
Suara-suara bising sepertinya berhasil mengusik gadis yang kini terlelap dalam kelelahan, rambut hitamnya terurai berantakan dan tak sempat kembali dirapihkan. Mulutnya sedikit menganga karena rasa lelah yang mampir, hanya saja tak berapa lama ia terlelap suara bising anak-anak disekitarnya berhasil membangunkan tidurnya.
Anak-anak mengerubungi layaknya semut terhadap gula, begitu penasaran dan begitu tertarik terhadap Chiharu. Gadis itu tersenyum lembut ketika anak-anak itu tanpa rasa takut mendekatinya, sebelum Chiharu mengajak anak-anak itu berbicara ia merapihkan ikatan rambutnya. Mengucirnya kencang berharap agar tidak lagi berantakan.
Tak heran mengapa ia begitu lelah, selama semalaman penuh. Chiharu tidak berhenti bergerak, ia mengobati seluruh penduduk desa. Mereka semua berbaris dengan teratur selama sepanjang malam agar Chiharu memeriksa kesehatan mereka semua, dan pagi ini setelah matahari terbit orang-orang desa itu menbiarkannya beristirahat; meski hanya sebentar.
"Apakah nona ingin bermain dengan kami?" sahut bocah lelaki dengan gigi depan yang tanggal, terlihat begitu menggemaskan.
Chiharu yang memang menyukai anak kecil, tanpa berpikir panjan segera menyetujui menemani anak-anak itu bermain. Tanpa Chiharu sangka bahwa tempat bermain pertama yang mereka tuju adalah sungai-sungai yang mengalir jernih dan terasa begitu segar, dan anak-anak itu berlari dengan terburu-buru untuk merasakan kesegaean air membasuh tubuh mereka.
Gadis itu tertawa ketika ia ikut mencelupkan kakinya, ikut bermain ketika anak-anak itu menyipratkan air. Alhasil pakaian beserta surai panjang hitamnya basah terkena air, "nona bagaimana jika kami ingin bertemu denganmu lagi?" sahut bocah perempuan dengan rambut pendek.
Sebelum menjawab gadis itu terduduk diatas jembatan yang menghubungkan antar sungai, namun kakinya tetap bersarang diair sungai. "Benar juga ya, jika ingin bertemu denganku lagi. Pergilah kehutan itu, lalu kalau hati kalian kuat. Maka kalian akan menemukan rumahku, karena rumahku tidak menerima orang jahat.
Lalu panggil saja aku Chiharu, aku lebih suka dipanggil dengan namaku." Chiharu berujar riang, mengayunkan kakinya dan menghantarkan rasa bahagia.
Setelah menghukum Kepala Desa ia akan segera kembali, jadi ini adalah salah satu kesempatan yang sangat langka untuknya. Benar saja, tak lama ketika Chiharu dan anak-anak itu mengobrol seorang pria dewasa menepuk bahu gadis itu. Mengatakan bahwa Kepala Desa sudah sadar, membuat Chiharu berpamitan dan segera menghampiri pria tambun itu.
***
Gadis itu menatap penuh rasa rendah terhadap pria yang kini terlihat begitu menyedihkan, setiap kali melihatnya Chiharu tak pernah bisa menghilangkan amarah yang berkobar didalam hatinya. Gadis itu kemudian menghela napas untuk meredakan amarahnya, berpikir sejenak hukuman apa yang bagus untuk pria tak berperasaan didepannya.
"Sebelum aku menghukumu, aku ingin bertanya sesuatu." ungkap Chiharu tanpa emosi.
Pria itu semakin bertingkah kelakuannya, ia berteriak-teriak dan menggoncang-goncangkan tubuhnya yang terikat pada kayu. Membuat Chiharu marah dan mengeluarkan pedang yang tersampir dipinggangnya, pedang itu terarah menuju leher si pria tambun tanpa ampun. Menjulang berani, membuatnya terdiam ketakutan tak lagi bergerak.
"Jangan bertingkah!"
__ADS_1
Dan suara desisan Chiharu mampu menghantarkan perasaan takut diusia nya yang ke empat puluh lima tahun, seolah gadis itu kini adalah malaikat pencabut nyawanya. "aku menanyakan sesuatu dan jawablah dengan jujur. Atau aku tau penjilat sepertimu tidak bodoh ketika dihadapkan dengan kematian."
Penyumpal mulut itu ditarik dengan kasar oleh Chiharu, menatap sinis dan menahan hasrat untuk membunuh manusia dihadapannya. "Kemana manusia yang telah kau jual?!" suaranya keras bertenaga tanpa rasa takut, ujung bilah pedang menyentuh leher bergelambir pria itu. Mengeluarkan darah dan membuat pria itu semakin panik.
"A-aku tidak tau, aku hanya mengirimkan mereka. Tidak pernah tau dibawa kemana, tolong ampuni aku." berteriak parau memohon pada dewa kematian yang siap mencabut nyawanya.
Tidak berguna, decih Chiharu.
Gadis itu kembali menghela napas, sekuat tenaga menahan amarahnya. "Lakukanlah yang kalian suka terhadap kepala desa tidak berguna ini, lalu datanglah ke kuil ku jika terjadi sesuatu. Aku pasti akan membantu." sahut Chiharu hendak meninggalkan desa itu.
Para penduduk desa berkumpul untuk mengantar kepergian Chiharu yang entah mengapa terasa begitu berlebihan, "Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan anda, nona."
Namun Chiharu menikmatinya, ia tersenyum lembut dan berkata pada pria paling tua disana. "Jadikan orang tua ini sebagai kepala desa, lalu aku yakin pasti ada yang datang setelah kepala desa sebelumnya tertangkap.
