
Siang itu setelah Gin membaringkan tubuh yang telah renta itu, Chiharu segera memasuki ruangan itu. Memegang nadi-nadi pergelangan tangan ibu renta itu, memejamkan mata dan berkosentrasi untuk memeriksa keadaan pasien dihadapannya. Semoga ilmu pengobatan yang ia lakukan selama bertahun-tahun akan ada gunanya, Chiharu bangkit dari duduknya. Gadis itu menuju dapur dan mulai mencari tanaman yang dibutuhkan.
Bersyukur koleksinya sangat lengkap sehingga Chiharu tak perlu mencari lagi tanaman yang akan digunakan, "Gin, siapkan tungku pembakaran!" titah Chiharu, begitu serius hingga sekejap mungkin ada yang mengenalinya.
Setelah tungku pembakaran siap, Chiharu segera memasak tamaman obat yang ia temukan. Menggiling, mengaduk, hingga pada akhirnya cairan pekat berwarna hijau itu telah berhasil ia ciptakan.
Menghela sisa-sisa keringatnya Chiharu menyelesaikan ramuan terakhirnya lalu siap diminumkan, terburu-buru hingga hampir menabrak Gin yang tengah memperhatikan gadis itu dalam diam. Menyingkirkan tubuhnya dan membiarkan Chiharu lewat tanpa berkata apapun, gadis itu dengan sigap segera meminumkan obat pada wanita tua itu.
Ketika berhasil tertelan dengan baik tanpa dimuntahkan Chiharu baru bisa bernapas lega, ibu itu pun setelah meminum obatnya ia tertidur dengan lelap tanpa terganggu. Seolah kesakitan sebelumnya sudah menguap dan menghilang, begitu tidak terganggu, tenang, dan nyaman.
Chiharu keluar dari ruangan itu, langsung bertemu bocah yang kini menunggunya. Menatapnya dengan tatapan cemas, menunggu kabar ibunya didalam sana. Gadis itu membalas dengan senyuman paling indah, mengusap lembut bocah lelaki didepannya.
"Jangan khawatir, Ibumu baik-baik saja sekarang. Beberapa hari meminum obatnya ia akan kembali sehat, siapa namamu?" tanya Chiharu mencoba untuk meredakan kekhawatiran bocah lelaki disana.
Bocah itu menunduk, "Namaku Jing, nona." memilin tangannya, wajahnya merasa bersalah ketika ingatan bocah itu kembali pada kejadian barusan.
Dengan gerakan lembut Chiharu menuntun bocah itu untuk duduk, dihadapannya tersedia berbagai macam hidangan untuk memuaskan Jing. "Makanlah, kau pasti lapar." Chiharu berucap lembut sembari memperhatikan gerak-gerik Jing.
Lalu dengan malu-malu bocah itu mulai mengambil nasi dan lauk, memakan dengan lahap tanpa mempedulikan apapun. Ketika perutnya sudah terisi penuh, ia menenggak minumnya dengan rakus. Kepuasan dan wajah kekenyangan tercetak pada wajah bocah lelaki itu, menikmati setiap detik kekenyangan karena sudah lama tidak merasakannya.
"Aku ingin bertanya sesuatu." sahut Chiharu, memasang wajah mulai serius kembali, hingga anak lelaki didepannya ikut menegakan bahunya. Dipaksa serius oleh keadaan.
__ADS_1
"Apa kau tau tentang perdagangan manusia? Rumor apapun tidak masalah." gadis itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, tatapannya berkilat penuh rasa keingin tahuan.
Jing berpikir sejenak dengan kepala kecilnya, ia memilin jemarinya—sepertinya menjadi sebuah kebiasaan ketika sedang gugup. Ia menatap Chiharu dengan takut-takut lalu menganggukan kepalanya, tanda bahwa dirinya tahu.
"Ceritakan padaku!" antusiasme Chiharu meningkat.
Bocah itu tampak berpikir, entah harus mulai darimana. Ia menarik napas sejenak, lalu mengarahkan pandangannya pada bola mata sepekat malam itu "Ada beberapa rumor yang tersebar diantara para gelandangan, salah satu yang paling populer yaitu katanya beberapa orang dengan pakaian bagus datang setiap malam-malam tertentu.
Mengambil para gelandangan yang masih berguna lalu dijual ke tempat perdagangan manusia, namun sepertinya itu bukan sekedar rumor nona. Karena aku, pernah melihatnya sendiri." Chiharu bersorak dalam hatinya ketika ia menemukan informasi yang sangat tidak terduga ini.
"Beberapa orang dengan pakaian bagus itu benar-benar datang, membicarakan sesuatu yang tidak aku mengerti. Lalu pergi dengan terburu-buru, meski tak ada yang terculik tapi aku yakin rumor itu benar adanya." Jing menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba merasa takut karena menyadari bahwa dirinya bisa saja termasuk dalam korban penculikan itu.
