Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 18 Mulai Terbuka


__ADS_3

Malam-malam panjang yang Chiharu lalui begitu buruk akhir-akhir ini, sudah sekitar tujuh hari setelah melepaskan siluman itu. Gadis itu tidak dapat lagi tertidur tenang, perkataan Tuan Zhi sama sekali tidak meleset ketika mengatakan bahwa mahluk tersebut akan membunuh Chiharu ketika dirinya tertidur.


Lalu malam ini juga dirinya kembali terbangun akibat gelang yang diberikan oleh Tuan Zhi, karena siluman itu mencoba membunuh kembali. "Ah aku terbangun lagi, bisa tidak membiarkan ku tidur semalam saja dengan tenang?" keluh gadis itu merasa kesal.


Mahluk disana pun ikut menggeram penuh kebencian ketika menatap Chiharu seolah gadis itu adalah sumber penderitaanya, meski kata yang barusan memang cocok. "Aku akan membunuhmu." sahutnya mantap, tegas dan tak pernah berubah.


Daripada siluman rubah, pria ini lebih mirip siluman kucing yang selalu mendesis marah ketika sesuatu tidak cocok dengan dirinya. "Benar juga, aku tidak tau namamu. Siapa namamu?" gadis itu bertanya dengan secarik senyuman menghiasi malam itu.


Mahluk itu mengacuhkan Chiharu, membuang wajahnya tak ingin berbicara. "Baiklah, jika kau tak ingin bicara. Biar aku saja," gadis itu menyerah untuk membuat siluman itu bersikap ramah padanya. "Namaku Chiharu, dulu aku adalah seorang anak yang malang."


Gadis itu melirik sedikit, memperhatikan raut wajah pria dihadapannya. Masih terlihat membuang wajah dan tak ingin tau, "Aku mengalami kematian satu kali dan itu benar-benar buruk, diriku yang lemah waktu itu dibuang dan tidak di inginkan. Mengalami kematian seorang diri.


Namun, ada sesosok mahluk yang menyelamatkanku. Memberikanku kehidupan yang jauh lebih baik, membuatku kuat seperti sekarang ini. Meski pada akhirnya," Chiharu terkekeh ketika menceritakan kisah hidupnua yang menyedihkan. Lagipula mengapa juga ia harus menceritakan pada mahluk yang bahkan setengah mati ingin membunuhnya, sangat tidak masuk akal.


"Apa yang terjadi pada akhirnya?" lalu suara itu sungguh benar-benar membuat Chiharu terkejut, ia menatap kearah lawan bicaranya.


Chiharu menyampirkan helaian rambutnya yang terjatuh, merasa senang karena setidaknya siluman itu tidak mengacuhkannya. "Akan kuberi tahu kelanjutannya jika kau memberi tahu namamu." suara Chiharu yang sedih kembali menjadi jenaka, tidak mengharapkan apapun sebenarnya. Namun, sepertinya menyenangkan menggoda pria ini sedikit.


"Gin, namaku Gin." rasanya Chiharu ingin menangis ketika mahluk itu menyebutkan namanya, seperti seekor kucing yang mulai dekat dengan manusia dan tak lagi mengigit. "Lalu apa yang terjadi pada akhirnya?"


Sepertinya pria itu sangat penasaran hingga tidak menyadari bahwa mereka berdua kini tengah bermusuhan, siapa yang menyangka dapat bercakap-cakap seperti ini. Chiharu tersenyum, mencoba mengulurkan tangannya hendak menyentuh surai-surai putih yang terasa begitu halus ditangan.


Ketika gerakannya tidak mendapat respon apapun, Chiharu kembali mendekatkan tangannya. Mendesah nyaman ketika jemari-jemari miliknya terjalin oleh surai-surai putih milik siluman itu, "Pada akhirnya aku membunuh sosok yang telah menyelamatkanku itu." dan percakapan itu berakhir dengan keheningan panjang hingga menjelang pagi.


