Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 4 Keinginan Terpendam


__ADS_3

"tersesat ya, bocah?!" anak laki-laki yang tua beberapa tahun dari Chiharu itu mencoba mengajaknya berbicara, bola mata segelap permata malam itu sedikitnya mencuri perhatian bocah lelaki itu.


Chiharu menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak menumpahkan air matanya, ia ketakutan setengah mati. Tubuhnya gemetaran ketika beberapa orang lewat kadan melihatnya dengan tatapan yang berbeda-beda, bahkan ketika ada bocah lelaki dihadapannya ketakutan akan kehilangan sosok Tuan Qi kian tak menghilang juga.


Bocah lelaki itu sepertinya sadar, bahwa Chiharu sangat ketakutan. Air mata terlihat menggenang dipelupuk matanya, pipi tembam beserta hidungnya terlihat semakin memerah. "Mengapa kau menangis sih? Dasar cengeng!"


"A-aku tidak cengeng." suara Chiharu sedikit naik, menunjukan bahwa dirinya tidak merasa takut ataupun khawatir.


Bocah kecil itu menarik pergelangan kecil Chiharu, mengajaknya melewati gang-gang kecil agar terhindar dari keramaian. "Aku sudah lama berada disini, jadi aku tau jalan pintas. Jangan takut!" bujuk bocah itu, mencoba merayu Chiharu agar mengikutinya.


Gadis kecil itu mencoba percaya, ia tanpa melawan mengikuti anak lelaki yang baru beberapa saat ditemuinya, mengenggam tangan yang entah mengapa lebih kasar dari Chiharu. "Namaku Zhen, umurku tiga belas tahun. Aku sudah lebih dewasa darimu, jadi kamu tak perlu takut terhadapku."


Bocah itu terus berceloteh, membuat Chiharu merasa tidak terlalu takut lagi. "Siapa namamu?"


Chiharu menatap bola mata berwarna hazel itu, kecokelatan bola matanya saat ditimpa mata hari benar-benar indah. Bersinar keemasan ketika ditimpa matahari, rambut hitam senada dengan miliknya melambai-lambai berhembus angin. Genggaman lembut tangan bocah itu, mau tak mau membuat Chiharu mengakui bahwa ia merasa nyaman.


"Namaku Chiharu, berumur enam tahun. Aku sangat menyukai Tuan Qi, tuan Qi sangat tampan." sahut Chiharu ketika setiap harinya delapan puluh persen kepala Chiharu berisi tentang Tuan Qi.


Bocah bernama Zhen itu mengernyit bingung, "Tuan Qi?" cicitnya tak mengerti.


"Tuan Qi itu penyelamatku, ia bisa segalanya. Bisa memasak, meracik obat, sangat pintar. Tuan Qi benar-benar luar biasa, aku ingin menjadi sepertinya." celotehnya tak dapat berhenti ketika membahas Tuan Qi.


Dan pembicaraan mereka terintrupsi ketika pria bersurai cokelat menghadang langkah-langkah mereka berdua, tongkatnya ia genggam dengan kuat menahan tarikan napas yang berlebihan karena kelelahan. Napasnya terasa berat ketika mengejar langkah-langkah Chiharu.


Binaran Chiharu kembali muncul dalam bola mata hitamnya, tanpa memikirkan apapun gadis kecil itu melepaskan bocah lelaki yang menggenggam tangannya. Berlari untuk memeluk Tuan Qi, pria itu benar-benar menjemputnya, mencarinya, dan tak membuangnya. Chiharu menenggelamkan tubuhnya pada rengkuhan Tuan Qi yang terduduk letih, memeluk erat gadis kecil itu dan mengucap kepalanya lembut.


Chiharu melepaskan pelukannya, dan terkejut ketika menatap genangan darah mengalir dari wajah Tuan Qi. Tangannya gemetar ketika mencoba menyentuh luka Tuan Qi, tangisannya luruh ketika perasaan bersalah yang kental memasuki kalbu bocah itu. "Tu-tuan anda berdarah, ba-bagaimana bisa?"

__ADS_1


"A-apakah ini salahku, Tuan?" bibirnya bergetar ketika jemari kecil itu merasakan noda darah, ia tidak menangis ketika tersesat. Namun, tangisnya pecah ketika Tuan Qi terluka dan darah itu mengalir merembes hingga menyentuh kain penutup netranya.


Pria itu tersenyum, dalam senyumnya tersirat sebuah kelegaan, ketulusan, dan luapan emosi bahagia lainnya ketika Chiharu dapat berhasil ia temukan. Kemudian tatapannya terarah pada bocah lelaki disebrang sana, tengah tersenyum dan ikut merasakan kelegaan ketika gadis kecil yang ditemukan olehnya dapat berjumpa lagi dengan keluarganya.


Tuan Qi berdiri dari duduknya, ia mendekati bocah lelaki yang telah menjaga Chiharu. "Aku sungguh berterimakasih padamu, tidak tahu harus membalasmu dengan apa, anak muda." ungkapnya tulus, disertai dengan senyuman hangat.


Bocah lelaki itu menggeleng, "Tidak tuan, aku tidak melakukan apapun. Andalah yang menemukannya, kalau begitu aku permisi."


Tuan Qi mencegahnya, ia mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya. Giok hijau yang berkilauan kini berada digenggamannya, kilaunya membuat siapapun menyadari bahwa batu itu sangat mahal dan bernilai mahal. Tuan Qi mengulurkan tangannya untuk memberikan batu tersebut pada bocah itu.


Zhen menggeleng dengan lugas, ia mana berani menerima batu yang terlihat begitu berharga tersebut. "Tidak terimakasih tuan, sepertinya sangat berlebihan untuku."


