
Pagi hari yang cerah itu Chiharu tengah sibuk-sibuknya mulai merombak kuil tua itu, ia sangat bersyukur bahwa Tuan Zhi memberikannya dua pelayan yang sangat serba bisa ini. Jika tidak, mungkin ia akan mati karena mengurus kuil yang hampir rubuh dan telah ditinggalkan bertahun-tahun itu, hampir rubuh dan lebih buruk dari pertama kali tinggal.
Meski Chiharu tidak merasa lelah karena pandai mengatur energi spritual yang masuk dan keluar, gadis itu kebingungan ketika harus memindahkan kayu yang telah susah payah ditebang menuju halaman kuil. Kayu itu besar, dan Chiharu dengan tubuh kecilnya ia tak bisa mengangkat kayu itu. "Bagaimana ini?" keluhnya letih.
Seolah mengerti kesulitan Chiharu salah satu pelayan tuan Su maju, "hamba dapat membawanya untuk nona, tentu saja dengan kekuatan spritual nona. Apa tidak masalah?"
Chiharu berbinar-binar ketika mendapat solusi mudah dari pelayan yang ia anggap temannya sendiri, gadis itu dengan semangat menggebu-gebu mengangguk-anggukan dirinya. Lalu layaknya sebuah sihir dengan keajaiban meliputi, kayu-kayu besar itu diselimuti oleh sinar biru kelembutan. Terangkat lalu bergerak ketempat menuju kuil itu, membuat Chiharu berpikir bahwa kuil itu akan menjadi kuil paling cemerlang.
Lalu pekerjaan itu kembali berlanjut, Chiharu melakukan pekerjaan kasar seperti memaku atap dengan kayu-kayu paling bagus yang dapat ia temukan. Mengganti lantai, atap, dan pintu yang telah rapuh. Meski begitu, Chiharu sama sekali tidak merasa lelah. Ia terus bekerja semenjak datang, dan kini sudah menjelang sore.
Tentu saja pekerjaan itu belum beres, karena Chiharu hanyalah manusia. Ia masih memiliki batasan dalam menggunakan energi spritual, dan saat malam menjelang baru lah rasa lelah dapat Chiharu rasakan. Bersyukur ia telah mengganti atap , sehingga tidak perlu khawatir ketika hujan datang.
Kedua pelayan Chiharu tampak baik-baik saja, berpenampilan sama dan sama sekali tidak terlihat lelah meski pekerjaan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengannya. Kedua pelayan itu kemudian pamit undur diri, dan Chiharu mengganti pakaiannya. Ia bersiap-siap untuk tidur, dan melanjutkan pekerjaan esok.
Lalu setelah selesai berganti pakaian, kedua pelayan itu datang membawa nampan-nampan penuh makanan. Penuh aroma kenikmatan dan tentu saja menguggah selera, benar juga semenjak datang kemari Chiharu belum menyentuh makanan. Sehingga ketika dirinya dihidangkan makanan, perutnya terasa bergejolak penuh amarah meminta di isi.
Lalu Chiharu mulai lahap memakan makanan yang dihidangkan Fu dan Su, menyantap semuanya karena pelayan milik Dewa tidak membutuhkan nutrisi. Mereka mendapatkan kekuatan dari energi spritual yang diserap dari tuannya, dan jika tidak mengikat kontrak dengan Dewa. Mereka akan kembali ke langit menjadi hewan-hewan langit yang penuh akan keanekaragaman.
Dalam sela-sela makannya, Chiharu penasaran akan satu hal. "Bagaimana cara menggunakan energi spritual seperti tadi?" sahutnya sembari menatap Fu dan Su yang menemani dirinya.
Kedua pelayan itu menunduk sebelum menjawab, sebuah kebiasaan ketika ingin mengungkapkan sesuatu. "Caranya hampir sama, ketika nona mengalirkan energi spritual terhadap pedang nona." jelas Fu dengan sopan.
