Gadis Kuil

Gadis Kuil
36. Kedalam Mimpi


__ADS_3

Musim gugur sepertinya hampir berakhir ketika Chiharu meghembuskan napas, kepulan asapnya hingga beterbangan di udara. Musim dingin yang tidak ia sukai sebentar lagi akan datang, dingin yang menggigit tulang-tulangnya, kesedihan memori masa lalu, hingga tragedi peristiwa kehilangan Tuan Qi. Terjadi dimusim ini, bukan hanya tubuh yang terasa mati. Jauh didalam hati nya, gadis itu merasakan sesuatu telah mati dan membusuk.


Perasaanya selalu tidak baik, meski tidak selalu merasakannya. Kesepian menelusup didalam relung jiwanya, membuat hampa hatinya, dan merusak dengan menunjukkan kenangan buruk. Pada akhirnya setelah perasaan buruk itu menerjang, gadis itu menghela napas. Meredakan perasaan gelisah dalam hatinya, menepiskan apapun didalam sana.


"Ingin teh, nona?" menyadari perasaan buruknya, Fu menawari hal yang paling dapat menenangkan.


Chiharu tersenyum, mengangguk lalu menutup jendela karena angin terasa semakin menggigit, gawat jika sampai dirinya kembali sakit. Dan juga gawat kalau kepalanya kembali aneh ketika gadis itu merasa tidak keberatan setelah ciuman paksa dari siluman kurang ajar itu, ayolah hubungan mereka tidak sedekat itu sehingga siluman rubah itu melakukan kontak fisik seperti itu kepadanya. Dan lagi, menyebalkan ketika Chiharu tidak mampu menatap pria disana kurang dari lima detik.


Ketika cairan pekat berwarna kekuningan itu dihantarkan, Chiharu menghidu dan menikmati asap yang mengepul dari sana. Rasanya membosankan ketika dimusim seperti ini memang terasa mustahil melakukan latihan, terutama mengguyur diri diatas air terjun. Membuat Chiharu tersadar bahwa dirinya masih seorang manusia, ingin rasanya tiba-tiba ia menjadi begitu kuat hingga dapat memukul kepala Dewa Lukos.


"Apa terasa begitu membosankan ketika kau tidak dapat melakukan apapun?" benar, pria ini lah yang melarang kegiatan apapun untuk Chiharu. Dengan alasan, karena gadis itu masih dalam masa pemulihan.


Sejujurnya Chiharu ingin kembali mendelik pada pria itu, menunjukan bahwa dirinya tidak terlalu bersahabat agar Gin tidak semakin terikat. Namun, entah mengapa terasa sulit untuk bersikap biasa saja ketika netra secerah matahari itu menyorot tegas padanya. "Aku merasa bahwa aku sangat lemah, hingga jika tidak melakukan apapun seperti ini. Aku akan tertinggal jauh dan semakin lemah." gadis itu menyesap tehnya, menikmati rasa nikmat dan tersenyum karena perasaan damai menghampiri sejenak.


Pria itu mengulurkan jemari-jemari panjang dengan kuku mencuat disana, telapak tangannya terbuka menghadap Chiharu membuat gadis itu mau tidak mau menatap apa yang tengah dilakukan Gin. Terkejut ketika api kuning bercampur biru berkobar pelan disana, terasa mampu menghangatkan ruangan hingga Chiharu menatap takjub, "Hangat." sahutnya merasa nyaman.


"Tidakah kau enggan meminta bantuanku?" pertanyaan itu terdengar angkuh, senyuman tersungging disana. Baru sejelas ini ketika Gin tersenyum dan Chiharu dapat memperhatikannya, ia baru tahu kalau ada taring yang mencuat disana.


Ah ia begini lagi, rona merah kembali menjalar hingga menimbulkan perasaan aneh lagi. "Tahu tidak mengapa Tuan Qi-mu itu menyuruhmu bermandikan air terjun?"


Berusaha menetralkan hatinya yang berdebar gadis itu menggeleng, tidak pernah menanyakan alasannya dan tidak pernah penasaran akan alasan keputusan Tuan Qi apapun itu. "Pria itu membuat tubuhmu mampu menerima kekuatan Dewa, tentu agar ia meninggalkanmu dengan temnang."


"Jangan menjelek-jelekkan Tuan Qi!" raung Chiharu, mengherankan ketika gadis itu mampu menahan emosinya dengan baik.

__ADS_1


Gin terkekeh karena berhasil setidaknya membuat gadis itu berekspresi yang lain, beberapa akhir ini Chiharu selalu merengutkan wajahnya. Aura suram yang menyedihkan mengelilinginya, menelan Chiharu yang ceria di musim panas. Hingga tak dapat dikenali, mungkin musim dingin membawa pengaruh buruk untuk gadis itu.


"Aku becanda, tapi memang itu alasannya. Kali ini aku akan melatihmu agar kau mampu menyerap energi spritual dengan mudah. Jika dirimu mampu menyerap kekuatan Dewa tanpa meledak, aku bisa yakin tubuhmu mampu menyerap lebih banyak." wajah bingung tercetak jelas di wajah Chiharu, berpikir keras untuk memahami percakapan mereka.


"Apakah jika aku mampu menyerap energi spritual dengan mudah, dapatkah aku mengalahkan Dewa Lukos?" pertanyaan itu mau tak mau membuat tawa Gin meledak, pria itu terbahak-bahak. Air mata keluar dari sela-sela netranya, membuar Chiharu merengut.


Memangnya apa yang lucu?!


