
Setelah ikatan itu terjalin, Chiharu merasa malu luar biasa ketika mengingat bahwa ia telah menempelkan bibirnya pada bibir orang asing. Hal yang sangat tidak normal sepanjang hidupnya, ketika Tuan Zhi datang rona merah itu tidak juga menghilang dari sela-sela wajahnya. Ayolah, Chiharu ingin mendaratkan segel pada kening mahluk itu seperti Fu dan Su.
Dan kini ia tengah diomeli habis-habisan oleh Tuan Zhi karena tingkahnya yang ceroboh dan begitu kekanak-kanakan, memberi segel dewa pada siluman jahat bukanlah tindakan yang baik dan bijak. "Bagaimana aku mengurusmu, Chiharu? Bagaimana jika ditengah malam siluman rubah itu membunuhmu? Kau tau, hanya dengan membunuhmu segel itu baru bisa lepas atau kau berhenti menjadi Dewa."
Chiharu menunduk merasa bersalah ketika Tuan Zhi sendiri bingung tak tahu harus melakukan apa, "Tidakah anda memiliki nasehat agar kejadian yang tidak di inginkan itu tidak terjadi? Seperti memakaikan kalung lalu ketika mengucapkan mantra mahluk itu berhenti?" sungguh Chiharu tidak bermaksud bercanda, namun satu pukulan ringan mendarat dikepalanya.
Tidak tahukan Tuan Zhi bahwa dirinya pun kini terluka, sungguh kejam memukul dirinya disaat Chiharu tengah terluka. Tuan Zhi menghela napas lelah, ia memijit pangkal hidungnya. "Saat dirimu bangun, mahluk itu tidak akan bisa melakukan apapun karena segel dewa akan menahannya. Namun, ketika kau tidak bisa memberi perintah siluman itu bisa membunuhmu."
Tuan Zhi mengulurkan tangannya, menangkup pergelangan Chiharu. Memasangkan sesuatu dilengannya, sesuatu melingkar indah disana berwarna putih dengan batu-batu mutiara yang cantik. "Benda ini berfungsi mendeteksi kejahatan, ketika aura jahat berada disekitarmu gelang ini akan membuatmu bangun dan terjaga. Semoga saja ini membantu.
Lalu aku akan memantau kediamanmu beberapa hari sekali, supaya tidak kudengar kabar buruk bahwa dirimu telah berada diperut siluman rubah yang bahkan tidak kau tau kekuatannya seberapa besar.
Asal kau tau, Chiharu. Kemenanganmu melawannya seluruhnya adalah keberuntungan, jika malam itu terulang kembali. Aku tidak berani membayangkannya." sahut Tuan Zhi penuh keseriusan, rencananya untuk mengurung sang siluman gagal sudah akibat ulah Chiharu yang sembrono.
Dewa Kebijaksanaan itu melamun, merasa khawatir akan nasib anak gadis dihadapannya. Bagaimanapun, Chiharu tidaklah abadi karena ia masih seorang manusia. Keterbatasan dan keterlambatannya mempelajari kekuatan Dewa pun pasti karena dirinya masih manusia, bagaimana mungkin Tuan Zhi tidak khawatir.
***
Chiharu berdiam diri diteras kuil halaman belakang, memperhatikan Fu dan Su yang kini menggantikan tugasnya membersihkan kuil. Dengan telaten keduanya menyapu, mengelap, dan melakukan seluruh pekerjaan dengan sempurna. Membuat Chiharu berpikir, untuk apa ia masih mengerjakan pekerjaan rumah jika kedua pelayannya bisa? Baru ia sadari, bahwa hidupnya sama sekali tidak praktis dan cenderung melelahkan.
"Apa anda bosan nona?" Su menyahut sembari menaruh teh hijau, mengepulkan asapnya dan menguarkan wangi yang memanjakan indra penciuman.
Mau tak mau Chiharu mengangguk mengiyakan, pikirannya kembali terbang kearah pintu yang berisi sesosok mahluk didalam sana. Tempat itu begitu hening tanpa ada pergerakan apapun, tak ada teriakan, atau apapun. "Apa tidak boleh aku melepaskannya?"
Chiharu gadis itu sepertinya memang sangat suka bermain api, sebelum Tuan Zhi pergi sang Dewa Kebijaksanaan sudah memperingati Chiharu bahwa jika ingin melepaskan mahluk itu haruslah menunggu Chiharu sembuh total. Namun, bukan salahnya kan jika rasa penasaran terus menggedor nalurinya. Rasa penasaran yang sedari kecil tak bisa ia tahan, mengusik ketenangannya dan ingin mencoba segel Dewa pada mahluk berbahaya itu.
