
(4 Years Later)
Malam-malam dimusim panas entah mengapa selalu begitu terasa hangat, bulan pun bersinar penuh. Bulat dan tak dapat menghentikannya, suara-suara hewan malam bersahut-sahutan meramaikan suasana. Para kunang-kunang malam berkeliaran, memperindah suasana. Kini Chiharu berdiri tepat dihalaman belakang kuil yang luas dan lebar, lapangan kosong terbentang disana.
Tuan Qi berdiri tak jauh disana, menyeruput tehnya dalam-dalam. Menatap Chiharu yang mulai malam ini memulai pelatihan bela dirinya, janji empat tahun lalu yang tak akan pernah ia lupakan untuk mengajari Chiharu berbagai macam hal.
Gadis itu berkembang begitu pesat sehingga Tuan Qi sendiri terkadang tidak mempercayainya, didalam kegelapan bola mata Chiharu kebijakan terpancar dengan jelas. Hanya dalam beberapa tahun, ia sudah menjadi gadis paling berilmu diantara anak-anak seumurannya. Meski Tuan Qi sendiri tidak pernah bertemu anak manusia biasanya, namun kebijaksanaan Chiharu sungguh nyata adanya.
Tuan Qi menaruh cangkir tehnya, ia bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Chiharu yang kebingungan dengan pedang kayu ditangannya, sejujurnya Chiharu tak pernah memegang senjata apapun. Hari-harinya selalu ia gunakan untuk meracik obat-obatan, atau membaca buku yang diberikan oleh Tuan Qi. Lalu pada malam hari ini, Tuan Qi mengajaknya untuk keluar sehingga Chiharu sendiri merasa kebingungan.
"Tegakan bahumu, buat pedangmu sejajar dengan dadamu." Tuan Qi menyentuh kedua tangan Chiharu yang tengah memegang pedang kayu pendek itu, mengarahkannya pada kuda-kuda yang benar.
Tuan Qi mengernyit, memikirkan metode terbaik yang dapat ia berikan untuk Chiharu. "Baiklah kita sampai disini saja, pergilah tidur!" titahnya benar-benar tak dapat Chiharu pahami, namun ia tetap menurutinya karena keinginan Tuan Qi selalu menjadi prioritas utamanya.
***
Pagi-pagi buta ketika dimana Chiharu masih terpejam ia kembali terbangun, atau lebih tepatnya dibangunkan karena Tuan Qi masuk keruangan tempat ia tidur dan mengguncang tubuh yang sudah beberapa tahun ini menjadi lebih tinggi.
Mau tak mau Chiharu terbangun, dengan wajah khas bangun tidur ia menatap Tuan Qi kebingungan. "Cepat ganti bajumu, kita akan pergi ke sungai." dan setelah titah itu dikeluarkah Tuan Qi segera pergi tanpa mempedulikan Chiharu, dengan sisa-sisa nyawa yang belum terkumpul.
Tak lama ketika Chiharu segera bangkit dan melakukan apa yang disuruh Tuan Qi, ia berganti pakaian dan segera menyusul Tuannya yang kini berada dihalaman kuil. Melipat kedua tangannya, menunggu Chiharu.
Ketika gadis kecil itu keluar, Tuan Qi segera berjalan. Menuju tempat yang baru saja ia sebutkan beberapa saat. "Untuk apa ke sungai ketika matahari bahkan belum muncul ke permukaan tuan?" tanya Chiharu dengan suara kantuknya, untuk pertama kali dalam hidupnya Chiharu dibangunkan sepagi buta seperti ini.
"Memperbesar kapasitas energi spritual mu." dan sahutan singkat itu sepertinya cukup untuk membungkam pertanyaan Chiharu.
Hawa dingin dari air sungai mampu membuat Chiharu bergidik kedinginan, bahkan sepertinya matahari pun masih enggan untuk muncul ke permukaan menyinari kehangatannya. Setelah sampai sungai, Tuan Qi terus berjalan menyusurinya untuk mencari letak sumber air mata sungai tidak lain adalah air terjun.
Pria bersurai putih itu tersenyum puas ketika melihat air terjun yang mengguyur dengan deras, ia membuka dua lapis pakaiannya dan segera menenggelamkan kakinya untuk mencapai sumber mata air itu. Chiharu yang melihatnya hanya terdiam semakin kebingungan ketika melihat Tuan Qi kini hampir mencapai air terjun itu, suara air terjun yang begitu deras entah mengapa membuat Chiharu semakin kedinginan.
