
Ikatan yang terbentuk dengan paksaan itu memang suatu hari akan terputus, cepat atau lambat ikatan seperti itu memang rapuh. Dan pada saat ini Chiharu menyadarinya, keesokan harinya ia kembali dipanggil untuk menghadap. Dengan posisi setengah bersujud, Chiharu menatap petinggi-petinggi itu dengan tatapan berkilat yang sama. Ia tidak taku, dan ia sedang mencoba untuk mempertahankan sikapnya ini.
Gin berada diluar sana, diluar pintu besar yang menjadi sekat diantara mereka. Tentu meski pria itu bisa mendengar apapun yang berada dibaliknya, ia berada disana karena Chiharu sendiri yang meminta agar tidak masuk. Dan pria itu dengan berat hati mencoba mempercayai Chiharu, ia yakin bahwa para Dewa itu bukanlah mahluk bodoh yang akan melenyapkan seorang Dewa karena amarah.
"Aku akan menuruti kemauanmu." begitulah kata pertama terucap dari petinggi yang terlihat paling tua disana, mengusap janggutnya seolah ia memahami penderitaan Chiharu.
Gadis itu mendongak tak percaya, menatap para Dewa agung yang menjulang dihadapannya tak percaya. "Anda tak akan mengurungnya?" suara Chiharu begitu antusias tak tertahankan, bahkan senyumnya ikut terbit saat itu.
Rao Shu mengangguk mengiyakan, "aku akan melepaskan segel dewa yang membelenggunya lalu akan membebaskannya." kata-kata itu bahkan terdengar begitu manis ketika terucap.
Chiharu berkali-kali bersimpuh untuk berterimakasih, berkali-kali mengangkat dan bersujud untuk mengucapkan rasa syukur tak terkira. Luapan kebahagiaan ikut menyertainya ketika ia keluar dan menghampiri pria bersurai putih disana, dorongan kebahagiaan membuatnya melakukan tindakan-tindakan spontan sehingga gadis itu memeluk Gin.
Menyuarakan kebahagiaanya, melupakan bagaimana pertemuan mereka dahulu kala. "Kau akan bebas, Gin." ungkap Chiharu bahagia, pria itu sepertinya tidak terlalu senang dan hanya menanggapi Chiharu dengan anggukan berat dan membalas pelukan gadis itu.
Siapa yang menyangka bahwa perpisahan datang begitu cepat.
***
Lalu ritual pelepasan segel Dewa pun segera dilakukan tanpa menunggu lama, pelepasan segel Dewa itu disaksikan oleh banyak Dewa yang penasaran karena hal tersebut memang tidak pernah dilakukan karena biasanya para Dewa hanya memilih pelayan yang jinak dan akan melayani mereka sampai mati.
Dan kasus seperti ini memang sangat jarang terjadi, proses itu memakan waktu cukup lama ketika sebuah simbol aneh digambar ditengah-tengah altar yang menjadi tempat pelepasan segel dewa disana. Gin berada dihadapan Chiharu, gadis itu tersenyum begitu lebar. Membayangkan bagaimana Gin bisa terlepas darinya karena pria itu selalu menginginkannya membuat beban Chiharu terasa terangkat, sekarang pria itu bisa hidup dengan bebas tanpa harus terikat dengannya atau para petinggi Dewa disini.
__ADS_1
Sinar muncul dari keduanya, dan simbol-simbol aneh itu ikut bersinar. Membentuk tulisan aneh nan sulit dimengerti, namun Rao Shu petinggi Dewa tertua seolah tidak kesulitan akan hal itu. Ia membaca tulisan itu dengan lancar, lalu kekangan pada lengan dan kaki siluman itu pecah dan terlepas. Terurai keudara membentuk serpihan kilauan, setelah terlepas tubuh Gin bersinar terang seolah kekuatan yang tadi membelenggu dirinya terlepas.
