat memejamkan matanya, meski ia merasa lelah dan mengantuk. Ketika ia berencana untuk berjalan-jalan dimalam hari, pintunya terbuka begitu lebar. Cahaya kekuningan masuk menyinari seluruh kamar, termasuk gadis yang otomatis segera memejamkan matanya.
Aroma pria tambun itu menusuk hidung Chiharu yang tajam, setiap langkah yang diambil dapat terdengar oleh telinga Chiharu yang terpasang rapih. Firasat buruk memang tak pernah salah, pikirnya menertawai diri sendiri. Mengapa semua yang jahat menyerangnya ketika ia tengah berada diatas peraduan? Tak bisakah menyerang ketika ia tengah mengasah pedangnya.
Ketika pria itu melompat untuk menimpah Chiharu, gadis itu segera berguling kesamping untuk menghindar. Tatapannya nyalang penuh kewaspadaan semakin berkobar dibola netra hitam itu, ketika pria gendut dan pendek dihadapannya menggeram penuh kemarahan karena Chiharu berhasil menghindar. "Bagaimana mungkin obat tidur itu tidak mempan?!" teriakannya membahana, mungkin akan terdengar sampai luar. Entahlah Chiharu tidak tau.
"Sudahlah cantik, menyerah saja. Kemarilah, aku akan bersikap lembut dan apapun yang kau inginkan akan kuberikan." wajahnya yang bergelambir semakin terlihat menjijikan setiap bergerak, Chiharu menahan dirinya untuk tidak langsung menebas manusia berjiwa siluman itu.
Chiharu mencoba mengendurkan tubuhnya yang tegang, kini ia berdiri seperti biasa. Dengan seringai miliknya Chiharu mendekat perlahan, membuat si kepala desa senang bukan kepalang. "Betul, kemarilah. Aku akan bersikap lembut pada anak cantik sepertimu."
Lamunannya terhenti ketika ia melihat seorang wanita dengan anak laki-laki dipelukannya menatap ke arah Chiharu dengan takut-takut. "Aku tidak akan menyakiti kalian, tenanglah." bujuk Chiharu penuh ketulusan.
Ekspresi keduanya nampak sedikit tenang, namun itu tak mengubah apapun karena mereka berdua masih bergetar cukup hebat. "Tolong nona muda, tolong kami." lalu wanita itu menangis hebat dengan cucuran air mata yang tak terbendung, membuat Chiharu kebingungan harus melakukan apa.
Lama keduanya menangis dan Chiharu tetap bersabar menunggunya, wanita itu akhirnya berhenti. Menatap Chiharu dengan penuh harapan, seolah gadis itu adalah malaikat yang diutus oleh Dewa untuk menyelamatkan dirinya. Wanita itu mencoba menenangkan dirinya, meredakan tangisnya dan mencoba berbicara pada Chiharu gadis muda yang terasa lebih kuat dari siapapun "Kepala desa—Pria itu telah menyelundupkan anak-anak dan para gadis untuk melakukan—perdagangan manusia."
Dan cukup satu kalimat itu, Chiharu merasakan kemarahan menggelegak dalam dirinya...
***
"Peristiwa ini terjadi sejak tiga tahun yang lalu, dimana ketika desa ini baru mulai terbentuk. Kepala desa yang baik hati ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa didalam kediamannya, lalu utusan dari Kekaisaran langsung menggantikan kepala desa kami.
__ADS_1
Awalnya tidak terasa kejanggalan, namun semakin lama orang-orang didesa kami semakin menipis dan hilang entah kemana. Lalu hilangnya adalah anak-anak yang masih muda, dan para perempuan.
Hingga ketika aku dipinang oleh Kepala Desa aku tidak bisa menolak karena dia mengancamku," tangis gadis itu pecah. Merasa gemetar akan ceritanya yang membuat Chiharu semakin marah,
"Dia mengancam bahwa akan menjualku untuk menjadi wanita penghibur seperti teman-temanku yang lain, nona. Aku mohon bantu kami, aku yakin orang-orang yang telah diculik belum berangkat dan masih ada disini. Mereka akan dikirim esok pagi."
Chiharu mengenggam ujung sarung pedangnya, tubuhnya bergetar menahan amarah. "Bagaimana dengan orang-orang yang sebelumnya?" pertanyaan itu sepertinya tak memerlukan jawaban ketika wanita itu menunduk kembali menahan isak tangisnya.
Lalu keduanya mulai menelusuri rumah yang kelewat mewah ditengah desa yang terpencil ini, pintu-pintu lebar terbuka dan Chiharu bisa menebak ketika mereka menuju perpustakaan. Dengan sekuat tenaga salah satu rak buku disana didorong, dibantu Chiharu lemari itu bergeser dan berpindau tempat. Menampilkan sebuah pintu kayu sederhana yang sepertinya terlihat terkunci, lucunya tidak terlihat berdebu sehingga mencapai kesimpulan bahwa pintu itu sering digunakan.
Wanita itu kebingungan ketika pintu itu terkunci, "Menyingkirlah, aku akan menghancurkannya." gadis itu mengeluarkan pedang yang selalu ia bawa dari sarungnya, aura biru menyelimuti pedang itu hingga ketika sinarnya cukup terang. Pintu itu meledak, menimbulkan suara nyaring dan debu diudara ikut beterbangan.
Tangga dibawah mereka nampak menjorok kedalam penuh kegelapan, wanita disamping Chiharu menyalakan lentera yang ia bawa. Menyusuri tangga-tangga berbatu disana dan sampai pada satu ruangan besar. Chiharu kembali mengeluarkan pedangnya, kali ini bukan untuk menghancurkan pintu melainkan diarahkan keleher wanita itu.
Membuat sang wanita terkejut setengah mati, "Jika kau menipuku dengan mencoba mengurungku disini, aku pasti akan menyeretmu ke neraka." Chiharu berbisik mengerikan, menyeret aksennya untuk membuat suasana mencekam dengan atmosfer yang berat.
Wanita itu kembali menitikan air matanya, ia menggeleng perlahan mencoba memberi tahu Chiharu bahwa yang ia katakan adalah kebenaran. "Sungguh aku tidak menipumu, kau tak perlu masuk kedalam. Biar aku yang melakukannya, cukup tunggu disini."
Dan tepat seperti kata-katanya, ketika Chiharu melepaskan wanita itu. Ia langsung masuk ke dalam ruangan disana, tidak lama ketika gadis itu menunjukan wajahnya yang lega beserta orang-orang yang mengikutinya dibelakang. Rasa bersalah terselip dalam batin Chiharu, namun ia sama sekali tidak merasa menyesal telah melakukannya.
Malam semakin larut ketika orang-orang disana bersuka cita menyambut keluarga mereka menghilang, Chiharu turut senang karenanya. Namun ia sama sekali tidak merasa puas, karena orang-orang yang telah hilang dan dijual lebih dahulu tidak dapat Chiharu selamatkan.
"Terimakasih nona kuil, kami sangat berterima kasih." seorang pria disana menyalami Chiharu dengan memberikannya sekantung emas karena telah menyelamatkan mereka.
Gadis itu reflek mendorong pria disana, dan mengatakan bahwa ia tidak memerlukan imbalan. "Aku akan kembali setelah memastikan kalian semua sehat-sehat saja." sahut Chiharu penuh ketulusan, berharap semoga obat-obatan yang ia bawa cukup untuk mengobati mereka semua. Dan esok adalah hari untuk menghukum sikeparat kepala desa.
To Be Continued...
__ADS_1