Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 7 Sebuah Kesalahan


__ADS_3

Pada pertengahan musim gugur itu, hawa dingin mulai semakin mencekam. Tulang belulang pun tak akan tahan ketika menyentuh angin musim gugur yang membekukan, guguran dedaunan mulai memenuhi pijakan-pijakan hutan. Menyesakan tanah dengan warna merah dan cokelat. Hewan-hewan pun mulai bersembunyi untuk memulai tidur panjang, melewati musim dingin yang menyakitkan.


Chiharu membuka pintu kuil yang entah mengapa terasa lebih suram dan dingin, gelap dan tak berperasaan. Ini tak mudah ketika mahluk satu-satunya yang menjadi sumber hidup  gadis itu tiba-tiba menghilang, menyisakan kesakitan dan kesepian yang mendalam. Dada Chiharu kembali dipenuhi kesedihan, hingga rasanya sesak dan sulit akan bernapas.


'Mengapa aku harus kembali ditinggalkan?' benaknya bertanya penuh luka, anak berumur sepuluh tahun itu kembali dihempas oleh takdir yang kejam. Memaksanya dewasa, tanpa peduli bagaimana gadis itu dapat melewati hari-harinya.


Ketika pintu kuil dingin itu terbuka, Chiharu membulatkan mata tak percaya ketika seseorang berdiri disana. Membelakangi Chiharu, pakaiannya tampak terlihat terbuat dari sutra paling berkualitas hingga kemewahan terpancar darinya.


Menyadari kehadiran Chiharu sosok itu berbalik, bola mata sehitam kayu eboni itu hal pertama yang menarik perhatinannya. "Jadi kau yang telah melenyapkan Dewa Bumi," suaranya tampak tenang namun Chiharu dapat mendengar nada kesombongan dalam nada bicara pria itu.


Bola mata berwarna merah terang itu menatapnya sinis, tubuh besarnya seolah ikut menghardik Chiharu yang tak berdaya. "Aku tidak melenyapkannya." sahut Chiharu lemah, ia benar-benar tak memiliki tenaga lebih untuk meladeni situasi ini. Ditinggalkan oleh Tuan Qi merupakan pukulan besar terhadap hidupnya, bahkan ketika ia dibuang oleh keluarganya. Kehilangan Tuan Qi benar-benar membuat hidupnya terasa gelap dan hampa.


Chiharu terus berada dipuncak bukit itu selama tiga hari, terus menunggu dan menunggu. Dan hanya kekecewaan yang ia dapatkan karena Tuan Qi tidak kembali padanya, ia ingin membunuh dirinya sendiri. Lalu setiap Chiharu ingin melakukannya, wajah Tuan Qi selalu terbayang dalam benaknya. Tersenyum lembut dengan kejam dan membawanya pada memori ketika Tuan Qi memberikan kehidupan padanya, dan tanpa perasaan kini meninggalkannya sendirian.


"Tubuhmu penuh dengan energi Dewa Bumi, bagaimana mungkin aku percaya? Sudahlah, biar yang lain menilaimu. Ikut aku!" tubuh Chiharu melayang, ia memekik kaget ketika tubuhnya terlempar dari kuil. Terbang begitu tinggi mengikuti tubuh pria itu, pria dengan mata seterang matahari dan surai semerah api yang tengah menyala.


***


Pintu yang menghubungkan langit dan bumi itu tertutup, lalu tubuh kecil Chiharu terlempar dengan tidak mulus pada tempat asing itu. Membuat gadis kecil itu kebingungan, ketakutan, serta kesedihan yang masih tak dapat menghilang. Ketika berhasil mendapatkan kesadaran, Chiharu menyadari bahwa ia tak sendirian.


"Aku pikir seharusnya kau bawa pelenyap tuan Dewa Bumi, mengapa malah membawa anak kecil tak berdaya ini." ungkap salah satu Dewa disana, Dewa yang terlihat paling cantik disana menatap penuh ejekan kearah pria bermata merah terang yang membawa Chiharu.

__ADS_1


Dewa bermata merah terang itu mendecih tak suka, "urusi saja dirimu sendiri, Dewa malapetaka." sahutnya merasa tak suka.


Lalu keributan para dewa dewi itu terhenti ketika seseorang yang terlihat paling bijak disana datang, dengan pakaian kebesaran miliknya ia mulai menyisir pandangan dan terhenti ketika melihat anak kecil disana. Meringkuk dengan ketakutan dihadapan para dewa dan dewi disana.


"Sudahlah, tidakah kau melihat gadis kecil itu ketakutan." suaranya begitu bijak dan terdengar agung, membuat yang lainnya pun tak berani bersuara. Dewa agung itu berjalan mendekati Chiharu, ia terduduk mencoba menyejajarkan tubuhnya.


"Tuan anda tidak harus melakukan itu." keluh salah satu Dewa, hanya saja Dewa penuh kebijaksanaan itu tak menghiraukannya. 


Ia tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya, "Namaku Zhi, jangan takut gadis baik. Aku tidak akan menyakitimu." sahutnya pelan, khawatir akan membuat gadis kecil itu malah semakin takut.


