Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 6 Mengorbankan dan Kehilangan


__ADS_3

Mulai hari itu, Chiharu mulai memperhatikan bahwa dalam seminggu orang-orang yang berbeda datang dan melakukan permohonan. Sepertinya dalam empat tahun terakhir ia tidak begitu memperhatikan kegiatan Tuan Qi dan sibuk berada diluar rumah untuk mempelajari tanaman obat, ia pun tak pernah menangkap orang-orang yang berdoa sehingga minggu kemarin adalah hal yang pertama kali ia saksikan.


Dan saat mengetahui bahwa Tuan Qi seorang Dewa membuat Chiharu sedikit menjaga jarak, menghormati dan tak pernah berulah. Bahkan ketika Tuan Qi tak mengatakannya, Chiharu selalu menebak-nebak perasaan Tuannya, takut bahwa ia menyinggung seorang Dewa.


Lalu setiap malam sebelum matahari terbit, gadis itu selalu berendam dibawah guyuran air terjun. Rasa-rasanya waktu untuk mempelajari obat-obatan semakin berkurang, membuat Chiharu sedikit merasa sedih. Tuan Qi kembali menulis permohonan yang datang dalam buku bersampul biru itu, menyadari bahwa Chiharu semenjak mengatakan bahwa ia seorang Dewa tak pernah melepaskan kedua bola mata kelamnya itu.


"Apa kau butuh sesuatu, Chiharu?" tanya Tuan Qi lembut, memberikan seluruh perhatian pada Chiharu yang terus menatapnya.


Gadis itu terkejut bukan main, tak menyangka bahwa kehadirannya dapat disadari oleh Tuan Qi. "Ma-maaf  tuan jika aku menganggu. A-aku akan pergi." lalu gadis itu menghilang, menyisakan kehampaan.


Tuan Qi menghela napas lelah, apakah mengatakan bahwa dirinya seorang Dewa adalah keputusan yang salah? Lagipula Tuan Qi bukanlah seorang Dewa yang memiliki kemampuan yang kuat, ia hanya seorang dewa bumi. Tugasnya hanya melindungi ekosistem hutan, melindungi rantai makanan, lalu memberikan berkat bumi agar panen subur.


Tatapannya terarah pada langit biru yang bersih, tanpa ternoda awan. Ia menyentuh penutup matanya, merasakan kesepian yang mendalam dan tak berani untuk melangkah. Mengasingkan diri sampai sekarang, tanpa pernah bertemu dengan para Dewa lainnya. Sudah beribu-ribu tahun lamanya, sampai ia sendiri telah melupakan jati dirinya.


***


Malam musim gugur yang mulai mendingin telah kembali menusuk-nusuk kulit Chiharu, gadis itu kini kembali memegang pedang kayu pendek. Berpeluh keringat ketika Tuan Qi mulai melatihnya, ternyata Tuan Qi sama sekali tak meringankan latihan dengan embel-embel bahwa Chiharu seorang anak kecil dengan tambahan seorang perempuan.


Semenjak awal musim gugur, Chiharu sudah mulai kembali berlatih berpedang meski sebelumnya ia disuruh berendam selama tigga minggu tanpa menenyentuh pedang. Lalu kini latihan fisik diberikan pada Chiharu agar terbiasa dan memliki stamina yang besar, tarikan napas berkali-kali dilakukan Chiharu untuk meraup oksigen. Mengisi paru-parunya yang terasa kering.


Tanpa merasa kasihan, Tuan Qi kembali memerintahkan gadis itu untuk berlari mengitari kuil kembali. Mungkin ini yang sudah kelima kalinya Chiharu berlari, memutari, dan terhenti ketika ia kehabisan napas. Ia melirik Tuan Qi, pria bersurai putih itu dengan santai memainkan guzengnya, terkadang ia menyeruput teh untuk menghilangkan haus.


