Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 1 Sebuah Kehidupan


__ADS_3

Dalam alam semesta ini kehidupan dan kematian adalah hal yang tidak dapat dihindari tak peduli dilakukan apapun untuk menghindarinya, kematian dan kehidupan adalah hal mutlak yang diatur sendiri oleh sang alam semesta. Melanggarnya tentu akan mendapatkan hukuman, baik dari para dewa dan dewi didunia itu maupun manusia biasa yang rasa-rasanya terasa mustahil.


Layaknya sebuah wadah yang kosong kedua bola mata itu terbuka tanpa sinar, wajahnya putih membeku tanpa darah yang mengalir. Lama ia disana meringkuk dengan wajah penuh kepedihan, Ketika pertengahan malam hampir selesai sebuah cahaya tiba-tiba muncul disana. Menerangi malam yang gelap, menghempas dingin yang datang dan memberantas sepi. Kaki bersih itu menapak dengan gerakan lembut, tak terlihat tampak seperti manusia ketika cahaya menyinari seluruh tubuhnya. Jubah putihnya menyeret lantai ketika ia berjalan, surai putih dengan pelengkap penutup mata diwajahnya terlihat melambai-lambai ketika ia berjalan menuju seorang gadis kecil yang menarik perhatiannya diujung terjauh dan tergelap disana.


la melihatnya lama sekali dan tatapan kesedihan perlahan muncul pada permukaan wajahnya. la terduduk disana merengkuh tubuh sedingin es itu, membelainya perlahan seolah akan hancur ketika ia tak sengaja menggunakan kekuatannya. Disatu sisi ia merasa sedih dan kasihan lalu disisi lain kemarahan terasa membara didalam hati yang biasanya penuh ketenangan. Percikan memori yang terisa pada tubuh gadis malang itu dapat terasa didalam relung kalbunya


"Gadis yang malang" sahutnya lembut dengan wajah sayu "Aku akan memberikanmu kehidupan."


Lalu sebuah cahaya bulat keluar dari tubuh sesosok mahluk indah itu, berterbangan layaknya kunang-kunang dan lentera-lentera yang begitu mengagumkan dan indah bagaimanapun melihatnya. Terasa hangat ketika menyentuhnya bersinar memenuhi ruangan dan bahkan menyinari sudut-sudut yang sangat jauh. Begitu terang benderang badai, layaknya musim semi ditengah badai.


Cahaya-cahaya itu perlahan-lahan mengelilingi tubuh gadis itu, mengangkatnya ke udara. Lalu cahaya menyilaukan disana menerobos masuk kedalam relunga bagian jiwa gadis kecil itu, mengisi bagian yang kosong layaknya air yang tengah mengisi kendi. Dan setelah sinar-sinar itu lenyap, tubuh itu kembali mencapai permukaan lantai dengan begitu perlahan.


Kembali direngkuhnya tubuh itu, senyuman hangat terbit dari mahluk ajaib itu. Senyumnya semakin lebar ketika suhu hangat mulai menghampiri tubuh gadis malang itu, dan rona merah mulai melingkupi selayaknya tubuh manusia. Jubah putih lembutnya ia sampirkan di atas lantai yang dingin untuk menjadi alas tidur yang nyaman, untuk terakhir kali ia mengusap anak-anak rambut gadis itu dan menjauh pergi, mengeluarkan guzheng, memainkannya dan alunan musik musik mulai terengar sepenjuru bangunan tua itu.


***


Matahari saat itu tengah bersinar dengan bersemangat, melupakan badai yang terjadi tadi malam dan mencairkan salju dengan keceriaan penuh. Begitu indah, hingga ketika bangun dan membuka kedua kelopak mata perasaan gembira akan menelusup masuk kemudian menggelitik untuk memulai hari.


Gadis kecil itu, la mengernyit ketika pendengarannya menangkap sesuatu lalu secara perlahan membuka kedua bola secara segelap malam itu, netra ebony itu menyerap pemandangan pertama kali ketika penglihatannya kembali sempurna. Aroma kayu menguar dari sekitamya dan perlahan-lahan kesadarannya mulai kembali dalam proses pengembalian kesadaran, memori-memori mulai menyeruak dalam kepala gadis kecil itu layaknya sebuah pengulangan kejam dalam hidupnya.


Nama gadis itu adalah Chiharu seorang gadis yang terlahir dari keluarga bangsawan dan keluarga terhormat, namun memiliki penyakit mematikan sedari kecil yang tak dapat disembuhkan oleh tabib dan manusia manapun. Hingga malam tragis itu terjadi kedua, dimana orang tua Chiharu mencampakkannya, membuangnya, dan mengharapkan kematiannya.

__ADS_1


Pertengkaran kedua orang tuanya dapat ia Ingat dengan jelas, menghantui pikirannya menghujamnya tak ampun, menari-nari dan enggan pergi. Sedetik, hanya sedetik ketika pertanyaan besar masuk melalui kepalanya.


Lalu mengapa sekarang ia masih hidup?


Bahkan setelah ia terbangun beberapa saat tadi tubunya terasa luar biasa ringan, seolah pagi yang menyakitkan yang ia rasakan dahulu kala setelah bangun tidur kini tak ia rasakan kembali. Seolah menguap lenyap dan menghilang tanpa sisa, tubuhnya terasa sangat sehat tanpa sakit tersisa.