Tuan Qi sepertinya enggan untuk dibantah, ia menarik lengan kecil itu. Menyampirkan batu itu dibelahan tangannya agar tak dapat ditolak, "apa yang kau khawatirkan, anak baik? Ini hanya sebuah batu. Kuharap ini sedikit membantumu."


Dan perpisahan mereka pun disertai ucapan terimakasih dari kedua belah pihak, selama perjalanan Tuan Qi tak lagi melepas genggaman pada tangan Chiharu pun tak berbicara apapun. Mereka hanya terdiam, hingga menjelang sore.


Tuan Qi sedikit gelisah bahwa mereka tidak dapat pulang hari ini karena matahari yang hampir terbenam memancarkan sinar oranye berwarna hangat keseluruh penjuru kota, mungkin malam ini mereka berdua memang harus menginap.


"Chiharu, aku khawatir mungkin kita harus menginap." Tuan Qi berucap lembut, ia mengusap puncuk kepala gadis kecil itu dengan tangannya yang bebas.


Gadis itu menatap Tuan Qi disampingnya, "Aku akan pergi kemanapun Tuan pergi." sahut Chiharu dengan nada polosnya, tatapan bulatnya membuat Tuan Qi terseyum.


Mereka berdua mencari penginapan terdekat, memesan satu kamar dan melepas penat ketika sampai. "Tuan, mari obati dahulu lukamu." sahut Chiharu dengan sopan, ia mengeluarkan obat-obatan yang sengaja dibeli untuk mengobati Tuan Qi dari kantong belanja.


Ketika Tuan Qi tidak merespon, Chiharu memberanikan diri untuk meyentuh penutup mata Tuannya. Belum sampai Chiharu menyentuhnya, Tuan Qi menangkap pergelangan mungil Chiharu. "Aku lakukan sendiri." sebuah memori terlintas ketika Chiharu mengatakan bahwa dirinya sama sekali buka manusia.


Chiharu yang menyadari perubahan pada raut Tuan Qi terasa gelilsah, perasaan bersalah kembali menusuknya. Apakah Tuan Qi membencinya karena ia telah menghilang? Apa luka itu disebabkan ketika mencarinya? Apa Tuan Qi akan membuangnya ketika Chiharu tak lagi dibutuhkan? Pertanyaan-pertanyaan kejam itu membuat Chiharu memundurkan tubuhnya.

__ADS_1


Takut-takut bahwa Tuan Qi akan semakin membencinya, ia menyerahkan beberapa obat herbal ditangannya. Dedaunan itu segera diambil oleh Tuan Qi, meski begitu rasa-rasanya ia masih enggan untuk melepas penutup matanya. "Apa aku benar-benar menakutkan untukmu?" suara kesedihan itu mau tak mau menganggu pendengaran Chiharu.


"Apa maksud mu, Tuan?"


Tuan Qi tersenyum sedih, "Apakah kedua mataku menakutimu, Chiharu? Kau bilang aku sangat berbeda dari manusia ketika melihat mataku, apakah mataku sangat menakutimu?"


Ingatan Chiharu menjelajah waktu, percakapan mereka ditaman belakang tiga bulan lalu terlintas di ingatannya. "Kedua mata anda sangat indah, Tuan. Seperti langit biru yang terang dan bersinar." kedua bola mata gelap Chiharu menyorot penuh Tuan Qi, sedikit tak mengerti mengapa Tuan Qi begitu bersedih.


"Kedua bola mata Tuan sangatlah indah, keseluruhan diri Tuan sangat indah. Bahkan membuat keajaiban hal mustahil sekalipun bukan hal yang sulit untukmu, aku sangat ingin menjadi seperti Tuan." suara Chiharu terdengan bersemangat saat menceritakan seluruh keinginannya.


Ia benar-benar ingin menjadi Tuan Qi, "Tuan benar-benar indah, layaknya seorang dewa yang diturunkan untukku. Tuan, dirimu tak akan pernah bisa dibandingkan dengan manusia apapun." suara anak kecil Chiharu terdengar begitu bijak, ia benar-benar lebih tua baik dari umurnya maupun anak-anak seumurnya.


"Tuan kumohon jangan tinggalkan aku, a-aku akan menjadi anak baik." suara cicitan Chiharu terdengar begitu menyakitkan, dada gadis kecil itu merasa sesak jika membayangkan Tuan Qi sampai membuangnya. Tangisannya mulai terasa menyakitkan untuk didengar, Chiharu gadis itu kembali menangis.


(ps: Anggap aja Chiharu :3)



Tuan Qi melepaskan penutup matanya, ia mencoba merengkuh Chiharu dalam pelukannya. Hari ini rasasnya begitu panjang, lama gadis kecil itu menangis dan Tuan bersurai putih itu bersabar hingga Chiharu menghentikan tangisannya. Lalu setelah itu, ia membiarkan Chiharu mengobati dahinya yang terluka.


"Bagaimana dirimu bisa terluka tuan?" tanya gadis kecil itu. Dengan telaten ia membersihkan luka tersebut, lalu menempelkan dedaunan itu dengan perlahan dan tersenyum puas akan hasil pembelajarannya selama delapan bulan ini bersama Tuan Qi.


Tuan Qi ikut tersenyum bangga, "Aku tidak apa-apa, bukan luka yang serius." sahutnya letih, padahal ia hanya mengeluarkan kekuatannya yang tidak seberapa. Namun entah mengapa, itu membuatnya begitu kelelahan. Ia berpamitan pada Chiharu untuk bersistirahat terlebih dahulu karena merasa lelah, dan Chiharu mengangguk dengan semangat menyelimuti Tuan Qi.


Menungguinya dengan setia, sampai Tuan Qi tertidur lelap.


To Be Continued...

__ADS_1


Enjoy Reading...


__ADS_2