Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 11 Penyerangan Malam Hari


__ADS_3

Sepertiga malam itu, Chiharu kembali melakukan kegiatan rutinitasnya. Berjalan kearah sungai, duduk dibawah mata air yang mengalir dan kembali melatih energi spritual seperti yang disarankan oleh Fu dan Su. Namun, malam ini rasanya memang ada yang berbeda. Entah karena ia baru saja menerima nenek tua itu dirumahnya, atau karena hanya perasaan gelisah tak berdasarnya.


Chiharu merasa bahwa ia tengah diamati oleh sesuatu, sejak ia keluar dari kawasan kuil sampai ia melakukan rutinitasnya. Namun gadis itu tidak terlalu menghiraukan dan fokus pada kegiatannya, setelah lama berada disana Chiharu bangkit berdiri. Tanda ia telah menyelesaikan kegiatannya pada sepertiga malam itu, ia akan kembali dan bersiap-siap untuk membersihkan kuil.


Setelah sampai di kuil, Chiharu mulai mengambil sapu yang biasa ia gunakan. Mengumpulkan dedaunan yang terjatuh ke tanah, mengelap lantai agar mengkilap, lalu sarapan. Dan selama itu, Chiharu benar-benar merasa tidak nyaman.


"Nampaknya sosok itu terus melihat anda, Nona Chiharu." sahut Su dengan nampan ditangannya. Sepertinya bukan hanya Chiharu yang merasakan kejanggalan itu, dua pelayan dewanya pun ikut merasakan bahwa sosok itu terus mengamati dirinya.


Chiharu mengangguk, "aku tau," sahutnya berbisik. "Biarkan saja, lalu antarkan makanan untuknya. Serta siapkan bekal untuk perjalanan jauhnya, jangan menyinggung apapun dan biarkan dirinya yang memilih untuk pergi atau tinggal."


Lalu perlahan-lahan matahari mulai beranjak naik, sinarnya mampu membawa kecemerlangan kuil dengan sinar-sinar terpantul dari air yang mengalir. Terasa hangat dan nyaman untuk ditinggali, Chiharu tersenyum senang merasakan perasaan bahagia karena telah berhasil merawat kuil yang hampir roboh dan membuatnya begitu berkilauan.


Dan senyumnya menghilang ketika lagi-lagi terintrupsi oleh nenek tua yang menginap dirumahnya, perempuan itu membuka pintu ruangan yang memang disediakan untuknya. "Tidurku sangat nyaman, entah sudah berapa lama aku tidak merasakannya." bola mata sayu miliknya tersenyum penuh kelembutan tiada tara.


Chiharu menyetejui perkataan nenek itu, "Syukurlah kalau dirimu bisa menikmati jamuan sederhana dikuil kami," sahut gadis itu merendah.


Nenek itu kembali tersenyum ketika melihat Fu dan Su yang menyamar sebagai anak-anak kuil yang biasanya tidak memiliki rambut, dan memakai pakaian khas kuil. "anak-anak itu seperti malaikat. Apakah anak-anak itu adikmu?"


Dan gadis itu hanya mengangguk menyetujui perkataan nenek tua itu, seolah-olah tengah mengikuti permainannya. Hingga akhirnya kesimpulan yang Chiharu tunggu-tunggu berhasil ia dapatkan ketika perempuan tua itu berkata kalimat terakhirnya, "aku sangat lelah, bolehkah aku berada disini selama beberapa hari?"

__ADS_1


Senyuman Chiharu semakin lebar, "Tentu saja, anda adalah perempuan tua. Dan gadis kuil seperti ku haruslah menerima dengan tangan terbuka, tinggalah selama yang anda inginkan."


Setelah mengucapkan terimakasih, Chiharu kembali pada kegiatannya. Ia harus segera membereskan siluman ini, karena tugas dewanya tengah menunggu. Chiharu harus memberikan berkat, mengabulkan permohonan dan membantu orang-orang yang kesusahan. Hal-hal sebagai tugas Dewa yang tak pernah Tuan Qi lakukan, ia pun harus kembali mempelajari tanaman obat dan melatih energi spritualnya.


Meladeni siluman bukanlah salah satu prioritasnya sekarang...


***


Setelah dua malam berlalu, Chiharu mulai menjalankan rencananya untuk membasmi siluman nenek tua yang menganggu itu. Kelak ia akan memasang segel agar siluman tidak dapat masuk ke dalam kuil, Fu dan Su pun ikut dalam rencana pembasmian siluman ini. Sepertinya Chiharu sedikit mengerti mengapa siluman ini tidak langsung menyerangnya, jawabannya hanya ada satu yaitu siluman itu begitu lemah.


Ketika bulan purnama bersinar dengan lembut, Chiharu bersama dengan Fu dan Su berkumpul dihalaman belakang kuil, menikmati cahaya bulan sembari saling menuangkan arak. Chiharu tertawa dengan suara keras, mencoba menarik perhatian ia yakin meski tak melakukannya. Perempuan tua itu pasti kini tengah melihatnya dari balik sekat ruangan kamarnya, Chiharu mengangkat cangkir nya tinggi-tinggi seolah menunjukan bahwa ia tengah meminum arak.


