
Hujan tampaknya mengguyur pagi itu–tidak terlalu deras memang, namun cukup untuk menghantarkan hawa dingin yang membuat tulang-tulang membeku. Tidak heran karena hari ini telah memasuki musim gugur, dingin yang menyertai hari ini membuat siapapun pasti mengetahuinya.
Dingin menganggu Chiharu yang tengah terlelap, ia menggeliat mencari kehangatan. Ketika tidak menemukan, pada akhirnya gadis itu terbangun mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya lalu melipat tempat tidur, menguncir rambutnya untuk segera memulai latihan pagi rutinnya. Tentu saja, mengguyur dirinya dengan air terjun.
Gadis itu menghela napas malas, sungguh ia benci kedinginan. Ia lebih suka musim panas lebih dari apapun, musim dingin selalu membawa hal-hal yang buruk pada hidupnya. Rasanya terkadang membuat hatinya terasa beku, namun pada akhirnya dengan menguatkan tekad Chiharu keluar dari peraduannya.
Aroma wewangian makanan tercium diseluruh sudut rumah, menikmati aroma itu Chiharu tanpa sadar mengikuti kemana ia dituntun. Mungkin Fu atau Su yang membuatnya, mereka berdua adalah pelayan serba guna dan Chiharu memang sangat terbantu akan keberadaan mereka. Keduanya dapat memasak, membersihkan kuil, serta terkadang membantu Chiharu menyalin doa-doa yang telah dipersembahkan ke kuil ini. Meski sekarang tidak terlalu banyak yang kemari, mungkin karena kuil ini sudah ditinggalkan sedari dulu.
Ketika sampai pada ruangan memasak gadis itu terperanjat karena terkejut, surai putih panjang yang terikat rapih itu kini tengah sibuk memotong dan menyiapkan makanan yang terlihat begitu banyak. "Kau sudah sadar?" setengah sadar Chiharu menyuarakan pertanyaan yang paling besar memenuhi kepalanya.
Gin menoleh mendengar suara yang ia kenali, hanya sekejap ketika ia kembali melakukan kegiatan memasaknya. "Duduklah sebentar lagi akan siap." sahutan itu membuat Chiharu menuruti dengan jinak, sepertinya jiwa gadis itu belum sepenuhnya masuk ke dalam tubuh sehingga ia terlihat luar biasa kebingungan.
Lalu tanpa sadar Gin sudah selesai menaruh makanan-makanan yang terlihat berlebihan itu keatas meja, makanan ini sepertinya cukup untuk merayakan festival karena porsinya sangat luar biasa banyak. Asap mengepul, menguarkan aroma menggugah selera. Chiharu merasa lupa kapan terakhir kali ia memakan makanan seperti ini, tapi ada yang lebih penting dari itu. Bagaimana bisa, Gin siluman itu sudah sadar dan dalam keadaan segar bugar seperti ini.
"Hei, jawab dulu pertanyaanku!" satu sekrup dikepala Chiharu sepertinya berhasil tersambung.
Pria itu yang tengah mengambil makanan untuk gadis itu terhenti, "aku sudah sembuh." sahutan santai itu membuat Chiharu berdecak kesal merasa tidak puas.
Menutup semua mulutnya, ia merenggut makanan iitu dari jemari Gin, menyuap kedalam mulut dan memejamkan mata karena rasa enak memenuhi rongga mulut Chiharu. Bagaimana bisa pria itu membuat makanan seperti ini, Chiharu tidak tahu bahwa Gin sangat berbakat. Hingga begitu lahap Chiharu tidak menyadari bahwa perutnya sudah terisi penuh, mungkin akan keluar jika Gin tidak menahan suapan itu kedalam mulut Chiharu.
"Berhenti! Satu suap lagi kau akan mengeluarkan isi perutmu."
Merenggut mangkuk dari tangan Chiharu, gadis itu merengut. Hanya sekejap ketika ia merasakan apa yang pria itu katakan adalah kebenaran, ada yang aneh dengan pria itu–cukup aneh ketika pria itu begitu perhatian seperti saat ini. Menyiapkan makanan, mengambilkannya, bahkan menghentikan Chiharu seolah takut gadis itu akan sakit. "Sebentar lagi wajahku akan berlubang jika dirimu terus menatapku seperti itu."
Dan kata-kata itu sukses membuat Chiharu mendelik, "tidakah kau sadar bahwa saat ini kelakuanmu sangat aneh?"
__ADS_1
Netra kuning itu bergulir, menatap Chiharu dengan pandangan yang tak bisa gadis itu pahami. "Aneh bagaimana?" dan sepertinya Gin pun sedang ingin bermain-main tanpa menjawab maksud Chiharu.