Luarbiasanya siluman itu tak lagi menyerang Chiharu dan menunjukan sedikit kejinakannya, membuat gadis yang kesepian itu sedikit terhibur.

__ADS_1


***


Namun, sepertinya kejinakan Gin hanya terjadi pada malam-malam tertentu saja. Seperti contohnya pada pagi hari ini, dimana Chiharu mengerjakan pekerjaan seperti biasanya siluman itu dengan kurang ajar mencoba menyerangnya dari belakang. Bersyukur Chiharu mampu menghindar, mengucap kata-kata mantra yang biasa ia gunakan membuat mahluk itu membatu.


Kebahagiaan Chiharu pada pagi hari itu lenyap sudah ketika melihat Gin lagi-lagi mendesis padanya, "Kau ini jinaknya hanya semalam saja ya." cibir Chiharu kembali melanjutkan pekerjaanya, membiarkan pria itu tetap diposisi yang sama tanpa bisa melakukan apapun.


"Baiklah aku tidak akan membunuhmu asal kau melepaskan segel yang membelenggu ku, aku janji tidak akan melakukan apapun." pada pagi hari itu, Gin mengucapkan kalimat terpanjang pertamanya kepada Chiharu.


Gadis itu kembali menoleh, menatap siluman itu lalu melepaskan kekuatan mantranya. Gin terbebas namun belum merasa puas, "seandainya aku bisa." keluh Chiharu menaikan kedua bahunya, tanda ia sendiri pun tidak tahu cara membatalkannya. "Tuan Zhi mengatakannya padaku, ada dua cara yang ia ketahui untuk melepaskan segel dewa. Pertama ketika aku mati, kedua ketika aku tidak menjadi dewa lagi."


Lalu ekspresi Gin kini berubah menjadi mengerikan, lebih suram, dan kehilangan cahaya. "Jadi apapun jalannya, aku harus membunuhmu!" pria itu siap-siap merangsek maju hendak menyerang Chiharu kembali, gadis itu mengulurkan telapak tangannya untuk menghentikan apapun kegiatan mahluk dihadapannya.


Kemudian Chiharu menggeleng, "Seperti yang kau tau aku adalah seorang manusia, aku ini hanya pengganti atau bisa dibilang hanyalah Dewa sementara. Karena Dewa Bumi sebelumnya lenyap, tunggu sampai Dewa Bumi yang baru diciptakan maka saat itu dirimu akan bebas."


Chiharu kembali menggeleng tidak tahu, "Ayolah, paling lama hidupku hanya sampai tujuh puluh tahun. Anggap saja tujuh puluh tahun ini kau bermain-main denganku, memang seburuk itu tinggal bersamaku." decak Chiharu sebal, seolah dekat-dekat dengannya adalah sesuatu yang paling menjijikan.


Tidak menjawab apapun, Gin pergi membalikan tubuhnya. Ikut merasa sebal karena tak memiliki jalan keluar, kebebasannya selama beribu-ribu tahun ini harus lenyap—terperangkap dikuil kecil ini sebagai pelayan pula. Ia adalah siluman yang memiliki kekuatan tingkat tertinggi dalam klannya, hidup sudah lebih dari lima ribu tahun. Lalu sekarang? dirinya sebagai pelayan seorang gadis lemah yang menyebalkan.


Bagaimana mungkin kenyataan begitu kejam menghempasnya, merenggut kebebasannya, dan membuatnya melayani seorang Dewa. "Konyol!" geramnya marah tak dapat menahan emosi. Gin tak dapat menunggu selama itu, ia akan membuat gadis kuil itu lengah dan membunuhnya. Tentu, dengan berpura-pura jinak adalah trik jitu untuk memanipulasi wanita.


