Gadis Kuil

Gadis Kuil
31. Ikatan Baru


__ADS_3


Ruangan itu begitu gelap, sedikit cahaya pun sama sekali tidak menyentuh ruangan itu. Terasa ironi ketika nama ruangan itu terdengar tidak begitu menakutkan, penjara langit. Rantai-rantai besar nampak menjuntai dikaki-kakinya, mengikat tubuh pria itu dengan tragis. Darah tak henti-henti menetes dari luka-luka yang terbuka lebar.


"Chi...Haru Chi...Haru." patah-patah suaranya terdengar menggumamkan sesuatu, sebuah nama yang menjadi obat didalam kesengsaraanya.


Netra kuningnya memburam, padahal netra kuning itu tadinya memiliki sinar penuh ketegasan, kemarahan, dan dimiliki oleh siluman menakutkan. Kini semua itu seolah tidak berada disana, yang tersisa hanyalah sebuah lubang keputusasaan yang dalam.


Chiharu Chiharu Chiharu Chiharu.


"Ya Gin aku berada disini." gadis itu menyahut pelan, usapan pelan pada wajah siluman dihadapannya membuat pria itu mengerjap. Memfokuskan pandangannya untuk menatap gadis itu, pria bersurai putih yang selalu meneriaki ingin membunuhnya kini terasa begitu lemah.


Chiharu tidak tahan untuk tidak menangis, ia kembali mengusap darah yang berada disekujur tubuh pria itu. Hati nya terluka dan merasa terkhianati, tidak menyangka bahwa para tetua itu melanggar ucapannya sendiri. Gadis itu mengusap pelan air mata yang hendak turun dari wajahnya, ia memeluk pria itu.


...Jika memang kau tidak bisa dibebaskan, maka lebih baik kau menjadi milikku....


Gadis bersurai hitam itu menyampirkan anak-anak rambut yang turun, dengan sangat lembut Chiharu meraih wajah pria disana. Mendekatkan wajahnya perlahan-lahan, kecupan itu mendarat dibibir pria bersurai putih disana. Netra keemasan itu kembali berpendar terang, belenggu Dewa kembali terpasang pada kedua tangan pria itu. Dan secara resmi Gin–siluman rubah itu kembali menjadi pelayan Dewa.


Tatapan lembut gadis itu berubah tegas, tajam, dan penuh akan hasrat yang tak terlampiaskan. Beraninya para mahluk itu menyentuh Ginnya, Gin hanya miliknya. Membuat pelayannya seperti itu membuat rasa marah berdentum didadanya, berkobar dan tidak akan pernah pada.


"Beristirahatlah sejenak, aku akan kembali membereskan semuanya." kata-katanya memiliki janji, sebuah janji yang tak akan pernah teringkari olehnya. Bahkan ketika dirinya tewas dalam menghadapi masalah ini sekalipun, Chiharu tidak masalah.


***


Malam itu begitu dingin ketika pertempuran berlangsung, ah tidak daripada pertempuran kejadian itu lebih seperti penyiksaan karena sepertinya pria bersurai putih disana tidak membalas serangan Dewa Perang, Lukos. Pria itu hanya menghindar, ketika serangan itu tidak ia hindari dan mengenai dirinya.


Kegelapan malam itu, pria yang sudah tak berdaya itu dibopong oleh lengan-lengan sang Dewa Lukos. Tertawa bahagia akan kemenangannya hingga sang Dewa tidaklah tahu bahwa tempat pertarungan mereka begitu dekat dengan kuil Chiharu peninggalan Tuan Qi, Dewa Perang itu tidak menyadari bahwa ada saksi mata disana.


Tentu saja, pelayan setia Fu dan Su melihat kejadian itu sedari awal sampai akhir. Dengan sekuat tenaga menyembunyikan hawa keberadaan mereka, para mahluk setengah kelinci itu ikut merasa berdebar menunggu kepergian Dewa Lukos. Ketika suasana menjadi tenang, keduanya saling menatap cemas. "Bagaimana ini? Haruskah kita beritahu nona Chiharu?" sahut Fu merasa khawatir dan takut bukan main, untuk seorang pelayan hal ini bisa membuat mereka dilenyapkan jika ketahuan mencuri dengar.


Su mengangguk tegas, "aku pikir begitu." sahutnya dalam, "Aku yang akan memberitahu nona, kau jagalah Kuil. Aku akan segera kembali."


Chiharu yang tengah bersedih pun cukup terkejut melihat kedatangan salah satu pelayannya, tentu dengan wajah yang panik dan penuh ketakutan. Keduanya saling bertatapan sejenak sebelum pelayan milik Tuan Zhi itu menarik pergelangan Chiharu, mengajaknya ke tempat sepi tanpa siapapun disana. Bahkan Tuan Zhi sekalipun.


"Ada apa?" tanya Chiharu setelah dirasa tak ada yang mencuri dengar, Su menarik napas sebelum memulai kisahnya.