Fu menyipitkan matanya, memperingati Chiharu untuk tidak melakukan apapun yang dapat membahayakan nyawanya sendiri. "Lakukan itu ketika anda sudah sembuh, nona." dan ultimatum itu mampu membuat Chiharu merosot turun tak bersemangat.
"Berapa hari aku tidak sadarkan diri?"
__ADS_1
Su dan Fu yang sudah menyelesaikan pekerjaanya duduk disamping Chiharu, melayani gadis itu dengan penuh ketulusan. Meski kini Chiharu sama sekali tidak berdaya akibat luka ditubuhnya, "Tidak sampai sehari nona. Anda bangun tadi pagi setelah semalam terluka hebat, sejujurnya itu sesuatu yang luar biasa bagi manusia."
Ternyata aku pingsan tidak selama itu, batinnya. Namun, disudut pikirannya tetap bertanya-tanya mengapa ia lebih dahulu tersadar dibandingkan siluman yang bahkan kekuatannya telah diakui sendiri oleh Tuan Zhi.
"Nona," panggil Su dengan nada ingin tahu, "Sebenarnya apa yang anda lakukan hingga berhasil memenangkan pertarungan mustahil itu? Saat aku menemukanmu, siluman itu sudah terkapar."
Chiharu terkekeh bangga, "Kau tau kan bahwa energi spritual bisa memperkuat serangan?" keduanya mengangguk menunggu penjelasan, "Biasanya aku selalu menyalurkan energiku pada pedang agar lebih mudah mengalahkan musuh, tapi aku sadar bahwa mustahil mengenai mahluk itu dengan senjata yang terlihat."
"Lalu?" keduanya berseru bersamaan terasa luci ketika pada saat-saat seperti ini Fu dan Su memang sangat kompak, pikir Chiharu.
Chiharu menunjukan dua jemarinya, "aku menyalurkan energi spritual pada jemariku. Ketika ia merasa menang, aku menyentuhkan jemariku pada perutnya sehingga energi dalam tubuhnya bertolak belakang dan mengakibatkan luka fatal. Bagaimana? Aku sangat pintar kan." tersenyum bangga membuat keduanya menggelengkan kepala, gadis itu besar kepala meski dirinya sendiri pun tengah diambang kematian.
"Anda kan juga hampir mati." ketus Fu bangkit dari duduknya lalu kembali mengerjakan pekerjaan rumah yang tertinggal, Chiharu mencibir karena tidak mendapatkan pujian.
Ayolah, setidaknya gadis itu selamat. Ia juga berhasil menglahkan siluman kuat, meski tanpa sadar siluman itu yang mengalahkan dirinya sendiri dengan energi besar yang ia miliki. Chiharu hanya memicunya, membuat energi siluman itu kacau balau dan merusak tubuhnya dari dalam. Tetap saja Chiharu sangatlah hebat, dan ia masih berdiri disini dalam keadaan hidup.
***
Lukanya benar-benar hilang dalam semalam, setelah kemarin rasanya ia diambang kematian karena luka itu benar-benar menyakitkan. Kini perutnya benar-benar utuh tanpa bekas luka sekalipun, seolah-olah luka itu tak pernah benar-benar ada dikulitnya. Ia mendesah takjub ketika hal yang sama terjadi pada kedua lengannya, tidak habis pikir bagaimana peristiwa menakjubkan ini terjadi.
Chiharu dengan kecepatan penuh berlari-lari diantara lorong-lorong yang menghubungkan kuil, mencari Fu dan Su untuk menunjukan kejadian ajaib yang terjadi pada pagi itu. Tidak perlu mencari terlalu lama ketika Chiharu menemukan mereka yang ikut terkejut, lebih tepatnya terkejut karena Chiharu berlari-lari.
"Ada apa nona? Tidak boleh berlari ketika anda sedang terluka." keluh Fu mendekati nonanya yang benar-benar hobi membuat dirinya yang seorang pelayan khawatir.
Chiharu dengan senyuman lebar menyingkap pakaiannya, menunjukan lengan yang kini putih bersih tanpa noda. Seolah-olah tak pernah ada luka mengerikan yang ditorehkan disana, Chiharu juga membuka sedikit pakaiannya untuk menunjukan perutnya agar semakin meyakinkan.
"Lukaku—Lukaku telah sembuh." sahutnya dengan nada paling riang yang pernah terdengar.