Mereka berdua sebenarnya harap-harap cemas ketika Chiharu membeberkan rencana ini, takut-takut bahwa ketika Chiharu sendirian perempuan tua itu berhasil melukainya. Namun, mereka berdua hanyalah pelayan. Tak banyak yang dapat dilakukan pelayan, selain menuruti kehendak tuannya.


Chiharu berpura-pura terlelap diperaduannya, ia menunggu sehingga malam semakin larut dan bulan purnama kini semakin bersinar penuh. Menghantarkan sinar hangatnya seolah malam ini bukanlah suatu hal yang menakutkan, terasa lucu ketika pada saat ini Chiharu pertama kali bertemu siluman jahat yang akan memangsa dirinya.


Benar saja dugaan Chiharu, pintu itu terbuka dengan perlahan. Takut takut akan menimbulkan suara sekecil apapun, bola mata perempuan itu memelotot merah. Mungkin bola mata itu akan keluar dari tempatnya, menatap tajam Chiharu dengan air liur menetes.


Ia terkikik ketika melihat Chiharu terlelap, "utusan Dewa akan membuatku abadi, aku akan kenyang dan menjadi sangat kuat kikikikik." kuku-kuku wanita itu berderit mengerikan, menambah suasana sepi semakin mencekam.

__ADS_1


"Maaf ya nak, hidupmu akan terasa sangat singkat dikehidupan ini."


Dengan gerakan perlahan wanita tua itu mendekati Chiharu, kuku-kuku itu terlihat telah diasah agar semakin tajam sehingga kilatnya memantulkan wajah gadis cantik disana yang tengah terlelap. Rambut putih itu semakin terlihat jelek, ketika siluman tersebut menunjukan dirinya. Lidahnya menjulur panjang mengeluarkan liur yang menijikan.


Ketika kuku itu hampir menembus kulit mulus Chiharu, bola mata bernetra hitam kelam itu teebuka. Berkilat, seolah memang tengah menantikan momen ini. Ia tersenyum menyeringai, lebih mirip iblis daripada seorang utusan dewa. Sebelah tangannya yang bebas mengenggam sebilah pedang, terayun pada tangan yang kini menjulur hampir menyentuh wajah Chiharu.


Perempuan tua itu menjerit terkejut, kuku-kukunya yang tajam ia gunakan untuk melompat mundur. Menempel di dinding dan mendesis ketika merasakan bahaya melingkupi siluman lemah itu, sebelah lengannya terlempar begitu jauh mengucurkan darah segar. "Maaf ya Nek, aku tidak sengaja melukaimu. Kau mengejutkan ku sih." Netra hitam itu berkilat, seringaian melebar dari wajah cantik Chiharu.


Gadis itu terlihat lebih seperti iblis daripada seorang utusan Dewa, ia tersenyum ketika melihat siluman dihadapannya kesakitan. Namun sayang, kuil telah tersegel oleh Fu dan Su sehingga siluman manapun tak dapat masuk atau keluar. Lalu pedang panjang yang biasa Chiharu pakai ia tarik dari sarungnya, diarahkan pada siluman yang kini panik bukan kepalang karena berada diambang kematiannya.


Lalu dengan gerakan yang penuh celah dan sembrono, siluman itu bergerak maju. Mencoba meraih apapun tubuh Chiharu, berharap dapat melukainya. Kejadian itu begitu cepat ketika Chiharu menebaskan pedangnya pada siluman yang bergerak cepat, membunuh dirinya sendiri. Cipratan darah mengenai wajah Chiharu, dan siluman yang begitu lemah tersebut terkapar sebelum kemudian lenyap tertelan energi spritual Chiharu.


"Sayang sekali, bahwa yang tak lama hidup adalah dirimu." gumam Chiharu menyimpan pedangnya, ia menggeser pintu dan dapat melihat kedua pelayan yang melayaninya menatap dengan cemas.


Fu dan Su melepaskan kosentrasinya untuk menjaga segel, mereka mendekati Chiharu dengan perasaan khawatir yang bergejolak, "Anda baik-baik saja nona? a-anda berdarah." Keduanya kalap, takut bahwa gadis itu terluka.


Dengan gerakan ringan, Chiharu menghapus darah yang menodai pipinya. Tersenyum ringan pada kedua pelayan dihadapannya, "Aku baik-baik saja, ini bukan darahku. Terimakasih telah mengkhawatirkanku."


Dan malam itu mereka sama sekali tidak tidur dan sibuk memasang segel, mencegah aura jahat masuk dan hal-hal bahaya lainnya yang tidak di inginkan. Sepertinya esok hari akan melelahkan karena Chiharu mulai menjalankan tugasnya sebagai Dewa, melakukan apa yang dahulu tak pernah dilakukan Tuan Qi.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2