__ADS_1


"Nona Tuan Gin–ia diserang Dewa Perang kemarin malam." dan tentu saja Chiharu terkejut bukan main, mungkinkah dendam membuat Dewa Lukos melakukan apa saja–mengingat Chiharu mempermalukannya saat itu.


Namun, meski terkejut Chiharu tetap mendengarkan penuturan pelayannya disana. "Hanya saja setelah berhasil melukai Tuan Gin, Dewa Perang membawanya kemari. Apa anda tahu sesuatu?!"


Kemarahan mulai terpancar dari bola mata gadis itu, hatinya terasa panas membakar, rahangnya mengeras tak tertahankan, kedua netranya memancarkan api yang berkobar-kobar. Lengannya mengerat hingga buku-buku putih mencuat keluar, Chiharu benar-benar marah. Beraninya para tetua menipunya, siapa yang menyangka bahwa mereka bahkan tak bisa menepati kata-katanya.


Dengan emosi yang melonjak naik, Chiharu membalikan badannya, melangkah dengan gerakan cepat untuk mencari keberadaan pria siluman itu. Dibelakangnya Su mengikuti Chiharu, bagi Dewa mungkin terlihat biasa saja. Namun tujuan Chiharu yang mengarah pada penjara langit, membuat gadis itu kerap menjadi objek pandangan.


"Beraninya–" Chiharu bergumam, pedang telah manis disampirkan dipinggangnya untuk mengobrak-abrik penjara langit sialan.


Dua penjaga menghalanginya, namun ia tidak peduli. Menebaskan pedangnya, hingga mereka hancur berkeping-keping. Kemarahan memang sepertinya membuat seseorang lepas kendali, ia tidak peduli siapa yang ditebasnya. Entah itu pelayan, ataupun prajurit siapapun. Gadis itu hanya ingin segera melihat sosok siluman yang pernah menjadi pelayannya itu, menggeram marah ketika beberapa prajurit kembali datang merecokinya.


"Berhentilah, atau kami akan memenjarakanmu juga." teriak salah satu prajurit disana, merangsek maju untuk menangkap Chiharu.


Tatapan marah kembali terlemparkan pada gerombolan kecil disana, energi spritual berwarna biru menyelimuti Chiharu. Kemarahan membuat energi negatif berkumpul sehingga dengan gerakan cepat, para prajurit disana sudah lenyap tak bersisa bahkan abu mereka pun tidak berada disana.


Hingga pada akhirnya, didalam penjara-penjara memuakkan disana. Berwarna hitam dan gelap layaknya ruang bawah tanah, Chiharu mampu menemukan Gin. Rasa dingin menembus hatinya ketika melihat siluman itu berada disana, menatap kosong dengan sayu tanpa sinar terpancar dari bola matanya.


Gadis itu mundur perlahan, menyiapkan posisi tubuhnya. Memfokuskan kekuatan pada pedangya sebelum cahaya biru itu ditembakan, suara besi rubuh mampu memekakan telinga siapapun. Gadis itu segera merangsek masuk, tatapannya melembut ketika jemari-jemari gadis itu terulur. Menyentuh wajah Gin, mengusap darah yang menetes. Hingga sesuatu terasa basah dipipinya, air mata Chiharu sendiri.


"Chi...Haru." gumaman pelan dari pria itu membuat air matah Chiharu semakin luruh, tak kuasa menahan tangis, marah, dan bercampur aduk didalam hatinya.


Bola mata kekuningan itu sedikit demi sedikit mulai menunjukan cahayanya, dalam pandangan Chiharu sepertinya pria itu tengah memfokuskan penglihatannya. Senyum tersungging tipis dari bibir terluka milik Gin, "Kau disini." ucapan terakhir pria itu sebagai tanda perpisahan karena Gin benar-benar tidak sadarkan diri setelah itu.


Chiharu mengusap air matanya, "Jika memang kau tidak dibiarkan bebas, aku akan membuatmu menjadi milikku."


Sebuah kecupan mendarat diatas bibir pria itu, cukup lama seolah tengah menuntaskan keputusasaan pada situasi yang tengah dialami gadis itu. Setelah melepaskan kecupan itu, Chiharu bangkit mengenggam pedangnya dengan erat lalu melangkah keluar dari penjara itu.


Tunggu aku, Gin. Janjinya pasti.


***


Gadis itu kini berada disini sekarang, tempat perkumpulan para petinggi Dewa. Menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam, tubuhnya tidak ia gunakan untuk menghormat barang sedikitpun. Kemarahan masih terpancar pada wajah cantik itu, tubuhnya memang kecil namun tekadnya Chiharu tidak main-main.