"Apa yang kau tunggu, cepat kemari!" perintah itu terdengar tak bisa dibantah hingga mau tak mau Chiharu menurutinya, langkah pertama ketika ia mencelupkan kakinya adalah rasa membeku dibawah sana. Menunjukan bahwa air pegunungan itu memiliki rasa dingin yang bukan main.
__ADS_1
Tak ingin mengecewakan Tuan Qi, Chiharu terus melangkah maju. Melihat Chiharu yang kesulitan, pria bersurai putih itu mengulurkan tangannya, membantu gadis kecil itu untuk naik pada bebatuan yang terhantam air terjun. Tuan Qi segera duduk, membiarkan tubuhnya diguyur air terjun deras.
Ia bergeming, menunggu Chiharu untuk mengikutinya. Dan gadis itu benar-benar penurut, Chiharu melakukannya untuk pertama kali. Duduk dibawah guyuran air terjun membiarkan tubuhnya terkena hantaman air, ia menahan rasa sakit untuk pertama kali ketika air itu menghujam kepalanya layak ribuan jarum.
Tubuhnya terasa dipukuli oleh banyak tangan tak terlihat, ia melirik Tuan Qi yang bergeming seolah tak merasakan apapun. Entah karena pria dengan penutup mata itu sudah terbiasa, atau karena Tuan Qi sangat hebat dalam menguasai ekspresinya Chiharu tidak tau. Yang ia tau, bahwa berada dibawah guyuran air terjun ini terasa begitu menyiksa.
Lama mereka disana sampai matahari mulai memunculkan sinarnya, tubuh Chiharu dan wajahnya mulai membiru menahan dingin dan air yang terus menghujamnya tanpa ampun. Tuan Qi yang tidak tega segera mengakhiri ritual itu, ia membawa Chiharu ketepi sungai untuk menghangatkan tubuhnya.
***
Pada pagi hari yang cerah saat itu, selimut tebal melingkupi tubuh Chiharu. Burung-burung yang berkicauan tak Chiharu hiraukan, ia sibuk menenggak sup hangat pemberian Tuan Qi sembari menggigil kedinginan dalam tumpukan selimutnya. Chiharu merasa takjub ketika tak melihat perbedaan apapun pada Tuan Qi, pria itu sehat-sehat saja tanpa merasa kedinginan atau tubuhnya membiru.
"Kelak kau harus melakukannya setiap hari." sahut Tuan Qi meniup sup mangkuk untuk meredakan panasnya, sedikit merasa kasihan karena Chiharu mengikuti metodenya.
"Pelatihan ini berguna meningkatkan energi dalam tubuhmu, dengan latihan ini kau bahkan bisa sekuat dewa jika tubuhmu mampu menanggung kekuatan spritual yang besar. Aku tidak memaksamu, Chiharu. Kau boleh menyerah jika enggan melakukannya." Tuan Qi menatap tubuh kecil Chiharu yang masih terasa menggigil meski tiga tumpuk selimut tebal sudah ia kenakan.
Chiharu, gadis itu menggeleng dengan kuat. Menahan gemetar giginya sebelum melanjutkan berbicara, "Aku tidak akan menyerah, aku pasti bisa seperti dirimu Tuan. Tak peduli berapa sulit pun itu, aku tidak akan menyerah."
"Mengapa sangat ingin menjadi aku?" tanya Tuan Qi lembut, menyerahkan mangkuk kedua untuk Chiharu tenggak. Mengembalikan suhu tubuhnya yang mulai menghangat.
Chiharu berpikir sejenak, "Karena Tuan menyelamatkanku dari kematian, aku sangat berterimakasih Tuan. Entah apa yang harus kulakukan untuk bisa membalas mu, Tuan yang selalu terlihat indah, bersinar, dan lembut membuatku ingin menjadi sosok seperti itu."
"Berkali-kali mencariku jika aku tersesat, menuntunku kembali. Tidakah tuan tau bahwa tuan adalah keseluruhan hidupku, bagaimana mungkin aku tak ingin menjadi sosok seperti itu?" senyuman manis terbit dari wajah mungil itu, mengingat hari-hari indah yang ia jalani bersama Tuan Qi.
Tuan Qi yang begitu baik, begitu indah, dan begitu terasa jauh untuk mengejarnya. Seolah-olah ia berada didunia lain meski mereka bertemu setiap hari, seperti ada tembok besar tak terlihat yang menghalangi Chiharu untuk mendekat.
