Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 8 Menerima Keadaan


__ADS_3

Tampaknya seorang gadis kecil tak bisa menahan kelelahan ketika semua peristiwa menimpanya dalam satu waktu, ia tertidur begitu pulas. Terpejam tanpa terganggu apapun, meski para pelayan Tuan Zhi kerap bolak-balik untuk memeriksa keadaanya. Chiharu tetap tertidur.


Kini ia tengah berada dilangit, yaitu tempat para Dewa kebanyakan bersemayam. Para Dewa bebas diberikan tempat untuk mereka tinggal, di istimewakan, dan dipuja-puja oleh pengikut mereka. Lalu para Dewa pun tak terpengaruh oleh waktu, mereka abadi. Bentuk mereka akan sama ketika diciptakan.


Setelah merasa puas dengan tidurnya, Chiharu mulai menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan bangun. Chiharu menggeliat dan mulai membuka kedua kelopak matanya yang berat, ia merasa asing ketika sutra-sutra berwarna merah mudah lembut menghinggapi pemandanga pertama ketika ia membuka kedua netranya. Lama ia menatapnya, mencoba mencari kepingan yang hilang lalu tersadar seutuhnya.


Benar, Chiharu dibawa kesini dengan cara yang relatif tidak normal. Ia dibawa terbang dengan sesuatu tak kasat mata yang menarik tubuhnya, terombang-ambing di udara malam yang dingin dan menusuk lalu terlempar kesini. Lalu setelah ia menyadari alasan dirinya disini, rasa sepi dan sedih kembali menelusup seenaknya disana. Mengisi rongga kosong yang menganga akibat luka, sepertinya luka itu akan membusuk dan meninggalkan bekasnya seumur hidup bagi Chiharu.


Para pelayan dengan bentuk-bentuk luar biasa mereka menunggu Chiharu dengan sabar, mereka menunduk sepanjang waktu agar tak menyinggung. Bentuk mereka seperti kelinci, namun memiliki dua tanduk didahinya. Para pelayan Tuan Zhi itu meski mirip kelinci, mereka sama sekali tidak melompat. Melainkan kini membawa nampan-nampan berisi kebutuhan gadis kecil itu.


Chiharu sedikit terkejut ketika menyadari ia tidak sendirian, gadis itu sedikit canggung ketika diberi makan dan di izinkan untuk mandi. Mengganti pakaian dengan pakaian yang tak pernah ia sentuh dan tak pernah ia lihat, pakaian yang sangat indah milik para Dewa. Membuat siapapun akan terpana, namun apalah sebuah pakaian hanya untuk menutupi tubuh. Tak dapat menutupi luka.


Lama Chiharu disana, berada didalam ruangan yang terlihat megah itu. Menatap keluar jendela, jujur keindahan diluar sana membuat Chiharu merasa lebih baik. Berada di kuil tempat Tuan Qi dan dirinya tinggal menimbulkan luka tersendiri bagi dirinya, mengoyak kalbunya, dan mematikan indra perasanya.


Sebenarnya apa yang direncanakan Tuan Qi? Gadis itu pikir ia telah mengerti apapun tentang tuannya. Apa yang dipikirkannya, apa makanan kesukaanya, kebaikan hatinya. Namun, peristiwa ini membuat Chiharu terhempas pada kenyataan. Kenyataan pahit bahwa ia sebenarnya tidak mengetahui apapun tengan Tuan Qi, Dewa Bumi itu selalu berpikir sendiri. Memutuskan apapun sendiri, tanpa melibatkan Chiharu didalamnya.


"Jangan hanya melihat, keluarlah jika kau ingin gadis manis." suara bijak Tuan Zhi mampu meredakan lamunan kejam yang membawa kesadarannya, menghempasnya kembali ke kenyataan.


Chiharu terbangun dari duduknya, ia menunduk hormat karena tidak kuasa menahan keagungan Tuan Zhi yang terpancar. Kebijakannya bahkan terasa oleh gadis berumur sepuluh tahun itu, kental akan betapa tinggi dan berkuasa Tuan Zhi sang Dewa Kebijaksanaan.


"Mari kita menuju Dewa Jian sang Dewa waktu, Dewa itu akan mampu melihat kebenaran dibalik kisahmu dan Dewa Bumi." tanpa menolak Chiharu mengikuti Tuan Zhi, dengan patuh ia berjalan dibelakang sang Dewa Kebijaksanaan.


***


Pintu-pintu besar itu langsung terbuka ketika Tuan Zhi mendekat, begitu lebar sehingga pilar-pilar menjulang tinggi atau pemandangan langit yang semakin menawan terlihat dengan jelas. Berwarna keemasan bercampur putih, sepertinya disinilah kediaman Dewa Waktu karena jam-jam pasir terlihat memenuhi tempat ini. Entah sebagai pajangan, atau malah memiliki kekuatannya sendiri.

