Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 24 Malam Berdarah


__ADS_3

Pintu itu berderit kasar, cahaya menyebarkan sinar pada ruangan lembap itu. Tikus-tikus menyebar untuk mencari tempat perlindungan, para pria berbadan besar itu masuk. Eksistensinya yang besar menyeret gadis yang kini terikat rantai diujung sana, tangan-tangan besar itu menjulur, menarik kasar gadis itu.


Menyeretnya hingga terseok-seok dalam keadaan letih, sepertinya hari-hari yang ditungguh Chiharu telah datang. Mendengar beberapa percakapan setelah keluar dari ruangan itu yang dapat gadis itu tangkap, dan percakapan itu memiliki kesimpulan bahwa Kaisar ternyata enggan membeli dirinya. Lalu Chiharu kembali diseret dengan kasar, rantai-rantai yang mengikat dirinya terasa kasar hingga membuat gadis itu terluka.


Sedikit mengernyit ketika cahaya dengan porsi banyak sampai pada bola matanya, berusaha beradaptasi dengan cahaya itu Chiharu mengerjapkannya berkali-kali. Lalu betapa terkejut dirinya ketika melihat sorak ramai berada disana, berbisik-bisik sembari menatap dirinya dengan hina. Manusia-manusia disana mengenakan topeng, menutupi identitas mereka yang busuk.


"Baiklah, mari kita mulai sesi pelelangan terakhir ini!" suara itu bergema membahana, meresap hingga seluruh ruangan dengan panggung kecil disana.


Chiharu gadis itu terikat dengan keadaan menyedihkan, rambut hitam gelap yang biasa indah itu terurai menyedihkan. Menutupi setengah wajahnya, menyembunyikan diri. "Gadis ini sangat cantik jika diperhatikan baik-baik, ia memiliki bola mata paling gelap yang selama ini pernah kutemui." ucapan itu semakin bersemangat ketika memperkenalkan dirinya, berusaha menjual Chiharu dengan harga tinggi yang bisa dicapai.


"Aku akan memulai dari 5.000 Ind, siapa yang berminat pada gadis cantik ini?" para manusia disana mulai berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan Chiharu tidak tahu.


"Baiklah 7000 In—"


Suara benda jatuh menggelinding layaknya sebuah bola, terlepas daei tempat seharusnya ia berada. Kepala pria—seorang pria yang sama yang baru saja menyebutkan harga untuk dirinya kini sudah tidak bernyawa, kepalanya telah hilang dengan cucuran darah yang hebat. Darah itu bahkan mengenai Chiharu beberapa tetes, membawanya kembali pada kenyataan lalu tatapan itu memiliki sinarnya kembali ketika bola mata emas dihadapan Chiharu menatap dirinya.


Bisik-bisik itu sudah tak ada, berganti dengan teriakan ketakutan dari seluruh penjuru. Mereka semua berlari pontang-panting, seolah telah bertemu sang malaikat kematian. Bergerak kesegala arah untuk menemukan jalan keluar, surai putih itu bergerak lembut sangat kontras dengan jemari yang kini ternoda oleh darah. Gin, pria ini tersenyum pada Chiharu.


"Jika memang sangat ingin menghancurkannya," nada bicara pria itu lamat-lamat, seolah jika tidak begitu Chiharu tak akan mampu mengikuti arah pembicaraan ini, "akan ku lakukan untukmu."


Dan setelah lontaran kata itu menghilang lenyap di udara, siluman itu melesat dengan cepat. Kilatan bola matanya nampak penuh oleh napsu membunuh, robekan kulit nampak memecah gendang telinga Chiharu, pekikan suara bersahut-sahutan menggema layaknya domba yang telah dikurbankan.

__ADS_1


Gadis itu menatap kejadian dihadapan matanya secara keseluruhan, bagaimana ketika pria itu mencabik-cabik manusia disana, mengoyak leher mereka, serta siluet bagaimana ia menghabisi nyawa-nyawa itu begitu cepat. Menariknya, tanpa merasa kesulitan; seperti robekan kertas yang terendam air.