Pikiran singkatnya itu buyar ketika alunan alat musik guzheng yang lambut berhasil mencuri perhatiannya, ia menyisir pandangannya dan terpaku. Chiharu gadis kecil itu, terpana akan sosok dihadpannya bola mata kelamnya menatap dengan binaran penuh kekaguman tiada cela. Begitu putih, begitu bersih dan begitu indah sehingga Chiharu terdiam disana. Ia berpikir mungkin ia baru saja bertemu malaikat.


Bahkan gadis kecil itu tak berani melakukan gerakan apapun, takut-takut gerakannya akan mengintrupsi malaikat didepannya. Namun lama Chiharu disana, menyaksikan keindahan didepannya. Alunan lagu itu akhinya terhenti, sosok itu tersenyum ketika melihat gadis dihadapannya hanya terdiam tanpa bergerak.


Mungkin gadis itu ketakutan melihat sosok aneh seperti dirinya yang dari segi manapun sama sekali tak terlihat seperti manusia, wajar rasanya bila kini gadis yang masih sangat muda itu menangis ataupun menjerit; ia tidak keberatan.


"Siapa namamu, anak manis." Ia mencoba membuka suara terlebih dahulu untuk mencairkan suasana, mencoba meringankan ketakutan gadis itu dengan sedikit lebih dekat dengannya.


"Chiharu, tuan. Hanya Chiharu." gadis itu meneguk salivanya gugup, ia merasa bahwa nama bukan bagian dari dirinya. Ia bertekad untuk membuangnya juga.


Pria dengan penutup mata diwajahnya itu kembali tersenyum lembut, tangan dengan jemari-jemari panjang itu terulur mengelus surai hitam Chiharu. "Namaku Qi dan bolehkah aku tau dimana rumahmu? Akan kuantarkan pulang, Gadis manis." tawar pria itu meski sepertinya dia sendiri juga tahu bahwa gadis dihadapannya ini telah dibuang, ia hanya ingin tahu pilihan Chiharu.


Tingkah gadis itu dan balasannya membuat dirinya benar-benar terkejut. Wajah yang seharusnya polos dan tidak tahu apapun itu malah menampilkan kebencian, ketakutan dan keputus asaan, seolah-olah telah mengenai bagian dalam dirinya. Menyebabkan luka yang sepertinya akan berkepanjangan dan membekas disana.


la melakukan sujud dan memohon dengan air wajah keruh hampir menangis. "Aku mohon Tuan Qi biarkan aku tinggal bersamamu. A- aku akan melakukan apapun untukmu, tak apa asal aku bersamamu. Kumohon jangan buang aku, aku mohon." tubuh gadis itu bergetar menahan tangis, bahkan suara yang ia keluarkan pun menimbulkan tremor.

__ADS_1


Amarah kembali muncul, terselip dan berhasil membuat pria dengan surai putih itu mengetatkan giginya menahan emosi. Ia menghela tubuh gadis itu agar berhenti melakukan posisi dimana membuatnya merasa semakin marahg, ia menghela napas untuk meredakan emosinya. Mengatur nada bicaranya agar terdengar sangat lembut ketika menghadapi gadis mungil yang kini kehilangan arahnya


"Aku mengerti," wajah Tuan Qi tampak kembali melembut, surai putihnya bergerak ringan menghantarkan rasa nyaman "Aku akan manbiarkanmu besamaku hanya saja bisakah kau berjanji padaku?"


Chiharu mengangguk cepat, apapun akan Chiharu lakukan untuk pria dihadapannya. Bahkan menyerahkan nyawa yang baru saja ia dapat untuk pria bersurai putih itu, Chiharu sangat sangat rela.


"Pertama, jangan menyerahkan nyawamu begitu mudah. Bahkan padaku, gadis nakal." senyuman kembali terbit sehingga Chiharu kembali terpana. "Kedua, jangan melakukan apapun yang tidak kau inginkan."


Chiharu menunggu, air matanya sedari tadi hendak tumpah karena merasakan kasih sayang untuk pertama kali dalam hidupnya. "Ketiga, tinggalah dimanapun kau mau. Kau bebas menentukannya, Chiharu."


Air mata Chiharu luruh tak kuasa menahan tangis, ia menangis seiadi - jadinya. Dalam sela tangisnya ia mengucapkan terimakasih berkali-kali pada sesosok penyelamatnya. Rengkuhan hangat meembawa Chiharu ke dalam pelukan Tuan Qi penuh rasa kasih sayang, pria itu mengelus pucuk Chiharu, hati gadis kecil itu dipenuhi perasaan hangat yang membuncah.


Dan Tuan Qi, ia tak akan pernah menyesali bahwa telah merusak tatanan alam semesta dengan memberikan nyawa pada mahluk hidup lain yang kini seharusnya sudah terbujur kaku. Tuan Qi ia telah mempersiapkan dirinya untuk menerima hukuman apapun itu, bahkan sampai akhir Tuan Qi tak akan pernah menyesal ketika membiarkan Chiharu hidup.


To Be Continued...


Character (agar lebih mudah menghalunya :D


(Chiharu, umur enam tahun)


__ADS_1


( Tuan Qi)



__ADS_2