Gadis Kuil

Gadis Kuil
32. Bulan Purnama Malam Itu


__ADS_3

"Sumpah itu melibatkan darah, dimana ketika salah satu dari pemilik sumpah itu mati. Maka yang satu lagi pun akan mengalami hal yang sama, benar keduanya akan tewas." dan perkataan Rao Shu benar-benar membuat kemarahan Chiharu kembali muncul ke permukaan.


Kepalan tangannya semakin mengeras ketika tetua sialan itu memang sangat ingin Gin melihat siluman itu meninggalkan dunia ini dan mengalami kematian, rahanya mengeras dan giginya bergemertak menahan amarah yang terpancar dari manusia rapuh dan lemah itu. "Bagaimana anda bisa tega melakukan itu?!" geramnya, terasa sulit menahan emosi kala itu.


Terasa lucu ketika Chiharu membela siluman yang baru dikenalnya secara mati-matian saat ini, ingatannya mau tak mau terlempar ketika ia terikat rantai seperti Gin sekarang. Rasanya menyakitkan ketika Gin mengalami hal yang sama, dan kala itu tidak ada orang lain yang menyelamatkannya. Tidak ada Rao Shu yang sangat menginginkan kematian Gin, tidak ada Zhen teman masa kecil yang baru ditemuinya akhir-akhir ini, dan bukan juha Tuan Qi.


Orang yang menyelamatkannya saat itu ialah Gin, bagaimana bisa ia tega ketika mahluk itu begitu membutuhkan pertolongan Chiharu memalingkan wajahnya tidak tahu. Gadis itu menatap para tetua disana dengan tajam, tangisnya hampir membuncah karena menahan amarah. Rasa frustasi tak bisa ia enyahkan, mengapa ini semua terasa begitu sulit. Apa karena Chiharu hanyalah manusia lemah yang diberi sedikit kekuatan oleh Tuan Qi?


"Aku tidak akan pernah melakukan sumpah darah itu!" intonasi suaranya naik beberapa tangga, sedikit berteriak mengeluarkan emosinya.


"Mengapa tidak? Toh kau akan hidup sampai maut menjemput dengan–"


"AKU," suara Chiharu tak bisa terkontrol lagi "TAK AKAN PERNAH MELAKUKANNYA!" berteriak marah tidak peduli pada apa yang tengah dihadapinya.


Jentikan jari terdengar dari jemari Rao Shu, sedetik kemudian tubuh gadis mungil itu luruh ke arah tanah. Tertarik ke bawah seolah gravitasi menginginkan tubuhnya, menghancurkan sendinya sehingga ia berteriak kesakitan. Tulang-tulangnya berteriak, menahan pondasi tubuh gadis itu agar tidak hancur.


"Gadis manusia lemah yang tidak tau menempatkan dirinya sendiri, memangnya siapa dirimu dapat melakukan tawar menawar denganku." suara Rao Shu terdengar tajam, ruangan pun kerap bergetar menahan amarah Rao Shu.


Gadis itu telah benar-benar berhasil membuatnya marah, mungkin jika Rao Shu tak dapat mengendalikan dirinya sudah dapat dipastikan gadis itu kini sudah lenyap. Tidak bersisa, dan tak menghilangkan bekas sama sekali. "A–aku akan melakukannya."


Dan getaran itu terhenti, "aku akan melakukan sumpah darah itu, jadi kumohon sebelum aku mati. Tolong jangan menganggunya." tangis itu pecah, dari dalam lubuk hatinya Chiharu tentu menyalahkan dirinya. Sialnya Gin bertemu manusia lemah seperti dirinya, manusia yang bahkan tak bisa memberinya sebuah kebebasan.


***

__ADS_1


Tubuh lemah Gin berbaring tak berdaya, disebelahnya Chiharu pun berbaring dengan tangis yang membasahi wajahnya. Ritual sumpah darah itu pun tidak ditunda-tunda oleh Rao Shu dan segera dilakukan saat itu juga setelah Chiharu menyetujuinya, rasanya sungguh perih ketika Chiharu menoleh kesamping. Menatap wajah Gin yang terpejam dengan tenang tanpa terganggu, padahal pria itu selalu saja berteriak ingin membunuhnya.