Tuan Qi sedikit terharu mendengarnya, gadis mungil yang pucat dan dingin pada malam itu kini berada bersama dengannya menunjukkan senyuman paling manis dan terlihat begitu cantik. "Bagaimana jika suatu hari nanti aku menghilang dan tak dapat terus bersamamu?"
Tanpa meninggalkan senyumnya Chiharu menjawab, "Tentu saja aku akan ikut menghilang juga bersamamu Tuan, kemanapun Tuan pergi aku pasti berada disana."
__ADS_1
Dan pembicaraan menyedihkan itu terhenti ketika Tuan Qi memilih menghindari topik yang baru saja ia mulai, mmenyodorkan supnya dan segera ditengak oleh Chiharu. Tubuhnya mulai terasa hangat, dan perlahan-lahan menjadi normal.
***
Keseharian Chiharu yang penuh dengan belajar seperti hari-hari biasanya kini terasa sedikit berbeda, seseorang yang tak Chiaru kenali datang pada kuil ketika gadis itu tengah menyapu daun-daun kering yang berguguran. Orang itu memakai pakaian lusuh yang tidak terlalu bagus, menghormat pada Chiharu karena menyangka bahwa gadis itu seorang pendeta kuil.
Lalu pria itu berdoa, memohon dengan khidmat tanpa merasa terganggu lalu setelah memberikan sekantung buah-buahan pria itu pergi. Membuat Chiharu kebingungan akan apa yang dilakukannya, ia menaruh alat kebersihannya lalu memasuki kuil untuk bertanya pada Tuan Qi.
Saat Chiharu memasuki kuil, Tuan Qi tengah duduk dengan meja lantai miliknya. Menulis sesuatu dengan serius pada buku bersampul biru, "Apa yang tengah Tuan lakukan?" tanya Chiharu tak tahan akan rasa penasarannya.
Setelah menyelesaikan tulisannya, Tuan Qi tersenyum menatap Chiharu. "Memberkatinya karena pria tadi baru saja memohon padaku."
"Aku menyampaikan permohonannya agar keinginannya terwujud." sahut Tuan Qi lembut, mengelus pucuk kepala Chiharu lalu merapihkan peralatan tulisnya.
Chiharu ikut tersenyum, "Tuan seperti seorang Dewa." ungkapnya merasa kagum.
Pernyataan Chiharu mau tak mau sedikit menggelitik Tuan Qi, "Aku memang seorang Dewa." lalu tanpa diduga Chiharu melotot dengan tatapan tak percaya. Ia mundur beberapa langkah karena merasa terkejut.
Semuanya terasa terhubung sekarang, bagaimana kekuatan luar biasa Tuan Qi. Bangkitnya dari kematian, menemukannya ketika hilang dimanapun Chiharu berada, sinar Tuan Qi yang selalu terasa agung dan sulit ditembus. Ternyata Tuan Qi adalah seorang Dewa.
Chiharu merasa jarak nya dengan Tuan Qi merasa semakin jauh, kini ia mengerti bahwa gadis itu tak akan pernah mampu mengejar Tuan besar di hadapan matanya. "Aku ternyata dari awal tidak bisa sepertimu ya, Tuan." keluhnya merasa putus asa.
Tuan Qi memperhatikan raut wajah Chiharu yang berubah-ubah, tersenyum maklum. Ia mendudukan dirinya, menyejajarkan tingginya lalu menatap tepat dibola mata Chiharu yang berisi kesedihan. "Siapa yang memastikannya?"
"Jika aku bilang bisa, pasti bisa. Jangan khawatir." perkataan lembut itu sejujurnya mampu kegundahan hati Chiharu, mengusir hujan dan mendatangkan pelangi.
Ia tersenyum meski sisa-sisa kepedihan masih berada disana, ia tahu bahwa Tuan Qi mengatakan itu hanya untuk menghiburnya. Namun tak masalah, Tuan Qi seorang Dewa yang sangat berbeda derajat dengannya. Bertemu dan diselamatkan olehnya saja menjadi sebuah keberuntungan bagi Chiharu. Tak peduli apapun yang terjadi, Chiharu akan selalu mengikuti langkah Tuan Qi.
To be Continued..
Perhatian lagi, bahwa cerita ini sangat beralur lambat dan membuat kalian tidur :3
__ADS_1
Enjoy Reading...