"Alirkan energi menuju tangan nona, lalu sentuh benda yang ingin anda kendalikan. Energi spritual dapat digunakan sebagai energi tambahan dalam diri seorang Dewa, menguatkan senjata seperti yang nona lakukan, dan melakukan hal lain yang luar biasa, nona Chiharu." kini Su yang menjelaskan.
Gadis itu mengangguk-angguk tanda mengerti, kini ia mengerti maksud Tuan Zhi bahwa energi spritual dapat menjadi jembatan untuk mengurangi kekurangan besar antara manusia dengan Dewa. "Apakah ada cara untuk mengatur energi spritual sesukanya? Maksudku, tidak ada batasan dalam menggunakannya."
__ADS_1
Fu dan Su bertatapan mendapat pertanyaan dari Chiharu, "Mungkin ada dua cara ketika ingin mengendalikan energi spritual nona, cara pertama dengan memperbesar kapasitas tubuh anda dengan cara berendam pada pagi hari dibawah guyuran air terjun, lalu cara kedua menyerapnya dengan cepat.
Tapi tentu saja, anda harus dapat melihat energi spritual dan dekat seperti energi itu adalah bagian dari tubuhmu.
Cara nya anda cukup sering-sering melatih energi itu ketika menyalurkannya pada pedang anda, kami jamin nona akan dapat mengendalikannya dengan mudah." penjelasan panjang itu membuat Chiharu menguap.
Salah satu kelebihan lainnya yaitu, ketika musang berbulu putih itu ditanya akan sesuatu. Maka mereka akan menjawab sejelas-jelasnnya, dengan penjelasan panjang lebar seperti sekarang. Chiharu berterimakasih pada keduanya, dan berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah ruangan, lengkap dengan kasur yang telah digelar oleh kedua pelayan Tuan Zhi yang cepat tanggap.
***
..."kau yang telah mengambil hidupku, aku tak akan membiarkanmu hidup dengan tenang. Kau harus merasakan penderitaan yang sama, Chiharu." ....
Gadis itu terlonjak bangun, tubuhnya penuh oleh peluh keringat. Napasnya bergerak naik turun tak menentu, bola mata hitamnya berkilat ketakutan.
Malam itu Chiharu terbangun dari tidurnya, rambut panjangnya tergerai berantakan. Ia mengusap wajahnya suram ketika bayangan Tuan Qi lagi-lagi menghantui tidurnya. Ia tidak masalah ketika Tuan Qi menghampiri mimpi-mimpinya, hanya saja mimpi itu begitu mengerikan. Wajah Tuan Qi selalu marah dalam mimpinya, wajah yang tak pernah ia tunjukan pada Chiharu.
Ketika sampai Chiharu menghela napasnya, merasa nyaman dan tenang karena sepertinya hanya tempat ini yang tidak berubah. Kerasnya suara air terjun sama sekali tidak menganggunya, gadis itu menaruh pedang yang tersampir. Kaki-kaki nya mulai melangkah memasuki air terjun yang menggigit kulit, meresap ketulang hingga dinginnya air terjun mampu menghilangkan sisa kantuk Chiharu.
Gadis itu duduk dibawah air terjun yang menngguyurnya, kenangan membajiri dirinya ketika mengingat kehadiran Tuan Qi disampingnya. Satu tetes air mata kembali meluncur mulus di antara sela-sela aliran air diwajah Chiharu, mampu mengkamuflase air mata penuh memori itu.
Tuan Qi, aku menjalani hidupku dengan baik. Banyak yang membantuku, jadi Tuan tidak perlu khawatir akan keadaanku. Namun, kehadiran yang paling kubutuhkan tetaplah kehadiranmu Tuan.
Tidak taukah Tuan Qi bahwa Chiharu tidak membutuhkan apapun selain kehadiran Tuan Qi, tidak taukah ia bahwa apapun selain Tuan Qi tidak penting bagi Chiharu. Gadis itu sangat merindukan sosok itu, hari-hari yang ia lewati terasa berat, kosong, dan hampa. Air mata kembali menuruni kedua pelupuk matanya, Chiharu merasakan kesepian yang sangat berat ketika Tuan Qi lagi-lagi mampir dalam benaknya.