Siluet Gin sangat kontras ketika dirinya dikerubungi tumpukan mayat disana, siluman itu berdiri sendirian tanpa siapapun yang menemani. Sisi gelap yang sepertinya tak akan bisa tertembus oleh apapun, kuku-kuku itu dilumuri oleh darah. Diatas mayat yang bertumpuk-tumpuk, Gin menolehkan kepalanya pada Chiharu—menatap dirinya dengan pandangan yang tak dapat siluman itu tau maksudnya.


Mahluk itu mendekati Chiharu, menatap gadis itu tanpa berniat melakukan apapun. Kuku-kuku penuh darah itu menjulur, mencoba menangkup wajah gadis dihadapannya. Chiharu tak melawan ketika noda darah dari jemari Gin menyentuhnya, meninggalkan bekas disana dan membuat Chiharu mau tak mau menatap pria yang kini berlumuran darah.


"Selanjutnya," Gin mendekatkan wajahnya pada sisi wajah Chiharu, tepat diatas telinganya Gin berucap lamat-lamat. "Adalah kepala Kaisar itu."


Tak bisa menahan emosinya, Chiharu merasa sesak akan dadanya. Ia berusaha menahan air mata lemah miliknya agar tidak keluar, menggeleng kepala lemah. "Sudah cukup." suaranya bergetar hebat menahan tangis, "Aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, jadi sudah cukup."


***


Pagi telah datang, menghilangkan jejak gelap malam—menyinari seluruh bumi tanpa merasa enggan dengan rasa semangat. Terik panas sudah mulai terasa ketika Chiharu mengerjapkan netra hitamnya perlahan, pening menyerang kepalanya tak ingin pergi. Pakaiannya kotor beserta wajah dan tubuhnya, membuat perasaan buruk mendatangi dirinya pada pagi hari itu.


Basuhan air membuat Chiharu merasa segar, gadis itu terdiam menatap pantulan wajahnya. Tetes air mengenai punggun tangannya, gadis itu mendesah kasar. Mengusap wajahnya frustasi karena kejadian yang menimpanya, bayangan akan darah, teriakan, serta pria bersurai putih disana membuat perut Chiharu merasa mual. Tatapan sadis pria itu pun kerap membuat Chiharu merasa bergidik ngeri.


Ia segera menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya, memakai pakaian yang biasa ia pakai—hanfu putih panjang—selalu menjadi pilihannya. Bola mata hitam itu berhasil menangkap surai putih disana, terduduk diam dan sedang menatap balik ke arah Chiharu.


Sejujurnya Chiharu bingung, ia tidak tau harus berekspresi seperti apa ketika bertemu siluman itu. Siluman sama yang telah membantai banyak manusia malam itu, tidak terlihat keberatan dengan darah. Membuat ingatan gadis berusa lima belas tahun itu sampai pada pertemuan pertama mereka, dimana Gin—mahluk itu juga membantai desa dekat kuil.


Lamunan gadis itu hancur ketika Gin berdiri dihadapannya, menatap Chiharu dengan sinis—wajah seperti biasa hingga kejadian malam itu terasa mimpi semata. "Aku menyiapkan sarapan, aku menunggumu. Ayo!" uluran lembut dari jemari itu menangkup pergelangan siku Chiharu.

__ADS_1


"Aku bisa berjalan sendiri." ungkap Chiharu, menghempaskan jemari Gin dan berjalan mendahului pria itu.


Duduk dengan tenang sembari menunggu Gin, hari ini gadis itu begitu tenang dan tidak begitu banyak bicara. Hingga saat waktu makan berakhir pun, Chiharu tidak mengucapkan apapun. Bangkit berdiri, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan pria bersurai putih, dengan dingin.


