Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 26 Keras Kepala


__ADS_3

Bola mata keemasan itu menatap nyalang dari balik jendela kayu kuil, mengamati dalam diam menyaksikan bagaimana gadis disana tersenyum begitu lembut, berbicara dengan semangat, seolah petir menyambar pun tak akan mengubah suasana hatinya. Terbayang bagaimana ia mengabaikan dirinya, meninggalkan tanpa sepatah kata meski pria ini tidak melakukan kesalahan—begitulah pikir Gin.


Namun, tiba-tiba ketertarikan dari Chiharu berpindah ke arah sesosok manusia disamping gadis itu. Menatapnya lamat-lamat seolah memastikan penglihatan pria itu, mengerjap berkali-kali karena tidak merasa percaya akan pemandangan yang ia lihat. Tak tahan untuk segera memastikannya, Gin—pria itu membuka pintu kuil. Bergegas dan menghampiri Chiharu.


Dialam bawah sadarnya, Gin menarik lengan kecil Chiharu membawa lebih dekat pada tubuhnya. Posisi ini entah mengapa terlihat seperti Gin melindungi Chiharu dari sesuatu, tatapan mata sontak tertuju pada pria bersurai putih itu. Terutama Chiharu dengan kernyitan aneh dalam wajahnya, mengapa semua pria begitu aneh hari ini?


Seseorang yang memutus situasi canggung itu adalah pria bersurai hitam disana, ia menyunggingkan senyumnya dengan lebar menatap Chiharu—lebih tepatnya mengabaikan esksistensi Gin sepenuhnya. "Aku tidak tau kalau kau tinggal di kuil, mungkin aku akan datang untuk berdoa." sahut Zhen begitu ceria.


Chiharu ikut tersenyum, mengangguk. "Datanglah!" lalu percakapan mereka berakhir ketika pria itu pergi meninggalkan keduanya—Chiharu dan Gin saling menatap satu sama lain. Lalu hanya sebatas itu, karena Chiharu menghempaskan lengannya dari rangkulan siluman rubah itu. Berjalan mendahului pria itu, tak mampu menatap bola mata keemasan yang kini benar-benar tersinggung oleh sikap Chiharu.


Pria itu kali ini tak membiarkan gadis itu pergi, ia berhasil menangkap jemari Chiharu. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya, menoleh lalu menyuarakan pertanyaan dari wajahnya. "Jangan dekati pria itu!" titah Gin, suaranya serak menahan amarah. Terdengar tak ingin dibantah.


Gadis yang menjadi lawan bicaranya kini membalikan tubuh, sepenuh nya berhadap-hadapan dengan siluman bersurai putih itu. "Mengapa?" tanyanya mencoba mencari alasan dibalik larangan tak berdasar itu.


"Pria itu entah mengapa memiliki aura jahat, aku benci mengatakannya tetapi—" Gin menarik napasnya sebelum melanjutkan. Menatap tepat bola mata hitam milik Chiharu, "auranya hampir sama denganku, jangan mendekatinya lagi! Berbahaya untukmu."


Chiharu terkekeh sinis, merasa lucu atas apa yang dikatakan Gin. Berbahaya katanya, bukankah dirinya jauh lebih berbahaya. "Aku tak melihat aura apapun seperti yang kau katakan," kilah Chiharu keras kepala, ia tetap menjaga nada suaranya agar tidak berteriak. "Bukankah kau jauh lebih berbahaya? Pria itu seorang manusia, tidak membahayakan."


Gadis ini selalu berhasil membuatnya kesal setengah mati, berhasil menimbulkan perasaan marah dalam hatinya—ketika dimana ia selalu berhasil menjaga emosinya tetap stabil. Gadis ini selalu sukses membuat emosinya melonjak naik, "Terserah kau sajalah!" pria itu menghempaskan jemari Chiharu, mengeluarkan sebuah batu dari saku pakaiannya. Gerbang menuju pintu dunia bawah berisi siluman terbuka, Gin masuk kedalam sana. Meninggalkan Chiharu yang terlihat menyedihkan dan sendirian.

__ADS_1


***


Keesokan paginya, peria dengan bola mata gelap dan surai hitam itu benar-benar datang. Berjalan dengan ceria memasuki kuil tanpa beban, melihat Chiharu yang tengah membersihkan kuil seorang diri. Perasaan pria itu semakin senang ketika pria kemarin tidak terlihat batang hidungnya, ia mengenggam erat bebungaan wangi untuk diberikan pada gadis itu.


"Hei, aku datang untuk berdoa." tangannya terulur menyentuh pundak Chiharu, membuat gadis itu menoleh ikut tersenyum tertular akibat Zhen. "Aku penasaran apa Dewa akan menerima doaku jika membawa bunga?" tanyanya dengan jenaka.


