
Sedari dulu ada satu pikiran yang terus berputar dalam benak gadis itu, mengapa dirinya tidak dibiarkan terlahir kembali saja dibandingkan mengalami hal-hal yang sukar diterima oleh mahluk lain? Maksudnya bukankah tidak wajar jika seorang manusia memiliki kemampuan seorang Dewa, mahluk langit yang agung. Tidak tersentuh oleh keburukan apapun, menjadi salah satunya–meski dirinya sendiri tak yakin bahwa mahluk apa ia– tetap saja hal itu tidaklah wajar.
Chiharu merasa melayang, tubuhnya terasa begitu ringan seolah ia dapat terbang kemanapun ia inginkan. Sejujurnya tidak buruk, namun pikiran tidak mengenakan terus saja menghantuinya. Terasa aneh karena Chiharu benar-benar dalam keadaan sadar namun tak dapat merasakan apapun, berbeda ketika ia masuk ke dalam mimpi. Melayang-layang seperti ini sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, malah ia merasa takut jika dirinya semakin tenggelam dan merasa nyaman.
Benar juga, dirinya mengeluarkan darah ketika ia secara sembrono memasukkan energi spritual tanpa mengetahui takaran untuk tubuhnya. Apa mungkin ia sudah benar-benar mati dan berada diambang batas antar kehidupan dan kematian, mungkin saja tubuhnya sudah meledak seperti yang dikatakan Gin.
Tidak nak, kau belum mencapai kematian.
Suara itu menusuk tepat dikepala Chiharu, menerobos masuk hingga gadis itu merasa linglung karena suara dirinya bertabrakan dengan suara asing dari luar.
"Siapa?" bersyukur suaranya masih dapat keluar, bergema hingga Chiharu kembali merasa bingung akan dimana dirinya sekarang.
Tempat itu hampir keseluruhan berwarna biru, begitu terang dan bersinar layaknya kristal. Seperti terperangkap ditempat yang berpendar terang, bertanya-tanya dan semakin merasa aneh ketika Chiharu sama sekali tidak merasa tidak nyaman. Seolah berada dirumah, terasa terlindungi, dan terasa aman.
Mungkin terasa aneh jika aku mengatakannya, tetapi akulah sang takdir.
"Sang Takdir?"
Benar, karena dirimu spesial aku tidak bisa memalingkan wajah terhadapmu.
Pertanyaan itu kembali terngiang dikepalanya, mengapa dirinya yang terpilih? terasa mengerikan ketika terbuang, dan terasa lucu disaat yang bersamaan bahwa gadis itu diselamatkan. Tetapi pada dasarnya, hal-hal seperti ini semakin menjauhkan Chiharu pada jati dirinya. Membuat gadis itu bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya? Mengapa harus aku?
Chiharu hampir ingin mengeluarkan semua perasaanya, selama ini gadis itu selalu merasa bahwa dirinya sendirian. Terbuang dan tak di inginkan, hanya saja beberapa waktu yang lalu ia hampir tidak pernah memikirkannya lagi. Kembali di ingatkan membuat Chiharu mengenang masa-masa kesendiriannya, baik dalam kediaman Tuan Zhi maupun ketika ia melaksanakan tugasnya sebagai Dewa.
"Kalau begitu, siapa sebenarnya diriku?" pertanyaan itu melesak keluar dari kepala Chiharu, terlontar dari rongga mulutnya dan melemahkan hatinya. Chiharu bukanlah seorang Dewa, dan ia pun kini bukan seorang manusia.
Tawa ringan terdengar begitu merdu, membuat hati gadis kecil itu terasa ikut terangkat. Bukankah untaian takdir yang membawamu sampai ke tempat ini, jadilah kuat anaku. Setelah kau sedikit menjadi kuat, tanyakanlah apapun yang hendak kau tanyakan.
__ADS_1
Tidak perlu dikatakan tujuan gadis itu sedari awal memang ingin menjadi lebih kuat, ia tak ingin kehilangan apapun lagi. Ia tak ingin tersakiti lebih jauh lagi, ia tak ingin terbuang lagi. "Bagaimana–"
"Bagaimana caranya menjadi kuat?!"
Aku akan membantumu, sekarang kembalilah.
Sahutan itu terdengar begitu lembut, ringan, dan menenangkan. Chiharu terbuai oleh suasana ini, kepalanya yang terasa kusut perlahan-lahan kembali jernih. Hatinya yang terasa sesak, mulai merasa lega. Ia ingin menjadi kuat, apa mungkin jika Chiharu sedikit lebih kuat ia akan mampu memberanikan dirinya untuk melihat keluarga yang telah membuangnya tersebut.
Dan buaian itu pada akhirnya membawanya kembali setelah tersesat begitu lama.
***
Setelah terbangun, Chiharu merasa banyak perbedaan yang terlalu kentara sekali. Kuil terasa begitu lusuh, suram, gelap, dan sama sekali tidak terurus. Apa mungkin ia tertidur selama itu sampai kuil seperti ini? Bola mata hitamnya menyisir sekeliling untuk memindai, menghela napas karena kamar tempat dirinya terlelap begitu kotor dan tidak terurus.