__ADS_1


Beberapa lama mereka menunggu, munculah sesosok wanita dengan perawakan tinggi lengkap dengan senyuman aneh. Pakaian keseluruhan miliknya berwarna cokelat, bahkan desain pakaiannya pun tak pernah Chiharu lihat. Berbeda dengan hanfu yang ia pakai, pakaian yang dikenanakan Dewa Waktu hanya berupa atasan dengan bahu terbuka, dengan bawahan panjang hingga menyeret lantai. Jam pasir ditangannya mampu membuat Chiharu menebak bahwa ia sang Dewa Bumi, Jian.


Ia menunduk sedikit untuk menunjukan rasa hormatnya, "Aku tau bahwa kalian berdua akan datang, kemarilah." suaranya begitu ceria, seolah tak memiliki beban. Namun, Chiharu yakin suara itu diliputi penuh akan kerahasiaan yang kental.


Mereka berdua dijamu dengan baik, lalu yang membuat Chiharu terkejut pelayan yang melayani mereka pun sangat berbeda bentuknya. Membuat Chiharu mengambil kesimpulan, bahwa setiap Dewa sepertinya memiliki pelayan sesuai keinginan mereka.


"Baiklah," suara Dewa Waktu kembali menyadarkan Chiharu dari kekaguman dirinya akan pelayan-pelayan aneh yang melayani mereka, kini fokusnya kembali pada Dewa Waktu bersurai cokelat terang itu. Dan ketika Chiharu menatap bola mata sang Dewa Waktu, ia sedikit terkejut akan warnanya yang keemasan. Begitu terang hingga Chiharu merasa sedikit rendah diri.


"Siapa namamu?" tanya sang Dewa Waktu penuh rasa ingin tahu.


Chiharu sedikit menundukan kepalanya karena merasa gugup, "Namaku adalah Chiharu, Sang Dewa Waktu yang penuh akan ilmu pengetahuan." sahut Chiharu menaruh rasa hormat penuh ketika berhadapan langsung dengannya.


Dewa waktu terkekeh geli ketika mendapat sapaan yang begitu formal dari anak manusia dihadapannya, "tidak perlu seformal itu, namaku Jian. Panggil aku Jian saja, tidak perlu memakai embel-embel Dewa." menyahut santai Dewa Waktu meminum cairan manis berwarna keemasan dalam gelasnya.


"Sekarang kemarikan tanganmu, mari kita bongkar apa yang disembunyikan Dewa Bumi selama beratus-ratus tahun lamanya." Dewa Waktu terlihat begitu antusias, dan Chiharu menuruti keinginan wanita dihadapannya. Ia dengan patuh memberikan tangan-tangan kecil itu, sedikit tersentak ketika genggaman erat dari Dewa Waktu.


***


Dewa Waktu dapat melihat perjalanan hidup seseorang, ia layaknya penonton dalam memori-memori Chiharu. Melihat dengan jelas tanpa ditutup-tutupi, menyaksikan ketika seorang gadis kecil dengan tubuh yang lemah terbuang didalam kedinginan salju yang menelan siapapun. Hutan dan hewan-hewan salju pada saat itu menjadi saksi bisu memilukan ketika bagaimana orang tuanya tak menginginkannya lagi, melemparnya pada lubang keputus asaan yang tak lagi enggan memiliki hidup.


Disanalah Chiharu, gadis itu terkulai lemah tak berdaya. Dengan tatapan kosong penuh kehampaan, ia mati rasa bahkan dengan rasa dingin yang mengigil lemah. Tak lama ia disana, kematian segera menjemputnya. Jiwa pun meninggalkan tubuh itu, dan yang tersisa hanyalah tubuh kosong menunggu membusuk.


Hanya saja, pada saat itu sesosok mahluk tak membiarkannya begitu saja. Sinar biru hangat muncul setelah beratus-ratus tahun lamanya menyembunyikan diri disana, dikuil tua dengan kayu-kayu berderit mahluk ajaib yang tidak lain Tuan Qi muncul disana.


Cahaya biru hangat seperti kunang-kunang perlahan-lahan memenuhi tempat itu, mengisi wadah yang kosong dengan jiwanya adalah hal paling konyol yang pernah dilihat oleh Dewa Waktu. Namun, begitu menyentuh. Sang Dewa dapat melihat bagaimana Dewa Bumi tersebut sangat menyayangi gadis kecil yang baru beberapa saat ditemuinya, direngkuh dengan pelukan hangat lalu diberikan kehidupan—yang mana dilarang oleh alam semesta.

__ADS_1


Sepertinya Tuan Qi pun tahu akan konsekuensi yang akan diterimanya ketika mengembalikan hidup yang telah diambil dan dicabut, lalu tahu akan hukuman yang segera tiba Tuan Qi memperbesar wadah yang ia temukan untuk menampung semua kekuatan Dewa miliknya, melatih anak itu agar tak hancur ketika mewarisi kekuatan Dewa Bumi miliknya.


