
Mungkin perkataan tentang seorang tubuh manusia dan jiwanya bisa berada ditempat yang berbeda, dan gadis itu Chiharu tengah mengalaminya. Pandangannya kosong tanpa sinar terpancar dari bola matanya, ia hanya berjalan seperti apa yang diperintahkan kepadanya tanpa menolak selayaknya mayat hidup.
Gin yang berjalan dibelakangnya pun tidak memiliki raut wajah yang begitu bagus, bola mata kekuningannya berpendar dan berkilat menahan sesuatu dari dalam tubuhnya yang bergejolak. Seharusnya sekarang ini ia pergi sejauh mungkin dari Dunia Langit dan semacamnya karena kenyataan yang dilemparkan padanya begitu pahit. Tidak terbayangkan olehnya bahwa perpisahan akan terjadi begitu cepat diantara mereka berdua.
Belum sampai pada ruangan dimana tempat para Dewa melakukan rapat tahunan, Chiharu menabrak sesuatu yang begitu keras hingga hidunya terasa nyeri. Surai merah melambai-lambai dihadapan wajahnya, ketika sesuatu yang ditabrak itu menoleh barulah Chiharu tersadar bahwa ia telah melakukan kebodohan fatal lainnya.
Mahluk yang paling ingin ia hindari kini berdiri menjulang dihadapannya, tatapannya tetap tajam dan menyeramkan seperti biasa. Tubuhnya seolah selalu diselimuti api kemarahan, hingga gadis itu seperti akan terbakar ketika bahkan hanya menatap sesosok Dewa dihadapannya. Benar, tidak salah Dewa itu ialah sang Dewa Perang, Lukos.
"Mencari masalah lagi denganku, heh?!" suaranya terdengar tajam dan sarat akan ancaman.
Chiharu yang tak ingin mendapat masalah pun menggeleng, mundur beberapa langkah dan meminta maaf sembari menundukan kepalanya takut. Ingatan akan pertempuran mereka tempo lalu terbayang dikepala gadis itu, merasa nyeri diseluruh tubuh meski luka disana sudah menghilang.
Tentu saja bukan Dewa Perang jika melepaskan Chiharu dengan mudah, "Berlututlah dan meminta maaf padaku. Mungkin aku akan berubah pikiran untuk tidak langsung menebas kepalamu saat ini juga."
Tanpa melawan gadis itu siap melakukan apa yang diperintahkan Dewa Perang padanya, salah Chiharu ketika ia tidak menghindari mahluk yang kebenciannya sudah mendarah daging pada Chiharu. Namun gerakan apapun yang hendak dilakukan tertahan oleh jemari-jemari panjang milik Gin, pria itu mendesis marah menatap sang surai merah. Menyuarakan pertentangan tak tersirat didalamnya.
Melihat Gin, Dewa Lukos tersenyum mengejek. Ia menyeringai penuh kepuasan, didalam bola matanya seolah ada api yang membakar. Seolah pria itu bersiap berperang dalam keadaan apapun, "Kau bahkan memelihara seekor rubah liar, kalian berdua terlihat mirip–tentu saja dibagian kekuatan. Sama-sama lemah." kekehan ringan terdengar, wajah mengejek itu pun tak kunjung hilang menatap kedua insan dihadapannya. "Sayangnya rubah ini pun tak bisa melindungimu."
Entah karena Dewa Lukos sedang memusatkan perhatiannya pada Gin atau karena Chiharu bergerak tiba-tiba, sebuah tamparan tak terelakan terdengar disepenjuru kawasan rapat tahunan para Dewa. Begitu nyaring hingga suara apapun yang ada disana segera hening, benar tamparan itu berasal dari Chiharu. Dadanya naik turun menahan amarah, kilatan yang sempat hilang kini berpancar begitu membara seolah mampu membakaar apapun.
"Jangan berbicara sembarangan Dewa Lukos, kau tidak akan tau karena kesombonganmu–ketika rubah liar yang kau sebut liar tengah menggigit lehermu." lalu jemari tangan Chiharu menarik pergelangan pria bersurai putih disana. Mengajaknya masuk, dan meninggalkan Dewa Lukos yang masih terdiam disana. Mencerna apa yang baru saja terjadi.
***
Suasana disana begitu formal, para Dewa Dewi yang belum pernah dilihat Chiharu pun berkumpul menjadi satu diruangan itu. Gadis itu mau tak mau merasa takjub akan hal itu, namun sepertinya suasana disana tidak terlalu mendukung kehadiran Chiharu karena tatapan mereka diarahkan padanya. Lebih tepatnya diarahkan pada Gin yang duduk dengan tenang disamping Chiharu.