Bagaimana jika Gin terbangun nanti, menyadari bahwa umurnya hanya sepanjang manusia biasa. Bagaimana Chiharu menjelaskannya, atau bahkan apakah ia mampu mengatakannya. Dari sanubarinya Chiharu merasa perasaan bersalah yang menusuk-nusuk hatinya, tidak tertahankan hingga ia hanya bisa menggumamkan kata maaf. Maaf karena membuat mahluk itu terperangkap dan harus hidup bersamanya, maaf karena merenggut kebebasannya, dan maaf karena tidak bisa melindunginya.


Sumpah terlarang itu dimulai ketika sebuah belati disampirkan diatas kedua tangan mereka berdua, bersiap menggores lengan-lengan mereka untuk memulai proses sumpah darah itu. Chiharu meringis ketika belati itu menggores dan mengambil darahnya, pelayan yang mengambil darahnya memberikan benda itu pada Rao Shu. Tetua itu kembali membaca mantra yang tak bisa Chiharu mengerti, sinar memenuhi tempat itu ketika darah keduanya berterbangan dilangit.


Menyatu lalu memasuki tubuh mereka berdua, tertanam disana sampai keduanya menjemput ajal. Setidaknya kini mereka berdua dapat hidup dengan tenang sampai umur Chiharu menua, gadis itu akan membebaskan Gin. Membiarkan pria itu pergi kemanapun ia suka, karena gadis itu dapat membayangkan terjebak merasa dirinya pasti sangat memuakkan bagi Gin.


Setelah ritual itu selesai, Chiharu membawa Gin ke kediaman Tuan Zhi. Merawat dengan baik pria itu dan meracik obat mujarab agar luka-luka tebasan itu tertutup, bukan hal yang sulit karena setelah tiga hari Chiharu dapat bernapas lega karena luka Gin memulih dengan baik. Pria itu terlihat lebih baik dari hari ke hari, membuat sedikit beban gadis itu terangkat sedikit.


Tuan Zhi melihatnya dengan pandangan iba, namun apa daya ia tak bisa terlibat dalam masalah ini. Bahkan gadis itu pun mengatakan bahwa agar dirinya tidak terlibat, Chiharu tidak tega jika ia harus melibatkan Tuan Zhi yang telah berbaik hati menampungnya. Namun entah mengapa perasaan bersalah berhasil menyelip diantara hati sang Dewa Kebijaksanaan, bertanya-tanya apakah ia telah melakukan hal yang benar?


Lalu pada malam itu Chiharu memutuskan untuk kembali ke kuil milik peninggalan Tuan Qi, ia tidak tahu kapan Gin akan membuka kedua matanya. Dan gadis itu merasa tidak nyaman jika ia terus berada disini, terus merepotkan Tuan Zhi dan membuat pria itu khawatir terus merangsek masuk dalam pikiran Chiharu.


Tuan Zhi menggeleng perlahan, tersenyum pahit menatap gadis itu. "Setidaknya kau bisa meminta bantuan untuk hal seperti ini." Pria itu mengulurkan jemarinya, sinar kekuningan menyelimuti tubuh pria bersurai putih disana. Membuat Chiharu lebih ringan seolah pria itu dapat bergerak.


"Aku tidak tahu bahwa energi spritual bisa digunakan seperti ini." menyahut kagum Chiharu menyungginkan senyumnya, merasa begitu bodoh.


"Pergilah!" lalu gadis itu mengangguk semangat, menuntun tangan Gin dan melewati gerbang dunia langit untuk sampai pada Bumi dimana tempat mereka tinggal.


Karena Su sudah kembali, Gin dan Chiharu jadi berdua saja. Gadis itu menuntun Gin, mengenggam jemari pria itu melewati jalan setapak sebelum sampai pada kuil. Malam tidak terasa dingin malam itu sehingga rasanya Chiharu ingin sedikit lebih lama menikmati pemandangan disana, ia mendongak menatap bulan purnama penuh. Begitu bulat dan begitu bercahaya, seolah Dewi Bulan tengah menatapnya dengan iba.