Sial, padahal ia sudah mencoba memberikan racun pada gadis itu. Mengapa bisa-bisanya racun itu disadari, seharusnya ia bisa menepuk dua lalat bersamaan. Menyebalkan, setelah perempuan itu datang kehidupnya rasa-rasanya tak ada yang beres.


***


Sore itu menjadi hari yang cukup cerah, sinar matahari yang hampir beristirahat keperaduan menyebarkan sinarnya yang berwarna kekuningan. Terasa hangat dan begitu menyilaukan, Chiharu menyesap tehnya disalah satu spot kesukaanya. Teras belakang kuil dengan pohon sakura besar menaungi bawahnya, menggelar kain untuk duduk dibawahnya adalah kesukaan Chiharu.

__ADS_1


Dari kejauhan ia dapat melihat surai putih itu beterbangan pun dengan empunya yang berjalan mendekat, bola mata keemasan itu tampak tenang tanpa amarah lagi. Hilangnya Gin pagi tadi membuat Chiharu bertanya-tanya kemana ia pergi dan baru kembali sore hari, namun pertanyaan itu ia simpan rapat-rapat ketika Gin duduk disampingnya dibawah pohon sakura yang menghijau.


Dengan cekatan Fu menuangkan teh kedalam salah satu cangkir, setelah itu ia menjauh lebih dari dua puluh langkah dari Gin. Su pun tak berbeda jauh dengan Fu yang segera menjauh dari siluman rubah itu, bergetar ketakutan dan bergidik ngeri.


Keduanya berada dalam keheningan yang panjang, dan dari salah satu diantaranya pun tidak ada yang hendak mengeluarkan sepatah kata apapun. Hingga pada akhirnya lagi-lagi Chiharu yang membuka topik disore hari disana, "maafkan aku." sahutnya pelan, menatap genangan teh hijau didalam cangkirnya.


Gin melirik dengan bola mata keemasan miliknya, menelisik Chiharu yang tiba-tiba berubah menjadi lebih bersahabat dan tak lagi menyebalkan. "Salahku yang bermain-main dengan segel dewa, tetapi taukah kau bahwa Tuan Zhi akan mengurungmu dipenjara langit tanpa kebebasan?"


Chiharu tersenyum mengamati perubahan ekspresi pria disampingnya, "Darimana dirimu mengetahuinya?"


"Disela-sela kesadaranku aku mendengar Tuan Zhi berbicara pada Fu dan Su, meski aku tidak bermaksud menyelamatkanmu. Tapi bukankah apa yang kulakukan kini lebih baik?"


Gin menyesap teh hijau yang terasa nikmat dirongga mulutnya, "Tetap saja aku tak bisa pergi kemanapun, dan tetap dikuil ini sampai kau mati nanti." suara itu begitu sinis menyentak Chiharu, gadis itu kembali tersenyum seolah tak terluka sema sekali.


Chiharu bangkit dari duduknya, menatap Gin yang lebih pendek darinya ketika gadis itu berdiri. "Memang benar kau akan tinggal dikuil, tapi aku tak pernah mengatakan bahwa kita akan tetap dikuil. Besok aku akan pergi." saat wajah Gin menunjukan ekspresi bertanya gadis itu melanjutkan, "Kau lupa ya aku ini seorang Dewa, tentu saja memberi berkat.


"Karena kau pelayanku tentu saja harus ikut denganku." dan senyuman lebar tersungging pada bibir gadis itu, berjalan masuk kuil dan meninggalkan Gin seorang diri.


Sepertinya hidup dengan gadis itu pun tidak terlalu buruk, terbesit pikiran yang seharusnya tak pernah muncul, pada akhirnya muncul dibenak Gin. Pria itu menggeleng dan langsung menghempas pikiran gila itu, mengutuk dirinya sendiri karena telah berani memikirkan hal-hal yang mengerikan seperti barusan.


To Be Continued...



GANTENG BANGET ASKAKSKWLSSALSLS

__ADS_1


__ADS_2