Sungguh berbeda terbalik dengan Chiharu, pakaiannya kini sudah basah oleh peluh keringat, malam-malam berikutnya terus berulang ketika Chiharu mempelajari bela diri, dan pada pagi-paginya ia akan berendam dibawah guyuran air terjun. Hingga rasa-rasanya ia perlahan-lahan merasa terbiasa, baik dengan latihan fisik Tuan Qi maupun guyran air terjun yang kencang.

__ADS_1


Sedikit sulit dipercaya ketika Chiharu mampu melewatinya tanpa demam ataupun sakit flu...


***


Pada siang hari ini, seseorang kembali datang untuk memohon pada kuil yang Chiharu tempati. Perbedannya terletak ketika Tuan Qi mengajak Chiharu untuk melihat proses sedari awal, menulis permohonan, hingga memberikan proses berkat. Dengan perasaan harap-harap cemas Chiharu bertanya, "Tuan, apa tidak apa jika aku melihat pekerjaan seorang Dewa?


"Pekerjaan Dewa tidak sesulit dan serahasia itu, lagipula aku hanya bisa memberikan berkatku." Tuan Qi membalas kemudian setelah menyelesaika rutinitas Dewanya, pria itu bangkit dari duduknya. "Bukankah kau akan pergi ke hutan, Chiharu? Ayo mari selesaikan belajarmu."


Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat, berlari-lari kecil untuk membawa tas obat-obatan yang biasa ia pakai untuk mengumpulkan tanaman. Entah mengapa, Chiharu tak bisa menahan dirinya yang begitu antusias terhadap klasifikasi tanaman obat. Terus mencari dan tak pernah merasa puas, setelah Tuan Qi tanaman adalah hal yang selalu ia sukai.


Kini mereka berdua mencoba berjalan lebih dalam lagi, mencoba menaiki kawasan gunung yang lebih tinggi dan curam untuk mencari tanaman obat langka yang baru. Karena ekosistem alam yang tak pernah tersentuh manusia adalah ekosistem terbaik dan tumbuh dengan seleksi alam, tanpa rusak melalui proses nya sendiri.


Lalu Tuan Qi berhenti sejenak, ia menghampiri salah satu bunga yang paling mencolok disana. Berwarna merah tua layaknya darah namun memiliki khasiat yang paling banyak. "Kau tau bunga apa ini?" tanya Tuan Qi sembari melihat Chiharu disampingnya.


Gadis kecil itu menjelaskan dengan lancar isi buku yang biasanya selalu menjadi makanan sehari-hari Chiharu, ia sudah berkali-kali membaca buku yang ditulis sendiri oleh jemari Tuan Qi. Begitu indah dan rapih, mana mungkin Chiharu tidak membaca buku yang dibuat begitu khusus ini untuknya.


Penjelasan lengkap Chiharu membuat Tuan Qi mau tak mau tersenyum, ia tahu bahwa Chiharu adalah seorang anak yang cerdas. Pujian kecil darinya akan sangat membuat gadis itu bahagia, "Benar, pintar sekali. Namun sebenarnya ada satu khasiat lagi yang tak tertulis dibuku,"


Tuan Qi memetik bunga Hong Hua, menyampirkannya pada jalinan rambut Chiharu. Sangat kontras ketika merah Hong Hua yang terang disandingkan dengan rambut hitam Chiharu yang kelam, "Bunga Hong Hua sangat cantik untuk seorang perempuan."


Chiharu terpana, menatap dalam-dalam Tuan Qi yang kini melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak yang lebih tinggi. Angin dapat berhembus semakin kencang ketika mereka berdua berhasil melewati rimbunan pohon, surai putih itu berterbangan dengan halus. Layaknya benang-benang sutra yang berkilau ketika tertimpa angin, Tuan Qi sungguh benar-benar indah.


Hanya saja terlihat begitu rapuh, sepi, dan dikelilingi kesendirian. Chiharu entah sejak kapan selalu mengikuti pundak itu, pundak yang menopang kehidupannya. Tatapan gadis kecil itu menjadi lebih sendu, 'Apakah aku bisa mengejarmu Tuan?' tanya Chiharu pada batinnya sendiri.