"Kau aneh, terlalu perhatian menurutku. Kau tidak akan melakukan ini semua jika tau apa yang telah kulakukan padamu, jika kau tau mungkin kau malah akan membenciku." ditundukan kepalanya secara dalam, tidak berani menatap bola mata kekuningan layaknya matahari dihadapannya.
Chiharu menyadari bahwa dirinya memang terlalu pengecut, ia lemah makanya tak bisa memberikan pria itu kebebasan yang sangat di inginkannya. "Memangnya apa yang telah kau lakukan padaku?" tidakkah pria itu mengerti bahwa Chiharu tengah menahan emosi yang bergejolak akibat kelemahannya.
Tanpa repot-repot menjawab Chiharu bangkit dari duduknya, mengeratkan genggaman pada pedang yang tersampir cantik dipinggangnya. "Sudahlah, aku pergi dulu." dan gadis itu lebih memilih menghindar, untuk sekarang. Mungkin lain kali, ia akan menjelaskan pada pria itu.
Untuk sekarang Chiharu tidak yakin dapat menerima kebencian Gin yang ditorehkan pada dirinya, ia pasti akan menceritakannya. Lalu percakapan itu menghilang begitu saja, tertelan udara dingin meski tubuh gadis itu sudah terasa hangat. Masih dapat mengingat rasa makanan itu didalam mulutnya.
***
Chiharu menghela napasnya, tubuhnya kerap meneteskan air dari rambut serta pakaiannya. Mengusap wajah untuk memperjelas pandangannya, gadis itu bersiap untuk pulang dan menjalankan kegiatannya yang seperti biasa. Menggantikan tugas Tuan Qi untuk menjadi Dewa Bumi adalah pekerjaan sehari-harinya, menulis jimat, menjawab doa, atau bahkan memberikan berkat.
Terasa aneh ketika Chiharu merasa lelah akan semua ini, padahal umurnya hampir menginjak enam belas tahun. Musim dingin yang paling ia benci pun menjadi hari kelahirannya, terasa ironi namun gadis itu tak bisa mengubah hari ketika ia dilahirkan. Lamunan itu terhenti ketika kain lebar tersampir dibahunya, menghangatkan tubuhnya yang membeku karena angin musim gugur.
"Lihat kelakuanmu aneh lagi." menyingkirkan jemari-jemari itu, Chiharu berusaha menghindari kontak dengan siluman yang kini kelewat perhatian.
Melangkah pergi untuk berjalan pulang, "Apa musim dingin sekalipun kau akan tetap melakukan ini?" Gin menyuarakan pertanyaanya, sejujurnya pertanyaan ini memang ingin sekali ia ungkapkan setiap Chiharu kembali ke dalam kuil dalam keadaan basah kuyup. Gadis itu cukup kuat ketika tidak mengalami demam setelah melakukan hal itu bertahun-tahun lamanya.
Medengar pertanyaan pria itu, mau tak mau gadis itu mengangguk. "Dan juga mengapa kau melakukan ini padaku?" Chiharu menuding pria disampingnya, tidak peduli apa yang terjadi. Gadis itu akan mendapatkan jawabannya.
"Melakukan apa?"
"Kau selalu mengatakan akan membunuhku setiap saat, tidakkah terasa aneh jika tiba-tiba kau menjadi sosok penuh perhatian semacam ini?" baru kali ini Chiharu mampu menatap bola kekuningan itu, begitu indah dan bersinar selayaknya matahari disiang hari. Entah bagaimana, mengingatkan dirinya akan musim panas yang begitu disukai Chiharu.
__ADS_1
Chiharu terus memperhatikan wajah itu, alis tebal menaungi wajah itu, hidung mancung disertai rahang yang tegas, bibir merah tua membuat gadis itu berlama-lama menatapnya disana. Cukup lama hingga rona merah dengan tidak tahu dirinya muncul merambat hingga sampai ke telinga Chiharu, membuat gadis itu salah tingkah dan memalingkan wajahnya. Merutuki dirinya serta keadaan saat itu, lalu yang pasti mengutuk Gin mengapa pria itu begitu tampan.
Sesuatu terdengar oleh pendengaran mereka berdua yang tajam, posisi mereka berganti menjadi penuh kewaspadaan. Jemari Chiharu telah bersarang dipedangnya, siap ditarik dan menebas apapun yang membahayakan didepan sana. Tidak cukup dengan itu, Gin merangsek maju. Posisi tubuhnya pun tak jauh berbeda dengan gadis itu, hanya saja posisi pria itu kini berada didepan Chiharu menempel dengan tubuh gadis itu–bersikap melindungi.