Pintu bergeser, menyadarkan lamunan gadis itu surai-surai putih tampak mengintip sebelum akhirnya sosok familiar itu menunjukan keseluruhan tubuhnya. Chiharu dapat melihat netra kuning itu membulat sempurna ketika melihat sosoknya, batinnya terasa senang ketika ia melihat Gin yang seperti itu.
Pelukan dari jemari-jemari Gin yang besar terasa hangat, Chiharu selalu merasa nyaman ketika tubuh kokoh pria itu merengkuhnya. Mendekapnya dan seolah begitu takut kehilangannya, gadis itu dengan tidak tahu diri malah menikmatinya. Kenyataan bahwa Chiharu lah yang telah mengikat pria itu sampai dirinya tewas, tidaklah berubah.
Lama pelukan itu berlangsung dan Gin sama sekali enggan melepaskannya barang sejenak, membuat suasana magis itu tercipta diantara mereka. Salju masih turun yang berarti Chiharu tidaklah terlelap terlalu lama, mengherankan ketika kuil terlihat begitu berantakan seperti ini.
"Aku baik-baik saja." pada akhirnya Chiharu lah yang memutus pelukan itu, tersenyum lembut karena hatinya sungguh menghangat. Pertama kali ia merasakan, musim dingin tidaklah terlalu buruk.
Gin mau tidak mau melepaskan dekapannya, netra kuningnya terus bergerak mengamati keadaan Chiharu. Kata-kata seolah menghilang dari mulutnya, meski wajah pria itu berkata bahwa banyak sekali yang hendak ia sampaikan.
Tawa ringan meluncur dari bibir gadis itu, terasa menyenangkan ketika Gin berprilaku seperti ini padanya. "Aku mengabaikan larangan Su untuk tidak menyerap energi spritual." suara jenaka lolos dari bibir Chiharu, mencoba mencairkan suasana yang kian hening.
"Kau tau mengapa aku memberikan kalung itu?" suara Gin terdengar parau, terasa lebih pucat, dan surai putihnya yang tergerai terlihat berantakan.
__ADS_1
Chiharu mengangguk mengerti, tentu saja ia kini mengerti fungsi kalung itu. Tidak lain untuk mengatur kerja sama energi spritual yang masuk dan keluar, agar tidak melewati batas dan mengalami hal-hal yang buruk seperti ini. "Kau mengetahuinya, namun tetap melepaskannya?" tawa hampir meledak kembali mendengar nada bicara Gin yang tampak kesal, Chiharu tidak boleh sampai tertawa.
"Aku tahu aku salah, kalung itu akan kupakai. Aku berjanji tidak akan melepaskannya." senyuman kembali terbit dari wajah gadis itu, mengherankan ketika beberapa hari yang lalu Chiharu super ketus ketika kedekatannya bersama Gin mulai melewati batas yang seharusnya.
Menuruti perintah Chiharu, pria itu mengeluarkan kembali kalung itu. Bersinar cerah, terpantul akan matahari yang menghangat. Mencoba mencairkan salju yang mendingin, mengambil kalung itu. Chiharu memakainya, tersenyum senang lalu mengucapkan terimakasih singkat pada pria itu.
"Aku–" sinar itu semakin membesar, menghentikan apapun perkataan yang hendak keluar dari mulut gadis itu.
Ledakan membuat keduanya terkejut dan mememakan telinga-telinga mereka, Chiharu sendiri ia sampai membulatkan bola mata hitamnya karena terkejut. Kalung itu meledak, benar-benar terpecah berkeping-keping dan tidak diketahui bentuknya lagi. Indra pendengar Chiharu berdenging akibat ledakan barusan, keheningan menghampiri mereka berdua.
Bertatapan satu sama lain, hingga Gin menyadari keanehan dari kejadian barusan. "Kau tahu mengapa kalung itu meledak?" tentu saja pertanyaan itu tidak diketahui Chiharu, gadis itu menggeleng perlahan.
"Karena energi spritual itu terlalu besar," alis yang menaungi netra kekuningan itu tampak hampir menyatu karena berpikir. "Kalung itu tak mampu menahannya dan meledak, apa mungkin kau–"
Chiharu terus memperhatikan gumaman aneh pria disana, terkejut ketika Gin tiba-tiba saja meraih pundaknya. Dari jarak sedekat itu, Chiharu mampu melihat bola mata Gin yang berpendar kuning selayaknya matahari. Bersinar terang menghangatkan, mampu membuat kekosongan sementara dikepala Chiharu. Hanya satu kata yang mampu mewakilinya, menganggumkan.
"Chiharu sebenarnya apa yang telah terjadi?" tubuh Gin serta tingkahnya mampu membuat Chiharu semakin heran, pasalnya pria itu memundurkan dirinya semakin menjauh dari Chiharu. Wajah panik serta gelisah tercetak jelas, dan air wajah itu semakin putih dan pucat.
Gadis itu jelas tak mengerti, apa yang membuat Gin begitu terlihat takut padanya. "Memang apa yang berbeda dariku?" pertanyaan itu mampu disuarakan oleh Chiharu, mencoba terdengar riang dan tidak tersinggung.
"Energi spritualmu–" suara pria itu tercekat. Keringat meluncur dari pelipisnya, telinga yang selalu terlihat menggemaskan itu kini berdiri seolah waspada. "Energi spritualmu sangat besar?!"
Apa?!
"Kau terlihat seperti monster sekarang, Chiharu."
To Be Continued...
__ADS_1