__ADS_1


Rasanya kerja keras yang selama ini ia lakukan pun belum cukup untuk berdiri disamping Tuan Qi, melangkah lebih dekat pada pujaan gadia kecil itu, penyelamatnya, dan keseluruhan hidup Chiharu. "Kemarikan tanganmu!" suara itu selalu terdengar begitu lembut, tak pernah berteriak ataupun memaki.


Chiharu menurut, ia mendekat pada Tuan Qi mengulurkan tangannya yang mungil dan tak seberapa ketika Tuan Qi menangkupnya. Meski kedua bola matanya tertutup oleh kain, Chiharu entah bagaimana dapat merasakan kesedihan pria bersurai putih itu. Lalu kunang-kunang berwarna biru tiba-tiba saja muncul membuat suasana disana terasa lebih hangat dan hangat, setiap waktunya bertambah banyak sehingga Chiharu terpana.


Hutan yang sedikit gelap itu perlahan-lahan menjadi terang, gadis itu kerap mengulurkan tangannya mencoba menyentuh cahaya-cahaya biru disana. Berlari-lari untuk menggapainya, "Chiharu," panggilan dari Tuan Qi berhasil membuat gadis itu terhenti.


Tuan Qi ikut tersenyum, senyum yang sangat lembut. Bahkan entah mengapa lebih lembut dari biasanya, "Ketika aku menghilang nanti janganlah bersedih, aku tidak pergi." suara Tuan Qi kini entah mengapa terdengar begitu bergetar.


"Aku tidak pergi, melainkan hanya kembali ke tanah. Karena aku adalah seorang Dewa Bumi, ketika aku tidak berada di sisimu lagi anggaplah bahwa aku sedang mengerjakan pekerjaan Dewa ku." setelah Tuan Qi berucap, kunang-kunang berwarna biru itu perlahan-lahan mendatangi tubuh Chiharu. Memasuki relung tubuh dan jiwanya, menyerap hingga tulang belulangnya.


Tubuh Chiharu terasa penuh oleh aliran energi yang tak dapat ia rasakan, saking penuhnya ia merasa sesuatu akan tumpah dari dirinya. Namun perasaan tak nyaman itu Chiharu tahan, ia tak terlalu mempedulikannya. Yang ia pedulikan hanyalah Tuan Qi dengan kata-katanya yang terdengar aneh dan begitu menyedihkan.


"Tuan Qi akan kemana? Bukankah Tuan sudah berjanji tak akan meninggalkanku? Apa aku telah melakukan kesalahan? Tidak, tunggu Tuan!" tangan kecil Chiharu mencoba meraih tubuh Tuan Qi yang kian perlahan jauh dari pandangannya.


Sinar ditubuh Tuan Qi yang biasa Chiharu sukai kini menelan Tuannya, membawanya pergi hingga tak terlihat dari pandangan Chiharu. "Tidak, tunggu. Jangan pergi Tuan, aku-aku akan berbuat baik. Tak akan nakal. TUAN!!" jeritan Chiharu mungkin dapat terdengar keseluruh penjuru hutan.


Ia masih tak dapat mengerti apa yang menimpanya secara tiba-tiba, Chiharu juga tak dapat menyangka bahwa Tuan Qi yang terlihat begitu kokoh secara tiba-tiba lenyap dihadapannya. Tangisan gadis itu terdengar begitu frustasi, berteriak meski tak membuahkan hasil. Terus memanggil nama Tuan Qi, tak menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan sumber kehidupannya.


Dan pada malam itu, seluruh Dewa dan Dewi sepertinya telah menyadari bahwa mereka telah kehilangan sesosok Dewa Bumi yang selama berpuluh-puluh tahun menyembunyikan dirinya. Hutan pun ikut menggelap, malam ikut tergantikan dan kesedihan Chiharu pun tak kunjung surut.


Dan gadis itu terus berada disitu...


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2