Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 2 Bergerak Maju


__ADS_3

Musim semi pada tahun ini sepertinya datang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya, surai hitam Chiharu berterbangan berhembus ketika ia berlarian menyambut bunga sakura serta bunga plum didepan kuil kini tempatnya tinggal, kini tepat tiga bulan Chiharu tinggal disana. Memakan makanan sederhana namun terasa begitu lezat, mempelajari alat musik dengan giat tak peduli kedua tangannya menjadi kasar atau bahkan ketika ia kehabisan napas ketika memainkan seruling.


Semuanya terasa menyenangkan ketika Tuan Qi berada disampingnya, seperti saat ini. Pria dengan pakaian sehari-harinya yang selalu putih itu duduk disana, menikmati secangkir teh ringan sembari menikmati suasana. Ia kerap tersenyum kecil ketika mendengar tawa Chiharu yang terdengar riang bahagia tanpa beban. Seharusnya memang sedari awal begitu, Tuan Qi menatap jemari-jemari tangannya.


Menghela napas sejenak sebelum kemudian menyembunyikan dibalik pakaian berlapis miliknya, lamunannya tersadar ketika Chiharu menghampiri dengan riang. Membawa segumpalan bunga dalam pelukanya, memberikan seluruhnya pada Tuan Qi. Tak hanya itu, ia berceloteh panjang tentang bunga-bunga yang telah berguguran itu.


"Apa kau bahagia Chiharu?" tanya Tuan Qi lembut tanpa meninggalkan senyum, ia menunggu jawaban sembari menyeruput tehnya.


Gadis itu mengangguk dengan semangat, "Andalah kebahagiaan terbesar saya Tuan, anda adalah guru musik terhebat. Anda bisa melakukan apapun, saya sangat menyukai anda." ungkap Chiharu panjang, wajahnya nampak berseri-seri penuh akan kebahagiaan.


Tuan Qi berdiri dari duduknya, "masuklah, meski sudah musim semi diluar tetap dingin." dan tanpa membantah Chiharu langsung mengangguk, ia mengikuti langkah besar Tuan Qi. Memasuki rumah mereka.


***


Kegiatan Chiharu dan Tuan Qi sangatlah beragam, pada pagi hari Chiharu membantu membersihkan kuil tempat mereka tinggal, lalu pada siang hari selama cuaca dingin bersalju mereka berdua akan menghabiskan waktu didalam kuil. Mengobrol tentang apapun, dan sering kali Tuan Qi menasehati Chiharu dengan sabar. Dan pada malam hari menjelang tidur, Chiharu akan mempelajari musik tradisional seperti seruling dan guzheng.


Tidak butuh waktu lama sampai keduanya menjadi dekat, dan hari ini adalah hari dimana bunga-bunga telah memekarkan bunganya. Menghempaskan musim dingin tanpa bersisa, sehingga Tuan Qi ingin mengajak Chiharu jalan-jalan. Hutan adalah tempat paling indah ketika musim semi,dimana bunga bermekaran dan memenuhi segala tempat.


Dan Chiharu telah siap dengan pakaian sederhananya, terbuat dari bahan yang sama dengan pakaian Tuan Qi. Berwarna putih dan bersih, Chiharu menggerai surai hitamnya, ketika memasuki hutan Chiharu terpesona karena hutan begitu berwarna warni. Sangat berbeda ketika terakhir kali ia berada disana, begitu gelap dan dingin.


Gadis itu tak tahan untuk segera menghambur pada kedalaman hutan, ia berlari kesana kemari dengan ceria. Memungut bunga-bunga yang terjatuh, mengumpulkannya sembari tertawa riang. Dibelakang Chiharu, Tuan Qi berjalan dengan perlahan. Menikmati angin yang mengusap lembut wajahnya, menengadahkan tangannya untuk menangkap bunga merah jambu yang jatuh pada tangannya.


"Aku ingin mempelajari tanaman, Tuan Qi." seru gadis kecil itu, berlari mendekat dan menyodorkan bebungaan yang berhasil ia kumpulkan. Suara khas anak-anaknya terasa begitu nyaman, tidak berisik namun menghempaskan kesepian.

__ADS_1


Tuan Qi tersenyum, mengelus lembut puncak kepala anak itu. "Apa lagi yang ingin kau pelajari? Aku akan mengajarkannya padamu." sahut Tuan Qi terasa ringan. Menikmati setiap suasana yang hadir, menanamkan dalam hatinya, mengingat dengan darah dan tulangnya.


"Aku ingin bisa menyembuhkan orang-orang karena Tuan Qi juga menyembuhkanku, aku ingin menjadi kuat agar bisa melindungi Tuan Qi, lalu aku juga ingin handal bermain musik seperti Tuan Qi. Kemudian aku juga ingin dapat memasak makanan enak seperti Tuan Qi, banyak sekali yang ingin aku pelajari."


Celotehan Chiharu mau tak mau membuat senyum terbit dengan cerah dari sudut bibir Tuan Qi, semua keinginan gadis itu selalu berhubungan dengannya. "Apakah tak ada yang ingin kau lakukan meski tanpa aku didalamnya?" pertanyaan itu mampu membungkam suara Chiharu.


Ia berpikir sejenak, kemudian menggeleng cepat. "Semua tidak ada artinya jika tanpa anda, Tuan Qi." pernyataan itu membuat pria yang bukan kalangan dari manusia itu tersenyum sedih, dalam hati paling kecilnya ia berharap. Bahwa ia ingin sedikit lebih lama dengan anak ini, meski dirinya tahu bahwa keinginan itu begitu egois.