Kira-kira wajahnya menunjukan pertanyaan itu ketika Gin masih saja menertawainya, "Kau bahkan bisa mengalahkan para tetua itu. Karena sesungguhnya energi spritual adalah pondasi dari segalanya, selayaknya udara yang mampu membuatmu bernapas. Air yang membuatmu hidup, sama halnya akan spritualitas mahluk apapun itu.


"Kau tau mengapa aku menyuruhmu menyerap energi spiritual malam itu? karena aku sungguh berharap kau meledak." gadis itu kembali merengut kesal karena Gin sungguh menyebalkan, lihat kan hubungan mereka ini sama sekali tidak dekat. Bukanlah sebuah hubungan dimana mereka berdua bisa berciuman dengan mesra.


Menatap Chiharu, pria itu kembali terkekeh geli. Terasa menyenangkan ketika gadis itu merengut kesal, "namun kau tidak meledak, itu menunjukan bahwa kau bukan manusia biasa."


Gin kembali menangkup pipi Chiharu yang kemerahan, terasa hangat ketika telapak tangan pria itu bersentuhan kulit dengan Chiharu. "Tapi nyatanya kau hidup sekarang," senyum terurai dari wajah Gin.


"Jangan mengatakan bahwa hidup itu bukan milikmu, itu milikmu. Tidak peduli darimana asalnya, kau tetap Chiharu."


Kata-kata bijak milik Gin tiba-tiba saja membuat Chiharu terdiam, lidahnya terasa kelu. Dan perasaan bahagia meletup didadanya, "Apa sih! Kau terlihat seperti orang tua." mau tak mau gadis itu ikut tersenyum karena perasaanya sungguh benar-benar membaik saat ini.


Kekehan kembali terdengar santai, "Aku ini memang orang tua jika dibandingkan denganmu." sepertinya Gin sudah hidup lebih dari tiga ribu tahun dan pria itu tidak tahu kapan hidup ini akan berakhir baginya.


***

__ADS_1


Keduanya kini duduk berhadapan diteras kuil, pakaian tebal tak luput dari Chiharu karena gadis itu mudah kedinginan. Setelah dipikir-pikir ini adalah pertama kalinya Chiharu menikmati musim dingin setelah ia kembali ke dunia manusia, gadis itu tak merasakan perbedaan musim ketika didunia langit hingga Chiharu lupa rasanya. Hanya saja, ia tak pernah melupakan kenangan dimusim ini.


Hampir satu tahun setelah ia menjalankan kehidupan baru sebagai Dewa setelah lima tahun ia menjalani pelatihan dari Guru Zhi didunia langit sana, terasa begitu lambat baginya yang hanya seorang manusia. Bertanya-tanya sampai umur berapa Chiharu mampi bertahan hidup.


Lamunannya tersadarkan ketika Gin meletakkan cangkir berisi air dengan kertas disamping cangkir itu, "aku akan menunjukan teorinya dahulu padamu." pria itu mengangkat benda berisi air tersebut, menumpahkannya ke dalam kertas hingga kertas itu basah tak dapat dipakai lagi.


"Anggap energi spritual adalah air ini, dan kertas ini adalah tubuhmu. Lalu," Gin mengeluarkan sesuatu dari saku hanfu biru yang tengah dikenakannya, sesuatu itu terlihat seperti lilin dupa. "Ini lilin penghantar tidur.


"Sebagai latihan pertamamu, kau harus mampu melihat energi spritual yang berada disekitarmu. Jika bahkan kau tidak mampu melihatnya, bagaimana bisa kau menyerapnya ke dalam tubuhmu." melihat kertas yang kini telah basah oleh air, Chiharu sepertinya lebih mudah memahami apa yang kini dipelajarinya.


Gin beranjak dari duduknya, menaruh lilin itu diatas sebuah kendi lalu mulai membakarnya. Kini Chiharu mengerti mengapa kasur miliknya digelar, mengapa mereka melakukan latihan ini dikamarnya. Ternyata Chiharu memang harus tertidur, entah apakah kini Gin tengah menipu dirinya gadis itu tidak peduli. Ia ingin mencobanya, entah apa hasilnya.


"Sekarang berbaringlah," Gin menghela lembut Chiharu, membaringkan gadis itu. "Mimpi yang akan kau alami bukanlah hal yang menyenangkan, namun jika kau mampu menghadapinya dan kembali kemari. Proses melihat energi spritual akan selesai."


Pendengaran Chiharu yang terasa samar-samar masi mampu menangkap suara Gin, ia mulai mengantuk dan bola matanya seolah enggan terbuka. Penglihatan terakhirnya hanya langit-langit kayu kuil, kuil yang ia bangun sendiri. Chiharu ingin lebih kuat, ia ingin setidaknya mampu melindungi apa yang disayanginya.


Lalu kegelapan membawa dirinya menjauh pergi, meninggalkan dunia nyata hingga dirinya sampai pada relung hatinya sendiri. Tersenyum pedih ketika merasakan kesepian, ingin dicintai, dan ingin dibutuhkan menyeruak menenggelamkan Chiharu. Membuat gadis itu menutup kedua telinganya, dan sebuah tangan memeluknya dari belakang.


Pelukan lembut dari seorang wanita, begitu mirip dengan gadis itu. Dan terasa aneh ketika wanita itu tersenyum dengan lembut, "Siapa?" Chiharu bertanya. Pandangannya lurus, menatap sosok itu.


"Aku ini Ibumu, Chiharu."


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2