Bahkan setelah ritual itu berlangsung pun senyuman Chiharu tak luntur, setelah melepaskan segel Dewa Gin masih membututi Chiharu menuju kediaman Tuan Zhi. Yang mana itu adalah tempat tinggalnya ketika ia berada di Dunia Langit, Tuan Zhi menyambut Chiharu dengan hangat ketika ia berhasil melepaskan segel dewa dari mahluk paling berbahaya disana.
Dan dengan protektif Tuan Zhi melindungi Chiharu dibalik tubuhnya agar tidak bersentuhan kembali dengan Gin, seolah mahluk itu akan membunuh Chiharu jika dibiarkan lengah sedikit saja. "Apa yang kau lakukan berada disini? Bukankah segel Dewa sudah terlepas? Pergilah! Dan jangan pernah menganggu kehidupan Chiharu lagi."
Chiharu yang mendengarnya pun ikut merasa tak enak, ia menyentuh bahu Tuan Zhi lembut. "Guru tidak perlu berbicara seperti itu, aku yakin Gin tidak akan melukaiku." gadis itu menatap Gin dengan tatapan lembut.
Ia keluar dari balik tubuh Tuan Zhi meski pria tua itu mencoba melarang Chiharu untuk mendekati siluman itu, gadis itu tetap tidak menghiraukannya. Ia melangkah, tersenyum dengan lembut memeluk Gin untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah mungkin untuk selamanya karena mereka berdua adalah benar-benar berasal dari dunia yang berbeda. Meski terasa sedih, Chiharu menguatkan hatinya.
"Pergilah! Hiduplah dengan bebas!" begitulah kata-kata terakhir yang Chiharu pikirkan, meski mungkin saja Gin membunuh manusia lagi. Atau mungkin saja Gin melakukan hal-hal gila lagi, didalam lubuk hati Chiharu. Ia berharap setidaknya pria itu dapat bahagia.
"Guru bolehkah aku berada disini sebentar lagi? Aku butuh menenangkan diriku sejenak." mohon Chiharu merasa begitu amat sedih, tidak mengerti atas alasan apa. Chiharu begitu merasa hampa dan kehilangan. Tuan Zhi yang menyadari itu pun, hanya mengangguk apapun keinginan Chiharu saat itu.
***
Pria itu kehilangan arah, ia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa memikirkan apapun hingga tatapannya menjadi sendu ketika ia sampai pada tempat yang familiar. Sebuah kuil yang sama ketika dirinya menghabiskan waktu dengan seorang gadis kecil disana, ia tersenyum penuh ironi ketika menyaksikan kuil itu.
Dahulu ia sangat membencinya, apapun tentang kuil itu ia sangat tidak menyukainya. Chiharu gadis itu pun dahulu kala ia sangat ingin membunuhnya, sejak kapan ya rasa membunuh itu hilang digantikan dengan rasa ingin melindungi. Begitu meluap-luap bahkan hingga kini pun Gin ingin berlari menembus pintu langit dan melindungi gadis itu, bagaimana caranya melawan para tetua itu dengan tubuh gemetar kembali terlintas dalam kepala Gin.
Harusnya kini Gin tengah minum arak untuk merayakan kebebasan yang selalu ingin didapatkannya, namun mengapa ya ia sama sekali tidak merasa bahagia. Pendar lampu terlihat bersinar disana, seolah kuil itu memiliki seorang penghuni. Pria itu bertekad akan mengunjungi kuil itu untuk terakhir kalinya lalu pergi sejauh mungkin agar ia tidak merasakan perasaan aneh yang menghantui dirinya tersebut, lalu langkah pertama yang terasa berat berhasil membawanya pada tangga terakhir.
__ADS_1
Begitu ingin melewatinya tubuhnya tersengat oleh sebuah aliran yang sepertinya adalah pelindung kuil yang dibuat oleh Chiharu, berfungsi untuk melindungi kuil ini dari siluman yang hendak menganggu. Terasa lucu ketika pria itu dahulu melewati pelindung itu dengan mudah karena ia adalah seorang pelayan Dewa, meski dengan kekuatan pria itu ia mampu menembusnya. Gin merasa enggan melakukannya, dan pada akhirnya ia berbalik untuk pergi.