Selalu seperti ini sejak lima tahun yang lalu, kesakitannya begitu nyata ketika menyadari Tuan Qi tidak lagi disampingnya.
__ADS_1
"Aku pulang, Tuan."
***
Hari itu matahari bersinar dengan terik, membawa sinar panas dan menimbulkan peluh bagi siapapun yang berani menantangnya. Hari keempat dimana Chiharu masih berkutat dengan pekerjaan kasarnya, pada empat hari itu Chiharu sudah berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan. Ia sudah mengganti atap dan jendela yang rapuh, lantai yang berderit dan rusak. Lalu membersihkan lumut-lumut ditempat persembahan, dan kini sepertinya akan menjadi hari terakhir Chiharu merombak ulang kuil itu.
"Aku tidak mengerti bagaimana kuil ini tetap berdiri ketika Tuan Qi tinggal, sepertinya berapa tahun pun berlalu kayu-kayu itu tidak mengalami kerapuhan parah seperti ini." keluh Chiharu mengusap peluhnya, ia menenggak air minum dengan rakus untuk menghilangkan dahaganya.
Su yang mendengar keluhan Chiharu langsung hendak menjawab seperti alat ajaib otomatis, "tentu saja karena energi spritual Tuan Qi, nona. Energi itu yang menopang kuil tampak sama, dan berhenti mengalami kerusakan."
Chiharu kembali terkejut, energi spritual benar-benar seperti pusat kehidupan. Mampu melakukan apapun, tak heran karena Chiharu sendiri pun mengalami hal menakjubkan ketika ia perlahan-lahan mulai menguasai sedikitnya energi spritual. Gadis itu tidak mudah lelah, staminanya terasa tidak habis-habis, dan yang paling menakjubkan Chiharu mulai bisa melihat energi spritual yang ia keluarkan.
Dan pekerjaan itu akhirnya diselesaikan saat matahari mulai kembali keperaduannya, Chiharu berteriak puas ketika pekerjaan melelahkan itu dapat ia selesaikan. Merasakan kilauan dari kayu-kayu baru yang melingkupi kuil, dan terasa bahwa kuil itu baru dibangun.
"Mari kita berpesta malam ini!" sahut Chiharu antusias, Fu dan Su hanya mengangguk. Ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan pemiliknya yang baru.
Namun perayaan mereka sepertinya harus terintrupsi ketika seseorang memasuki kuil yang baru saja selesai dibangun, orang itu begitu kumuh dengan pakaian yang tidak terlalu enak dipandang mata. Dan wajah keriput disertai kelelahan didalamnya, ia menatap Chiharu letih dan merasa kelegaan yang luar biasa.
Seolah perjalanan panjangnya telah terselesaikan, nenek tua itu melepaskan seluruh tenaganya dan berbaring pada tanah kuil. Membuat Chiharu sontak mendekatinya, menyuruh kedua pelayannya untuk membopong dam membantu sang nenek tua untuk beristirahat sejenak dari lelahnya perjalanan.
"Nona hati-hati, banyak siluman yang menyamar menjadi manusia untuk memangsa korbannya." ucap Su penuh hati-hati ketika musang itu telah menyelesaikan pekerjaanya untuk membopong sang nenek tua.
Chiharu berpikir sejenak, "Lalu bagaimana cara membedakannya?" sahut Chiharu penuh pertanyaan.
Fu maju menjawab pertanyaan gadis itu, "Sulit membedakannya bahkan untuk seorang Dewa yang kekuatannya tinggi sekalipun, namun seorang siluman pasti akan menunjukan jati dirinya. Nona harap bersabar, dan tetap waspada."
__ADS_1
Chiharru sendiri tidak yakin dengan nenek tua itu, nenek itu terlihat begitu rapuh dengan eksistensi yang terasa janggal. Namun Chiharu akan tetap sabar menunggu, jika nenek itu pergi dengan membawa bekal yang Chiharu siapkan maka nenek itu manusia. Namun jika nenek itu terus menginap selama berhari-hari, dapat dipastikan bahwa perempuan tua itu bukanlah manusia.
To Be Continued...