Gadis itu merasa pedih ketika ingatannya memutar kembali akan apa yang telah terjadi, hendak menangis namun berusaha untuk bertahan. Tidak apa-apa, Chiharu akan menemukan cara agar ia melepaskan sumpah ini. Dirinya masih begitu muda sehingga waktu ia mati pun sepertinya masih lama, masih ada waktu untuk mencari tahu bagaimana sumpah ini terlepas.

__ADS_1


"Benar, tidak apa-apa." gumam Chiharu, mencoba menyemangati dirinya sendiri. Mengenggam pergelangan Gin lebih erat, lalu menghela napas lelah.


Jemari hangat Chiharu pada akhirnya berhasil menuntun Gin dengan selamat, memasuki kuil yang hangat dan tentu saja disambut dengan hangat pula oleh Fu dan Su. Merasa senang ketika mereka kembali dengan selamat, dan terasa sedikit khawatir karena Tuan Gin mereka belum juga sadar.


Dengan hati-hati Chiharu membaringkan tubuh itu, ia seharusnya segera pergi sekarang. Namun, gadis itu kini malah memperhatikan wajah yang tengah terlelap dalam damai. Tak tertahankan jemarinya terulur untuk mengelus surai-surai Gin yang berada pada wajahnya, mengusap lembut.


"Maaf, maafkan aku." suaranya bergetar ketika mengucapkan permintaan maaf itu, "Aku akan mencari cara, tenang saja." tangis tak bisa tertahan oleh Chiharu.


Ia mengusap air matanya pilu, menarik selimut untuk menyelimuti tubuh pria itu. Lalu menutup pintu dengan sangat perlahan, takut-takut bahwa pria itu akan terganggu oleh suara sekecil apapun. Tanpa gadis itu sadar, bahwa pria itu telah sadar sejak tiga hari yang lalu. Menyadari situasi yang terjadi hingga dirinya merasa bersalah pada Chiharu yang harus menanggung semuanya.


Pria itu terbangun, dengan posisi terduduk ia menyandarkan tubuhnya. Mengusap wajahnya frustasi ia melemparkan tatapan pada bulan yang bersinar terang, sepertinya ia telah melakukan keputusan yang salah dengan tidak melawan Dewa Perang malam itu. Sesungguhnya sedari awal itu adalah salahnya, menyadari bahwa kuil itu memiliki mata dan menyadari bahwa ada saksi disana.


Pria itu berharap ketika ia ditangkap, ia dapat bertemu lagi dengan Chiharu. Keputusan itulah yang membuat gadis itu harus menanggung semuanya, karena pedang itu mampu membuat regenerasinya cukup lama. Betapa egois dirinya membuat Chiharu berada dalam posisi sulit itu, namun ia tidak bisa berpisah dengan gadis itu. Ia tidak ingin.


Pria itu menghela napas ketika salah satu pelayan Chiharu menyadari bahwa dirinya telah sadar, "Keluarlah! aku tahu kau disana, Fu." dan tepat setelah itu mahluk setengah kelinci itu keluar dari tempat persembunyiannya.


"Aku tau bahwa anda telah sadar Tuan, namun bukan hakku untuk bertanya mengapa anda menyembunyikannya." pelayan itu menyahut dengan perlahan, seolah takut menyinggung tuannya. Tentu peraturan yang tidak tertulis, yang kuat menguasai yang lemah. Secara otomatis, Fu dan Su akan menghormati Gin.


Pria itu melirik mahluk setengah kelinci itu, "Aku pasti sudah gila." entah pada siapa Gin mengucapkannya, namun mampu membuat Fu kebingungan disana.


"Ya, Tuanku?"


"Aku pasti sudah gila karena berpikir menghabiskan sisa hidupku dengan gadis itu bukanlah hal yang buruk." setelah mengucapkannya, bulan entah mengapa bersinar semakin bulat. Memancarkan cahaya nya dengan kemilau kuning yang gemilang, menghantarkan rasa damai. Dewi Bulan. benar-benar sedang ceria malam itu.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2