Para petinggi Dewa yang sudah menyadari bahwa Chiharu telah mengetahuinya, menatap gadis itu dengan pandangan mencemooh. Sepertinya mereka pun enggan berbasa-basi dengan gadis itu, "Untuk seorang siluman yang hendak membunuhmu, kau membelanya sampai seperti ini." kata-kata itu tajam dan telak, menyentuh hati Chiharu yang tengah dilanda amarah.

__ADS_1


Gadis itu berusaha mengucapkan kata-kata sesopan mungkin, "Mohon maaf karena telah menganggu waktunya Para Dewa yang agung, hamba hanya tidak menyangka bahwa para Dewa Agung sekalipun yang telah menyaksikan penciptaan dunia ini dapat mengingkari kata-katanya.


"Hamba hanya tidak menyangka, jika anda ME NGI NG KA RI janji anda." didalam kata-kata terakhirnya Chiharu menyudutkan ketiga Dewa disana, membuat marah ikut menyertai mereka didalam perdebatan itu.


Rao Shu tersenyum disela-sela kemarahannya, "Lalu apa yang hendak kau lakukan? Bunuh diri? Kalau begitu lakukan saja." sepertinya Dewa tua satu ini ingin menantang Chiharu, membuat gadis itu terdiam sejenak.


Lalu menghela napasnya, "Mana mungkin hamba melakukannya Tuanku, hanya saja hamba ingin meminta pelayan hamba kembali. Pria itu bagaimanapun telah terikat segel Dewa dengan Dewa Bumi."


Tawa menggema dari Rao Shu, tatapan mencemooh mengintimidasi Chiharu. Seolah omong kosong gadis itu adalah sesuatu yang lucu, namun tawanya tersebut terintrupsi ketika salah seorang prajurit memasuki ruangan itu tanpa mengetuk, dengan wajah panik ia menatap eksistensi disana.


Pria itu menunduk, pakaian bagusnya menunjukan sepertinya pria itu salah seorang pimpinan prajurit. "Ampuni atas kesalahan hamba yang menerobos masuk, namun ada mahluk yang menerobos penjara langit Tuanku yang Agung. Kami sedang dalam proses pencarian, mohon ampuni atas kelalaian hamba."


Senyum menyeringai diatas wajah Chiharu, kini ia berbalik menertawakan Rao Shu dari balik seringainya. "Sayang sekali ya Tuanku, penjara langit sangat rapuh sehingga begitu mudah diterobos.


"Sepertinya pembicaraan ini pun sia-sia, jadi aku akan membawa pelayanku kembali. Dan satu hal, aku sudah memberikan segel Dewa lagi jika itu yang anda khawatirkan."


Rao Shu menatap Chiharu dengan penuh kebencian, "Coba saja memutuskan rantai-rantai itu, rantai itu tidak akan bisa putus atau dihancurkan." senyumnya kembali terbit ketika mendapati Chiharu yang kembali terdiam.


"Apa anda tidak akan memberitahunya pada saya?" suara gadis itu melemah, mencoba menahan tangis dari suaranya yang gemetar. "Aku akan melakukan apapun jika anda mau membebaskannya. Tetapi bahkan anda tidak menepati kata-kata anda, aku mohon tolong lepaskan dia."


Suasana itu tiba-tiba saja berubah akan kata-kata Chiharu yang persuasif, sepertinya gadis itu mengganti strateginya. Melakukan apapun agar sepertinya, pembebasan Gin memiliki kemungkinan yang meningkat–setidaknya hal itu tidaklah mustahil.


Keheningan panjang menghampiri mereka, sebelum kemudian Rao Shu kembali menyeringai. "Baiklah, sepertinya ada satu cara agar mahluk itu bisa terus berada disisimu."


Gadis itu kembali memusatkan perhatiannya pada para tetua disana, "Bagaimana, ya Tuanku?"


"Sumpah pertukaran darah."


Gadis itu membeo, "sumpah pertukaran darah?"


"Benar, sumpah itu terlarang karena melibatkan kematian dan kehidupan seseorang. Namun, untuk situasi ini cocok untukmu." Rao Shu tersenyum ketika wajah bingung tercetak jelas pada gadis muda disana.


"Apa yang akan terjadi jika aku melakukan sumpah itu? dan apa yang harus dikorbankan?" pertanyaan cerdas Chiharu membuat Rao Shu terkekeh, tidak menyangka bahwa gadis ini lebih waspada dan cerdas dari terakhir kalinya.


Rao Shu menyentuh janggut panjangnya, senyumnya semakin lebar. "Apa kau tau mengapa sumpah ini terlarang?" keheningan panjang kembali terpancar disana, debaran tidak enak menghampiri Chiharu ketika ia menunggu jawaban itu.

__ADS_1


"Sumpah itu melibatkan darah, dimana ketika salah satu dari pemilik sumpah itu mati. Maka yang satu lagi pun akan mengalami hal yang sama, benar keduanya akan tewas." dan perkataan Rao Shu benar-benar membuat kemarahan Chiharu kembali muncul ke permukaan.


To Be Continued...


__ADS_2