***


Lalu setelah perjalanan mereka dari hutan waktu itu, Tuan Qi benar-benar melakukan sesuai pembicaraan mereka tempo lalu. Pria itu mulai mengajari Chiharu obat-obatan dengan pengetahuan yang ia tahu, ia mulai mengajak Chiharu memasak untuk makanan mereka agar Chiharu mempelajarinya. Lalu Chiharu diajarkan cara untuk melindungi diri dengan tubuh kecilnya ketika berada dalam bahaya, dan berjanji bahwa ia akan mengajari Chiharu berpedang ketika gadis itu tumbuh sedikit lagi.


Ia sudah mencatat hal-hal yang harus ia ajarkan pada Chiharu pada kepalanya menyesuaikan langkahnya agar tidak terbebani dan tetap dapat bermain dengan riang, dan gadis itu benar-benar menyerap semua pelajaran yang Tuan Qi ajari tanpa terkecuali. Layaknya sebuah spons basah, Chiharu terus menyerapnya tanpa merasa cukup. Hingga beberapa bulan berlalu Chiharu hampir menguasai apa yang tengah dipelajarinya.


Dan setelah beberapa bulan, Chiharu dengan cepat mempelajari alat musik yang selalu Tuan Qi ajarkan padanya. Dengan beberapa bulan ia dapat menguasai guzeng, erhu, dan seruling. Dan perasaan gembira semakin ia rasakan, ketika terkadang Tuan Qi meminta ia memainkan musik-musik itu, menemani Tuan Qi tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu.


Lalu pada saat ini pun Chiharu tengah membaca buku obat-obatan yang ditulis sendiri oleh Tuan Qi untuk menjadi makananya sehari-hari, gadis kecil lemah itu kini telah menjadi gadis paling cerdas dan paling berbakat diantara anak lainnya. Gadis yang pertama kali terkulai lemah itu kini dapat berlari kencang tanpa melihat kebelakang, tersenyum riang, menyusuri hidup dengan seharusnya.


Tepukan ringan pada bahunya membuat Chiharu menoleh, ia tertawa dengan lebar ketika Tuan Qi ikut duduk disampingnya. Dibawah pohon plum besar yang teduh, tepat berlokasi dibelakang kuil. Suara gemericik sungai dapat terdengar ketika mereka berdua terdiam, menjadi musik penenang tersendiri diantara keduanya.


"Aku tau kau sangat suka belajar, tapi jangan terlalu lelah." Tuan Qi membenarkan pengikat netranya, ia mengecangkannya dan kembali tersenyum ketika ia sadar bahwa ia telah diperhatikan oleh gadis kecil disebelahnya.


Penasaran Chiharu tak dapat ia tahan, dengan keingintahuannya terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui. Ia sangat berani untuk bertanya, "Tuan Qi mohon maaf jika ini menyinggungmu sebelumnya," dan kesopanan anak kecil itu cukup untuk membuat celah kekaguman pada kalbu Tuan Qi.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti mengapa kau menutup matamu, aku sangat yakin bahwa kau tidak buta Tuan. Karena kau sangat pintar dalam mengajariku, tak butuh pertolonganku untuk berjalan. Namun, mengapa kau selalu menutupnya." pertanyaan yang panjang dan sopan itu diucapkan dengan satu tarikan napas, bola mata hitam itu berbinar menantikan jawaban.


Tuan Qi hanya tersenyum sendu, ia menyentuh kelopak matanya. Menarik napas dan menghembuskannya, "sepertinya kau terlalu muda untuk kuberitau, Chiharu."


Tatapan kecewa dan sedih berhasil terbit pada wajah gadis mungil itu yang kini berpipi tembam dan sehat seluruhnya, sedikitnya ia merasa kecewa karena tidak diberitau. Namun, Tuan Qi pasti memiliki alasan mengapa dirinya yang masih berusia enam tahun ini tidak diberi tau. Dalam relung jiwanya, Chiharu ingin segera besar dan cepat mengetahui semuanya.


"Namun," suara Tuan Qi kembali terlontar perlahan, "aku akan menunjukan kedua matamu padaku."


Perlahan-lahan Tuan Qi mendaratkan jemarinya pada ikatan tali yang selalu menutupi wajahnya, bukan masalah besar ketika hanya menunjukan bagaimana wajahnya tanpa ikat mata. Lagipula, Chiharu masih begitu kecil. Ia tak akan ingat ketika beranjak besar.


Dan ketika ikatan itu terlepas Chiharu kembali terpana hingga mulutnya sedikit menganga, Tuan Qi benar-benar sangat indah. Indah saja tak bisa menunjukan keluar biasaan dirinya, Tuan Qi begitu bercahaya, bersih, bersinar, tampan dan sangat menyilaukan. Membuat Chiharu tersadar bahwa Tuan Qi berbeda dengan dirinya maupun manusia lain yang pernah bertemu dengannya dimasa lampau.


Kedua bola mata itu begitu jernih berwarna biru terang, bahkan jika Chiharu mendekatkan wajahnya dan bercermin pada bola mata Tuan Qi. Bayangan wajah itu akan terpantul, karena bola mata itu begitu jernih. Terlalu indah hingga tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, bahkan batu mulia manapun tak bisa ditandingkan kejernihannya.


Lalu kata-kata berikutnya dari anak kecil itu berhasil menyentuh hati Tuan Qi, sedikit menyakitinya dan membuatnya sedih. "Anda benar-benar tidak terlihat seperti manusia."


To Be Continued..


(Tuan Qi tanpa penutup mata)



Mengingatkan sekali lagi bahwa alur cerita ini bersifat lambat.

__ADS_1


Enjoy Reading...


__ADS_2