Datanglah padaku jika ada seseorang yang berada dari luar desa datang kemari, atau bahaya apapun. Aku pasti akan menolong. Aku pamit"
Setelah perjalanan singkat itu berakhir, Fu dan Su telah menunggu Chiharu dengan cemas dan khawatir. Mereka tersenyum lega ketika Chiharu kembali tanpa kekurangan sesuatu apapun, namun kecemasan itu masih tersisa diwajah kedua pelayannya.
Membuat Chiharu bertanya-tanya, "ada apa? aku sudah kembali dengan selamat. Mengapa wajah kalian masih cemas?"
Keduanya terdiam, bingung bagaimana menjelaskan. Ketika suara Fu hampir keluar dari tenggorokannya, salah satu Dewa dilangit mengusik Chiharu. Tubuhnya yang menjulang tinggi, bola mata berwarna merah tak mungkin dapat Chiharu lupakan. Pakaian mewah miliknya berkibar, membuat kuil nya yang kecil merasa malu akan kecemerlangan Dewa dihadapannya.
"Rupanya si pembunuh Dewa Bumi masih berada didunia ini." ucapan itu sungguh mampu memperlihatkan sisi paling kelam Chiharu.
***
Gadis itu menatap dengan tatapan penuh amarah pada sosok Dewa dihadapannya, rambutnya yang berwarna oranye tertimpa matahari yang perlahan-lahan menyembunyikan dirinya dibalik awan yang gelap. Petir dan kilat mulai menyambar, lalu bola mata hitam itu pun ikut berkilat penuh kemarahan.
__ADS_1
"Aku tidak membunuh Dewa Bumi." sahut Chiharu mantap tanpa gentar, tubuhnya memang tidak begitu pendek. Namun dibandingkan dengan sosok dihadapannya, tinggi Chiharu bukanlah tandingannya.
Pria itu tertawa seolah Chiharu adalah manusia paling lucu yang pernah ia temui, "Dewa Bumi menyerahkan jiwanya padamu, bodoh. Ia bahkan menyerahkan sisa jiwanya ketika gadis kecil berumur tujuh tahun merengek ingin menjadi Dewa, kalian berdua memang bodoh."
Belum sempat menyelesaikan tawanya, Chiharu dengan membabi buta menarik pedangnya. Menyerang dengan penuh emosi tanpa mempedulikan apapun, hujan seolah ikut menyertai mereka berdua. Mengguyur tanpa ampun, kilat terus bersahut-sahutan, menimbulkan suara yang memekakan telinga.
"KAU BERBOHONG!!!" pekik Chiharu tidak menerima kenyataan, menolak bahwa apapun yang dikatakan pria itu adalah kebohongan.
Pria itu seolah tak terlalu terpengaruh akan kemarahan Chiharu, menghindar dengan kecepatan yang akurat. Lalu dengan jentikan jari, menghempaskan Chiharu. Alhasil gadis itu terlempar, bergulung-gulung dengan lumpur hingga bukan hanya luka yang ia dapatkan melainkan kotoran, lumpur, serta penghinaan.
Seolah tak cukup, pria itu maju untuk kembali melancarkan serangannya. Namun, dua pelayan yang selalu setia menemani Chiharu menghalangi sang Dewa. "Mohon redakan amarahmu, Sang Dewa Perang Lukos." sahut Su bersujud penuh permohonan.
"Kami mohon untuk mengampuni nona kami untuk kali ini saja, kekuatannya bukanlah tandingan anda yang agung Dewa Perang. Mohon maafkan nona kami." kini Fu yang bersujud memohon ampunan sang Dewa Perang Lukos.
Dewa Lukos mendecih merasa tak puas, ia baru saja melakukan serangan pertama dan gadis itu sudah terkapar tidak berdaya. Betapa lemahnya, pikir Dewa Lukos. "Aku kemari untuk menyampaikan pesan, bahwa perkumpulan para Dewa dimulai esok hari. Jangan terlambat, bilang pada nona cantikmu." suaranya begitu menyindir dan eksistensi Dewa Perang itu segera hilang setelah menyampaikan pesannya. "Dan juga aku tak suka berbohong."
Dan disudut sana, Chiharu tidak pingsan. Ia masih sadar sepenuhnya dengan luka ditubuhnya, menangis terisak-isak ketika mendengar pernyataan yang sejujurnya sudah ia ketahui sejak dahulu kala. Siapa yang menyangka bahwa penyebab utama hilangnya Tuan Qi adalah dirinya, siapa yang menyangka bahwa kini Chiharu mengerti akan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya. Chiharu tahu akan hal itu, namun ia menolak untuk menyadarinya. Gadis itu sangat takut ketika menerima kenyataan, bahwa dirinyalah penyebab utama Tuan Qi lenyap.
Pada umur sepuluh tahun ia tak mengerti penjelasan dewa waktu dan mencoba melarikan diri dari kenyataan, namun kini sudah lima tahun berlalu. Benang-benang kusut mulai terbentuk dalam benaknya, membawanya pada suatu kesimpulan sederhana yang dahulu tidak ia pahami atau lebih tepatnya tidak terima dalam dirinya
Kenyataan itu tidak lain bahwa dirinyalah penyebab utama sang Dewa Bumi lenyap, bertahun-tahun lamanya lari dari kenyataan. Ketika kenyataan itu dilemparkan oleh orang lain, Chiharu merasa sukar menerimanya. Dan merasa lebih rendah daripada seonggok kotoran.
Tuan Qi, lenyap karena Chiharu.
To Be Continued...
__ADS_1