Diluar kuil Chiharu mengelus surai putih Shiro, kuda besar itu meringkik pelan. Menikmati elusan itu, dengan sekali hentak Chiharu berhasil menaiki Shiro. Menarik tali kekangnya dan kuda itu berjalan, Chiharu menoleh sebentar kebelakang. Betapa ia sedikit terkejut ketika Gin—siluman itu tengah bersdekap, menatap Chiharu sampai gadis itu menghilang.


Chiharu butuh menenangkan dirinya, ia butuh untuk menjernihkan diri dan Gin tidak ada didalamnya. Setidaknya, sampai pikiran malam berdarah itu lenyap dari pikirannya tidak lagi membayangi hari-harinya dan membuat gadis itu sedikit waras.


Shiro memacu dengan cepat, membelah kerumunan kota yang ramai. Hingga akhirnya gadis itu berhenti pada balai kota yang luas, menjelajah sedikit tak akan memakan waktu lama bukan? Ramai orang membuat Chiharu entah mengapa terasa tenang dan nayaman, air mancur besar terpasang dengan indah ditengah kota. Para pedagang mulai menjajakan makanannya, berteriak memanggil para pelanggan, memasak, dan bahkan pemain musik pun berdendang menyapa indra pendengaran Chiharu.


Sudah lama rasanya Chiharu tidak memainkan alat musik, mungkin kemampuannya sudah tidak sebagus dahulu dimana Tuan Qi masih mengajarinya. Namun langkah-langkah kecilnya tertarik pada musik jalanan itu, sebuah guzheng dan suling dimainkan dengan nada-nada ceria. Ia memberikan beberapa koinnya, lalu musik itu terhenti. Menyelesaikan tempo waktu, hingga tanpa sadar gadis itu bertepuk tangan.


"Apa kau bisa memainkan alat musik, gadis kecil?" salah satu wanita pemegang suling itu bertanya, menebak-nebak karena Chiharu nampak begitu tertarik.


Wajah Chiharu yang sedang bertanya-tanya tercetak jelas, rautnya seolah menunjukan kata-kata 'bagaimana kau tau?' pada wanita itu. Terkekeh sebentar dan menjawad ekspresi gadis itu. "Kau terlihat begitu tertarik, cobalah bermain satu lagu dengan kami."


Chiharu menggeleng malu karena ia tidak percaya diri karena tidak memegang alat musik dalam waktu yang lama, namun helaan lembut pada lengannya membuat Chiharu pada akhirnya setuju. Ia mencoba bermain guzheng, alat musik kesukaan Tuan Qi. Mengingat bahwa pertemuan pertama mereka pun, Tuan Qi tengah memainkan benda itu. Seolah membangunkan Chiharu dari kematian.


Gadis itu duduk disana, ia menarik napas sejenak. Mengingat bagaimana cara memainkannya, dan petikan pertama itu membuat semua orang terpana, suara suling kerap mengikuti permainan Chiharu. Nada-nada ceria terlukis disana, memori gadis itu bersarang pada kenangan masa lalu—bercampur menjadi satu dan wajah Tuan Qi tercetak jelas dalam pikirannya.


Terlihat begitu menikmati permainannya sendiri, hingga Chiharu tak sadar bahwa lagu yang ia mainkan telah selesai. Bangkit dari duduknya, tersenyum begitu lebar seolah beban terangkat dari pundaknya. Merasa begitu ringan, "Terimakasih telah memperbolehkan ku memainkan guzheng milikmu, bebanku terasa menghilang." sahut Chiharu ceria, mungkin dikemudian hari ketika dirinya merasa begitu putus asa lagi. Ia akan memainkan sebuah musik ringan untuk meringankan bebannya.

__ADS_1


"Musik yang indah, nona." suara pria menyapanya, gadis itu menoleh lalu tersenyum ramah. Mengucapkan terimakasih, lalu pergi melenggang. Tidak mempedulikan siapa manusia yang menyapanya, dan pada akhirnya pertemuan dua insan manusia memang tak pernah bisa dihindari.


To Be Continued...


__ADS_2