Su ikut mempercepat kakinya, melihat luka Chiharu dan mendesah lega. "Benar-benar hilang dalam semalam, biasanya luka separah it membutuhkan waktu berbulan-bulan. Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Gadis itu menggeleng, tanda bahwa dirinya sendiri pun tidak mengerti. Setelah kebahagiaan singkat itu, pikirannya langsung terbang kearah mahluk dipintu belakang kuil. "Boleh aku melepaskannya? Tuan Zhi bilang jangan khawatir karena ia terikat segel Dewa." celoteh Chiharu gembira sehingga mau tak mau Fu dan Su tak punya alasan lagi untuk menolak.
Ketiganya berjalan kearah belakang kuil, membuka pintu yang menghubungkan antara dunia luar. Ruangan itu langsung terlihat, tidak jauh berbeda ketika Chiharu terakhir kali kesini. Dan mahluk itu masih berada disana, tidak bergerak dengan kelopak mata terpejam. Kaki tanganya pun masih terkekang oleh rantai-rantai keras bersegel, sehingga tak bisa melakukan apapun.
Namun menyadari bahwa ada mahluk lain diruangan yang sama dengannya, siluman itu membuka netranya. Warna keemasan segera melumuri indra penglihatan Chiharu, sedikit terpesona karena pemandangan indah dihadapannya. Benar-benar mubazir, keluh Chiharu membatin.
"Mau apa kau?!" sinis pria itu, menghantam Chiharu dengan tatapan tidak bersahabatnya. "Mengurungku selama sepuluh ribu tahun pun aku tidak akan mati." suaranya seperti geraman hewan buas, bersiap memangsa siapapun.
Chiharu menggeleng penuh penghayatan, mengapa mahluk ini begitu tidak bersahabat. "Lepaskan segelnya!" titah Chiharu membuat Fu dan Su dengan sangat terpaksa melakukannya.
Satu-persatu segel terlepas dari tubuhnya, hingga segel terakhir mahluk itu akhirnya bebas. Ia menggerakan lehernya seolah merasa pegal, menajamkan kuku-kukunya dan menatap Chiharu dengan kobaran api tepat dibola mata keemasan itu. Menyeringai, dan diliputi penuh hawa napsu membunuh, "Manusia apa kau menyerah akan takdirmu dan membiarkan aku membunuhmu? Tenang saja, aku akan melakukannya dengan cepat." tawa sombong membahana pada ruangan sempit itu.
Sesungguhnya Chiharu sendiri pun harap-harap cemas menanti, apakah kekuatan Dewanya berpengaruh pada mahluk itu selayaknya Fu dan Su mengikuti perintahnya, atau sebaliknya. Chiharu merasa tidak yakin, namun ia akan mencobanya.
Ketika mahluk itu melesat maju, bersiap untuk menyerang. Dengan keyakinan mendalam gadis itu menatap penuh tantangan, ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Berhenti!" suara Chiharu bergema, mematikan gerakan apapun pada mahluk dihadapannya. Kuku-kuku itu hanya tinggal selangkah lagi untuk menyentuh kulit Chiharu, secara ajaib tubuhnya kaku tak dapat digerakan.
Helaan napas lega memenuhi rongga dada Chiharu ketika ia berhasil melakukan percobaan pada mahluk ganas itu, "Tidak bisa bergerak heh?!" ejek Chiharu dengan wajah menyebalkan.
Ekspresi murka jelas tercetak pada wajah siluman itu, napasnya memburu menahan kemarahan yang nyata. Gadis itu jelas terlihat tidak gentar ketika wajah tampan itu murka, "Lepas!" dan suara serta gerakan siluman itu kembali normal.
Menyerang kembali, dan dengan mantra yang sama Chiharu kembali memberhentikan gerakannya. "Pertama-tama akan kujelaskan dulu situasimu, wahai siluman yang tidak diketahui namanya. Kini kau adalah pelayanku, satu ucapan dapat menghentikan gerakanmu." sahut Chiharu bangga, merasa senang ketika wajah itu semakin mengerut marah.
"Kedua, mulai hari ini tinggalah denganku. Tentu saja, karena kau adalah pe-la-yan ku." Chiharu sengaja mengucapkannya lamat-lamat, "dan yang ketiga," Chiharu terhenti untuk memikirkannya, lalu sedetik kemudian mendesah kecewa karena tak kunjung menemukan situasi yang ketiga.
"Sudahlah, ayo ikuti aku! dan bicaralah sesukamu!"
Ingin tahu apa yang diucapkan pertama kali oleh siluman itu? "Aku pasti akan membunuhmu." sahutnya dengan geraman tak tertahan.
__ADS_1
To Be Continued...