__ADS_1
Lalu rapat itu dimulai, cukup lama hingga terasa membosankan. Karena berisi tentang tugas-tugas Dewa dan pepatah-pepatah lama tentang alam semesta untuk para Dewa, hingga sampai di penghujung acara. Keheningan tiba-tiba membuat Chiharu yang selalu menunduk selama acara, kini menengadahkan kepalanya karena penasaran.
Siapa yang menyangka bahwa semua tatapan kini menyorot padanya, bahkan para petinggi sekalipun menatap padanya seolah ia telah melakukan suatu kesalahan. "Seorang Dewa–ah tidak seorang Dewi Bumi Muda kini telah melakukan sebuah ketidaksengajaan, dengan menyegel siluman yang seharusnya keberadaanya tidak pernah ada. Karena merusak keseimbangan.
"Oleh karena itu, segel yang telah diberikan akan dilepaskan. Lalu siluman tersebut akan ditempatkan di Dunia Langit untuk menghabiskan sisa waktu yang dimiliki olehnya."
Sorak-sorak gembira terdengar dari seluruh penjuru ruangan, hampir semuanya merasa lega karena mahluk berbahaya itu akan segera dipenjara tanpa jangka waktu. Chiharu yang tak dapat menerimanya berdiri dengan tegak, ia menatap para petinggi Dewa disana. Menghantarkan kaki-kaki mungilnya seolah tengah menghantarkan dirinya pada tiang gantung, semuanya tersentak kaget ketika gadis manusia itu bersujud.
"Hamba memohon untuk tidak mengurung siluman itu, para Dewa yang agung." pinta Chiharu dalam satu tarikan napas.
Tubuhnya bergetar menahan rasa takut, "Mengapa seorang manusia sepertimu berani menentangku?!" suara itu menggelegar marah, membuat sendi-sendi Chiharu seolah akan hancur dengan satu tarikan napas.
Namun gadis itu menguatkan dirinya, ia berkata dalam hatinya. Bahwa gadis itu akan melakukan apapun agar Gin dapat terbebas dari semua ini, "Hamba memohon ampun Ya Tuanku, permohonan hamba tidak akan berhenti sampai anda mengabulkannya. Jika tidak," suara Chiharu terhenti.
Ia bangkit dari posisi bersujud, jemarinya mencari sesuatu didalam pakaian miliknya. Menggeggam erat disana, lalu mengeluarkan sebilah belati tajam dengan kilatan cemerlang. "Hamba akan membunuh diri hamba sendiri, lalu posisi Dewa Bumi akan kembali kosong. Tentu, itu akan membuat ketidakseimbangan dunia ini tidak berjalan lancar."
"Beraninya manusia sepertimu mengancamku?! Aku bahkan bisa melenyapkanmu atau bahkan mengurungmu tanpa kau bisa melakukan apa yang sedang kau rencanakan itu." Ruangan itu bergetar, ancaman itu dilemparkan dengan begitu jelas, diujung sana Tuan Zhi menatap Chiharu dengan tatapan cemas bukan main. Bagaimana bisa gadis yang dahulu sangat lemah, bisa begitu berani melawan para tetua yang bahkan mereka telah ada ketika seluruh dunia diciptakan.
Chiharu tersenyum, "Silahkan saja, tidakah anda tau bahwa manusia adalah mahluk paling lemah dan rapuh. Meski anda mengurungku aku akan tetap melakukan bunuh diri, lebih bagus lagi jika anda melenyapkanku sekarang.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siluman itu terkurung selama hidupnya." bola mata hitam itu berkilat, tanpa takut menatap tiga petinggi Dewa yang berada disana. Meski tubuh kecilnya akan terasa hancur didetik berikutnya, Chiharu tetap berdiri disana tanpa gentar. Kemarahan bahkan bisa dirasakan menembus tulang-belulangnya
"Aku bubarkan pertemuan ini."
Para eksistensi disana segera membubarkan dirinya, melangkah keluar dari ruangan yang terasa berat disana. Dibelakang Chiharu, Gin menunduk tak mampu mengangkat wajahnya. Bukan karena ia takut, melainkan karena pria itu menyadari bahwa tubuh kecil dihadapannya saat ini bisa saja menghilang ataupun musnah secara tiba-tiba. Manusia memang sedari dulu selalu menjadi mahluk paling lemah yang mendiami dunia, mahluk paling rapuh, dan mahluk paling berumur pendek. Kelebihan mereka hanyalah dapat berkembang biak dengan cepat sehingga kepunahan tidak menghanpiri mereka dalam waktu lama, selebihnya tak ada yang istimewa bernama manusia.