Namun, apalah dirinya. Hanya seorang gelandangan kecil yang mengais makanan ditempat sampah, jangankan mengharapkan makanan tempat nyaman untuk tertidur tidak dimiliki oleh bocah kecil itu.
Jing menggeleng tidak tahu menjawab pertanyaan Chiharu, namun sebuah pikiran terbesit "mungkin jika anda berpura-pura menjadi gelandangan, para orang-orang itu akan datang lagi." pikiran gila memang, hanya saja Chiharu tidak menampik ide gila itu.
Ia sedikit melirik ke arah Gin yang kini menatapnya penuh rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi, membuat Chiharu mengerutkan wajahnya tak suka. Memang agak berlebihan ketika dirinya sendiri yang menyamar menjadi gelandangan untuk memancing para penculik perdagangan manusia itu, tetapi bukankah itu ide yang cukup bagus untuk berhasil menemukan akar dari semua permasalahan ini.
***
"Tidakah kau merasa bahwa ini berlebihan?!" keluh Gin dibelakang Chiharu, pria itu mau tak mau terseret dalam masalah ini. Mendecak sebal, karena penampilan Chiharu yang sungguh kotor.
__ADS_1
Gadis itu mendelik tak suka ketika siluman itu mengeluh, mengabaikan celotehan Gin gadis itu menorehkan arang pada wajahnya. "Bagaimana? aku terlihat seperti gelandangan kan?!" ungkap gadis itu dengan bangga.
Pria itu menghela napas ketika Chiharu tampak semakin jelek dengan pakaian compang-camping, surai hitam yang biasanya lembut itu terlihat acak-acakan, wajah hitam penuh arang. Sungguh siapapun tak akan mengenali gadis itu sekarang, Chiharu benar-benar jelek. Keluh Gin membatin.
"Bagaimana aku bisa menemukanmu ketika kau sudah diculik?" bersedekap didada, Gin mempertanyakan rencana Chiharu. Tidak menyangka bahwa gadis ini tidak melakukan pemberkatan seperti yang ia katakan, melainkan menyelesaikan kasus perdagangan manusia.
Bukankah apapun yang kini tengah dilakukan gadis itu, semuanya terasa sia-sia. Bagaimanapun, kemiskinan, kriminalitas, serta kesengsaraan akan selalu ada dibelahan dunia manapun. Layaknya parasit yang terus menggerogoti dunia, hal-hal jelek itu tak akan pernah lenyap semakmur apapun negeri itu. Lalu mengapa gadis itu repot-repot dan menyusahkan dirinya sendiri, mempercayai kata-kata bocah lelaki yang baru ditemuinya.
Gin mengusap wajahnya kasar. Sudahlah, biarkan gadis itu melakukan apapun yang disukainya. Karena nasib apapun yang menimpa Chiharu sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya, atau bahkan ketika Chiharu mati dalam kebodohannya sendiri. Gin tidak rugi apapun, malah ia akan lebih cepat memperoleh kebebasannya.
"Lihat jari kelingkingmu!" suara Chiharu berhasil membuyarkan lamunan pria itu, menuruti kata-kata gadis itu dengan melihat jemari miliknya.
Sinar kuning melengkung disana, membentuk sebuah tali yang menjulur panjang mengarah ke arah Chiharu. "Itu segel dewa, ikuti saja dan kau akan menemukanku. Cari aku, ketika tali itu semakin jauh. Ketika tali itu berubah warna menjadi merah, artinya aku tengah dalam bahaya.
Aku tidak percaya padamu, namun aku masih berharap kau akan menyelamatkanku. Jaga kuil setelah aku pergi, dan jangan lupa untuk memberi ibu itu obat." pamit Chiharu, melangkahkan kakinya lalu pergi dari sana.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju tempat kumuh itu, berharap bahwa rencana yang memiliki banyak kekurangan ini akan menimbulkan hasil. Chiharu akan berada disana sampai pagi, lalu pada pagi harinya ia akan pulang untuk mengisi perut serta membersihkan diri dan kembali ketempat kumuh itu. Rencana yang sangat bodoh memang, namun ia tak dapat memikirkan apapun lagi.
Gadis itu berkeliling kota dengan pakaian compang-camping itu, menyisir pandangan ketika banyak orang yang meliriknya sedikit lalu tanpa mempedulikan dirinya pergi dengan kejam. Membuat Chiharu berpikir, betapa pentingnya sebuah pakaian yang bagus atau betapa pentingnya sebuah status dalam masyarakat.
Setelah sampai pada gang-gang gelap yang kumuh itu, malam hampir tiba. Gadis itu tengah menunggu suatu ketidakpastian dalam hidupnya, menimang-nimang untuk menyerah pada rencana bodoh tersebut, namun kembali tetap berusaha percaya diri.
__ADS_1
Hingga satu fakta yang tidak Chiharu ketahui, bahwa dirinya memang telah di incar sejak memasuki kota dan berjalan hingga ke gang-gang. Tanpa Chiharu tahu, bahwa dirinya memang akan segera menemui penculik itu.
To Be Continued..