Pria itu mulai berjalan menjauh ketika sesuatu mengusik pendengarannya yang tajam, seluruh indranya menajam ketika merasakan sesuatu janggal dari lingkungannya. Kuku-kuku miliknya mencuat tajam, menunggu apapun disana yang akan keluar.
Surai merah menyembul dari balik pepohonan hutan, pedang besarnya sangat bertolak belakang dengan ekspresi senyum yang ia keluarkan. Bola matanya semakin memerah ketika ia menatap surai putih dihadapannya, lalu serangan tiba-tiba itu tak mampu terelakkan oleh Gin yang terkejut. Meski berhasil menghindar, bahu dilengan kirinya terluka. Lalu entah mengapa, sepertinya senjata Dewa itu mampu memperlambat regenerasinya.
Sialan, mereka tidak membebaskan dirinya. Mereka hanya menangkap Gin ketika Chiharu tidak mengetahui apapun tentang kenyataannya, dan gadis itu pasti akan mengira bahwa Gin benar-benar meninggalkan dirinya. Pria bernetra kuning itu terkekeh menyadari rencana tetua menjijikan itu, seorang Dewa yang diagung-agungkan malah memiliki sifat lebih buruk dari Iblis. Bahkan seorang raja Iblis pun akan selalu menepati perkataanya.
"Aku sangat menunggu titah itu datang, dimana aku bisa melakukan apapun yang kusukai. Lagipula kau ini mahluk abadi yang tidak akan mati, aku akan menyiksamu." tawaan kegilaan dipenuhi oleh Sang Dewa Perang, Lukos.
Ketika serangan berikutnya terlontarkan Gin mampu menghindar, ia berlari mencapai pohon-pohon besar untuk menjadi pijakannya. Pedang yang tengah digenggam oleh Dewa Lukos, memiliki bahaya bukan main. Satu tebasan saja mampu membuat pohon-pohon disana tumbang dengan mudah, pertengkaran mereka tak terelakan ketika Gin balas menyerang pria bersurai merah disana.
Dan tebasan fatal itu tak mampu dihindari oleh Gin karena sepertinya pedang itu bukan hanya memperlambat proses regenerasinya, melainkan juga melemahkan syaraf-syaraf miliknya. Dada siluman itu robek, mengucurkan darah segar dan terjatuh mengenaskan ke tanah. Diantara kesadarannya ia mampu melihat Dewa Lukos tertawa membahana, menginjak wajah siluman disana dengan tatapan menjijikan.
"Mengecewakan sekali, padahal aku menunggu ancaman gadis itu. Aku menunggu kau menggigit leherku, tetapi sudah kubilang kau ini lemah." disela-sela kesadarannya Gin merasakan dinginnya tanah diantara suhu tubuhnya, ia akan kembali ke Dunia Langit.
Tubuhnya terasa terangkat, begitu ringan hingga ia sendiri pun tidak menyadari apa yang telah terjadi. Ia bersimbah darah, dan mungkin akan kembali ke Dunia Langit sebagai tahanan. Apakah Chiharu mengetahui bahwa dirinya tidaklah bebas? Kapankah gadis itu akan sadar? Umur manusia tidaklah panjang, apakah umur Chiharu yang pendek itu mampu menyadari bahwa dirinya tidaklah hidup bebas seperti bayangannya.
Sejak kapan dirinya menjadi lemah seperti ini, apa karena ia hidup dengan gadis itu? Ataukah memang selama ini ia tidaklah sekuat yang dirinya bayangkan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi kepala Gin ketika kesadaran berusaha semakin merenggutnya. Hingga gelap, mulai menghampiri dan merampas kesadarannya. Tubuh siluman kokoh itu kini bersimbah darah, penuh luka dan terlihat begitu menyedihkan.
To Be Continued...
__ADS_1