Setelah proses membaca ingatan itu, tanpa bisa ditahan air mata Sang Dew Waktu mengalir. Perlahan-lahan alirannya semakin banyak hingga lepas begitu saja, Jian sang Dewa Waktu menangis hingga tersedu-sedu merengkuh tubuh Chiharu yang ikut bergetar dan kembali menangis. Rasanya sedikit melegakan ketika seseorang tahu apa yang dirasakannya tanpa Chiharu harus bercerita, meski Chiharu sadar bahwa Dewa Waktu bukanlah manusia.


Setelah mengendalikan dirinya, Jian menghapus jejak-jejak air matanya. "Sepertinya aku tahu mengapa Dewa Bumi lenyap, tapi tentu saja hanya dari sudut pandang Chiharu. Aku tidak tahu kisah sebelum mereka bertemu." jelas Sang Dewa Waktu menatap Tuan Zhi yang fokusnya penuh terhadap wanita dihadapannya.


Lalu Jian menceritakan kisah yang ia lihat dari balik memori Chiharu, menceritakan segalanya dengan detail tanpa ada yang terlewat. "Anda pun tahu sendiri akibat bermain-main dengan jiwa, hal itu tak termaafkan oleh alam semesta. Sepertinya Dewa Bumi pun tahu bahwa ia akan dihukum dengan berat, ketika memberikan energi spiritual dan inti jiwanya pada Chiharu agar gadis ini hidup."


"Lalu sadar akan waktunya yang tak banyak, Dewa Bumi memberikan sisa energinya pada Chiharu. Melatih anak itu agar tubuhnya kuat dan tidak mengalami ledakan energi didalam tubuhnya, dan setelah energi tak tersisa dari tubuhnya ia menerima hukuman alam semesta. Sepertinya Dewa Bumi pun sudah memikirkan ini matang-matang." ungkap Dewa Waktu menjelaskan situasi yang kini mereka hadapi. Merasa iba terhadap kedua belah pihak, baik Chiharu maupun Tuan Qi.


Gadis itu terpana disana, kedua bola mata hitamnya membuka sempurna tak percaya. "Apakah Tuan Qi, gara-gara aku?" kepala Chiharu nampak ditimpah oleh batu-batu besar ketika mendengarkan penjelasan sang Dewa Waktu, kepalanya terasa pening ketika menyadari bahwa alasan Tuan Qi lenyap adalah dirinya.


Menyadari perubahan ekspresi Chiharu, Tuan Zhi mengelus gadis itu dengan lembut. Mencoba menenangkan akan perasaan yang bergejolak disana, "Tentu tidak, ini bukanlah salahmu. Dan lagipula sepertinya ini bukan kesalahan, Dewa Bumi memberikan hidupnya padamu. Kini hidupmu pun berada pada milikmu, hanya saja tugas Dewa Bumi terbengkalai begitu saja."


"Aku tau bahwa kau sedang berduka, hanya saja aku akan sangat terbantu ketika dirimu menjadi pengganti Dewa Bumi." bujukan dari Dewa Kebijaksanaan mampu mengusik relung jiwa Chiharu, gadis itu menoleh dengan mata sembap akibat menangis.


Chiharu menunduk tak berdaya, "Mana mungkin aku mampu menjadi Dewa, Tuan Zhi. Aku hanyalah anak manusia yang terbuang, seharusnya para Dewa menghukumku karena telah melenyapkan Dewa Bumi. Bukan mengangkatku menjadi seorang Dewa, aku tidak akan sanggup." suara gadis kecil itu terdengar parau, begitu putus asa dan frustasi tanpa tau apa yang harus ia lakukan.


Tuan Zhi kembali tersenyum lembut, dengan penuh kebijaksanaan ia berkata, "Tenang saja, aku akan mengajarkan semuanya. Aku akan menjadikanmu Dewa yang hebat, lagipula kau hanya akan menjadi Dewa sementara saja. Sampai Dewa Bumi yang baru terlahir, gadis kecil."


"Be-benarkah?" Chiharu bercicit tak percaya, rasanya sulit ketika membayangkan hidup tanpa Tuan Qi. Dan alasan lenyap Tuan Qi mau tak mau menjadi pukulan telak bagi Chiharu, mengorek lulanya semakin dalam. Tertanam dengan kuat dan sakit bahkan ketika tersentuh sedikit, berkali-kali lipat sakitnya ketika dibandingkan kenyataan bahwa ia telah dibuang dari keluarganya.


Namun, Chiharu sudah diberikan hidup. Dirinya akan mengingat luka itu, membiarkan merusak didalam agar Chiharu sadar bahwa hidupnya milik siapa, ia akan dengan senang hati memberikan nyawanya hanya pada Dewa Bumi yang baru. Selain itu, Chiharu tak akan sudi memberikan nyawanya. Nyawa Tuan Qi, ia akan menjaganya.


To Be Continue...

__ADS_1


Vote and Comeent :D


__ADS_2