Meski rasa takut belum pergi seutuhnya dari Chiharu, ia memberanikan diri untuk menyambut uluran tangan itu. "A-aku Chiharu, Tuan Zhi." ungkap gadis itu penuh ketakutan, "Sungguh, aku tak melenyapkan Tuan Qi. A-aku pun sangat sedih ketika Tuan Qi meninggalkan ku begitu saja." Chiharu mencoba menjelaskan dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.


Tuan Zhi mengangguk mengerti, ia menoleh untuk melihat para Dewa masih disana. Semuanya mengangguk setuju ketika Tuan Zhi meminta izin dari sudut matanya untuk menanyakan apa yang telah terjadi, Dewa Bumi Qi Yuan tiba-tiba saja menghilang dan tak dapat ditemukan tak peduli sekeras apapun mencarinya, sudah beratus-ratus tahun lamanya sehingga mereka dikejutkan dengan luapan energi yang begitu besar milik Dewa Bumi.


***


"Sebenarnya apa yang kau lakukan sebelum Tuan Qi menghilang?" sahut Tuan Zhi perlahan-lahan.


Lalu para mahluk-mahluk yang tak pernah Chiharu lihat berdatangan dengan nampan-nampan penuh makanan yang menggugah selera, ditaruh tepat dihadapan Chiharu untuk membuat gadis itu merasa nyaman. Ia sedikit terpana akan hewan mungil yang tak sampai setengah tubuhnya itu, Tuan Zhi duduk dihadapannya dan tersenyum memperhatikan.


Gadis itu terlihat masih mencoba memahami situasi yang tengah dialaminya, "Kami kepuncak gunung yang tinggi, Tuan Qi entah mengapa terlihat begitu rapuh, tak seperti biasanya. Lalu kunang-kunang biru muncul begitu banyak. Masuk ketubuhku, dan Tuan Qi lenyap Tuan Zhi. A-apa tuan Qi lenyap karena aku?" sahut Chiharu tak dapat menahan emosinya.

__ADS_1


Begitu terpukul hingga tak tahu harus melakukan apa, "Tuan  Qi lenyap tentu saja bukan karenamu, ia pasti melakukan hal itu karena memiliki alasan tersendiri. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kini tubuhmu penuh dengan energi Dewa Bumi, seperti wadah yang kosong dan air yang  di isi terlalu penuh lalu hampir meluap." Jelas Tuan Zhi memegang wajahnya sembari berpikir, menerka-nerka apa dibalik tragedi ini.


Ketika Dewa diciptakan, mereka diberikan tugas untuk melindungi dan menjaga agar sistem alam semesta berjalan semestinya. Dewa adalah mahluk yang abadi dan tak lekang oleh waktu, para dewa tak menua ataupun berubah. Mereka tetap sama sedari diciptakan, meski para Dewa diciptakan lebih istimewa daripada manusia namun tugas mereka untuk menjaga sistem tetap berjalan dengan semestinya pun bukan hal yang mudah.


"Sepertinya kau pun tahu bahwa Tuan Qi selama beratus-ratus tahun lamanya telah meninggalkan tugasnya sebagai Dewa Bumi." sahut Tuan Zhi merasa lelah, ia mengusap wajahnya penuh keletihan.


Chiharu menggeleng perlahan, "Tuan Qi tidak meninggalkan tugasnya, ia mendengarkan orang-orang berdoa yang datang kekuil kami. Memberikan berkatnya, lalu menulisnya dibuku permohonan." Chiharu menjelaskan dengan teliti keseharian Tuan Qi.


Tuan Zhi kembali memusatkan penglihatannya pada gadis itu, "Nak, tugas seorang Dewa tidak sesederhana itu. Dan tugas Dewa Bumi memelihara seluruh bumi dan membantu bumi. Menjaga dengan tangannya agar terpelihara, dan Tuan Qi tidak melakukannya."


"Lalu sepertinya mau tak mau, Tuan Qi menyerahkan tugas nya padamu." dan ucapan itu mampu membuat Chiharu kembali terperangah. 


Chiharu kembali membuka kedua bola matanya dengan lebar, menajamkan indra pendengarannya agar tidak salah mendengar. "Bagaimana mungkin Tuan Zhi, aku menjadi seorang Dewa? Aku hanyalah manusia biasa." tangkasnya cepat.


Pria dengan janggut putih panjang itu mengangguk mengerti, "apakah kau pernah mengalami kematian, gadis muda?" pertanyaan yang Tuan Zhi ajukan pun sebenarnya antara batas yakin dan tak yakin. 


Namun sedetik setelah melihat ekspresi gadis kecil dihadapannya, Tuan Zhi dapat menyimpulkan bahwa Chiharu memang pernah mengalami kematian. "Tuan Qi yang menyelamatkanku ketika aku berada diambang kematian." sahut gadis itu pelan, kembali merasa sesak karena pembicaraan ini.


Akhirnya Tuan Zhi menghela napas, "Baiklah, tinggalah disini terlebih dahulu. Aku akan memanggil Dewa Waktu, ia akan mencoba membaca ingatanmu supaya masalah ini beres." pria itu meminum teh hijau mililknya, menghidunya sebelum cairan itu masuk membasahi tenggorokannya.


"Dan satu hal nak, bahwa kau harus siap untuk menjadi seorang Dewa. Pengganti Tuan Qi."

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2