__ADS_1
Hanya saja mengapa rasanya gadis ini begitu berbeda, tempatnya bukanlah berada disini. Tubuh kecil gadis itu sungguh tidak cocok berada diantara para mahluk besar disekitarnya, namun ia tetap bertahan.
Gin mencoba meraih jemari-jemari mungil itu, ketika ia berhasil mendapatkannya. Kehangatan tubuh Chiharu menjalar, dalan genggamannya tangan itu belum berhenti gemetar. Tak tega melihatnya, Gin menghela Chiharu untuk bersandar padanya. Terasa aneh karena Gin sama sekali tidak terganggu ketika fisik mereka begitu dekat, Gin yang membenci manusia, Gin yang selalu membunuh manusia untuk kesenangan. Gin yang sama ketika ia mengelus surai Chiharu dengan lembut, seolah gadis itu akan hancur dalam pelukannya.
"Jika takut, mengapa melakukan itu?" Gin menyahut pelan, mengusir gemetar Chiharu yang enggan pergi.
Tidak, Chiharu tidak akan menangis kali ini. Jadi meski apapun yang akan terjadi, gadis itu tidak akan menjadi lemah seperti terakhir kali. Setidaknya, ia akan bergerak maju. "Aku hanya tidak ingin kau terkurung ke sana, aku akan melakukan apapun untuk itu. Setelah segel dewa terlepas, pergilah! Pergilah yang jauh!"
Kelereng kuning milik Gin bergulir menatap wajah gadis dihadapannya, bola mata hitam yang menenggelamkan, bibir merah muda yang menggoda, serta kulit halus dan putih membaluri indra penglihatan pria itu.
"Cantik." gumamnya entah pada siapa, lalu tanpa berkata apapun Gin kembali memeluk Chiharu. Begitu lembut hingga lagi-lagi Chiharu dibuat goyah oleh perlakuan pria itu.
***
Didalam sana ketiga petinggi Dewa tengah memikirkan sesuatu agar rencana mereka tengah berjalan dengan lancar. "Gadis itu akan bunuh diri jika ia tahu bahwa siluman rubah itu dikurung, manusia tidak tahu berterimakasih." geramnya, tangan-tangannya mengerat kesal pada pegangan pintu.
Keduanya pun memiliki wajah kesal yang tidak jauh berbeda karena gadis Dewa ini menyusahkan rencana mereka, tentu bukan masalah besar jika ia hanya gadis manusia biasa. Hal ini menjadi rumit karena gadis itu memiliki kekuatan serta inti Dewa Bumi, menjadikan dirinya lebih kuat dari manusia dan tentu saja mengisi kekosongan sang Dewa Bumi.
Kehilangan dirinya yang tidak seberapa itu akan membuat alam semesta murka dengan mengirimkan hukuman pada mereka yang berani merusak keseimbangan, tentu saja mau tak mau para petinggi itu harus memikirkan cara bagaimana cara memisahkan mereka. Mahluk itu harus dikurung karena melebihi mahluk sejenis dirinya untuk hidup, entah kapan mahluk itu akan tewas namun dengan adanya siluman rubah itu ketidakseimbangan bisa saja tercipta. Meski para petinggi itu tidak tau, bagaimana mahluk itu mampu mendapatkan keabadian.
"Gadis itu akan membunuh dirinya jika ia tahu, bagaimana jika ia tidak tahu?" sahut salah seorang petinggi disana, bernama Rao Shu. Dewa tertua ketika dunia diciptakan, ia menyentuh janggutnya yang panjang mencoba berpikir.
Keduanya menatap dirinya secara bergantian, lalu seringai muncul dalam mulutnya. Begitu lebar hingga ia tidak tampak seperti Dewa, " Mudah saja, kita turuti kemauannya dahulu. Lalu setelahnya ia tidak akan bisa melakukan apapun bukan jika ia tidak tahu?"
Dan ketiganya tertawa secara bersamaan didalam sana, begitu bahagia karena telah menemukan jalan keluar yang ditimbulkan akibat gadis bodoh yang melindungi seekor siluman. Begitu bodoh sehingga ia tidak tahu siapa yang ia lawan, gadis dengan eksistensi rendah sepertinya akan sangat mudah dihancurkan.
__ADS_1
To Be Continued..