Lalu menatap sumber suara disana, keheningan memaksa mereka untuk menunggu ada apa didalam sana. Terus menunggu hingga atmosfer terasa begitu berat karena Chiharu tidak mengetahui musuh apa yang mereka lawan, dan perlahan-lahan sosok yang menimbulkan suara itu keluar dari sana.
Berwarna putih, berbulu halus, dan bermata merah. Hidungnya yang menggemaskan kerap bergoyang untuk mencari sumber makanan, telinganya yang panjang bergerak-gerak. Mengingatkan Chiharu pada Fu dan Su yang selalu melakukannya, mahluk yang mereka waspadai tidak lain hanyalah seekor kelinci putih berbulu yang terlihat menggemaskan. Sehingga Chiharu mampu menurunkan bahunya karena tidak merasakan ancaman.
Menatap Gin dengan pandangan mendelik kesal, karena pria itu memang terasa begitu aneh. "Ada apa denganmu, sih?!" merasa tidak tahan Chiharu menyuarakan emosinya.
"Aku hanya melindungimu."
"Aku tau, makanya itu aneh. Aku lebih nyaman jika kau berprilaku buruk padaku, jika kau terus seperti ini. Aku tidak tau harus bagaimana." Benar, Chiharu tidak tau harus melakukan apa jika pria itu terus seperti ini padanya.
Perasaan bersalah akan terus melingkupinya, dan ia akan merasa tidak sanggup untuk menatap wajah itu. Bahkan pria itu tidak merasa aneh ataupun bertanya tentang kejadian yang baru saja terjadi, ia tidak bertanya mengapa ia terus bersama Chiharu dan bukannya bebas, mengapa dirinya terus terjebak ditempat ini. Mengapa pria itu tidak bertanya barang sedikit pun?
Pria itu bahkan kini memperlakukannya dengan baik, bagaimana bisa Chiharu tidak kebingungan. Gadis itu merasa takut, ia gelisah akan pikiran-pikiran penuh yang terus menghantuinya. Membuatnya goyah dan lemah, merasa tidak aman dan tidak percaya pada siapapun. Membuatnya terasa sendirian dalam ruang lingkup pikirannya.
Gin pun ikut terdiam disana, menatap wajah Chiharu–menatap wajah gadis itu yang sepertinya terasa frustasi. "Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu." pria itu pun sepertinya sulit untuk mencari kata yang tepat.
"Bukankah sudah kubilang makanya ini terasa aneh, tidakah kau tau apa yang telah kulakukan? Aku membuatmu menjadi pelayanku lagi. Aku telah melakukan sumpah darah denganmu, kau tau apa artinya itu?" Gadis itu menarik napas sejenak untuk meredakan perasaanya, menekannya agar tidak meledak keluar meski hancur sudah kenyataan yang hendak ia sembunyikan. Chiharu tidak peduli pada apapun lagi, akan lebih baik jika Gin pergi dan menikmati kebebasan yang tidak lama lagi. Daripada bersikap baik kepada Chiharu.
"Aku akan mati, tidak abadi sepertimu. Dan sumpah darah ini akan membuatmu juga tidak abadi." sudahlah, Chiharu merasa lelah dengan semua ini. Ia akan menerima apapun yang dilakukan oleh Gin padanya, mungkin ia akan dilukai seperti pertemuan mereka atau mungkin lebih para. Apapun asal Gin tidak membunuhnya, karena pria itu pun akan tewas ketika Chiharu sudah tidak bernyawa.
Pria itu masih terdiam disana, lalu jemarinya terulur. Membuat gadis yang telah memikirkan kemungkinan apapun yang akan dilakukan oleh Gin menutup matanya, menahan rasa sakit yang akan hinggap ditubuhnya. Sentuhan lembut menyentuh kepalanya yang basah, lalu menggapai surai-surai hitam Chiharu yang berkilauan. Pria itu pasti sudah gila karena begitu tenang setelah mendapat informasi bahwa keabadiannya menghilang, "Tidakkah kau tau mengapa keabadian ini berada ditanganku?"
__ADS_1
Gadis itu terasa terhipnotis sejenak ketika netra kekuningan itu menatapnya dengan dalam, senyuman tipis tersungging ketika gadis itu terdiam menunggu jawaban. "Karena aku," suaranya dipelankan dan diucapkan lamat-lamat, sangat pelan sehingga Chiharu merasa bulu kuduknya berdiri. "telah membunuh Dewa, sama sepertimu."
To Be Continued...