Gadis itu terkekeh dengan manis, perasaan bahagia menyelip disana—perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. "Mungkin saja, tapi lebih baik kau membawakan makanan manis karena aku menyukainya." balas Chiharu membuat suasana itu mencair ketika tawa keduanya terurai.


Mempersilahkan pria itu untuk memasuki kuil, menyambut dengan ramah dan menghidangkan secangkir teh hijau. Mengepulkan asapnya, dan menguarkan wangi memanjakan indra penciuman. Disesapnya perlahan teh itu, merasa senang ketika cairan hijau itu memenuhi rongga mulut. Terasa wangi dan nikmat, "sebenarnya aku kemari dengan memiliki tujuan."


Chiharu terhenti meminum tehnya, ia menaruhnya perlahan dan memusatkan fokus pada pria dihadapannya. Penyelamat dirinya ketika kecil meski Chiharu tak terlalu mengingat bagaimana sosok Zhen kecil, ia hanya mengingat Tuan Qi dengan darah berceceran diwajahnya. Namun dalam ingatannya, gadis itu begitu yakin bahwa Zhen adalah orang yang baik—bagaimana bisa Gin mengatakan bahwa pria ini berbahaya.


Mengernyit sedikit ketika mendengar pertanyaan itu, Chiharu membalas. "Terlepas dari aku tertarik atau tidak, memang apa hubungannya denganmu ketika aku bekerja di Istana?"


Zhen tersenyum malu-malu, ia mengusap tengkuknya gugup. "Aku adalah salah satu seorang pimpinan pengawal dikerajaan, jadi senang rasanya jika kita bisa berdekatan terus seperti ini." tangan-tangan besar pria itu terulur menangkup jemari Chiaharu yang terasa kecil.


Mendengar Kerajaan pikiran Chiharu langsung terfokus pada perdagangan manusia yang baru terjadi padanya akhir-akhir ini, sejujurnya ia sudah menyerah karena dalang dibalik ini pun adalah Kaisar. Pria paling berkuasa dinegara ini, tak peduli usaha apapun yang dilakukannya—pada akhirnya ia pasti akan melakukan kudeta juga. Dan Chiharu sesungguhnya tak ingin terlibat semakin jauh setelah ia dijebak kemarin, lalu sebenarnya malam berdarah itu tak lain adalah buah cikal bakal dari tingkahnya sendiri yang bersikukuh untuk membersihkannya.


"Bagaimana?" tanya pria itu lagi, membuyarkan lamunan panjang Chiharu yang tak terbatas.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum tipis, "beri aku waktu untuk memikirkannya." ia menarik jemarinya, melepaskan diri dari pegangan tangan pria itu karena merasa tak nyaman.


Sinar kuning melingkar pada ujung kelingkingnya, terhubung pada sesuatu dan terbentang panjang hingga tak tahu ujungnya dimana. Pikirannya dari semalam tak bisa terlepas dari siluman bersurai putih itu, pun tak lupa perasaan bersalah ikut menyelip diantaranya. Menganggu tidur nyenyak Chiharu, hingga sampai detik ini dirinya terus bertanya-tanya dimana keberadaan Gin.


Rasa-rasanya mungkin Chiharu sudah sedikit berlebihan akan sikapnya, mau bagaimanapun tingkah mahluk itu tak dapat dipungkiri bahwa ia telah menyelamatkan dirinya. Meski Chiharu tak berani mengingat bagaimana Gin menyelamatkannya, mengingat kata-kata terakhir Gin yang mengatakan bahwa pria dihadapannya ini berbahaya.


"Zhen," panggil Chiharu membuat pria itu memfokuskan bola matanya, "Lucu tidak jika aku menebakmu sebagai seorang Kaisar?" setelah mengucapkan itu, gadis itu menatap pria dihadapannya. Memperhatikan perubahan ekspresi apapun yang tertera diwajahnya.


Zhen terkekeh geli mendengar pertanyaan Chiharu, "mana mungkin aku seorang Kaisar," nadanya begitu ceria hingga sulit membedakan kebenaran diantaranya "aku kan hanya bocah berandalan, bagaimana mungkin menjadi seorang Kaisar. Kau ini lucu juga!"


Mau tak mau Chiharu ikut terkekeh, mencairkan suasana canggung yang ia buat. Menyesap kembali tehnya sembari lagi-lagi melirik segel Dewa dijemarinya, benar kan tak mungkin Zhen memiliki niat jahat—apalagi ia seperti anak anjing yang polos. Begitu lucu, dan seperti tidak memiliki suatu pikiran jahat. Namun setelah memikirkan hal itu Chiharu sendiri tidak merasa yakin terhadap pikirannya.


"Mengapa bertanya seperti itu?"


Chiharu kembali menoleh, ia menggeleng lalu menyungginkan senyum paling manis. "Tidak, itu hanya pikiran bodoh yang terlintas."


Namun sejujurnya, perasaan buruk itu tidak pernah salah.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2